
Edrea terus memberontak saat Leon masih saja menggendongnya ala karung beras saat mereka berdua mulai memasuki area yang sudah banyak para siswa-siswi disana.
"Leon, turunin!" berontak Edrea sembari memukul-mukul punggung Leon yang sama sekali tak memberikan efek sakit sedikitpun di tubuh Leon.
"Leon! Malu ih dilihat banyak orang!" geram Edrea yang ucapannya sedari tadi tak dihiraukan oleh sang empu.
"Leon ish. Lo dengar gak sih apa yang gue katakan dari tadi?" ucap Edrea yang sudah menghentikan aksi memukulnya itu dan sekarang ia dengan susah payah menolehkan kepalanya kearah Leon yang sayangnya ia hanya bisa melihat bagian belakang kepala dari laki-laki tersebut.
"Leon!" teriak Edrea yang benar-benar sudah emosi.
"Apa?" tanya Leon tanpa berniat menurunkan tubuh Edrea dari gendongannya itu.
"Turunin!" perintah Edrea. Leon lagi-lagi tak mengabaikan ucapan dari Edrea hingga ia kini mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang UKS di sekolah tersebut.
Dan saat dirinya masuk, semua petugas UKS tersebut tampak syok atas aksi Leon tersebut. Tapi beberapa saat setelahnya mereka tersadar saat Leon memberikan kode kepada mereka semua untuk keluar dari ruang UKS itu.
"Lho lho lho kok semua orang keluar dari sini sih. Jangan keluar dulu woy. Bantuin gue lepas dari laki-laki gila ini!" teriak Edrea yang tak di perdulikan para siswi itu. Bahkan matanya kini terbelalak saat melihat pintu UKS itu kini elah tertutup rapat.
"Kok di tu---Aaaaaaa!" teriak Edrea saat tiba-tiba saja Leon membanting pelan tubuhnya di atas brankar di ruangan tersebut.
Dan belum sempat dirinya melontarkan protesannya, Leon tiba-tiba mendindih tubuhnya bahkan wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa senti saja.
Dan hal itu mampu membuat Edrea mengatupkan mulutnya rapat-rapat, salivanya yang bisanya lancar untuk ia telan pun kini terasa sangat susah bahkan nafasnya pun ikut tercekat saat ia merasakan hembusan nafas Leon ditambah wangi parfum dari laki-laki tersebut yang sungguh membuat Edrea dimabuk kepayang.
Cukup lama mereka berdua saling pandang, hingga kini Edrea tersadar akan posisi mereka yang terlalu awkward dan jika sewaktu-waktu ada siswa lain atau guru masuk kedalam UKS, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak dengan dirinya dan juga Leon saat ini.
Edrea kini bergerak untuk mendorong tubuh Leon tapi sayangnya dorongannya itu sama sekali tak membuat tubuh Leon bergerak dari posisinya tadi.
"Diam!" perintah Leon.
__ADS_1
"Gak. Gue gak akan pernah diam. Enak aja lo main tindih-tindih anak orang kayak gini. Kalau lo mau berbuat mesum, jangan sama gue. Cari aja di mucikari, banyak tuh perempuan yang mau melayani lo," ujar Edrea dengan tangan yang masih memukul-mukul dada bidang Leon.
Leon yang dituduh tidak-tidak oleh Edrea kini dengan cepat satu tangannya mencekal salah satu tangan Edrea. Bahkan tatapan tajam nan dinginnya kini terpaksa ia perlihatkan untuk Edrea hingga semua itu berhasil membuat Edrea terdiam.
"Ingat ini Re, gue bukan laki-laki bajingan yang suka menjadikan tubuh wanita buat pelampiasan napsu gue. Gue bukan laki-laki yang sama persis dengan gambaran di pikiran lo saat ini," ujar Leon dan setalahnya ia melepaskan tangan Edrea. Kemudian tubuhnya juga kini perlahan menjauhi tubuh Edrea. Bahkan sekarang dirinya sudah duduk di kursi samping brankar Edrea.
"Tetap berbaring jangan duduk dulu!" perintah Leon dengan tegas saat Edrea berniat mendudukkan tubuhnya diatas brankar.
