
Kini tepat dimana masa putih abu-abu telah usai setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di bangku SMA. Dan dihari itu juga para murid SMA Balerix tengah mengadakan acara wisuda siswa-siswi kelas 12. Sudah banyak murid kelas 12 yang tampak cantik memakai kebaya dan tampak tampan dengan jas yang para siswa kenakan yang telah sampai di area sekolah tersebut. Tak lupa disamping mereka ada wali murid mereka masing-masing termasuk triplets juga Zea yang telah datang bersama Daddy Aiden dan Mommy Della tak lupa Adam yang meluangkan waktunya untuk adik-adiknya tercinta. Sedangkan Leon dan kedua wali muridnya entah kemana mereka berada pasalnya beberapa hari ini Leon sudah kembali ke kediamannya bersama Azzo, Alice juga Callie walaupun begitu laki-laki itu tetap saja menempel seperti prangko ke Edrea disetiap harinya.
"El kemana sih?" gerutu Edrea dengan menatap kearah lobby yang dijadikan sebagai tempat penyambutan untuk para wali murid.
"Telepon aja sih apa susahnya," timpal Erland yang sedari tadi bermain game di ponselnya.
"Ck, Rea udah mencoba buat telepon dia bang tapi nomornya gak aktif. Kalau kayak gini kan Rea jadi khawatir," ucapnya yang mendapat lirikan malas dari Erland sebelum laki-laki itu kembali menatap layar ponselnya.
"Abang ish, kasih solusi lah. Rea harus gimana ini?" tanya Edrea dengan menggoyang-goyangkan lengan Erland sehingga membuat laki-laki itu kalah dalam permainan.
"Ck, bisa gak sih lo gak ganggu gue. Kalah kan gue jadinya. Ah elah," omel Erland.
"Lo juga gak usah parnoan gitu lah. Biasanya tuh anak juga telat kalau mau kemana-mana udah kebawa budaya Indonesia dia mah, waktu ngaret. Janjinya jam berapa sampainya jam berapa. Jadi lo gak usah panik kayak gitu," sambung Erland.
"Tapi gue takut kalau dia kenapa-napa dijalan," ucap Edrea dengan wajah yang lesu.
"Ck, bodoamat deh Re, gue gak peduli sama otak lo yang overthinking mulu. Dan kalau lo masih mau overthinking mending jauh-jauh dari gue. Gue gak mau kegiatan gue ke ganggu sama gerutuan lo," usir Erland sembari mendorong pelan tubuh Edrea dari kursi yang diduduki gadis itu.
Edrea yang sebal dengan saudara kembarnya itu pun ia beranjak dari duduknya dan dengan menghentak-hentakkan kakinya, ia pergi dari samping Erland menuju ke teman-teman sekelasnya.
Saat Edrea dan Erland tadi berdebat, disisi lain, tampak Zea menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang saling bertaut. Azlan yang tadinya pergi untuk menemui salah satu guru karena ada suatu hal yang perlu ia selesaikan pun saat dirinya kembali menemui Zea. Ia menghela nafas saat melihat wajah murung yang sengaja di sembunyikan oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Istrinya Azlan yang sangat cantik ini sedang apa sih? Kayaknya ada sesuatu yang sangat menarik di bawah sana sampai-sampai dari tadi nunduk mulu. Ada apa sih hmmm?" tanya Azlan sembari duduk disamping Zea dengan tangan yang ia gunakan untuk mengelus punggung istrinya itu.
Zea yang sedari tadi tertunduk pun ia kini menegakkan kembali kepalanya dan dengan memaksa senyumnya, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak kenapa-napa tadi aku nunduk hanya lihat semut-semut di bawah yang lagi gotong royong," ucap Zea dengan cengiran di bibirnya. Azlan yang tau jika istrinya itu tengah berbohong dan menyembunyikan kesedihannya yang ia sendiri sebenarnya tau apa yang menyebabkan Zea sedih pun ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Lalu setelahnya ia merentangkan kedua tangannya.
"Peluk sini." Zea menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kok gak mau di peluk suaminya sendiri?" tanya Azlan yang tampak kecewa atas penolakan dari istrinya itu.
