
Kini Azlan dan Zea sudah sampai di apartemen milik Azlan. Dan untuk niat Azlan melamar Zea di hadapan orangtua gadis yang ia sukai pun gagal, dikarenakan kedua orangtua Zea tak ada di rumah. Entah mereka berdua kemana, tak ada yang tau. Apalagi Zea yang sudah berminggu-minggu tak bertukar kabar dengan kedua orangtuanya itu.
Dan kini keduanya tengah duduk di salah satu sofa di apartemen tersebut.
"Sudah aku bilang kan kalau kamu mau ketemu sama Mama dan Papa harus buat janji sama mereka berdua. Kalau secara tiba-tiba seperti ini mereka gak akan pernah dirumah," ujar Zea sembari menyandarkan kepalanya di bahu Azlan.
"Ya sudah lah, kapan-kapan saja. Biar aku selesaikan urusanku dengan Mommy sama Daddy dulu. Dan kalau mereka setuju untuk kita nikah secepatnya, baru aku temui kedua orangtuamu," ucap Azlan dengan membelai rambut Zea.
"Oh ya, kamar kamu diatas. Mau pakai yang mana saja terserah kamu. Semua keperluan disini juga sudah lengkap semua termasuk stok makanan di kulkas dan cemilan buat kamu. Setiap hari akan ada perempuan paruh baya, panggil aja beliau Mbok Nem yang akan membersihkan apartemen ini. Dan aku sarankan mulai hari ini kamu jangan kerja lagi," sambung Azlan yang membuat Zea kini menegakkan tubuhnya lalu kini ia menatap wajah Azlan.
"Lah kok gitu? Kalau aku gak kerja gimana aku bisa beli kebutuhanku selama disini. Dan satu lagi, mending Mbok Nem yang kamu maksud tadi, jangan kesini lagi ya. Soalnya aku gak ada uang buat bayar beliau," ucap Zea.
Azlan kini bergerak untuk menangkup kedua pipi Zea.
"Kalau aku sudah bilang begitu, berati aku sudah tau apa yang harus aku lakukan. Kamu tenang saja, untuk semua kebutuhanmu dan untuk membayar jasa Mbok Nem, aku yang akan menanggungnya," tutur Azlan.
"Gak, gak bisa gitu lah. Aku tuh bukan siapa-siapa kamu, hanya sekedar pacar saja belum jadi istri," ujar Zea yang berusaha untuk menolak rencana Azlan tadi.
"Hey, apa kamu lupa kalau kamu calon istriku hmmm? Dan apa yang aku lakukan ini semata-mata juga untuk latihan dimasa yang akan datang. Aku juga takut saat kamu kerja di luar sana nanti ada laki-laki yang lebih dari aku dan tertarik sama kamu, akunya nanti kamu tinggalkan sama seperti yang dilakukan Kayla tadi sama Erland," tutur Azlan yang membuat Zea tersenyum.
"Jadi alasan utama kamu meminta aku berhenti kerja karena kamu takut aku berpaling ke orang lain?" Azlan tampak menganggukkan kepalanya dengan tatapan berbinarnya.
"Oh jadi begitu. Tapi sayangnya, aku berbeda dengan Kayla, sayang. Jika dia berhasil mendua, aku harus berhasil untuk setia. Untuk apa juga aku selingkuh dari kamu. Jika kamu saja sudah lebih dari cukup di hidup aku. Kamu juga yang selama ini menguatkanku dan memberiku warna indah lagi setalah bertahun-tahun aku merasa hidup dalam kegelapan. Terimakasih," ucap Zea.
__ADS_1
"Tapi---"
"Stttt, tidak ada tapi-tapian lagi. Kita ini pasangan bukan? Kalau pasangan berarti harus saling percaya satu sama lain. Jika hubungan tanpa kepercayaan, hubungan itu tidak akan bertahan lama. Jadi aku mohon percaya sama aku kalau aku tidak akan macam-macam di belakang kamu. Dan izinkan aku untuk tetap bekerja lagi seperti sebelumnya. Aku janji komunikasi diantara kita berdua akan tetap terjalin setiap hari walaupun kita sibuk masing-masing," tutur Zea mecoba meyakinkan Azlan.
