The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 329


__ADS_3

Leon kini sudah kembali tenang, bahkan ia tadi juga sudah makan dengan disuapi oleh Edrea. Dan kini kedua orang itu tengah berada di ruang keluarga, melihat acara televisi untuk menemani kebersamaan mereka.


"Sayang," panggil Leon sembari menengadahkan kepalanya karena saat ini ia tengah bersandar di bahu Edrea.


"Kenapa?" tanya Edrea tanpa mengalihkan pandangannya kearah Leon.


"Ish kalau di panggil tuh lihat sini lho," ucap Leon yang membuat Edrea menghela nafas sebelum ia menatap wajah Leon.


"Kenapa? Ada apa hmmm?" tanya ulang Edrea.


"Azlan sama Zea kan udah nikah." Edrea tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terus kita kapan? Padahal lebih lama kita lho pacarannya, masak mereka duluan yang nikah. Ihhh gak adil banget sih," ucap Leon dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ya kan udah takdir mereka buat nikah cepat," ujar Edrea.


"Tapi aku iri. Aku gak mau di dahului sama mereka. Aku mau yang pertama jadi menantu di rumah ini," tutur Leon yang membuat Edrea kini memutar bola matanya malas.


"Astaga, terus kamu maunya gimana? Kalau kita nikah sekarang, kamu juga bukan jadi menantu pertama lagi di rumah ini." Leon tampak terdiam sesaat sebelum dirinya kembali angkat suara.


"Ya udah suruh mereka cerai saja," ucap Leon dengan entengnya. Dan hal tersebut membuat Edrea langsung menepuk bibir kekasihnya itu hingga Leon kini menegakkan tubuhnya.


"Kok di pukul sih," ujar Leon dengan mengelus bibirnya.


"Salah siapa bicara sembarangan. Gak boleh ngomong begitu," omel Edrea.


"Tapi aku mau jadi menantu pertama di rumah ini," kekeuh Leon.


"Emang apa untungnya sih jadi menantu pertama di sini? Gak ada untungnya sama sekali kan. Toh mau mantu pertama, kedua, ketiga sama aja gak ada bedanya," ucap Edrea.


"Tapi---"


"Jangan aneh-aneh deh El. Kalau kamu aneh-aneh aku tinggal nih," ancam Edrea yang membuat Leon kini langsung menggelengkan kepalanya lalu ia memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Maaf," ucap Leon yang hanya diabaikan oleh Edrea.

__ADS_1


"Sayang, maaf," rengek Leon.


"Sayang."


"Iya-iya udah aku maafin," ucap Edrea frustasi sembari mengelus rambut Leon agar laki-laki itu tak merengek kembali.


Dan apa yang dilakukan oleh Edrea tadi membuat Leon mengantuk dan saat mata laki-laki itu tertutup, bertepatan dengan itu pula Mommy Della dan Daddy Aiden yang baru pulang dari mengurus urusan Puri, mereka kini tengah mendudukkan tubuhnya di sofa yang masih kosong di ruangan tersebut.


Bahkan helaan nafas dari kedua orang itu terdengar sangat lelah.


Edrea yang sedari tadi memperhatikan kedua orang tersebut kini mulai angkat suara karena rasa keponya benar-benar tinggi.


"Mom, Dad," panggil Edrea yang membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.


"Udah selesai?" tanya Edrea yang diangguki oleh Mommy Della dan Daddy Aiden.


"Terus anak Puri sekarang ada dimana?"


"Masih di rumah sakit. Mungkin besok udah boleh di bawa pulang karena bayi itu benar-benar sehat," jawab Daddy Aiden.


"Kalau kerumah Puri yang dulu, Papanya gak akan nerima anak itu," ujar Mommy Della.


"Terus kemana? Ke panti asuhan?"


"Kasihan kalau anak sekecil itu udah harus masuk panti asuhan. Dan Mommy sama Daddy sudah berdiskusi jika anak itu sementara waktu akan tinggal disini sebelum hasil tes DNA keluar. Kalau udah keluar nanti biar ayah biologisnya yang merawat dia," ujar Mommy Della yang membuat Edrea mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terus tes DNA-nya kapan keluar?"


"Tiga hari lagi," ucap Daddy Aiden.


"Kalau gitu, Puri kan masih harus menyelesaikan masa tahanan. Nanti baby-nya minum ASI gimana?" Daddy Aiden dan Mommy Della yang benar-benar sudah capek pun ia menghela nafas panjang.


"Daddy sudah nyuruh orang buat setiap hari nemuin Puri buat ambil ASI dari Puri. Udah ya Re, jangan tanya mulu. Daddy sama Mommy udah capek. Kalau mau tanya lagi nanti aja. Kita mau istirahat dulu," ujar Daddy Aiden kemudian ia berdiri dari duduknya dan setelah mengajak Mommy Della, mereka berdua bergegas pergi menuju ke kamar pribadi mereka berdua. Meninggalkan Edrea yang tengah mencebikkan bibirnya.


