The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 54


__ADS_3

Tapi sayang angan dan harapannya harus pupus ketika Zico dengan kasar menghentakkan tangannya agar tangan Puri yang menempel di lengan Zico terlepas.


"Lo gak kenapa-napa kan?" Tanya Zico sembari mendekati Edrea.


"Gak papa kok. Cuma yah perih dikit aja di punggung," jawab Edrea.


"Kita ke UKS sekarang," ujar Zico yang terlihat khawatir, kemudian ia menggandeng tangan Edrea menuju UKS.


Saat jalan, Edrea menyempatkan diri untuk menolehkan kepalanya kearah Puri yang tengah memandangnya dengan tatapan kebencian. Hingga tatapan keduanya kini bertemu, Edrea langsung menjulurkan lidahnya kemudian tersenyum miring.


Sedangkan Puri, ia menggertakkan giginya dengan kepalan ditangannya.


"Tertawa dan mengejek lah sesuka hati lo sebelum semuanya sirna bertepatan dengan nyawa lo yang turut hilang dari bumi ini," batin Puri.


"Cabut sekarang!" Puri dan juga teman-temannya yang lain beranjak meninggalkan kantin tersebut dengan sorakan siswa lainnya yang dipimpin oleh Yesi tentunya.


...****************...


Disisi lain, Edrea dan Zico telah sampai di UKS sekolah tersebut.


"Mau gue panggilan dokter khusus kulit?" Tanya Zico.


"Gak usah Zic. Ini juga udah mendingan kok, gak terlalu perih kayak tadi," jawab Edrea.


"Beneran?" Edrea menganggukkan kepalanya.


Brak!!

__ADS_1


Pintu UKS tersebut di buka secara kasar oleh seseorang yang berada dibalik pintu itu dan sekarang tengah berlari menuju ke banker dimana Edrea berada.


"Lo gak papa kan?" Tanya Joni.


"Gak papa Jon. Tenang aja." Joni tampak bernafas lega kemudian ia menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi kearah Edrea.


"Syukurlah kalau lo gak papa. Tapi ganti baju seragam lo dulu, gue udah bawain di dalam paper bag ini."


Edrea mengambil paper bag tersebut dari tangan Joni dan melihat isi didalamnya yang ternyata satu set seragam sekolah.


"Thanks ya Jon. Tapi btw ini seragam pas gak di tubuh gue, tar kalau kekecilan kan sama aja," tutur Edrea bercanda.


"Gue jamin 100% seragam ini pas dengan ukuran tubuh lo," jawab Joni dengan senyumnya.


"Kok lo bisa yakin banget?"


"Ya harus yakin dong, toh gue juga udah tau ukuran seragam lo jadi gak perlu diragukan lagi."


"Ck, Lo kayak gak tau gue aja. Tinggal lihat proporsi tubuh orang, gue langsung akan tau ukuran baju dan celananya bahkan sampai luar dalam," tutur Joni.


"Wanjir mesum banget lo," ucap Edrea sembari memukul tubuh Joni menggunakan paper bag tadi tak lupa dengan gelak tawa yang sedari tadi ia tahan. Karena ia tau yang dibicarakan Joni tadi tak akan benar seperti itu dan ia juga yakin Joni tau ukuran seragamnya karena diberitahu oleh Yesi atau Resti yang notabenenya sudah tau tentang dirinya sampai luar dalam.


Sedangkan Zico yang sedari tadi mendengar ucapan dari Joni, kini tangannya sudah mengepal. Bisa-bisanya cowok lain tau ukuran baju dan celana orang yang ia sukai mendahului dirinya. Bahkan yang membuat dirinya semakin panas saat Joni mengatakan bahwa ia tau dengan cara melihat proporsi tubuh Edrea. Arkh Zico sekarang benar-benar terbakar api cemburu, ia ingin sekali mencolok mata Joni agar pria itu tak bisa lagi melihat tubuh Edrea walaupun tubuh itu di lapisi oleh baju, celana dan semacamnya.


"Ya udah gue tinggal ganti baju dulu, kalian mau keluar dari sini silahkan kalau mau nunggu juga silahkan," ujar Edrea tanpa menyadari ekspresi wajah Zico yang berubah jadi masam itu.