"Ck, bukannya tidak mau hanya saja disini banyak orang. Bukan hanya murid saja melainkan ada para orangtua yang nanti akan melihat kita berpelukan," ujar Zea dengan memberikan kode dengan melirik kearah belakang tepat dimana para wali murid duduk.
"Haishhhhh. Ya udah kalau gitu meluknya gini aja." Tangan Azlan kini bergerak untuk memegang pinggang Zea.
"Stttt, mereka tidak akan bisa lihat. Jadi tenang aja," ujar Azlan saat Zea ingin menolak kembali pelukannya itu.
"Kalaupun mereka lihat ya biarin aja sih orang kita juga udah sah. Kalau mereka gak percaya ya tinggal kita buktikan dengan buku nikah kita kan gampang," sambung Azlan yang hanya mendapat gelengan kepala oleh Zea.
Beberapa saat setelahnya tak ada pembicaraan lagi diantara dua orang tadi, hingga Azlan kembali angkat suara.
"Sayang," panggil Azlan yang membuat Zea menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Zea.
"Hmmm gini, kita kan waktu itu nikahnya hanya sederhana kan?" Zea menganggukkan kepalanya.
"Nah gimana kalau kita gelar resepsi pernikahan kita beberapa hari setelah acara ini dan sebelum kita berangkat ke Amerika. Kamu mau kan?" Zea tampak terdiam sesaat, memikirkan tawaran dari Azlan tadi.
"Apakah kamu sangat menginginkan acara itu?" tanya Zea yang diangguki antusias oleh Azlan.
"Memangnya kamu tidak mau melakukan acara resepsi atau kalau tidak ya mewujudkan pernikahan impian kamu?"
"Aku tidak memiliki pernikahan impian seperti kebanyakan orang. Bahkan dari kecil aku hanya berharap memiliki pendamping yang setia dan bertanggungjawab, masalah pernikahan aku tidak memusingkan hal itu. Mau di adakan secara sederhana seperti kita kemarin tidak masalah yang penting pernikahan kita sah dimata hukum dan agama. Pernikahan sederhana sudah cukup untukku," ucap Zea dengan senyuman di bibirnya. Sedangkan Azlan, ia merasa bangga kepada Zea tapi disisi lain ia juga menyesal karena telah menikahi Zea di rumah sakit tanpa persiapan apapun bahkan diadakan secara dadakan. Tapi walaupun begitu ia juga sangat bersyukur setidaknya semua acara itu berjalan lancar tanpa halangan apapun.
"Tapi sayang, aku mau semua orang tau jika kamu sudah menjadi milikku dengan diadakannya resepsi pernikahan kita. Dan biar kamu tidak dianggap masih lajang lagi, kayak waktu lalu saat kita ke pasar, banyak orang-orang yang menggoda kamu untuk dijadikan istri ataupun menantu mereka. Ish menyebalkan," kesal Azlan saat mengingat kejadian waktu lalu yang membuatnya benar-benar marah dengan semua orang yang ada disekitarnya. Dan karena hal tersebut, istrinya itu ia kurung seharian di dalam kamar tanpa boleh keluar sejengkal pun.
Zea yang juga mengingatkan kejadian itu, ia kini terkekeh.
"Ya sudah terserah kamu saja. Mau ngadain acara resepsi ataupun tidak, aku ngikut kamu saja. Tapi ingat jangan menyusahkan Daddy sama Mommy jika kita akan melakukan acara resepsi," ucap Zea yang diangguki oleh Azlan.
"Tenang saja sayang. Suamimu ini sudah kaya sejak umur 13 tahun. Jadi jangan khawatir kalau suamimu ini akan menyusahkan ataupun meminta bantuan finansial untuk acara yang akan kita buat ini. Tapi kalau mereka ngasih tanpa kita minta ya terima aja. Hitung-hitung pengembali modal," ujar Azlan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Zea.
"Terserah kamu lah sayang. Yang penting tidak memberatkan siapapun termasuk kamu sendiri. Jangan paksakan jika kamu tidak bisa. Paham kan?"
__ADS_1
"Iya-iya sayang, aku paham kok," timpal Azlan.
"Ya sudah nanti lagi bahas begitunya, acara akan segera dimulai. Kita fokus dengan acara ini dulu," ujar Zea dengan membenarkan posisi duduknya menatap kearah depan tanpa memperdulikan Azlan yang justru kini meletakan kepalanya di bahu Zea.