
Leon yang sedari tadi tak lagi mendengarkan suara orang-orang di luar kamarnya pun ia kembali bersuara.
"Callie, apa Callie masih di luar?" tanya Leon dengan menggedor pintu kamarnya kembali.
Callie yang masih menangis dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Azzo, ia menegakkan kembali wajahnya saat mendengar suara Leon.
"Daddy, Callie masih disini, hiks," ucap Callie dengan sesegukan. Dan hal tersebut membuat Leon terkesiap.
"Eh, Callie sedang menangis?" Callie menganggukkan kepalanya, tapi setelah ia menyadari jika anggukan kepalanya itu tak akan bisa di lihat oleh Leon pun dengan refleks menepuk keningnya. Dan siapapun yang melihat aksi Callie itu pasti akan di buat gemas olehnya.
"Callie tidak menangis Dad. Callie hanya bingung saja mau mengeluarkan Daddy bagaimana. Sedangkan Oma gak mau mengeluarkan Daddy. Oma jahat Dad, Oma gak ngizinin Callie bertemu dengan Daddy," adu Callie.
"Hiks, memang. Oma memang jahat sama Daddy. Tapi Callie bisa kok mengeluarkan Daddy dari sini tanpa bantuan dari Oma ataupun Papa Azzo," ujar Leon yang membuat mata Callie terbuka lebar bahkan air matanya dengan cepat ia usap.
"Oh ya? Bagaimana caranya? Callie mau membebaskan Daddy dari dalam sana." Leon kini tersenyum lebar.
"Callie bisa cari kunci kamar Daddy."
"Kunci kamar Daddy?" beo Callie.
"Dimana Callie akan mendapatkan kunci itu?" sambungnya.
"Hmmmm di para aunty pelayan atau kalau tidak di Oma juga Papa Azzo." Ucapan dari Leon tadi otomatis membuat mata Callie menoleh kearah Azzo yang tampak merapatkan bibirnya.
"Papa tau kunci kamar Daddy di simpan dimana?" tanya Callie dengan hidung dan mata memerah, bekas ia menangis tadi.
"Tidak. Papa tidak tau kunci kamar Daddy kamu dimana," ujar Azzo berbohong. Iya, dia bohong karena kunci utama Leon sekarang berada di genggamannya.
Callie menganggukkan kepalanya, percaya begitu saja dengan apa yang di ucapan oleh Azzo tanpa curiga sedikitpun.
"Oma, punya kan kunci kamar Daddy?" Mommy Elia mengigit bibir bawahnya, lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Azzo yang tengah memberikan kode dengan gelengan kepalanya.
"Oma, Callie kan bertanya harusnya dijawab bukan malah di diemin seperti ini," protes Callie dengan kerucutan di bibirnya.
"Ck, sudahlah. Mau Oma tau sekalipun, Oma juga gak akan ngasih tau dimana kunci itu," ujar Callie lalu setelahnya dengan ia memaksa untuk turun dari gendongan Azzo.
Dan setelah kakinya mendarat di lantai, ia langsung mendekati kedua art yang masih berdiri di samping kamar Leon.
"Aunty, aunty tau tidak dimana kunci kamar Daddy disimpan?" tanya Callie dengan tatapan lucunya yang membuat siapapun bisa luluh dibuatnya.
Dua art tadi kini saling tatap satu sama lain, kemudian mereka mengalihkan pandangannya kearah dua majikannya yang langsung mendapat gelengan kepala dari dua orang tersebut.
"Tidak, aunty tidak tau kunci itu dimana," ucap salah satu art tersebut yang langsung membuat tatapan mata menggemaskan dari Callie tadi meredup. Lalu ia mengalihkan pandangan kearah satu art lainnya, menuntut jawaban dari art tersebut.
"Aunty juga tidak tau," jawabnya yang semakin membuat Callie bersedih.
"Baiklah, terimakasih aunty," ujar Callie yang diangguki oleh dua art tadi.
__ADS_1
Tapi dua jawaban dari art tersebut tak membuat Callie menyerah begitu saja. Di rumah ini masih 10 art yang belum ia tanyai.
"Daddy tunggu didalam ya. Callie akan mencari kunci kamar Daddy sampai ketemu. Callie janji, Callie akan membebaskan Daddy dari dalam sana," teriak Callie sebelum dirinya berlari menuju ke lantai bawah rumah tersebut, tak memperdulikan teriakan dari Mommy Elia ataupun Azzo yang khawatir jika Callie akan terjatuh saat berlari menuruni tangga.
