The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 118


__ADS_3

Edrea yang sudah tak tahan lagi dengan lapar yang sedang melanda para cacing di perutnya yang terus saja berontak pun dengan enggan ia melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam kamar tersebut. Lebih tepatnya ia menghampiri pintu kamar tersebut yang masih saja terkunci.


Brak Brak Brak!!!


Bukan ketukan melainkan gedoran yang Edrea berikan kepada para bodyguard yang ia yakini bahwa mereka masih setia berdiri tegap di sisi kanan dan kiri pintu kamar tersebut.


"Woy! bukain pintunya! gue laper anjir! Lo semua mau bunuh gue secara perlahan atau gimana sih? Dari gue melek sampai malam gini gak di kasih makan sedikitpun, air putih doang aja, kalian gak kasih. Kaya sih kaya tapi pelit!" teriak Edrea sekencang-kencangnya agar orang yang ada diluar sana bisa mendengarkan keluh kesahnya.


Tapi sayang setelah Edrea menunggu beberapa saat tak ada jawaban dari penghuni rumah tersebut yang menyaut teriakannya tadi. Atau jangan-jangan kamar ini di lengkapi oleh fasilitas kedap suara sehingga teriaknya tadi tak terdengar sampai luar. Walaupun begitu, gedoran pintu yang ia lakukan tadi masih bisa di dengar dong oleh orang di sekitar kamar tersebut.


Brak!! Brak!! Brak!!


Lagi-lagi Edrea menggebrak pintu tersebut dan sesekali ia menendang pintu tersebut dengan cukup keras walaupun terasa sakit tapi ia tak memperdulikan hal itu karena emosinya sudah meluap hingga mengalihkan rasa sakit di kakinya itu.


"Anjing, babi, bangsat!! Bukain ANJING!" teriak Edrea dengan suara yang benar-benar melengking dan mungkin suaranya itu kini bisa terdengar oleh orang-orang di lantai bawah pasalnya pintu balkon di kamar tersebut belum ia tutup.


Disisi lain, seorang laki-laki yang baru kembali ke rumah tersebut setelah pergi entah kemana hanya dia saja yang tau pun memincingkan alisnya saat telinganya menangkap suara cetar membahana Edrea tadi.


Setelah itu ia langsung berlari menuju lantai dua dimana kamar yang Edrea tempati berada, ia bahkan mengabaikan salam hormat yang dilakukan oleh para bodyguard dan maid di rumah tersebut.


Saat dirinya sudah menginjakkan kakinya di lantai dua, suara teriakan tadi terganti dengan suara gedoran di pintu tersebut. Mungkin jika di biarkan, pintu yang seharga puluhan juta itu akan rusak karena ulah bar-bar Edrea.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya laki-laki tersebut dengan wajah datarnya.


"Saya juga tidak tau Tuan," jawab salah satu bodyguard yang berada disisi kanan pintu tersebut. Laki-laki tersebut tampak berdecak kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ruangan khusus untuknya dan tak berselang lama, laki-laki itu kembali dengan tampilan yang sama saat dirinya menemui Edrea sebelum ia pergi tadi.


"Buka!" titahnya. Salah satu bodyguard tadi bergerak untuk segera membukakan pintu kamar tersebut untuk bosnya itu. Dan saat pintu itu terbuka sempurna, mereka bertiga yang berada di luar kamar tersebut tampak merasakan aura yang cukup menakutkan menyeruak keluar dari kamar tersebut ditambah tatapan kebencian yang Edrea layangkan kearah mereka bertiga. Namun tatapan dan aura tadi tak mempengaruhi laki-laki yang saat ini sedang berhadapan langsung dengan Edrea.


"Bisa diam? kalau lo gak bisa diam gue gak akan segan-segan robek mulut lo!" ucap laki-laki tersebut.


"Lo maunya apa sih anjing? kalau lo mau uang, gue bisa kasih berapa pun yang lo mau. Kalau lo mau nyawa gue, bunuh gue sekarang! jangan buat gue mati perlahan gara-gara gak lo kasih makan," geram Edrea.


