The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 176


__ADS_3

Note : Jangan ada yang marah-marah dulu di eps ini. Karena nanti siang author akan up lagi. Seneng gak? ya seneng lah masak enggak😂


Jadi jangan ada yang protes dulu, oke kesayangan.


Dan kalau bisa likenya tembus 300 ya sebelum nanti siang, biar author seneng hehehehe.


Happy Reading Semuanya 🤗


...****************...


Dan benar saja tebakan dari Azlan tadi jika Erland juga tak jauh dari dirinya yang tadi tengah berduaan dengan Kayla, bedanya Erland dan Kayla tengah duduk di taman sekolah tersebut dengan beberapa cemilan juga sebuah laptop yang menemani mereka.


Azlan kini mendekati keduanya dan saat sampai ia tak langsung memanggil Erland tapi ia mengintip sedikit apa yang sedang dua umat manusia itu tonton saat ini. Siapa tau kan yang mereka tonton itu film yang berlabel 21+ kan bisa bahaya nanti untuk generasi penerus Daddy Aiden bisa rusak gara-gara hal itu.


Dan setelah memastikan tontonan itu aman karena yang ditonton adalah sebuah kartu Barbie, Azlan kini semakin mendekati Erland juga Kayla dengan tawa yang ia tahan.


"Ehem," dehem Azlan yang tak mendapatkan respon apapun dari mereka berdua karena saking fokusnya dengan tonton tersebut.


"Ehemmm ehemmm," ulang Azlan yang lagi-lagi tak mendapatkan respon.


Azlan yang sudah geram juga pikirannya sudah tertuju ke Edrea, ia kini dengan entengnya memukul kepala Erland pelan.


"Aw, sialan. Berani-beraninya ganggu gue," geram Erland sembari mengelus kepalanya tadi.


Sedangkan Kayla yang tadi sempat terkejut pun kini menolehkan kepalanya kearah belakang yang disana ada Azlan yang sudah berdiri tegak sembari kedua tangannya terlipat di dada.


"Mau gue bantai kayaknya nih orang," sambung Erland yang belum juga menyadari jika tadi adalah ulah Azlan.


Kayla yang mendengar gerutuan dari Erland pun kini ia menepuk pundak Erland.


"Yang mukul kamu tadi, Azlan. Masih mau bantai saudara sendiri kamu?" tanya Kayla. Yap, Kayla maupun Zea sudah tau jika kedua laki-laki itu memiliki DNA yang sama, alias mengetahui jika keduanya saudara kembar.

__ADS_1


Erland kini menolehkan kepalanya kebelakang dan seketika ia menghela nafas kesal.


"Ngapain lo kesini?" tanya Erland dengan raut muka yang sangat masam.


"Ikut gue sekarang," ucap Azlan to the point.


"Ogah. Kalau mau ngomong langsung disini aja," ujar Erland yang tak mau lepas dari Kayla.


Azlan kini berdecak kemudian ia mencondongkan tubuhnya hingga sampai disamping wajah Erland. Erland yang kaget pun sontak mendorong wajah Azlan agar menjauh darinya.


"Mau ngapain lo?" Azlan kini memutar bola matanya malas.


"Bisa diam sebentar gak sih lo!" geram Azlan.


"Kalau lo masih bertingkat gue potek leher lo," sambung Azlan kemudian ia kembali mendekatkan wajahnya hingga tepat di samping telinga Erland.


"Ada seseorang yang tengah cari masalah sama Edrea dan dia sampai ngelukain Edrea. Kita harus kesana sekarang," bisik Azlan.


"Mau kemana?" tanya Kayla saat Erland mulai melangkahkan kakinya tanpa berpamitan dengannya.


Erland kini tersadar jika dirinya tadi tak sendiri melainkan ada Kayla sang pujaan hatinya. Erland memutar tubuhnya lalu mendekati Kayla dan setelah sampai ia membungkukkan badannya lalu mengecup singkat kening Kayla.


"Aku tinggal dulu. Ada urusan yang sangat penting yang harus aku selesaikan. Nanti ada sopir yang ngantar kamu pulang. Aku pergi dulu," ucap Erland dengan suara lembutnya sembari mengacak-acak rambut Kayla sebelum dirinya melangkahkan kakinya kembali menuju parkiran sekolah.


