The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 127


__ADS_3

Edrea semakin panik saat tangan Erland sekarang tengah menari-nari indah di ponselnya.


"Bang Er, jangan panggil polisi please!" teriak Edrea yang membuat kedua Abangnya kini menatap kearahnya dengan alis yang terangkat.


"Maksud lo?"


"Ya maksud Rea tuh. Abang jangan panggil polisi. Edrea ngelakuin itu buat bayaran aja karena mereka udah nyulik Rea," jawab Edrea dengan menundukkan kepalanya.


Mata Azlan dan Erland seketika melebar bahkan Erland sekarang sudah berlari menghampiri Edrea.


"Lo kalau ngomong yang benar Rea," tutur Azlan.


Edrea semakin menunduk takut.


Erland yang sudah bergabung dengan kedua saudara kembarnya pun langsung memegang kedua pundak adik perempuannya itu.


"Kenapa lo ngelakuin itu? Orangtua kita gak pernah ngajarin kita buat bunuh orang walaupun orang itu sangat kita benci. Kita hanya di perbolehkan untuk melumpuhkan musuh saja." Edrea kini menegakkan kepalanya dan menatap tak paham kearah kedua Abangnya.


"Hah? kok bunuh sih bang? sejak kapan Rea bunuh orang? walaupun tadi Rea sempat kasih tusukan sama penculiknya tapi Rea gak sampai hilangin nyawa dia. Beneran deh Rea gak bohong." Azlan dan Erland tampak menghela nafas lega. Ternyata adiknya itu hanya salah paham saja dengan mereka.


"Terus apa yang lo maksud sama ucapan lo tadi? Lo ngelakuin apa selain kasih tusukan ke penculik itu?" tanya Erland penasaran.


"Hehehe Rea hanya ambil sedikit harta dari penculik itu kok," jawab Edrea dengan cengiran.


"Lo nyolong?" tanya Azlan.


"Gak. Rea cuma ambil buat kompensasi Rea selama di culik."


"Astaga. Sempat-sempatnya ya lo. Orang rumah pada panik semua, lah lo malah enak-enak nyolong. Tapi btw, tar bagi dua sama gue," tutur Erland dengan alis yang naik turun.


"Gampang nanti," ucap Edrea diakhiri dengan bertos ria dengan Abang keduanya itu.


Sedangkan Azlan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak paham lagi dengan jalan pikiran kedua adiknya itu.


"Eh tapi bang, Rea masih penasaran Abang mau manggil polisi gara-gara apa?" tanya Edrea.

__ADS_1


"Emang lo gak lihat tadi?" bukannya menjawab Erland balik bertanya.


"Lihat apa? lihat yang lo temuin tadi? kalau itu Rea belum lihat lah. Tadi mata Rea keburu di tutup sama bang Az."


"Pantesan. Jadi lo sekarang mau lihat?" Edrea menatap binar kearah Erland dan ia langsung menganggukkan kepalanya antusias.


"Ya udah gih lihat sana. Tapi kalau lo nanti gak bisa makan, minum dan tidur jangan salahin Abang," tutur Erland yang langsung mendapat pelototan tajam dari Azlan.


"Gak akan. Thanks bang Er yang paling baik hati dan sedikit tampan," ujar Edrea kemudian tanpa menunggu lagi, ia berlari menuju mobil Jeep tadi.


"Kok lo kasih izin ke dia sih," geram Azlan. Pasalnya ia tadi sudah berusaha untuk mencegah Edrea untuk tak melihat temuan dari Erland, eh sang penemu justru dengan seenak jidatnya mengizinkan Edrea untuk melihatnya. Kalau begini kan tak ada gunanya dia melarang dan mencegah tadi.


"Biarin aja sih bang. Itung-itung nguatin mental dia," ucap Erland kelewat santai bahkan ia sekarang tengah berdiri, menatap Edrea dari kejauhan sembari kedua tangannya terlipat didepan dadanya.


"Kita hitung sampai hitungan ketiga yok bang. Gue yakin saat angka 3 Rea pasti ngeluarin suara toanya," tutur Erland.


Azlan tak menimpali ucapan dari Erland itu. Biarkan adiknya itu saja yang melakukan ide yang menurutnya sangat konyol.


"Kita mulai dari sekarang," ucap Erland dengan senyum yang mengembang bahkan jari tangannya sudah siap untuk menghitung.


"Satu," serunya saat melihat Edrea sebentar lagi akan sampaikan di mobil Jeep itu.


"Ti..."


"Huwaaaaa Abang!!" Erland tertawa saat mendengar teriakan Edrea.


"Bener kan apa yang gue bilang tadi. Samperin kuy bang," ajak Erland dan kini ia melangkahkan kakinya diikuti Azlan di belakangnya.


