The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 165


__ADS_3

Setelah Edrea meminta pertolongan kepada Adam, dari malam itu hingga pagi ini Edrea belum mendapatkan informasi mengenai Mommynya yang sudah berhasil Adam rayu atau justru rencananya gagal. Jika gagal ia akan menjalankan rencana yang telah ia susun dan akan menjalankan rencana itu saat Mommy Della telah kembali ketanah air.


Tapi sebelumnya ia harus menanyakan masalah ini kepada Adam sebelum dirinya bergerak. Dan tepat saat dirinya ingin turun dari tangga rumah tersebut dengan seragam sekolahnya yang sudah rapi, terlihat Adam juga baru turun dari lantai atas. Dengan segera Edrea berlari kecil menuruni anak tangga tersebut untuk mensejajarkan dirinya dengan langkah Adam.


Setalah ia berhasil menyamakan langkahnya, Edrea langsung menoleh kearah Adam dan melemparkan senyuman manis kepada sang empu. Sedangkan Adam, ia hanya mengernyitkan keningnya saat melihat tingkah Edrea pagi ini.


"Selamat pagi Abangku yang paling tampan," sapa Edrea yang membuat Adam mendengus dan kini ia tau dibalik sikapnya Edrea pagi ini.


"Mommy gak mau dengerin kata-kata Abang. Dan kata Mommy, sikap diamnya Mommy menjadi pelajaran buat kamu untuk kedepannya agar tak bersikap seperti waktu itu lagi," tutur Adam yang seketika membuat Edrea menekuk wajahnya.


"Makanya pelajaran yang di ajarkan Mommy sama Daddy, kamu terapkan bukan cuma didengar aja. Dan untuk masalah ini kamu selesaikan sendiri," sambung Adam kemudian ia bergegas menuju pintu utama rumah tersebut.


"Lho Abang mau kemana?" teriak Edrea.


"Mau ke rumah sakit lah," jawab Adam.


"Tapi kan Abang belum sarapan. Sarapan dulu lah bang. Baru juga sembuh udah mau mengabaikan kesehatan lagi," omel Edrea.


Adam kini menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap kearah Edrea.


"Gak sempat kalau Abang sarapan dulu. Ada nyawa yang harus Abang selamatkan sekarang. Salam buat Azlan sama Erland. Dan kamu hati-hati dijalan kalau mau berangkat ke sekolah," tutur Adam.


"Tapi Abang nanti pulang kesini lagi kan?"


"Iya Abang nanti pulang lagi kesini. Kan udah Abang bilang sebelumnya kalau Abang akan menginap disini sampai Mommy dan Daddy pulang. Udah dulu, jangan banyak tanya lagi. Bisa-bisa Abang telat gara-gara jawab pertanyaanmu itu. Assalamualaikum," tutur Adam sembari memutar tubuhnya kembali. Dan baru saja satu langkah, tubuhnya harus terhenti kembali karena teriakan dari seseorang.


"Tunggu sebentar!" teriak orang tersebut sembari berlari kecil menuju kearah Adam. Adam kini menolehkan kepalanya kearah orang tersebut sembari mengerutkan keningnya saat tau orang itu adalah teman dari Triplets yaitu Vivian.


"Hmmm ini." Vivian menyodorkan bekal makanan kearah Adam.

__ADS_1


"Apa?" tanya Adam tak mengerti.


"Ini bekal sarapan buat kamu. Tadi aku gak sengaja dengar percakapan kamu sama Rea yang menyangkut kesehatan kamu. Jadi daripada tubuh kamu kembali sakit karena tak sempat sarapan, jadi aku berinisiatif buat bikini bekal buat kamu. Ya walaupun hanya nasi goreng tapi setidaknya bisa mengganjal perut kamu," ucap Vivian diakhiri dengan ia menggaruk tengkuknya untuk mengalihkan kegugupannya.


Adam menganggukkan kepalanya kemudian ia menerima bekal tadi dari tangan Vivian.


"Thanks," ujar Adam sembari tersenyum sebelum dirinya benar-benar pergi dari hadapan Vivian.


Sedangkan Edrea yang sedari tadi melihat interaksi dari keduanya pun ia jadi senyum-senyum sendiri dengan pikiran liarnya yang sudah kemana-mana. Dan ketenangannya harus terganggu dengan senggolan di lengan yang dilakukan oleh Erland.


"Kesambet lo senyum-senyum sendiri kayak gitu?" cerletuk Erland sembari terus melangkahkan kakinya menuju meja makan diikuti Azlan di belakangnya.


Edrea kini menyesuaikan langkah kedua Abangnya itu.


"Rea gak kesambet tau bang. Rea tadi lihat pemandangan yang sangat-sangat indah yang buat siapa saja baper termasuk Rea sendiri," tutur Edrea sembari mendudukkan tubuhnya di kursi makan yang sering ia gunakan.


Kedua saudara kembarnya kini menatapnya, seakan-akan mereka tengah menunggu kelanjutan dari cerita Edrea tadi.


Sedangkan kedua saudara kembarnya menanggapi ucapan dari Edrea tadi dengan helaan nafas. Mungkin niat Edrea untuk mendekatkan mereka berdua tak akan pernah mempan sampai kapanpun.


"Lo yakin mau bantu mereka biar PDKT?" tanya Azlan tiba-tiba. Dengan cepat Edrea menganggukkan kepalanya.


