
Selesai dengan urusan yang melibatkan keluarga Abhivandya terutama dengan Erland dan Leon yang menyempatkan diri mereka untuk mencari dirinya, Zico kini kembali ke kamar inap milik perempuan tersebut. Dan lagi-lagi saat dirinya sudah kembali masuk dan melihat perempuan itu, sudut bibirnya terangkat menjadi sebuah senyumnya. Entah mengapa senyum yang selalu ia sembunyikan kecuali dengan orang-orang yang memang sudah dekat dengannya kini senyuman itu sangat mudah sekali ia perlihatkan kepada perempuan yang masih menutup matanya itu.
Zico kini mendudukkan tubuhnya disamping brankar dengan mata yang menatap lurus kearah perempuan tersebut.
Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia membungkukkan tubuhnya untuk merebahkan kepalanya di atas brankar yang sama dengan perempuan tersebut. Dan dengan tangan yang menggenggam tangan perempuan tersebut, Zico perlahan menutup matanya, mengikuti perempuan tersebut kealam mimpi.
...****************...
Di pagi harinya perempuan yang semalam hanya menutup matanya perlahan ia mengerjabkan mata indah itu untuk menyeimbangkan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Dan dengan mendesis kesakitan, ia melirik ke sisi kanannya yang terdapat Zico disana yang masih tertidur lelap.
Ia menelisik wajah Zico yang terpampang jelas di hadapannya itu. Hingga beberapa saat, ia menutup matanya kembali saat Zico menggerakkan tubuhnya dan perlahan mata laki-laki itu terbuka lebar.
Zico tersenyum saat matanya pertama kali melihat wajah perempuan tersebut.
"Selamat pagi," ucapnya dengan mengelus rambut perempuan tersebut walaupun tak mendapat respon apapun dari perempuan yang sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya itu. Hingga atensi Zico kini beralih kearah ponselnya yang tengah berdering nyaring memenuhi ruangan tersebut.
Zico segara meraih ponselnya itu yang ternyata tengah menampilkan sebuah panggilan dari Vivian. Dan tanpa pikir panjang, Zico langsung mengangkat sambung telepon tersebut sembari berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dan sepeninggalan dirinya, perempuan itu kembali membuka matanya dan menatap punggung Zico yang sudah menghilang dari balik pintu tersebut.
"Apakah dia orang yang menabrak ku tadi malam? Tapi kenapa dia kelihatannya sangat baik kepada ku sedangkan kita saja tidak pernah bertemu dan saling sapa sebelumnya," ucap perempuan itu dalam hatinya. Namun beberapa saat setelahnya ia menggelengkan kepalanya saat pikirannya terus saja bertanya-tanya siapa laki-laki yang menunggu dirinya di rumah sakit tersebut. Karena walaupun berbagai pertanyaan berputar di otaknya, ia tidak akan mungkin bisa bertanya kepada laki-laki yang menolongnya itu. Karena ada satu dan lain hal yang membuat dirinya tidak bisa melakukan hal tersebut.
Saat perempuan di dalam ruangan tersebut tengah bertanya-tanya tentang dirinya, berbeda dengan Zico yang kini sudah berjalan tergesa-gesa menuju kearah parkiran mobil.
Dan setibanya di sana, mata Zico langsung memanas menahan air matanya saat ia melihat Vivian telah berdiri di samping mobilnya. Zico yang melihat hal tersebut pun ia langsung berlari menuju kearah Vivian yang disambut senyuman hangat dari perempuan tersebut. Bahkan tak urung Vivian kini merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh adiknya itu.
"Kak, maaf." Perkataan itu terlontar saat Zico telah berada di pelukan Vivian.
"Kamu tidak salah sayang. Kakak yang salah. Gara-gara Kakak yang tidak memperhatikan kamu, kamu jadi hilang dari pantauan Kakak. Maaf sayang," ujar Vivian dengan mengelus punggung Zico.
"Tidak, Kakak tidak salah sama sekali. Jio yang salah karena Jio sudah menyebabkan semua orang di keluarga Kakak khawatir. Maafin Jio Kak, maaf," tutur Zico yang sudah tak bisa membendung air matanya kembali.
