The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 111


__ADS_3

Edrea kini berada di halte bus untuk menunggu taksi online yang ia pesan tadi dengan sesekali menghela nafas berat jika mengingat perlakuan kedua saudara kembarnya itu tadi pagi.


"Maafin Rea bang," ucap Edrea dengan menengadahkan wajahnya menatap langit yang sepertinya juga tengah dilanda kesedihan sama sepertinya, pasalnya warna langit yang tadi pagi sangat cerah kini berubah menjadi gelap, sebentar lagi akan turun hujan tampaknya, pikir Edrea.


Lagi-lagi ia harus menghela nafas saat melihat hujan gerimis membasahi jalanan di sekitarnya sedangkan taksi yang sedari tadi ia tunggu tak kunjung menampakkan diri dan menemui Edrea. Hal itu semakin membuat mood Edrea hancur saja.


"Lama banget sih. Apa gue telepon Daddy aja ya," gumam Edrea yang sudah tak sabar lagi ingin segera pulang dan sampai rumah.


"Iya gue telepon Daddy buat jemput aja lah. Bakal lama kalau nunggu taksi kesini keburu hujan badai turun nanti." Tangan Edrea kini mengambil ponselnya yang tadi tersimpan di kantung baju seragamnya dan saat dirinya ingin memencet ikon telepon, tangannya tiba-tiba berhenti.


"Tapi kalau jam segini, Daddy pasti lagi sibuk-sibuknya. Huh terus gue mau hubungani siapa dong? kedua Abang gue lagi marah sama gue." Edrea berpikir sejenak siapa lagi yang bisa ia hubungi selain Abang dan Daddynya itu dan tiba-tiba ia tersenyum lebar saat mengingat Mommynya. Dasar anak laknat, ingat Mommynya kalau lagi kesusahan saja.


Dan baru saja Edrea menghubungi nomor Mommynya, bertepatan pada saat itu juga ada mobil yang berhenti tepat di depannya. Edrea mengernyitkan keningnya, tapi ia mengacuhkan mobil tersebut dan kembali fokus ke ponselnya yang masih mencoba menghubungi sang Mommy. Hingga pandangannya beralih saat mendengar suara seseorang yang masuk kedalam indra pendengarannya.


"Maaf, apa anda nona Edrea?" tanyanya yang berdiri di depan Edrea.


"Iya benar. Ada apa ya?" tanya Edrea penuh selidik.


"Saya sopir taksi yang nona tadi pesan," jawabnya dengan senyum.


Edrea menganggukkan kepalanya. Tapi matanya masih menatap sopir taksi tersebut dari ujung rambut hingga kepalanya.


"Kok kayak ada yang aneh sama sopir ini sih," batin Edrea.


"Ahhhh sudahlah jangan berburuk sangka dulu sama orang lain," sambungnya masih di dalam batin.


Pikirannya yang masih berkelana entah kemana pun teralihkan saat suara Mommy Della memekikkan telinganya.


📞 : "Halo, assalamualaikum. Ada apa?" ucap Mommy Della to the point.

__ADS_1


"Ck, Mom bisa gak suaranya di pelanin dikit. Bisa gudek nih telinga Rea kalau harus dengar suara Mom yang super duper tak ada akhlak itu," keluh Edrea. Karena suara Mommy Della itu terus saja ngegas tanpa rem walaupun hanya lewat sambungan telepon saja.


📞 : "Budek Rea bukan gudek. Astagfirullah punya anak bodoh bin bloon banget sih. Btw kalau ada yang salam itu di jawab!" Nah kan suara cetar membahana sang Mommy kembali terdengar hingga membuat Edrea menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Astagfirullah, Mommy ih. Waalaikumsalam."


📞 : "Nah kalau jawab gitu kan cantik. Tapi mohon maaf lebih cantikan Mommy kemana-mana." Edrea menghela nafas sembari memutar bola matanya malas. Sudah tak heran dia dengan ke narsisan emak-emak satu ini, yang sayangnya adalah emaknya sendiri.


Dirasa tak ada balasan dari Edrea, Mommy Della kembali membuka suaranya.


📞 : "Oh ya, kamu tadi ngapain telepon Mommy?"


Edrea menatap kearah sopir tadi yang masih setia menunggunya sembari ia menyakinkan dirinya sendiri untuk terus berpikir positif dengan sopir itu.


Dan dirasa dirinya sudah mendapat keputusan yang tepat, akhirnya Edrea kembali ke percakapannya dengan Mommy Della tadi.


"Hehehe gak jadi Mom."


"Hehehe maaf Mommyku sayang. Ya udah Rea tutup teleponnya ya. Mom silahkan kembali istirahat. Bye Mom, love you. Assalamualaikum."


📞 : "Gak jelas. Waalaikumsalam, love you too."


