The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 239


__ADS_3

Edrea kini telah siap dengan seragam sekolahnya dan kini ia keluar dari kamar yang telah disiapkan oleh Leon.


Tapi saat dirinya baru menginjakkan kakinya di lantai bawah rumah tersebut, ia dibuat melongo saat melihat Leon dan Callie telah rapi dengan seragam sekolah mereka, tapi yang paling aneh adalah seragam sekolah milik Leon. Tapi saat dirinya akan melayangkan sebuah pertanyaan kepada Leon, suara Callie membuat bibirnya itu terkatup kembali.


"Mommy!" teriak Callie sembari berlari kearah Edrea. Edrea yang melihat larinya Callie pun dengan sigap ia menangkap tubuh anak perempuan itu dan menggendongnya.


"Wah Mommy cantik sekali," puji Callie saat dirinya sudah berada di gendongan Edrea.


Edrea yang gemas atas pujian yang baru saja ia dapatkan itu pun, ia kini mencubit pelan pipi Callie.


"Mommy memang sudah cantik dari dulu sayang," ujar Edrea.


"Hehehe kan Callie baru lihat Mommy secara nyata sekarang, kalau dulukan Callie hanya melihat foto Mommy saja. Setiap kali Callie mau ketemu sama Mommy pasti Daddy ngelarang begitu juga dengan Appa sama Eomma, mereka sama saja tidak pernah mengizinkan Callie ketemu sama Mommy," tutur Callie dengan kerucutan di bibirnya.


Sedangkan Edrea yang mendengar dua panggil asing itu kini ia mengerutkan keningnya sembari menatap kearah Leon, seakan-akan ia menuntut penjelasan kepada laki-laki tersebut.


"Appa sama Eomma tuh sebutan buat Mommy sama Daddy lo. Mereka tidak mau kalau dipanggil Nenek atau Kakek. Dan karena Daddy Aiden juga memiliki darah Korea alhasil Callie panggil mereka dengan sebutan seperti itu," jelas Leon sembari berjalan mendekati kedua orang tadi.


"Jadi selama ini---"


"Hmmm, yang menyembunyikan dan merawat Callie selama ini adalah kedua orangtua lo. Udah, kita bahas ini nanti saja. Kita berangkat dulu," ujar Leon.


"Sini sayang. Daddy gendong," sambung Leon yang membuat Callie dengan senang hati mengulurkan tangannya, kode jika dirinya siap untuk digendong oleh Leon.


Dan setelahnya Leon dan Callie berjalan lebih dulu dari Edrea. Sedangkan Edrea yang masih sangat-sangat penasaran dengan banyaknya rahasia yang telah Leon dan keluarganya itu sembunyikan darinya dan tak kunjung mendapatkan jawaban, kini ia hanya bisa menghela nafas berat sebelum dirinya berjalan di belakang Leon untuk menuju ke mobil laki-laki tersebut yang akan mereka tumpangi nanti.


...****************...


Setelah menempuh beberapa menit di dalam perjalanan akhirnya mobil Leon kini terhenti di sekolah Callie.


"Daddy, Mommy, Callie masuk dulu. Bye Daddy, bye Mommy. Sampai ketemu nanti," ucap Callie sembari mencium telapak tangan kedua orang itu. Lalu setelah ia mendapatkan kecupan dari kedua orangtua angkatnya, barulah ia berjalan masuk kedalam area sekolah tersebut sembari melambaikan tangannya. Dan hal itu dibalas lambaian tangan keduanya.

__ADS_1


"Apa lo gak khawatir sama Callie saat dia sekolah sendirian begini tanpa baby sitter yang menunggunya?" tanya Edrea tanpa mengalihkan pandangannya kearah Callie yang semakin menjauh dari dirinya.


"Kenapa harus khawatir? Jika gue udah nyiapin bodyguard bayangan untuk Callie. Jadi walaupun dia tidak diikuti oleh baby sitternya, dia tetap dalam pantauan anak buah gue," ujar Leon sembari membukakan pintu mobil untuk Edrea.


"Silahkan masuk, Mommy. Giliran kita yang berangkat ke sekolah," sambung Leon.


Edrea menghela nafas lega saat Leon ternyata masih memantau Callie walaupun dia yakin, laki-laki itu sangat sibuk dengan urusannya sendiri.


Dan Edrea kini tersenyum kearah Leon sebelum ia masuk kembali kedalam mobil tersebut.


Dan setelah memastikan jika Edrea masuk dan duduk dengan nyaman, Leon menutup pintu mobil tersebut lalu berlari menuju pintu samping kemudi.


Dan dalam perjalanan mereka menuju ke sekolah, Edrea baru mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya sedari tadi.


