
Leon menggeram, ia tau apa yang dilakukan oleh penjahat itu.
"Sialan!" umpat Leon setelah ia memeriksa denyut nadi orang tersebut tak bisa ia rasakan lagi dan hal itu menandakan bahwa penjahat itu sudah tak bernyawa lagi.
"Sudah gue duga. Hal ini bakal terjadi," tutur Jojo yang sudah bergabung dengan Leon.
"Kita sudah telat, gak ada lagi kunci utama kita buat ngorek informasi tentang dalang itu. Kita juga sudah tak bisa bergerak untuk mencarinya karena bukti semua sudah lenyap begitu juga dengan mobil yang di gunakan orang ini dulu." Leon kini semakin mengepalkan tangannya, ia benar-benar geram. Sia-sia sudah ia menangkap orang didepannya ini. Bahkan ia tak mengetahui jika di balik mulutnya yang tertutup ternyata menyimpan racun yang sudah di racik sedemikian rupa. Gila, benar-benar gila. Rencana mereka sungguh sudah dirancang sangat matang.
"Tenangin diri lo. Kita sekarang hanya bisa melindungi Rea jangan sampai orang itu mencoba menculik Rea kembali," tutur Edi.
Tapi ucapan dari Edi tadi tampaknya tak masuk kedalam telinganya, pasalnya Leon kini malah mengeluarkan pistolnya.
"Minggir!" geram Leon kepada teman-temannya agar mereka menjauh dari mayat penjahat tadi.
Teman-temannya yang melihat Leon sudah emosi tingkat dewa pun hanya bisa menghela nafas kemudian mereka melangkahkan kakinya menjauh dari Leon. Mereka hanya akan menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh sang bos tanpa berniat menghentikkannya toh yang menjadi pelampiasan emosi bosnya itu hanyalah sebuah mayat.
Setelah dirasa teman-teman aman, Leon menatap tajam kearah penjahat tersebut dan dengan rahang yang mengeras, Leon menarik pelatuk pistolnya kemudian...
Dorr! Dor! Dor!
Tiga peluru berhasil menembus kening dan kedua mata mayat tersebut. Tak sampai disitu, Leon mendekati mayat itu kemudian ia memasukkan pistolnya kedalam mulut mayat tadi dan kembali menembakkan pelurunya hingga tembus sampai bagian belakang kepala.
"Kampak!" teriak Leon menggema memenuhi ruang eksekusi itu.
Salah satu bodyguard berlari ke suatu ruangan yang masih ada didalam ruang eksekusi setelah itu ia kembali dengan membawa apa yang di inginkan sang bos.
__ADS_1
Setelah kampak itu berpindah ke tangan Leon, tanpa aba-aba lagi. Leon langsung memenggal kepala mayat penjahat tersebut hingga kepala itu menggelinding dan berhenti tepat di kaki Jojo.
"Wanjir. Jauh-jauh lo dari gue," tutur Jojo sembari menendang kepala tersebut agar menjauh darinya. Ia bergidik ngeri melihat kepala itu dari jarak begitu dekat tadi. Bahkan ia sampai membayangkan jika itu kepalanya. Arkh sial Jojo jadi parno sendiri dan sekarang ia memilih berlindung di balik tubuh bodyguard Leon.
Sedangkan Leon, ia masih melancarkan aksinya dengan membedah perut penjahat tersebut mengunggukan pisau.
"Ambil organ-organnya dan berikan ke buaya!" perintah Leon tak terbantahkan. Setelah mengatakan hal itu, Leon beranjak dari tempatnya tapi baru saja ia sampai diambang pintu, langkah ia hentikan.
"Buang jasadnya di sungai," ucap Leon lalu ia sekarang benar-benar keluar dari ruang eksekusi membawa pikiran yang tengah berantakan.
...****************...
Disisi lain, Edrea yang awalnya masih santai-santai didalam mobil taksi dengan memainkan ponselnya, kini mengerutkan keningnya saat ia sadar jika jalan yang di lewati oleh sopir taksi tersebut bukan mengarah ke rumahnya.