"Sialan kamu, El. Kalau sampai Callie jatuh dan kenapa-napa, nyawa kamu akan jadi gantinya," ancam Azzo sebelum dirinya menyusul langkah Callie yang sudah menghilang dari pandangannya.
Sedangkan Mommy Elia, wanita paruh baya itu sudah berlari terlebih dahulu menyusul Callie.
Leon yang mendengar derap langkah kaki yang menjauh dari depan kamarnya pun ia kini terkekeh bahagia.
"Begini jadinya kalau punya anak pintar. Daddy-nya lagi kesusahan dia dengan sigap mau membantu tanpa pamrih. Uhhhh jadi makin sayang," gumam Leon sembari mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidurnya. Terlihat tanpa beban sama sekali setelah menyebabkan Mommy Elia dan Azzo kewalahan menghadapi Callie yang pastinya sekarang tengah mendiami mereka berdua. Leon benar-benar definisi anak dan adik laknat yang sesungguhnya.
...****************...
Sudah hampir 1 jam Callie memutari rumah besar milik Leon itu dengan sesekali bertanya kepada siapapun orang yang ia temui. Bahkan ia sempat memberontak saat Azzo berniat menghentikan aksinya itu.
Alice yang tadi melihat anaknya baru turun dari lantai dua pun ia juga membantu suami dan mertuanya untuk membujuk Callie agar berhenti mencari kunci kamar Leon karena percuma saja, ia mau mencari kemanapun dengan bertanya kepada setiap orang di rumah itu, kunci itu tidak akan pernah ia dapatkan pasalnya kunci utama dan kunci cadangan kamar Leon sekarang berada ditangan Mommy Elia dan Azzo.
Callie yang merasa semua orang di rumah tersebut sudah ia tanyai dan hanya memberikan jawaban yang sama, ia benar-benar merasa kesal. Dan dengan kerucut dan wajah yang tertekuk, Callie mendudukkan tubuhnya di lantai begitu saja tak lupa kedua tangannya ia tekuk di depan dada.
"Callie capek. Disini tidak ada yang mau memberi tau Callie dimana kunci kamar Daddy berada. Semua orang di rumah ini jahat semua. Oma jahat, Papa jahat, Mama jahat, Aunty jahat, Uncle juga jagat. Semua jahat! Yang baik cuma Daddy saja. Callie gak suka sama kalian semua, kalian jahat! Huwaaaaa!" tangis histeris Callie kini pecah memenuhi rumah tersebut.
Ketiga orang dewasa yang berdiri di belakangnya sampai menutup telinganya, tak tahan mendengar suara nyaring itu.
"Callie benci kalian semua!" ucapan Callie kali ini membuat ketiga orang tersebut melongo dibuatnya. Dan dengan cepat ketiganya mendekati Callie yang sedari tadi tak mengizinkan mereka untuk mendekatinya.
"Kenapa Callie tidak boleh bicara seperti itu sedangkan kalian semua jahat sama Callie dan Daddy? Callie hanya ingin bertemu sama Daddy, Callie mau peluk Daddy, Callie juga mau bermain dengan Daddy. Callie rindu Daddy. Tapi kalian dengan tega mengurung Daddy di dalam kamar tanpa mengizinkan Daddy keluar dan bertemu dengan Callie. Callie tidak suka kalian, kalian semua jahat!" teriak Callie tepat di hadapan ketiga orang tersebut. Lalu setelah mencapai hal tersebut, Callie kini berdiri dari posisi duduknya tadi dan tanpa bicara sepatah katapun atau melirik kearah ketiga orang dewasa itu, Callie langsung berlari meninggalkan ketiganya menuju kearah kamarnya.
"Callie," teriak Mommy Elia dan Alice secara bersamaan. Dan tanpa menunggu lama, kedua perempuan tersebut ikut berlari menyusul Callie. Sedangkan Azzo yang menatap kepergian ketiga manusia berjenis kelamin perempuan itu, ia kini menghela nafas panjang.
"Drama El benar-benar bikin orang pusing. Darimana dia belajar drama seperti itu sih? Dulu aja dia orangnya lempeng banget, gak ada drama sedikitpun walaupun dia selalu memberontak saat Daddy dulu menghukum dia dengan cambukan rantai di badannya. Tapi dia sama sekali tidak mengeluh malah dia tersenyum saat rantai itu bertemu dengan kulitnya. Tapi sekarang, hanya di kurung untuk kebaikannya dan hanya beberapa hari saja, dia sudah berakting seperti orang yang tengah di hukum pancung selamanya. Dan yang sialnya lagi Callie kemakan akting murahan itu. Ck, menyebalkan. Kalau sampai Callie nanti merajuk, awas aja kamu, El. Aku sunat lagi kamu," gumam Azzo sembari berjalan mengikuti kemana perginya ketiga orang tadi.
