
Mobil Azlan kini perlahan mendekati rumah Zea. Dan ia segera menghentikan mobilnya di seberang rumah tersebut.
"Lo keluarnya pakai payung itu aja," tutur Azlan. Namun ucapannya itu tak mendapatkan respon dari Zea sedikitpun.
Azlan kini menolehkan kepalanya kearah samping tepat dimana Zea yang tengah tertidur pulas dengan wajah yang menghadap kearah Azlan.
Azlan berdecak, ingin sekali ia membangunkan Zea tapi entah kenapa dia tak tega melakukan hal itu. Tapi jika dia tak melakukan hal itu mau sampai kapan dia menunggu Zea bangun dari tidurnya ditambah rok dan rambut Zea yang masih dalam keadaan basah.
Azlan perlahan memberanikan dirinya untuk membangunkan Zea.
"Ze, bangun," ucapnya dengan tangan yang ia tepuk-tepukkan perlahan ke pipi Zea.
Namun ada yang aneh, kenapa pipi Zea terasa panas ditangannya? Ia pun kini menempelkan tangannya lebih lama ke pipi dan beralih ke dahi Zea.
"Astaga," gumam Azlan saat tau kalau suhu tubuh Zea sedang tidak normal.
Ia bingung sekarang, Zea mau dia bawa ke rumah sakit langsung atau ke dalam rumahnya saja.
"Haish, kedalam dulu aja lah. Biar dia ganti baju dulu baru ke rumah sakit," gumam Azlan. Setelah itu ia kembali menjalankan mobilnya sampai didepan gerbang rumah Zea. Ia terus membunyikan klakson mobilnya supaya security yang menjaga rumah tersebut segera membukakan gerbang itu.
Tak berselang lama akhirnya ada salah satu security datang dan sedikit membuka gerbang tersebut dan langsung menghampiri Azlan di dalam mobil.
"Maaf ada keperluan apa ya?" tanya satpam tersebut.
Azlan pun menghela nafas, setelah itu ia menggeser badannya kebelakang supaya security tadi dapat melihat Zea.
"Lho Non Zea kenapa?" tanyanya.
"Dia tadi hujan-hujanan dan sekarang suhu badannya sangat panas," jawab Azlan.
"Apakah masih ada yang ditanyakan lagi? kalau tidak bisakah saya langsung masuk sebelum majikan anda demamnya semakin parah," sambung Azlan.
Security itu pun segera berlari pelan kearah gerbang lagi dan sekarang dengan susah payah ia membukanya cukup lebar. Azlan pun dengan segera masuk kedalam lingkungan rumah Zea yang terbilang cukup luas walaupun tak seluas tempat tinggalnya.
Mobilnya kini perlahan memasuki depan rumah Zea yang langsung mengarah ke pintu utama rumah tersebut walaupun masih ada anak tangga yang nantinya akan ia lalui. Setelah itu ia segera keluar dari mobil dan langsung menghampiri pintu tersebut.
Tok tok tok
__ADS_1
Azlan mengetuk pintu itu. Dan tak berselang lama, pintu utama akhirnya terbuka dan menampilkan wanita paruh baya yang Azlan bisa tebak jika wanita tersebut adalah Art di rumah Zea.
"Maaf Bu, saya mau ngantar Zea," ucap Azlan dengan sopan.
"Non Zea?" tanya wanita itu bingung. Azlan pun mengangguk dan ia kembali menuju mobilnya untuk membawa tubuh Zea kedalam bopongannya.
Wanita tadi terlihat syok saat melihat wajah Zea yang sangat pucat pasi.
"Astaga, Non Zea kenapa den?" tanya wanita tersebut dengan khawatir.
"Mungkin lagi demam Bu karena dia tadi sempat hujan-hujanan," jawab Azlan.
"Astaga. Masuk-masuk den." Azlan pun segera menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah mewah itu.
"Mari saya tunjukkan kamar Non Zea," ucapnya. Azlan pun mengangguk setelah itu ia terus mengikuti langkah demi langkah wanita tersebut hingga sampai di depan pintu kamar Zea yang terletak di lantai dua. Jika ditanya berat? tentu saja Azlan rasakan sekarang apa lagi ia tadi sempat naik beberapa anak tangga untuk menuju ke lantai tersebut. Walaupun tubuh Zea kecil dan ramping namun ternyata sangat berisi.