Kini sambungan telepon keduanya telah terputus kemudian Edrea kembali memasukkan ponselnya didalam saku baju seragamnya.


"Let's go. Antar saya pulang ya pak. Anak orang jangan diculik oke," tutur Edrea lalu ia langsung masuk kedalam mobil taksi yang terlihat seperti mobil biasa itu.


Saat Edrea sudah masuk sempurna, kini sopir itu mengitari mobil tersebut untuk mencapai pintu di samping kemudi. Setelah semuanya dirasa aman, sopir itu melajukan mobilnya membelah jalanan yang bergitu ramai dengan ditemani oleh hujan gerimis di dalam perjalanan mereka.


...****************...

__ADS_1


Disisi lain, disebuah rumah yang di jadikan markas oleh Leon dan anak buahnya, kini markas itu akan diadakan sesi interogasi.


Dan orang yang akan di interogasi oleh Leon adalah orang yang memiliki mobil yang digunakan untuk menculik Edrea beberapa pekan lalu. Tak susah untuk mencari keberadaan manusia jahat itu walaupun sempat melarikan diri tapi tetap saja tak bisa menghilang dari pantauan Leon dan kawan-kawannya hingga mereka bisa menangkap dan menemukan penjahat itu.


Kini dengan gagah Leon memasuki sebuah ruangan yang sering ia jadikan sebagai ruang pembantaian para orang-orang yang berani mengusik ketenangannya dan mungkin tempat itu juga nanti kembali akan menjadi saksi kekejaman seorang Leon.


Dengan wajah garang dan dingin, Leon berhenti tepat di depan penjahat itu yang tengah terduduk dengan kaki dan tangan terikat sebuah rantai yang memuat pergerakannya terbatas.


"Katakan siapa yang nyuruh lo!" ucap Leon dengan menatap penjahat tadi dengan tatapan tajamnya.


Penjahat itu terdiam dengan wajah yang menunduk.


Leon yang geram pun kini memaksa wajah penjahat tersebut untuk berhadapan langsung dengan wajahnya.


"Katakan!" geram Leon


Tak ada hasil dari gertakan Leon tadi pasalnya penjahat itu terus mengatupkan bibirnya, tak mau menjawab pertanyaan dari Leon tadi.


"Oh jadi Lo mau bermain sama gue dulu. Baiklah akan gue jabanin," tutur Leon dengan suara yang cukup rendah dan membuat semua orang bergidik ngeri. Kalau sang bos sudah bersuara seperti itu siap-siap saja mata mereka akan melihat pertunjukan yang membuat mereka merasakan ngilu di tubuhnya.


Dan benar saja, kini tangan Leon yang terdapat sebatang rokok yang menyala kini terulur kearah bibir penjahat tersebut dan langsung memadamkan api di rokok tersebut tepat di bibir penjahat itu. Setelah itu ia membuang puntung rokok tersebut ke sembarang arah. Kemudian ia mengkode anak buahnya menggunakan tangannya. Dan anak buahnya yang peka dengan kode dari Leon pun langsung bergerak cepat menghampiri Leon untuk menyerahkan pisau ke tangan sang bos.


Leon yang sudah mendapatkan senjata tajam itu, kini mengacungkan pisau tadi tepat di depan wajah penjahat tersebut.


"Apa perlu gue buat lo jadi bisu beneran? hmm sepertinya ide yang bagus. Eh tapi kalau lo bisu gue gak bisa dapat info dari lo. Oke kalau gitu biar anak lo aja yang gue bikin bisu dan buta. Sepertinya seru juga," ucap Leon dengan senyum miringnya.


Penjahat itu membulatkan matanya saat mendengar ancaman dari Leon tadi. Tapi ia masih tak berani untuk memberitahu rahasia yang cukup besar itu. Karena jika dia memberi tahu Leon maka nyawa istri dan anaknya juga akan di ambang kematian. Ditambah kenyataan dirinya di tangkap oleh pihak musuh pun ia yakin sudah menyebar hingga ke telinga sang bos. Arkh, rasanya ia ingin sekali mengulang masa dimana dia tak ikut kedalam dunia hitam seperti ini dan mencari uang dengan cara halal. Tapi semuanya sudah sia-sia, tak ada lagi yang bisa ia ulang. Ia sekarang hanya bisa pasrah dan sepertinya ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri sebelum orang yang ia sayang terancam nyawanya.


Penjahat itu kini mengigit sesuatu yang sedari tadi dia sembunyikan dibalik lidahnya kemudian ia langsung menelannya hingga membuat tubuhnya langsung merespon efek dari apa yang ia makan tadi.

__ADS_1


Leon mengernyitkan keningnya saat melihat mata penjahat itu yang terbuka cukup lebar dan bola matanya menatap keatas dengan tubuh yang terlihat menegang dan tak berselang lama keluar busa dari mulut penjahat tadi.


__ADS_2