Sedangkan disisi lain, Callie yang sekarang sudah berada di dalam kamarnya. Ia diam, tak bersuara sama sekali saat sang Oma dan Mamanya berteriak di depan kamarnya untuk membujuk dirinya agar membukakan pintu kamarnya.Ya, dia sekarang tengah merajuk dan mengurung dirinya di kamar.
"Jika Daddy di kurung dikamar, Callie juga akan mengurung diri Callie di dalam sini juga. Biar Callie bisa merasakan apa yang di rasakan Daddy sekarang," gumam Callie yang sudah mantap dengan keputusannya untuk ikut merasakan penderitaan Leon saat ini.
Sedangkan diluar sana, Azzo yang baru bergabung dengan ibu dan istrinya itu. Ia mendengus kesal. Bukan, ia bukan kesal dengan Callie tapi kesal dengan Leon.
"Dia mengunci pintu kamarnya?" tanya Azzo yang membuat kedua perempuan tersebut langsung menoleh kearahnya. Dan dengan anggukan lemah dan mata yang sudah basah karena menangis, mereka berdua menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Azzo.
"Haishhh. Ini semua gara-gara El. Kalau dia tadi tidak bersandiwara. Callie tidak mungkin akan seperti ini," ucap Azzo.
"Hiks maaf." Ucapan bergetar dari bibir Alice membuat Azzo menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa meminta maaf dan menangis seperti ini?" Azzo kini melangkahkan kakinya mendekati sang istri lalu dengan cepat ia menghapus air mata Alice yang berhasil meluncur membasahi pipinya.
"Maaf, ini semua gara-gara aku," ucap Alice. Azzo yang paham dengan situasi kalut sang istri yang ujung-ujungnya akan menyalahkan dirinya sendiri karena masa lalu kelam itu pun ia kini menghela nafas sabar.
__ADS_1
"Ini semua gak ada sangkut pautnya dengan kamu dan masa lalu kita semua. Ini semua murni kesalahan dari El yang telah mempengaruhi Callie agar anak kita selalu berpihak kepadanya," ujar Azzo sembari merengkuh tubuh Alice kedalam pelukannya.
"Jadi sekarang jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Ini semua gara-gara El, bukan karena kamu ataupun Mommy. Paham?" Azzo melonggarkan pelukannya tadi, lalu kemudian ia menangkup kedua pipi Alice agar wajah cantik istrinya itu menengadah, menghadap kearahnya. Ia menatap lekat tepat di manik mata Alice yang masih terdiam dengan selalu menyalahkan dirinya sendiri didalam hatinya. Begitupula dengan Mommy Elia yang kini tengah menundukkan kepalanya menyembunyikan air mata juga sesak di dadanya. Ia diam-diam merutuki masa lalunya itu.
"Jangan nangis lagi. Aku gak suka lihat kamu menangis," ucap Azzo dengan mendaratkan dua kali kecupan di kedua kelopak mata sang istri. Alice masih saja diam, tak menimpali ucapan dari suaminya itu saat hatinya merasa sakit kala Callie mendiaminya seperti saat ini. Azzo yang melihat hal tersebut pun ia kini menghela nafas.
"Ya sudah kalau begitu. Biar aja mencoba membujuk Callie. Siapa tau jika denganku anak itu bisa luluh," ujar Azzo sembari melepaskan pelukannya tadi dari tubuh sang istri tapi sebelum ia memberikan kecupan singkat di kening Alice sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya maju kedepan.
Tok tok tok!!!
Azzo mengetuk pintu kamar putrinya sebelum ia angkat suara.
"Callie sayang. Buka pintunya nak," ucap Azzo yang terdengar sangatlah lembut.
Hening, tidak ada sautan sama sekali dari dalam dan hal tersebut tiba-tiba membuat hati Azzo berdegup kencang. Segala hal negatif pun juga sudah memenuhi otaknya.
"Callie dengar Papa kan nak? Kalau Callie dengar, jawab ucapan Papa, kalau Callie hanya mengabaikan Papa, Callie dosa," ujar Azzo kembali.
