
"Sebenarnya ada cerita apa yang selama ini kalian semua sembunyikan dari gue?" tanya Edrea yang masih berada di pelukan Leon. Ia benar-benar tak sabar ingin mengetahui masa lalunya itu.
"Maaf." Satu kata itu yang selalu Leon ucapkan sedari tadi tanpa henti. Dan hal itu membuat Edrea gregetan sendiri lalu dengan paksaan, Edrea melepaskan pelukan Leon dari tubuhnya.
"Gue gak butuh maaf lo sekarang Leon. Tapi gue butuh cerita di masa lalu gue," geram Edrea yang untungnya ia bisa mengontrol suaranya agar tak berteriak karena ia masih sadar jika di dalam ruangan tersebut ada Callie yang tertidur dengan nyenyak.
Leon terdiam, ia ragu untuk memberi tahukan semuanya kepada Edrea. Hingga akhirnya Edrea mencengkram kuat kedua lengan Leon, bahkan tatapannya kini menajam saat ia menatap manik mata Leon.
"El, gue mohon kasih tau gue. Biar semuanya jelas El, biar gue gak pusing sendiri. Dan perlu lo tau, saat gue mengetahui gelang yang lo kasih waktu itu mempunyai pasangan, gue gak bisa tidur El. Gue mikirin masa kecil dan masa lalu gue yang sama sekali gak gue ingat. Jadi gue mohon kasih tau gue sekarang," ujar Edrea sembari menundukkan kepalanya bahkan cengkraman tangannya tadi sudah terlepas dari lengan Leon.
"Gue capek El harus menebak-nebak sendiri soal masa lalu gue," sambung Edrea dengan lesu.
"Gue juga capek dengan otak gue yang gak pernah mengingat sedikitpun tentang masa kecil gue, arkhhhh," geram Edrea pada dirinya sendiri bahkan kini ia memukul-mukul kepalanya.
Leon yang melihat hal itu pun dengan sigap ia menghentikan aksi Edrea tadi dan kedua tangan Edrea kini di genggaman erat oleh Leon.
"Hiks gue capek El, gue capek dengan semua orang yang gue rasa udah mempermainkan gue selama ini," ujar Edrea yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.
Leon kini bergerak untuk memeluk tubuh Edrea lagi. Tapi baru beberapa detik saja, Edrea memberontak dalam pelukan itu.
"Lepasin gue, El. Gue gak butuh pelukan lo. Dan kalau lo gak mau cerita apapun. Oke fine, gak masalah, gue akan cari tau sendiri semuanya. Tapi saat gue tau yang sebenarnya dengan sendirinya, jangan salahkan gue kalau nantinya gue akan benci sama orang-orang yang terlibat untuk menyembunyikan masa lalu gue termasuk lo," ujar Edrea dan dengan kasar ia menghapus air matanya, kemudian ia mulai berdiri dari duduknya lalu segera berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
Tapi saat dirinya sudah memegang kenop pintu tersebut, suara Leon menghentikan aktivitasnya tersebut.
"Oke, gue bakal cerita semuanya. Semua sesuai dengan keinginan lo!" ucap Leon dan tanpa Edrea sadari, laki-laki itu tengah mengepalkan tangannya.
"Dan ya, kita berdua dari kecil adalah teman bahkan bisa dikatakan lebih dari itu saat kita mulai memasuki usia ABG," sambung Leon yang kini membuat Edrea memutar tubuhnya menghadap kearah Leon yang ternyata juga sudah berdiri dari duduknya dan menatap dirinya.
"Lo mau tau kan, kenapa lo bisa gak ingat semua memory waktu lo kecil dulu? Jawabnya cuma satu Re, karena lo mengalami amnesia," ujar Leon dengan mata yang mulai memerah.
"Am---amnesia? Kapan? Dan kok bisa?" ucap Edrea bertanya-tanya.
"Lo mendapat amnesia saat usia lo menginjak 7 tahun. Dan itu semua gara-gara gue. Gue yang udah bikin lo amnesia. Gue yang udah bikin lo menderita. Ini semua gara-gara gue, Edne!" tegas Leon lalu setelahnya ia mengusap wajahnya dengan kasar sembari sesekali ia menjambak rambutnya sendiri untuk menghilangkan bayang-bayang dimasa lalu itu.