Sopir tersebut tak menjawab ucapan dari Edrea, ia masih fokus menatap jalanan yang semakin lama semakin sepi itu.
"Pak! bapak denger gak sih? Ini bukan arah kerumah saya. Bapak pikun apa gimana sih? Kalau bapak lupa bilang ke saya." Sopir itu masih terdiam dan hal itu membuat hati Edrea tak tenang. Apakah kekhawatirannya tadi memang benar?
Baru saja ia ingin melontarkan suaranya lagi, mobil itu kini berhenti secara mendadak hingga membuat tubuh Edrea terhuyung kedepan.
"Anjir, bapak bisa bawa mobil gak sih," geram Edrea sembari mengelus keningnya yang tadi menabrak kursi depannya. Sopir itu terdiam dan tak berselang lama ada dua orang berbadan kekar masuk kedalam taksi yang sama dengan Edrea bahkan keduanya tengah duduk di samping Edrea dan membuat tubuh Edrea terhimpit diantara kedua laki-laki tersebut.
"Ya ampun kenapa harus duduk disamping gue sih. Mana gue ditengah lagi. Pulang-pulang jadi triplek nih gue. Arkh bisa jauhan gak sih nih dua orang. Buat sesek napas aja," batin Edrea.
Setelah dua orang tadi masuk, sopir kembali melajukan mobilnya. Edrea yang sudah mulai kehabisan pasokan udara pun memberanikan diri untuk angkat suara.
__ADS_1
"Om om," panggil Edrea sembari menepuk lengan kedua laki-laki disampingnya hingga membuat keduanya menoleh kearah Edrea.
"Om bisa geseran dikit gak. Pengap nih om. Gak bisa napas," tutur Edrea.
Dua orang tersebut tampak saling pandang kemudian mereka sedikit menggeser posisi duduknya, memberi ruang untuk tubuh Edrea.
Edrea tampak menghela nafas lega, setidaknya dirinya sudah tak kegencet lagi seperti tadi.
"Oh ya, pak sopir. Jadi bapak bukan mau nyulik saya kan tapi kesini cuma mau jemput kedua om ini?" tanya Edrea yang kembali dalam mode santai tanpa takut sama sekali. Sopir itu tampak mengintip dari spion diatasnya untuk melihat wajah Edrea kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Edrea tadi.
"Huh, dari tadi kek ngomongnya. Jadinya kan saya gak parno sendiri tadi," ucap Edrea sembari menyenderkan tubuhnya.
Dan entah apa yang terjadi, Edrea merasakan ada yang menusuk kulitnya. Tapi saat ia memeriksanya tak ada apa-apa hingga perlahan matanya mulai mengantuk dan tanpa sadar ia tertidur di dalam mobil tersebut yang tengah melaju menjauh dari keramaian.
Dua orang yang duduk di samping Edrea saling melempar senyum miringnya.
"Udah?" tanya sopir tadi.
"Beres," ucap keduanya.
"Ternyata gadis ini sangat bodoh. Mudah sekali di taklukan. Bahkan dia tak merasa curiga ke kita berdua. Ck, kalau tau mudah begini kita lebih awal diskusikan rencana ini dengan bos. Jadi tak perlu menaruhkan nyawa hanya untuk menculik gadis bodoh ini," tutur salah satu orang berbadan kekar tersebut.
"Sayangnya bos lebih mempercayai dua pengecut itu daripada kita bertiga. Alhasil apa yang dilakukan dua orang itu? menyerahkan nyawa mereka sesuka hati. Dan untungnya mata bos nampaknya sudah terbuka lebar dan mengakui kehebatan kita," ucap sopir taksi tersebut yang diangguki oleh kedua laki-laki tepat di kursi penumpang.
"Siap-siap saja kita beli rumah setelah ini," sambungnya diakhiri dengan tawa senangnya. Tak sia-sia ia selalu memantau Edrea kemana pun wanita itu pergi dan hari ini saat wanita itu lengah, ia bisa melumpuhkannya dengan berpura-pura menjadi sopir taksi yang dipesan oleh Edrea. Tak sia-sia juga ia tadi menguping setiap gumaman Edrea yang malah memberikan ide untuknya.
__ADS_1