"Hati-hati. Jangan ngebut!" teriak Kayla yang diacungi jempol oleh Erland.


Dan saat Erland sudah sampai di parkiran, ia sudah tak melihat mobil Azlan disana karena kemungkinan besar Azlan sudah lebih dulu pergi menuju sekolah Edrea.


Saat Azlan dan Erland baru dalam perjalanan, Edrea kini baru keluar dari UKS dengan lengan yang sudah di perban.


"Edrea!" jerit Resti saat dirinya adalah orang pertama yang melihat Edrea keluar dari ruangan tersebut setelah bermenit-menit lamanya.

__ADS_1


Edrea tersenyum saat seluruh pasang mata melihat kearahnya. Dan kini semua orang tadi secara bersamaan mengerumuni dirinya.


"Ya ampun Rea. Kenapa semua ini bisa kejadian sih. Sebel ih, lo sakit begini kan jadinya," keluh Resti sembari mengerucutkan bibirnya.


"Lebay ih. Gue gak papa kok tenang aja. Puri kan emang gak cuma sekali dua kali nyelakain gue ya walaupun gak sampai separah hari ini sih. Tapi gak papa, kalian tenang aja," tutur Edrea.


"Lo gampang banget ya nyuruh orang buat tenang. Kita disini dari tadi udah deg-degan tau nunggu hasil keputusan dari kepala sekolah, mau kasih hukuman ke lo atau cabe-cabean itu," ujar Faisal yang memang sedari tadi dirinya yang selalu menunjukkan kekhawatirannya.


"Kita lihat aja nanti. Apapun keputusannya gue akan terima. Lagian nanti pasti gue juga yang akan di beratkan dalam masalah ini. Dan jika dalam keputusan nanti gue dikeluarin dari sekolah ini, gue mohon sama kalian semua jangan pernah lupain gue. Dan sering-sering ngajak gue nongkrong, Lo semua disini juga udah punya nomor gue jadi gak ada alasan kalau sampai kalian mau nongkrong gak ajak gue," tutur Edrea yang membuat semua orang disana langsung memasang wajah datar sedangkan Edrea hanya memberikan cengiran kepada mereka.


"Udah deh jangan dibahas lagi. Gue ke ruang kepala sekolah sekarang, kalian doain aja yang terbaik buat gue," tutur Edrea kemudian mulai melangkahkan kakinya menerobos kerumunan orang-orang yang kebanyakan fans boy-nya yang turut khawatir dengan kondisi Edrea.


Dan baru saja beberapa langkah, lengan Edrea yang tak terluka dicekal oleh seseorang. Ia pun menolehkan kepalanya kearah orang tersebut.


"Gue temenin Lo didalam ruangan kepala sekolah," ujar Leon. Edrea kini tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Dan kini kedua orang tersebut melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kepala sekolah diikuti dengan orang-orang yang menunggu Edrea di UKS tadi.


Saat keduanya kini sudah berada di depan pintu ruang kepala sekolah, bodyguard Papa Puri langsung menghadang keduanya.


"Maaf anda berdua dilarang masuk," ujar salah satu dari beberapa bodyguard disana.


"Saya Edrea, siswi yang mendapat masalah dengan Puri," ujar Edrea dengan sopan.


Bodyguard tersebut kini menatap wajah Edrea sesaat kemudian melihat name tag di baju Edrea lalu setelahnya ia membuka pintu ruangan tersebut.


"Silahkan," ujar bodyguard tersebut dan saat Leon ingin mengikuti Edrea masuk, tubuh Leon lagi-lagi di hadang oleh bodyguard tersebut.


"Udah, turutin mereka aja Leon. Gue sendiri gak papa," ucap Edrea saat melihat kilatan amarah yang sudah terpancar dari mata Leon. Dan setalah mengucapkan hal itu pintu di ruangan tersebut tertutup bertepatan dengan Edrea yang mulai memasuki ruangan tadi.


Leon kini menggeram tak terima tapi ia juga tak bisa menghabisi para bodyguard tersebut saat mengingat bahwa ia masih berada di kawasan sekolah.

__ADS_1


__ADS_2