Dan hal itu membuat nyali Edrea seketika menciut, lalu dirinya kembali membaringkan tubuhnya. Tapi tatapan matanya kini terus menatap kearah Leon yang tengah sibuk dengan aktivitasnya.
"Wajah Leon kalau dari samping gini mirip sama seseorang. Tapi siapa?" batin Edrea saat dirinya telah memperhatikan lebih intens lagi wajah Leon sembari mengingat-ingat wajah familiar itu.
"Miringin kepala lo kearah gue," perintah Leon yang membuat Edrea seketika tersadar dari lamunannya tadi. Dan tanpa protes, Edrea langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh Leon.
Setalah Edrea menolehkan kepalanya, Leon kini beranjak dari duduknya dan mendekati leher Edrea.
"Tahan," ucap Leon yang intonasi suaranya mulai lembut kembali sembari sesekali ia meniup-niup luka tersebut.
"Aws sakit Leon," tutur Edrea sembari mengigit bibir bawahnya agar rasa perih yang ia rasakan bisa teralihkan.
Leon menghela nafas saat Edrea selalu menghalangi tangannya yang ingin mengobati luka tersebut dan kini ia menatap wajah kesakitan Edrea yang membuat dirinya tak tega melihatnya. Hingga tangannya kini bergerak untuk mengusap kepala Edrea dengan lembut.
"Jangan gigit bibir lo nanti bisa berdarah. Pegang jaket gue," perintah Leon sembari menuntun tangan Edrea untuk memegangi Hoodie yang masih ia kenakan itu.
Dan setalah dipastikan Edrea sudah memegang erat Hoodienya tadi, Leon kini mulai mengobati luka Edrea kembali.
"Tahan, sebenar lagi selesai," ucap Leon sembari tangannya mulai bergerak untuk menempelkan plester ke leher Edrea.
"Sekarang udah selesai," tutur Leon sembari menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
"Thanks," ucap Edrea dengan berusaha untuk mendudukkan tubuhnya diatas brankar tersebut. Dan ucapan terimakasihnya tadi hanya dijawab dengan deheman oleh sang empu.
"Leon," panggil Edrea saat Leon masih sibuk membereskan peralatan yang ia gunakan tadi.
"Hmmm," jawab Leon yang membuat Edrea mengigit bibir bawahnya.
"Lo---lo ngambek sama gue?" tanya Edrea.
"Gak," jawab Leon singkat.
"Lo marah sama gue?" tanya Edrea lagi.
"Gak," balas Leon.
"Masak sih. Kalau lo gak ngambek atau marah, lo gak akan jawab pertanyaan gue singkat kayak gitu dong. Kalau lo jawab singkat berarti lo lagi marah dan ngambek sama gue. Ngaku aja deh lo," desak Edrea sembari mencolek lengan Leon.
Tapi semua yang Edrea lakukan itu tak dihiraukan Leon. Hingga akhirnya membuat Edrea berdecak sebal.
"Ck, Lo kayak anak perawan aja deh. Gampang banget ngambek sama marah," ujar Edrea yang berhasil membuat Leon mengalihkan perhatiannya.
"Apa yang lo bilang tadi? coba ulangin lagi," tutur Leon.
"Lo kayak anak perawan, gampang ngambek sama marah tanpa ada alasan yang pasti dan sangat-sangat gak jelas begini," ulang Edrea yang justru membuat Leon kini tersenyum miring. Dan tanpa Edrea duga, Leon kini menaruh kotak P3K yang tadinya berada dipangkuan ke atas nakas dengan sedikit kasar. Setalahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk Edrea, ia mulai beranjak dari kursi yang ia duduki tadi dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan tersebut.
Edrea yang melihat dan merasakan perubahan sikap dari Leon pun dengan cepat ia berteriak dengan sangat keras.
"Leon, lo mau kemana?" tanya Edrea yang membuat Leon menghentikan langkahnya.
"Bukan urusan lo," jawab Leon tanpa menolehkan kepalanya kearah Edrea. Dan setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya hingga dirinya benar-benar keluar dari ruang UKS tersebut meninggalkan Edrea yang kini sudah mulai turun dari atas brankar dan berusaha untuk menyusul Leon yang entah kemana laki-laki itu pergi sekarang.
__ADS_1