"El," panggil Edrea yang dijawab deheman oleh Leon.


"Gue perhatiin dari tadi, seragam sekolah lo ini sama seperti seragam sekolah gue? Jangan bilang kalau lo---"


"Oh astaga, kenapa lo juga harus ikutan pindah sih?"


"Memangnya kenapa? Gak boleh gitu?" tutur Leon.


"Bukan, bukannya gak boleh. Tapi kalau lo gini, jadi kelihatannya tuh lo ngikutin gue," ujar Edrea.


"Kan memang gue ngikutin lo," jawab Leon dengan santai.


"Apa?" kaget Edrea.


"Edne, kecilin suaranya please," pinta Leon dengan lembut.


"Dan memangnya salah kalau gue ngikutin calon istri sendiri? Kan kalau gue ngikutin lo, gue juga bisa lindungin lo. Lo gak tau aja gimana rasanya dihantui dengan rasa khawatir dan parno terus menerus jika gue gak lihat lo atau mendengar kabar lo sehari saja. Mungkin bagi lo apa yang gue katakan ini lebay dan lain sebagainya, tapi inilah yang gue rasain selama gue jauh dari lo dan gak tau lo dimana. Dan gue gak mau hal itu terjadi lagi dengan kita," tutur Leon.

__ADS_1


"Ck, ngakunya sih khawatir kalau gak tau kabar gue sehari aja tapi setelah kenaikan kelas waktu itu, dia sendiri yang menghilang," cibir Edrea.


"Gue gak menghilang waktu itu. Gue hanya ada urusan yang memang sangat mendesak dan gue tetap dapat kabar tentang lo dari Mommy, Daddy atau ketiga abang lo itu setiap harinya," ujar Leon.


"Hah kok bisa? Bukannya selama ini nomor lo gak aktif bahkan sampai kemarin?" tanya Edrea.


"Gue lupa belum masukin nomor gue yang biasanya kedalam ponsel. Dan gue punya nomor khusus untuk komunikasi dengan keluarga lo. Jadi walaupun nomor gue yang itu gak aktif, gue tetap bisa bertukar kabar dengan keluarga lo," ujar Leon.


"Dan gue dengar-dengar selama nomor gue yang biasanya gak aktif, lo nyariin gue terus? Ada apa hmmm sampai nyariin gue? Lo kangen, khawatir atau sudah tidak bisa jauh dari gue lagi?" sambung Leon sembari menatap wajah Edrea. Dan hal itu membuat Edrea langsung membuang muka.


"Ck, jangan bicara omong kosong. Tidak ada yang kangen dan mengkhawatirkan keadaan lo," tampik Edrea.


"Hmmm begitu ya, kalau keduanya itu salah berarti pertanyaan gue tadi tentang lo gak bisa jauh dari gue, itu memang kenyataannya dong," goda Leon.


"Gak juga," jawab Edrea singkat.


"Masak sih. Kalau iya juga gak papa kali. Karena gue akan dengan senang hati akan berada di sisi lo setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik. Kalau bisa saat ini juga gue nikahin lo, biar kalau kita mau satu rumah sekalipun tidak akan timbul fitnah nanti," ujar Leon yang langsung mendapat geplakan tangan dari Edrea di lengannya.


"Ngelantur mulu tuh mulut. Diam El sebelum gue lakban tuh mulut," ancam Edrea.


"Duh, galaknya calon istri. Iya-iya deh gue diam dari pada nanti dapat kekerasan dari calon istri," ujar Leon mengalah daripada nanti Edrea ngambek dan berujung dirinya yang pusing sendiri.


Dan setelah sedikit percakapan tadi, tak ada lagi percakapan selanjutnya hingga mobil yang mereka tumpangi kini telah sampai di tempat yang mereka tuju.


Dan baru saja Edrea turun dari mobil Leon, sudah banyak bisik-bisik dari para warga sekolah untuk dirinya.


"Mereka kenapa lihatin lo gitu banget?" tanya Leon heran setelah dirinya berdiri disamping Edrea.


"Udah biasa, mulut-mulut comberan mah begitu. Jadi diamin aja, nanti kalau tuh mulut udah dower, baru bisa diam," ujar Edrea dengan suara yang memang sengaja ia perkeras agar orang-orang yang bisik-bisik tadi mendengar suaranya tersebut. Dan setelah mengatakan hal itu, Edrea mulai melangkahkan kakinya.


Sedangkan Leon yang juga mendengar ucapan Edrea itu pun tersenyum bangga.

__ADS_1


"That's my girl!" ucap Leon sembari mengikuti langkah Edrea.


__ADS_2