"Gue rasa gak akan pernah bisa lo bantu mereka. Karena gue yakin bang Adam akan nolak keinginan lo itu. Secara kan bang Adam masih sayang banget sama pacarnya," ucap Azlan sembari mulai memakan sarapannya.


"Tapikan itu hanya masa lalu aja. Dan perempuan itu juga udah menghilang bertahun-tahun," tutur Edrea.


"Mau itu masa lalu ataupun perempuan itu udah menghilang sekalipun kalau bang Adam belum move on dan masih sayang mau modelan perempuan seperti apapun yang lo kenalkan buat dia. Bang Adam gak akan pernah tertarik sama mereka. Susah tau Rea kalau udah menyangkut masalah hati tuh apalagi hatinya belum ikhlas duh lebih susah lagi buat nembus benteng itu. Jadi biarin aja bang Adam menemukan pengganti perempuan itu sendiri jangan dijodoh-jodohkan. Karena kalau sampai hal itu terjadi takutnya perempuan yang Lo jodohkan sama bang Adam akan menjadi pelarian saja dan bang Adam gak pernah menaruh rasa kepada perempuan itu. Emang lo mau liat perempuan itu sakit hati?" Edrea menunduk sembari menggelengkan kepalanya.


"Kalau gak mau, ya udah simpan aja niatan lo itu. Karena gue juga gak mau nanti Vivian ngerasain sakit hati karena di sia-siakan. Kasihan tuh anak udah patah karena keluarga dan adiknya ya kali kita tambah patah hatinya," sambung Azlan.

__ADS_1


"Udah-udah jangan bahas itu lagi, orangnya kesini," ujar Erland sembari melirik kearah Vivian yang sepertinya baru kembali setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Selamat pagi," sapa Vivian yang langsung mendapat senyum dari ketiga manusia di ruang makan tersebut.


"Selamat pagi juga," balas mereka bertiga serempak.


"Kalian ini benar-benar anak kembar. Sampai balas salam aja kompak banget," ujar Vivian dengan kekehan kecil.


"Tapi anehnya kalian tuh gak ada mirip-miripnya," sambungnya yang membuat triplets menggedikkan bahunya.


"Kita kembar gak identik, Kak. Jadi ya beginilah, anak kembar tapi berasa bukan anak kembar," ujar Edrea.


"Tak apa yang penting kalian saling menyayangi dan akur aja. Selesain sarapan kalian, jangan sampai kalian telat sekolah gara-gara ngobrol sama aku," tutur Vivian yang membuat triplets langsung melahap sarapannya hingga habis begitu pula dengan Vivian.


Dan setelah semuanya selesai, Edrea kembali membuka suaranya.


"Kak Vi mau ke butik?" tanya Edrea.


Vivian yang sibuk dengan ponselnya untuk membalas pesan dari karyawannya pun kini menatap Edrea sekilas kemudian mengangguk.


"Nanti pulang kesini?" tanyanya lagi.


"Iya. Kan aku udah janji sama Mom dan Dad buat jagain kalian selama mereka pergi. Udah dulu ya, aku berangkat. Kalian hati-hati dijalan. Assalamualaikum," ucap Vivian.


"Kakak juga hati-hati dijalan. Waalaikumsalam," balas Edrea sembari melambaikan tangannya kearah Vivian.


Setalah Vivian pergi dari rumah tersebut tak berselang lama triplets satu persatu juga keluar dari rumah itu menuju tujuan mereka masing-masing. Jika Edrea langsung menuju ke sekolahnya berbeda dengan Azlan dan Erland, mereka berdua menuju ke rumah Kayla untuk menjemput pujaan hati mereka yang kebetulan Zea tadi malam memilih untuk menginap di rumah Kayla. Walaupun sempat pulang terlebih dahulu untuk mengambil barang keperluannya dan tanpa berpamitan kepada kedua orangtuanya yang entah kemana saat dirinya pulang karena ia tak menemukan keberadaan keduanya dirumah.


Toh ia yakin jika kedua orangtuanya tak peduli dengan dirinya yang hilang dari rumah tersebut. Jadi untuk apa juga meminta izin kepada mereka berdua kalau dirinya saja tak diperhatikan sama sekali oleh orangtuanya sendiri. Miris memang jika Zea harus meratapi nasibnya sendiri yang sangat-sangat hancur itu. Apalagi mengingat orangtua diluar sana jika mempunyai seorang anak gadis pasti akan menjaganya dengan sangat ketat dan selalu dicari jika telat pulang kerumah.

__ADS_1


Tapi beberapa dengan Zea yang sedari kecil saja sudah diacuhkan oleh orangtuanya, mana mungkin mendapatkan apa yang didapatkan oleh gadis lain. Dan jika bukan karena dirinya sendiri yang menjaga tubuhnya mungkin Zea sekarang sudah rusak, mengingat pergaulan yang sangat bebas akhir-akhir ini. Dan untungnya sehancur-hancurnya Zea, ia tak pernah melakukan hal di luar batas dan meluapkan kekesalannya juga emosinya itu dengan meminum minuman keras atau memakai obat-obatan terlarang yang mungkin akan menenangkan dirinya saat dirinya tengah jatuh sejatuh-jatuhnya.


__ADS_2