Edrea yang melihat Leon tampak frustasi pun dengan cepat ia berlari kearah Leon lalu memeluk tubuh laki-laki tersebut.
Leon kini membalas pelukan dari Edrea dengan sangat erat.
"Ini semua gara-gara gue, Edne. Gue yang udah bikin lo terluka. Maaf," ujar Leon.
"Iya-iya gue maafin. Tapi please ceritain semuanya ya," tutur Edrea yang membuat Leon hanya mengangguk pasrah.
"Kalau gitu kita duduk dulu ya. Pegel juga kalau berdiri terus disini, mana gue harus nahan berat badan lo lagi," ujar Edrea. Leon yang mendengar keluhan dari Edrea pun dengan cepat ia melepaskan pelukannya tadi dan setelahnya ia menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Maaf," ucap Leon.
"Maaf mulu dari tadi. Ini belum lebaran. Di pending dulu maaf-maafannya," tutur Edrea sembari duduk di sofa yang tadi ia duduki sebelumnya, diikuti oleh Leon yang juga duduk lagi.
"Oke, pelan-pelan aja lo jelasinnya. Mulai dari gelang ini," ujar Edrea sembari menunjuk gelang yang tergeletak di atas meja di depan mereka berdua.
Leon kini tampak menghela nafas berkali-kali, sebelum akhirnya ia mulai angkat suara kembali.
"Tapi janji ya kalau lo udah mulai pusing, ngomong sama gue dan jangan di paksain buat mengingat masa lalu itu," tutur Leon.
"Iya-iya. Gue gak bakal kenapa-napa kok, tenang aja. Buruan cerita, keburu tambah malam nanti," ujar Edrea.
"Oke, gue akan jelasin mulai dari masalah gelang ini. Gelang ini sebenarnya hanya gelang bisa tapi yang menjadikan gelang ini spesial karena gelang ini merupakan gelang persahabatan kita. Hmmm lebih tepatnya sih lebih dari sahabat," ujar Leon.
"Kita berdua pernah pacaran kah?" tanya Edrea penasaran.
"Hmmm ya bisa di bilang begitu. Lo juga pasti udah tau kan arti lambang bunga ini yang terukir inisial kita?" tanya Leon yang membuat Edrea menggelengkan kepalanya.
"Ck, padahal dulu lo yang rekomendasiin bunga ini saja yang buat simbol hubungan kita. Tapi sekarang, haish," ucap Leon
"Ck, kan kata lo, gue hilang ingatan jadi ya mana ingat coba dengan semua ini. Kalau gue ingat, gue gak akan tanya sama lo," ujar Edrea dengan mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Leon kini tersenyum dan dengan gemasnya ia mencubit pipi Edrea dengan pelan. Sebelum dirinya menjelaskan arti dari bunga tersebut.
"Jadi bunga aster ini sering sekali di jadikan sebagai simbol kebijaksanaan, keberanian dan keyakinan. Dan kenapa lo dulu milih bunga ini sebagai simbol hubungan kita, karena lo mau melewati semua rintangan yang akan kita lalui dengan keberanian tanpa takut akan ada seseorang yang berniat memisahkan kita, selalu memecahkan masalah dengan kebijakan kita berdua dan kita selalu menerapkan saling percaya satu sama lain. Dan satu lagi, karena menurut lo bunga aster ini bentuknya sama seperti bintang yang sekalinya jauh bintang itu dari jangkauan kita tapi kita tetap bisa melihat bintang itu dari kejauhan. Begitu juga dengan kita berdua, walaupun kita sudah lama berpisah jauh dan mungkin hanya gue yang mencari keberadaan lo, gue akan tetap bisa menemukan lo. Gue tetap bisa melihat lo dari kejauhan sebelum akhirnya gue diizinkan untuk kembali mendekati diri lo lagi," ujar Leon sembari tangannya mengelus pipi Edrea.