Azlan kini tampak menghela nafas berat, lalu setelahnya tangannya kini terbuka lebar, bersiap menyambut pelukan hangat dan Zea.
Zea yang paham akan hal yang di lakukan oleh Azlan tadi pun, ia langsung bergerak untuk memeluk tubuh sang kekasih.
"Baiklah, aku izinkan kamu bekerja. Tapi harus bekerja di tempatku," ujar Azlan.
"Lah kalau begitu caranya, sama saja dong," ucap Zea.
"Stttt, jangan protes mulu. Turutin aja apa yang aku katakan tadi, apa susahnya sih. Kan yang penting kamu tetap kerja dan menghasilkan uang kan? Jadi gak masalah kalau kamu bekerja di tempatku," tutur Azlan.
"Good girl," tutur Azlan dengan senyum kemenangannya.
Dan saat keduanya tengah menikmati kebersamaan di dalam apartemen Azlan. Di lain tempat, Edrea yang sedari tadi menyibukkan dirinya dengan menonton sebuah drama kesukaannya itu kini fokusnya harus terbagi karena tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring.
"Ck, ganggu," gumam Edrea saat dirinya sudah melihat siapa penelepon tersebut. Tapi walaupun begitu, ia tetap saja mengangkat telepon tersebut yang merupakan telepon dari sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Resti.
"Halo, kenapa? Ada apa?" tanya Edrea setelah sambung telepon tersebut terhubung.
📞 : "Rea!" teriak Resti dari sebrang dan hal tersebut membuat Edrea kini menjauhkan ponselnya dari telinganya.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak bisa gak sih. Kalau lo terus teriak-teriak gak jelas seperti tadi gue matiin teleponnya daripada kuping gue jadi budek nanti," ujar Edrea sebal.
📞 : "Gak bisa! Ini masalah genting soalnya, jadi gue harus heboh," tutur Resti.
"Astaga. Ada masalah apa sih? to the point lah jangan belibet kayak gini," ucap Edrea.
📞 : "Ck, sabar lah. Gue ambil nafas dulu. Engap soalnya."
Edrea memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan dirinya yang sudah dibuat emosi oleh Resti.
"Buruan Resti!" tekan Edrea tak sabaran.
📞 : "Haish suruh nunggu sebentar malah ngegas. Ya udah deh aku kasih tau sekarang aja kalau aku sekarang lihat Leon!" ucap Resti diakhiri dengan suara teriakan lagi.
"Resti! jangan teriak! Untung aja lo sekarang jauh dari jangkauan gue, kalau lo didekat gue, udah habis gue tinju lo," geram Edrea.
📞 : "Ck, iya-iya maaf deh. Jangan bahas itu lagi. Lo sekarang harus buruan kesini sebelum Leon menghilang lagi."
"Leon? Lo lihat Leon sekarang?"
📞 : "Oh astaga. Gue tadi udah bilang bolot. Buruan kesini cepat! Gue share lock posisi gue saat ini ke lo sekarang juga," ujar Resti dan belum sempat Edrea mensetujui ucapan dari Resti tadi, sahabatnya itu lebih dulu mematikan sambungan telepon dari keduanya.
"Haish orang ini main matiin telepon gitu aja tanpa kasih salam dulu. Ck, dasar," gumam Edrea lalu tak berselang lama dari omelannya itu, kini ponselnya kembali berbunyi untuk menandakan adanya sebuah pesan masuk. Dan dengan cepat Edrea kini membuka pesan tersebut. Lalu setelah melihat isi pesan itu yang merupakan pesan dari Resti tadi, ia kini dengan cepat langsung mengganti celananya yang tadinya menggunakan celana pendek kini ia ganti dengan celana panjang. Dan untuk atasnya, ia biarkan menggunakan tank top saja dan dilapisi Hoodie miliknya. Lalu setelahnya ia langsung menyambar tas kecil miliknya dan barulah ia keluar dengan jalan yang tergesa-gesa dan dengan tampilan seadanya saja.
__ADS_1