"Callie dengar." Jawaban dari Callie membuat Azzo kini menghela nafas dan dengan seketika bayang-bayang negatif itu menghilang.
"Kalau Callie dengar, kenpa Callie tadi tidak langsung menjawab ucapan dari Papa?" tanya Azzo.
"Karena Callie tidak suka Papa. Papa jahat sama Callie dan Daddy." Diam, Azzo terdiam dengan merasakan nyeri di dadanya saat Callie mengatakan jika anak perempuan satu-satunya itu tak menyukai dirinya. Sakit, sungguh sakit sekali hatinya. Tapi ia harus menahan rasa sakit itu, mungkin Callie mengatakan hal tersebut gara-gara anak itu tengah merajuk kepadanya.
"Apa Callie tengah marah dengan Papa?" tanya Azzo untuk memastikan.
"Jika Papa sudah tau kenapa tanya lagi sama Callie," ujar Callie yang membuat Azzo lagi-lagi menghela nafasnya. Ia tau sifat ketus dan keras kepala Callie itu menurun dari siapa, yang jelas bukan dirinya melainkan sang istri yang sifatnya sebelas, dua belas dengan anak perempuannya itu. Dan semoga saja dirinya di berikan kesabaran yang banyak saat menghadapi dua orang yang ia cintai itu entah untuk sekarang ataupun di masa depan.
"Jadi apa yang harus Papa lakukan agar Callie bisa memaafkan Papa, Mama sama Oma?" Tanya Azzo yang sudah tak tahan lagi melihat anaknya merajuk seperti saat ini. Ia takut saja, Callie akan terus mengurung dirinya sendiri sampai melewatkan makan malam nantinya.
"Jika Papa mau Callie maafkan. Syaratnya gampang, Papa temukan kunci kamar Daddy dan keluarin Daddy dari kamarnya," ujar Callie.
Azzo kini menatap kearah Mommy Elia yang juga tengah harap-harap cemas.
"Kabulkan saja Azzo. Mommy akan merasa semakin bersalah kalau Callie akan terus mengurung dirinya sendiri di dalam kamar," ucap Mommy Elia.
"Tapi Mom. Kalau kita menuruti apa yang diinginkan Callie untuk membebaskan El, yang ada El nanti akan berulah lagi seperti apa yang Mom ceritakan beberapa hari yang lalu," tutur Azzo.
"Ck, untuk sekarang jangan memikirkan hal itu. Karena yang terpenting sekarang adalah Callie. Callie harus keluar dari kamar sekarang sebelum kita akan menyesal nantinya. Kita juga tidak tau apa yang akan anak itu lakukan didalam. Jika hanya tidur dan bermain saja, itu masih aman tapi kalau dirinya bertindak yang tidak-tidak dan membahayakan nyawanya sendiri. Kita yang akan menyesal nanti. Lagian pintu balkon di kamarnya juga tidak di tutup. Dan balkon itu bersebelahan dengan balkon kamar El. Jika nanti dia nekat buat melompat dari balkonnya ke balkon kamar El, apa kamu pikir itu tidak berbahaya? Bahaya banget tau Zo. Kalau dia berhasil mah tidak masalah tapi kalau dia gagal mendarat, sudah tidak ada harapan lagi untuk hidupnya," tutur Mommy Elia dengan kekhawatiran yang terus melanda dirinya itu.
Azzo yang tiba-tiba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada putri semata wayangnya itu pun, ia bergidik ngeri saat bayangan mengerikan melintas di otaknya.
"Baiklah kalau itu mau Mommy. Tapi Azzo mau tanya sekali lagi. Mommy yakin mau menuruti apa yang Callie mau?" Tanpa ragu Mommy Elia kini menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau keputusan Mommy sudah bulat. Azzo akan ikut saja," ujarnya. Kemudian ia kembali menghadap kearah pintu kamar yang masih tertutup itu.
"Papa akan menuruti apa yang Callie mau. Tapi bolehkah Callie membuka pintunya dulu!" teriak Azzo.
__ADS_1
"Callie akan membuka pintu jika Daddy yang mengetuknya," ucap Callie yang masih dalam pendirinya itu. Dan hal tersebut membuat ketiga orang dewasa yang berdiri di depan kamar tersebut, menghela nafas pasrah. Sebelum akhirnya Azzo memilih untuk segara bergerak menuju ke kamar Leon untuk menuruti kemauan sang putri untuk membebaskan adik laknatnya itu.