"Baiklah-baiklah Kakak sudah memaafkan Jio. Dan coba Kakak lihat kondisi Jio dulu sekarang." Vivian melepaskan pelukannya tadi dan segera menatap tubuh Zico dari atas sampai bawah. Bahkan ia juga sampai memutar tubuh laki-laki tersebut.
"Huh, syukurlah. Kamu baik-baik saja. Lagian kamu kenapa sih harus pergi dari rumah tanpa pamit tadi malam?" Kesal Vivian sembari menghapus air mata Zico yang berada di pipi laki-laki itu.
"Maaf Kak, Jio sebenarnya tidak bermaksud buat Kakak dan keluarga Kakak khawatir. Jio tadi malam pergi karena Jio tidak mau merusak kebahagiaan Kakak," jujur Zico.
"Merusak kebahagiaan? Maksud kamu apa sih, Jio. Kamu tau, kebahagiaan Kakak tadi malam akan lebih lengkap saat kamu disana. Dan kebahagiaan Kakak itu lenyap saat kamu pergi dari rumah itu," ujar Vivian.
__ADS_1
"Perlu kamu tau, Jio. Kakak tidak bisa hidup tanpa kamu. Kamu itu layaknya separuh nafas Kakak. Walaupun kenyataannya DNA kita berbeda tapi kamu tetap adik kesayangan Kakak yang selama bertahun-tahun hidup bersama dan saling mengenal satu sama lain. Bahkan kamu orang pertama yang selalu ngertiin Kakak, selalu kasih semangat saat Kakak benar-benar lagi terpuruk dan kamu selalu ada untuk Kakak saat Kakak membuat seseorang untuk menjadi tempat sandaran Kakak. Kamu itu hidup Kakak, Jio. Kalau kamu pergi dari Kakak, Kakak merasa hidup Kakak menjadi percuma. Karena dunia Kakak akan selalu berada di diri Jio. Kakak sayang Jio. Jangan pergi dari hidup Kakak lagi ya sayang. Cukup sekali saja kamu meninggalkan Kakak dulu, dan untuk sekarang jangan pernah berpikir untuk melakukan hal itu. Kakak gak mau kehilangan Jio lagi, Kakak gak mau kehilangan dunia Kakak lagi dan tidak mau berjauhan dari Jio lagi. Jadi Kakak mohon tetaplah di samping Kakak sampai kapanpun walaupun suatu saat nanti kamu akan menikah dengan perempuan yang kamu cintai, tetaplah selalu ingat Kakak. Dan jika kamu dalam kesusahan, menolehlah ke belakang karena di setiap langkahmu Kakak akan berada di belakangmu," sambung Vivian dengan menangkup kedua pipi Zico.
Sedangkan Zico yang mendengar penuturan dari Vivian pun ia kembali memeluk tubuh Kakaknya itu dengan begitu erat.
"Maaf, maafin Jio Kak. Maaf."
"Iya sayang, iya. Bukannya Kakak tadi sudah memaafkanmu. Jadi untuk selanjutnya kamu jangan minta maaf lagi, oke. Karena Kakak hanya menganggap jika ini hanya kesalahpahaman yang sudah berhasil kita luruskan," tutur Vivian.
"Tapi kamu masih punya hutang penjelasan tentang kecelakaan yang terjadi tadi malam. Kenapa bisa kamu terlibat kecelakaan itu sih Jio? Untung saja kamu tidak kenapa-napa, kalau sampai kamu terluka, Kakak tidak akan pernah memaafkan diri Kakak sediri. Dan coba kamu ceritakan kronologi kejadiannya," sambung Vivian.
Zico menghela nafas panjang sembari melepaskan pelukannya itu kemudian tubuhnya ia sandarkan di mobilnya sebelum ia memulai menceritakan kronologi cerita tentang kecelakaan tadi malam sedetail-detailnya tanpa di kurangi ataupun di lebihkan.
Vivian yang mendengar cerita dari Zico pun sesekali ia menganggukkan kepalanya untuk merespon cerita tersebut. Hingga akhirnya Zico menyelesaikan ceritanya itu.