...****************...

__ADS_1


Paginya di hari selanjutnya, sesuai dengan apa yang dikatakan Daddy Aiden jika hari itu juga, anak Puri diperbolehkan untuk pulang.


Puri yang melihat bayi yang selama ini ia kandungan dan sekarang sudah berada di gendongannya itu, ia tersenyum dengan mengelus pipi lembut anak itu yang dulu benar-benar sangat ia benci dan tak ia inginkan untuk hidup di dunia ini. Tapi sepertinya selama 9 bulan lebih ia mengandung menjadikan dirinya menyayangi bayi itu tanpa ia sadari.


"Maafin Mama, nak. Karena kelakuan Mama dulu, kamu sekarang terpaksa harus pisah dengan Mama. Dan mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena kelakuan Mama dulu yang sewena-wena dengan orang lain bahkan berniat untuk memisahkan orang itu dengan seseorang yang mereka sayangi. Dan kini Mama yang dulunya sewena-wena itu telah di hukum dengan menjauhnya kamu dari Mama. Maafin Mama, sayang. Maaf," ucap Puri dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.


Puri terus menatap wajah polos anaknya yang tengah tertidur itu hingga suara pintu di kamar inapnya terbuka dan menampilkan dokter, suster dan beberapa orang yang ia kenali, siapa lagi kalau bukan keluarga Abhivandya yang dulu sangat ia benci tapi sekarang justru keluarga itu yang sangat banyak membantunya. Dan dengan cepat ia menghapus air matanya tadi agar tak di sadari oleh semua orang yang kini satu-persatu masuk kedalam kamar tersebut.


"Bagiamana keadaanmu Puri?" tanya dokter yang telah berdiri di depan Puri.


Puri menengadahkan kepalanya lalu tersenyum kearah dokter tadi.


"Jauh lebih baik dari sebelumnya," jawab Puri yang diangguki oleh dokter tadi.


"Tapi untuk memastikan saya periksa dulu ya. Baby-nya biar suster dulu yang jaga," ujar dokter tersebut yang hanya diangguki oleh Puri sebelum dirinya menyerahkan bayinya kearah suster disana.


Lalu setelah bayi itu sudah berpindah tangan, dokter langsung menutup tirai untuk segera memeriksa keadaan Puri.


Edrea yang kepo dengan wajah bayi itu pun ia segera mendekati kearah suster tadi.


"Ihhh gemes," ucap Edrea saat dirinya sudah melihat wajah menggemaskan bayi perempuan itu. Bahkan saking gemasnya hampir saja Edrea kelepasan untuk mencubit pipi tembem bayi tersebut. Tapi untungnya saat tangannya terulur, ia tersadar kembali dan mengurungkan niatnya tadi. Dan ia memilih untuk memperlihatkan wajah bayi itu hingga suara suster menyadarkan dirinya.


"Mau gendong?" tanya suster tadi.


"Mau sih sus, tapi takut nanti lehernya kecengklak," ujar Edrea yang membuat suster tadi tersenyum.


"Tidak akan jika kamu menggendongnya dengan benar. Sini biar saya ajarin," tutur suster itu yang membuat mata Edrea berbinar bahagia.


Dan saat Edrea tengah berlatih dengan suster tadi. Dokter telah selesai memeriksa Puri.


"Semuanya aman, hanya tinggal masa pemulihan saja," ujar dokter tersebut yang membuat semua orang disana mengangguk kecuali Edrea yang kini sudah menggendong bayi itu dengan senyum yang merekah.


Puri yang melihat hal tersebut pun ia ikut tersenyum tapi beberapa detik setelahnya senyuman itu hilang saat memori dimasa lalunya itu kembali berputar dimana ia menghalalkan segala cara untuk melenyapkan Edrea hanya karena ia iri dengan Edrea yang selalu saja mendapatkan perhatian lebih dari semua orang terutama dengan kata laki-laki tampan yang selalu menjadi incarannya. Memang segitu bodoh dan gilanya dia dulu, hanya gara-gara iri saja ia sampai menginginkan hal tersebut yang kini justru kelakuannya itu membuat dirinya mendekam di penjara.


Menyesal? Tentu saja. Jika saja waktu bisa di ulang, Puri ingin sekali menjadi orang baik yang tak memperjual belikan dirinya sendiri dan tidak menghakimi orang lain semaunya. Tapi sayangnya, waktu tidak bisa dia ubah dan apa yang tengah ia alami saat ini adalah ganjaran dari Tuhan yang membuatnya perlahan menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2