Laki-laki itu tampak terdiam, bukan saatnya ia membunuh Edrea untuk sekarang karena yang ia incar adalah orangtua Edrea juga kedua saudara kembarnya. Dan untuk Edrea mungkin ia tak akan membunuh gadis yang sangat cantik ini melainkan ia akan menggunakan tubuh Edrea untuk memuaskan dirinya di ranjang.


"Bisu lo! gak bisa ngomong hah!"


Saat tubuh Edrea sudah loyo didalam kamar, berbeda dengan laki-laki tadi yang sudah mencopot topeng dan maskernya yang menutupi wajah tampannya itu yang kini tengah berjalan dengan langkah lebarnya menuju lantai bawah lebih tepatnya ke dapur.


Setelah dirinya berada di dapur rumah tersebut, matanya menatap tajam ke seluruh maid yang sebelumnya sudah di kumpulkan terlebih dahulu oleh para bodyguardnya.


"Siapa yang suruh kalian tidak kasih makan ke dia? jawab!" bentaknya.


Para maid dan beberapa bodyguard yang ikut kumpul di sana pun hanya diam dan menundukkan kepalanya. Mereka sangat takut ketika tuannya itu tengah murka. Terlebih lagi saat mengingat bagaimana hukuman yang harus di terima maid atau bodyguard yang melakukan kesalahan walaupun sedikit saja, pasti tuannya itu akan menghukum mereka dengan sangat keji dan tak berperasaan.

__ADS_1


"Saya suruh kalian buat jawab bukan diam!" bentaknya sekali lagi.


Walaupun mendapat bentakan yang mengerikan, orang-orang disana masih saja enggan untuk angkat suara. Hal itu semakin membuat laki-laki tadi menggeram kesal dan matanya yang tadi menyapu satu persatu manusia yang berada di hadapannya itu kini tatapnya jatuh disalah satu maid yang ia percayai untuk menghandle seluruh pekerja di rumah itu.


"LAILI!" teriaknya yang membuat sang empu terperanjat kaget.


"I---iya tu---tuan," jawabnya gugup.


"Kesini kamu!" Orang yang bernama Laili itu pun dengan perlahan menghampiri atasannya padahal saat ini tubuhnya terasa lemas, otaknya tiba-tiba berhenti untuk berpikir, wajahnya pucat pasi dan seluruh badannya dibanjiri oleh keringat dingin itupun, hanya bisa pasrah dengan apa yang akan bosnya itu lakukan ke dia nantinya.


"Siapa yang nyuruh kamu buat tidak kasih makan ke dia?" tanyanya lagi. Laili yang tau maksud kata dia itu untuk Edrea pun kini memelintir ujung baju untuk membantu dia mengurangi kegugupannya.


"Maaf tuan. Kami tidak bermaksud membuat nona kelaparan. Sebenarnya kita ingin sekali mengantarkan makanan untuk nona itu tapi kita takut kalau tuan nanti akan marah ke kita semua," ujar Laili dengan jujur.


"Arkh, harusnya kalau saya gak kasih kalian instruksi apapun, kalian jangan langsung bertindak seenak kalian begini!"


"Maaf tuan," cicit Laila. Ia hanya bisa mengucapakan kata maaf itu berulang kali sebagai perwakilan orang-orang yang ada disana.


"Lain kali kalau mau bertindak, setidaknya izin dulu sama saya. Bukan begini. Kalian mengerti!" Semua orang disana pun menganggukkan kepalanya.


"Jika sudah mengerti, sekarang kalian bubar! Dan saya tidak mau melihat ada kesalahan yang sama untuk kedepannya!" ucap laki-laki tersebut. Semua maid dan bodyguard yang entah di tugaskan disana atau hanya menguping pembicaraannya saja pun segera berhamburan pergi dari hadapan sang bos, kecuali Laili yang tadi sempat ingin pergi harus terhenti karena cekalan kuat di tangannya.

__ADS_1


"Kamu sekarang antar makanan ke dia!" perintahnya dan setelah itu ia pergi dari hadapan Laili.


Sedangkan Laili, wanita itu sudah ngacir pergi kearah meja makan dan segera menyiapkan makanan untuk nona bosnya itu.


__ADS_2