"Jadi kamu menabrak seorang perempuan?" Zico menganggukkan kepalanya.
"Terus kebocoran di kepalanya tidak menyebabkan dia kehilangan ingatnya kan?" tanya Vivian.
"Kata dokter sih tidak. Hanya bocor saja tidak gagar otak yang menyebabkan amnesia," jawab Zico yang membuat Vivian menganggukkan kepalanya.
"Terus dia sekarang di rawat dimana?" tanya Vivian yang sangat kepo dengan seseorang yang di tabrak oleh adiknya itu.
"Ck, maksud Kakak di kamar apa, letaknya dimana?" Zico ber-oh riya sebelum dirinya menegakkan tubuhnya kembali dari sandarannya tadi.
"Kalau Kakak mau lihat dia. Ikut Jio." Tanpa menunggu persetujuan dari Vivian, Zico lebih dulu melangkahkan kakinya meninggalkan Vivian yang kini tengah berdecak melihat Zico yang meninggalkan dirinya begitu saja. Tapi walaupun begitu ia juga melangkahkan kakinya mengikuti arah langkah kaki adiknya itu.
Hingga keduanya kini telah sampai di depan suatu ruangan yang Vivian yakini itu adalah ruangan dari korban yang di tabrak oleh Zico. Karena terbukti dengan tangan Zico bergerak meraih kenop pintu itu lalu membukanya.
"Masuk Kak," ucap Zico saat pintu itu telah terbuka lebar.
Vivian menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar inap itu. Saat dirinya sudah masuk, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan tersebut dengan kerutan di dahinya.
"Kamu lagi tidak salah kamar kan Jio?" Tanya Vivian sembari memutar tubuhnya menghadap kearah Zico yang kini telah menutup pintu itu kembali.
"Tidak. Di depan kamar tadi tulisannya kamar VIP nomor 4 dan kamar ini yang semalam menjadi tempat Jio tidur untuk menemani perempuan itu," jawab Zico dengan tatapan mata kearah Vivian.
"Kamu yakin? Coba deh cek lagi. Siapa tau kamu salah lihat tulisan," ujar Vivian. Dan tanpa bantahan, Zico kini kembali membuka pintu ruangan tersebut dan dengan menyembulkan kepalanya ia melihat papan yang berada di samping pintu tersebut, lalu ia membacanya secara teliti.
__ADS_1
"Gak salah kok. Kamar ini memang kamar yang Jio pesan untuk perempuan itu selama dia di rawat disini," ucap Zico sembari masuk kembali kedalam kamar inap tersebut.
"Kalau memang benar ini tempatnya, kenapa di brankar gak ada orangnya?" Ucap Vivian dengan mengalihkan pandangannya kearah brankar yang terlihat kosong walaupun sedikit berantakan.
Zico kini membelalakkan matanya saat ia mengikuti arah pandang Vivian tadi.
"Lho kok dia hilang." Zico berjalan mendekati brankar tadi. Dan ia menemukan infus yang telah tercabut secara paksa. Zico meraih infus tersebut lalu menelisik sesaat sebelum ia menemukan bercak darah yang menetes tepat di bawahnya.
"Infus ini di cabut secara paksa Kak. Apa jangan-jangan dia kabur dari sini?" tanya Zico.
"Sepertinya memang gitu. Tapi kamu tenang dulu, sebaiknya kita cari dia di sekitar kamar ini. Siapa tau kan dia ada di dalam kamar mandi," ucap Vivian menenangkan adiknya yang terlihat seperti seseorang yang tengah khawatir akan kondisi korban yang adiknya itu tabrak semalam. Bahkan hanya dengan tatapan mata dari Zico saja ia bisa merasakan jika tatapan mata itu berbeda saat mereka membicarakan tentang perempuan yang sayangnya belum sempat Vivian lihat wajahnya itu.
Zico yang mendengar perkataan dari Vivian pun ia segara berlari kearah kamar mandi. Dan setibanya dirinya didepan bilik tersebut, ia langsung membuka pintunya. Namun sayang saat pintu itu terbuka lebar, ia tak mendapati sosok perempuan itu disana.