Saat mereka sudah mendekat kearah mobil tersebut, mereka langsung mencari keberadaan Edrea yang ternyata gadis itu tengah berjongkok dengan kedua telapak tangan yang menutup matanya.


"Lo ngapain jongkok begitu?" pertanyaan dari Erland mampu membuat Edrea langsung menyingkirkan tangannya dan perlahan matanya terbuka, setelah itu ia berlari menuju ke pelukan Erland.


"Abang kenapa gak ngomong dulu tadi kalau yang Abang temuin itu organ dalam manusia," ucap Edrea yang tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Erland.


"Ya kan lo tadi gak tanya apa isinya. Dan lo cuma mengiyakan saat gue suruh lihat," tutur Erland.

__ADS_1


"Tapi kan harusnya Abang peka dan ngasih tau dulu. Ih tau ah Rea sebel sama Abang."


"Ya udah kalau lo sebal sama gue. Lepasin pelukan lo." Edrea menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Gimana sih katanya tadi sebal tapi gak mau lepas dari gue."


"Ish diam bang. Rea bakal lepasin pelukan ini kalau barang itu di jauhin dari Rea," ucap Edrea.


"Kalau mau barang itu menjauh, ya berarti kita harus panggil polisi. Biar mereka aja yang ngelakuin. Kalau kita semua jangan ada yang berani menyentuh itu, bisa-bisa nanti sidik jari pelaku tertukar dengan sidik jari kita," kini Azlan angkat bicara.


"Tapi kalau Abang panggil polisi. Rea takut mereka akan curiga sama Rea pasalnya mobil ini kan yang bawa Rea tadi. Otomatis sidik jari di setir mobil dan kedua pintu didepan adalah sidik jari Rea bukan si penjahat. Dan Rea juga takut kalau mereka curiga sama Rea karena kan Rea sekarang bawa harta penculik tadi. Kalau sampai polisi-polisi itu curiga sama Rea, Rea bakal masuk penjara dengan tuduhan telah membunuh orang, penjualan organ manusia dan pencurian. Dan itu masa hukumannya gak ringan bang. Rea takut. Rea gak mau dipenjara," tutur Edrea dengan tubuh yang mulai bergetar tanda ia tengah menangis. Dan ini lah sifat manja Edrea ketika bersama dengan orang-orang terdekatnya, sangat berbanding terbalik saat ia melawan orang-orang jahat yang mengancam nyawanya.


"Lo tenang dulu. Jangan panik. Kedua Abang lo ini gak sebodoh yang lo kira. Dan lebih baik lo sekarang pergi dulu dari sini," ucap Azlan.


Setelah mengucapkan hal tersebut Azlan langsung memanggil anak buahnya dengan kode tangannya. Beberapa anak buah yang umurnya hampir setara dengan triplets pun mendekat.


"Ada apa bos?" tanya salah satu dari mereka.


"Ajak adik gue ke markas. Jaga dia, jangan sampai kenapa-napa kalau sampai dia terluka nyawa lo jadi taruhannya," tutur Azlan diakhiri dengan ancaman.


Para anak buah tadi mengangguk patuh dan tatapan Azlan kini beralih kearah Edrea kembali. Kemudian tangannya kini bergerak untuk mengelus kepala Edrea.


"Lo pergi sama Fredi dulu ke markas Abang. Nanti kalau urusan ini udah selesai Abang susul," ucap Azlan.


"Gak mau. Rea takut kalau mereka nanti ngapa-ngapain Rea."


"Gak bakalan. Kalau mereka berani ngapa-ngapain lo. Nyawa mereka yang jadi taruhannya. Jadi lo tenang aja. Urusan ini paling juga sebentar kok selesainya." Edrea menatap Azlan tanpa melepaskan pelukan Erland.


"Percayalah." Edrea dengan berat hati melepaskan pelukannya dan menuruti ucapan dari Azlan.


"Tenang aja nona bos. Kita masih punya hati dan perasaan untuk tidak mengkhianati tuan bos," tutur salah satu anak buah Azlan yang bernama Jafra itu.


Edrea tampak menatap Azlan dan Erland secara bergantian yang dibalas anggukan kepala oleh keduanya.


Edrea pun menghela nafas.

__ADS_1


"Ya udah Rea pergi dulu bang. Jangan lupa kalau udah selesai jemput Rea. Dan jangan lama-lama." Azlan maupun Erland hanya bisa mengangguk setuju.


Setelah melihat persetujuan dari kedua Abangnya itu Edrea segera pergi dari hadapan kedua Abangnya bersama dengan para anak buah Azlan. Sedangkan anak buah Erland, mereka akan membantu kedua bos mereka untuk berhadapan dengan polisi nantinya.


__ADS_2