"Masuk den!" perintah wanita tersebut setelah berhasil membuka pintu kamar Zea.
Tanpa permisi Azlan masuk kedalam kamar yang bernuansa pink dan putih dengan tatanan yang sangat rapi.
Perlahan Azlan membaringkan tubuh Zea ke atas kasur tersebut.
"Bu," panggil Azlan.
"Den, jangan panggil saya Bu, panggil saja dengan sebutan mbok yang lebih enak di dengar," ucap wanita tersebut. Azlan pun mengiyakan saja sembari menganggukkan kepalanya.
"Mbok, saya boleh minta tolong gantiin baju Zea tidak? Saya akan keluar buat telfon dokter," tutur Azlan.
"Baik den."
Azlan pun segera keluar dari kamar tersebut dan menutup kembali pintunya. Setelahnya ia segera merogoh sakunya dan setelah menemukan apa yang ia cari, Azlan langsung menelfon dokter yang sudah sangat ia kenal siapa lagi kalau bukan sang Abang angkatnya.
π : "Halo," sapa Adam dari seberang.
"Bang, lagi banyak pasien gak?" tanya Azlan.
__ADS_1
π : "Lagi sepi. Emang kenapa? Dad sama Mom baik-baik aja kan?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Mom sama Dad baik-baik aja, malah mereka berdua lagi honeymoon," jawab Azlan.
π : "Syukurlah. Kalau mereka berdua baik-baik aja, terus kenapa kamu telepon Abang? atau jangan-jangan salah satu dari kalian bertiga yang lagi sakit," cerca Adam.
"Gak. Kita bertiga juga baik-baik aja," ucap Azlan.
π : "Huh Alhamdulillah kalau gak ada yang sakit."
"Kata siapa gak ada yang sakit?"
π : "Lah bukannya kamu tadi bilang kalau Mom, Dad, kamu dan juga dua saudara kembarmu itu sehat semua," tutur Adam tak paham.
"Kalau keluarga memang sehat semua bang. Tapi yang lagi gak sehat tuh teman Azlan," ucap Azlan.
"Jadi bisa gak Abang sekarang kesini? Alamatnya tar aku kirim," sambung Azlan.
π : "Ya udah kirim aja alamatnya. Abang kesana sekarang," ucap Adam.
"Oke. Jangan lama-lama."
π : "Tergantung lah kalau memang lokasi rumah itu jauh dari rumah sakit ya pasti lama."
"Ck. Ya pokoknya usahain 10 menit sampai disini. Assalamualaikum," tutur Azlan dan sebelum ia mendengar balasan lagi dari Adam ia sudah mematikan sambungan telepon tersebut begitu saja.
"Dasar adik laknat," sebal Adam. Tak berselang lama bunyi pesan masuk di ponselnya pun terdengar. Ia langsung membuka pesan tersebut yang berisikan alamat rumah Zea. Ia menghela nafas setelah membaca pesan tersebut.
"Adik gue emang suka banget bercanda. Ya kali ke alamat ini harus 10 menit sampai, sedangkan waktu yang biasanya ditempuh tuh 30 menitan itu pun udah kecepatan tinggi. Ada-ada aja. Mana ini masih hujan lagi," gumam Adam yang sangat malas berpergian jauh dengan cuaca ekstrem seperti saat ini. Namun ia pun akhirnya beranjak juga ke alamat yang dikirim oleh Azlan tadi walaupun sudah ia pastikan sampai disana lebih dari 30 menitan. Bodoamat lah ya yang penting dirinya sudah menuruti apa yang di perintahkan oleh Azlan tadi. Hitung-hitung juga sebagai bentuk kasih sayangnya kepada adik tercinta.
...*****...
Sesuai janji author tadi kalau like sampai 200 sebelum jam 5, author akan double up dan Alhamdulillah like udah tembus 200 dan akhirnya author double up juga hehehe π€
Tapi eps ini juga harus tembus 200 like ya awas aja kalau gak π€
Dan jangan lupa like, vote dan beri hadiah untuk author supaya author lebih semangat lagi nulisnyaπ
__ADS_1
Stay safe, stay healthy and stay with me π€ SEE YOU NEXT EPS BYE π