"Di kamar mandi gak ada, Kak," ujar Zico yang terlihat panik.
Vivian berjalan mendekati Zico untuk mematikan penglihatan laki-laki itu. Dan ternyata apa yang di katakan Zico tadi benar, jika di dalam ruangan itu tak ada seorangpun disana. Bahkan Vivian tadi juga sudah sempat mencari orang itu di segala sudut kamar mandi itu, takutnya orang tersebut sekarang tengah bersembunyi untuk menghindari dirinya dan Zico. Tapi saat dirinya sudah benar-benar memastikannya sendiri, ia kini mengelus lengan Zico untuk memberikan sebuah ketenangan.
"Kita coba cari di taman rumah sakit ya. Siapa tau dia lagi ngadem disana," ujar Vivian yang diangguki oleh Zico.
Dan dengan langkah lebar, Zico kini mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju ke tempat yang Vivian katakan tadi.
Vivian yang melihat punggung Zico semakin menjauh pun ia kini menghela nafas.
"Sepertinya kamu sekarang sudah menemukan setitik cahaya di hati kamu, Jio. Walaupun Kakak rasa, kamu hanya mengagumi perempuan yang baru kamu temui itu. Tapi Kakak yakin di hati kamu sebenarnya ada perasaan lain, terbukti kamu sekarang sangat khawatir dengan orang yang kamu tabrak itu. Kalaupun memang begitu, Kakak harap kamu selalu bahagia dengan dia. Ya walaupun Kakak tau kamu belum mengenal dia, tapi dengan melihat tingkah laku kamu yang selalu pantang menyerah saat kamu menginginkan sesuatu, maka Kakak yakin suatu saat nanti kamu akan tau segalanya tentang dia," gumam Vivian dengan melangkahkan kakinya menyusul Zico yang sudah jauh dari pantauannya.
"Hihihi tapi lucu juga ya kalau di pikir-pikir. Seorang Zico yang terkenal dingin dengan orang lain di luar sana bahkan juga terkenal dengan sebutan laki-laki yang tak tersentuh bahkan juga mendapat julukan si kulkas berjalan. Eh taunya sekarang malah jatuh cinta pandangan pertama sama seorang perempuan yang sialnya aku belum lihat wajah dia. Ck, menyebalkan," sambung Vivian dengan berdesis kecewa.
Saat Vivian tengah memikirkan kelucuan dari Zico yang tengah jatuh cinta pada pandangan pertama itu, tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan seseorang yang memeluknya. Tapi ketegangan dalam tubuhnya hilang saat ia menghirup aroma parfum orang tersebut yang sangat familiar di hidungnya. Dan orang yang memeluknya itu siapa lagi kalau bukan Zico orangnya.
"Hiks, dia gak ada dimana-mana Kak. Jio sudah cari dia di seluruh taman di rumah sakit ini tapi Jio tidak melihatnya. Hiks, dia kabur Kak, dia hilang hiks." Vivian yang mendengar tangisan dari Zico tampak terkesiap sesaat. Ia tak percaya Zico menangis hanya karena perempuan yang baru ia kenal itu. Astaga, kalau begini caranya, asumsi Vivian tadi benar kalau Zico tengah jatuh kedalam pesona perempuan itu.
Vivian yang tersadar dan kini ia tengah tersenyum pun, tangannya kini bergerak untuk mengelus punggung Zico.
"Cup cup cup. Jangan nangis. Malu ih di lihatin orang-orang tuh," ujar Vivian dengan melepaskan pelukan Zico tadi kemudian ia membantu adiknya itu untuk menghapus air matanya.
"Coba kita tanya ke suster disini dulu. Siapa tau mereka ada yang lihat orang yang kamu tabrak itu tadi. Kalaupun mereka tidak ada yang tau, kita minta pihak rumah sakit untuk mengecek rekaman CCTV," tutur Vivian yang diangguki oleh Zico.
__ADS_1
"Jadi kamu tenang dulu, oke. Kita sekarang kesana," sambung Vivian dan dengan menggenggam tangan Zico, mereka segera memulai pencarian perempuan tersebut yang entah sekarang ada dimana.