"Mau gue anterin sampai kamar mandi?" Tanya Joni sembari melirik sekilas kearah Zico. Sepertinya Joni sekarang sengaja untuk memanas-manasi Zico.

__ADS_1


"Gak usah lah, gue bisa ke kamar mandi sendiri. Toh kaki gue juga aman gak ada luka sedikitpun," ucap Edrea kemudian ia bergegas masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam UKS tersebut.


Saat Edrea sudah menghilang dari pandangan keduanya, Joni yang tadinya ingin keluar dari UKS itu, tiba-tiba tubuhnya harus terhenti karena hadangan Zico dan tanpa berucap sepatah katapun tangan Zico sudah mencekram kuat kerah Joni.


"Wes wes wes santai bro," tutur Joni.


"Lo kalau ngomong dijaga ya."


"Emang gue ngomong apaan harus dijaga segala? Toh gue tadi ngomongnya sama Rea bukan sama lo. Oh iya gue baru ingat lo tadi pagi dengan lantang mengumumkan kalau Rea milik lo, wanita lo atau bisa disimpulkan kalau lo menganggap Edrea pacar lo tanpa persetujuan dari pihak Rea. Bahkan lo juga gak tanya terlebih dahulu apa Rea setuju dengan itu atau menolaknya dan kalau di ingat-ingat dari masa lalu. Emang lo gak punya malu gitu udah bersikap kasar dengan Rea sampai menyia-nyiakan perempuan yang sayang dan tulus sama lo, tapi sekarang lo dengan berani dan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun lo berucap seperti tadi pagi dihadapan semua orang. Ck, kalau gue jadi lo, gue akan menghilang dari muka bumi ini dan gak berani berhadapan langsung dengan Edrea," tutur Joni yang masih tak terima waktu Edrea dulu diperlakukan semena-mena oleh Zico.


Zico sekarang semakin mencengkramkan tangannya dan karena geram, ia melayangkan satu kepalan tangan tersebut menuju pipi Joni tapi sayang saat beberapa senti lagi bogeman itu mendarat, pintu kamar mandi yang digunakan oleh Edrea tadi terbuka. Dan mau tak mau Zico mengurungkan niatnya dan melepas dengan kasar cengkraman di kerah Joni.


Sedangkan Joni, ia tersenyum miring kemudian kedua tangannya merapikan baju seragam yang sedikit terangkat karena ulah Zico tadi.


"Lho kalian masih ada disini ternyata. Kirain tadi udah pada keluar," ucap Edrea yang sudah rapi dengan balutan seragam barunya.


"Tadi niatnya mau keluar tapi ada tikus yang menghalangi jalan gue. Dan dari pada lo tar teriak-teriak gak jelas saat lihat tikus itu jadi gue mutusin buat nunggu lo aja," tutur Joni sembari melirik sekilas kearah Zico yang menatapnya dengan tatapan tajam.


Namun Joni tak memperdulikan tatapan itu, ia sekarang malah mendekati Edrea dan melihat penampilan gadis tersebut hingga memutari tubuh Edrea.


"Gue bilang juga apa, seragam yang gue kasih pas kan di tubuh lo. Gak kekecilan atau kebesaran. Perfect," sambung Joni.


Edrea tersenyum kemudian dengan reflek tangannya menangkup kedua pipi Joni.


"Iya-iya emang lo tuh paling the best. Thanks ya," ucap Edrea sembari menggelengkan kepala Joni.


"Ya ampun Rea, kalau gue diginiin lama-lama pusing nih pala," tutur Joni tak jelas karena pipinya masih setia di apit oleh kedua tangan Edrea.

__ADS_1


"Hehehe maaf maaf." Edrea melepaskan tangannya dari pipi Joni tapi ia juga sempat mengelus kedua pipi tersebut.


Dan semua yang dilakukan oleh Edrea serta Joni tadi, tak lepas dari tatapan elang Zico. Ia semakin mengepalkan tangannya kemudian tanpa sepatah kata ia beranjak keluar dari ruangan tersebut dengan membuka pintu UKS dan menutup pintu tersebut dengan sangat kasar.


__ADS_2