The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 27


__ADS_3

Saat mobil Erland tak lagi terlihat, kini Edrea segera memasuki lobi sekolah diiringi tatapan mata para pemuja visual Erland tadi. Namun bukan Edrea namanya jika tak bersikap bodoamat. Ia seperti biasa hanya terus berjalan semakin memasuki area sekolah tersebut namun saat ia berada dibelokkan, langkahnya harus terhenti saat seseorang berdiri tepat di depannya.


Edrea yang tadinya menunduk kini menengadahkan kepalanya untuk menatap pemilik tubuh tersebut yang langsung membuat dirinya memundurkan tubuhnya.


"Maaf," ucap Edrea setelah itu ia memutar tubuhnya untuk mencari jalan lain yang menuju ke kelasnya. Namun saat ia baru saja melangkahkan kakinya satu langkah kedepannya, lengannya lebih dulu di cekal dan ditarik paksa oleh orang tadi yang membuat Edrea tertarik kebelakang dan menyebabkan tubuhnya menempel dengan orang tersebut.


Sesaat Edrea terdiam namun setelahnya ia mengerjabkan matanya dan mengisyaratkan otaknya untuk kembali ke tujuan utamanya untuk tak mengejar dan mengharap orang didepannya tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Zico.


Zico menatap dirinya dengan tajam bahkan tangannya semakin erat menggenggam lengan Edrea. Yang membuat Edrea berdesis kesakitan.


Ia pun berusaha untuk melepaskan cekalan dari Zico tadi.


"Gue udah minta maaf sama lo tadi Zic. Dan biarin gue pergi sekarang," tutur Edrea dengan pelan.


Namun nampaknya Zico enggan untuk melepaskan cekalan tangannya tadi hingga Joni yang sedari tadi melihat mereka pun kini menghampiri mereka berdua. Sebenarnya tak hanya Joni yang menyaksikan drama antara Zico dan Edrea saat ini melainkan para siswa-siswi sekolah tersebut juga turut menyaksikan.


Saat Joni sudah berada di dekat mereka, ia langsung mengarahkan tangannya untuk membantu Edrea terlepas dari cekalan Zico. Dan dengan sekali sentakan tangan Joni, lengan Edrea kini terbebas dari tangan Zico.


"Lo mau apa lagi hah? belum cukup yang kemarin? Cih, pengecut," tutur Joni setelah itu ia menarik tangan Edrea dan membawanya pergi dari hadapan Zico yang kini terdiam di tempat.


"Jon, Joni," panggil Edrea saat ia mengikuti langkah Joni.


"Hmm," dehemnya untuk menjawab panggilan dari Edrea tadi.


"Lo mau ajak gue kemana?" tanya Edrea penasaran.


"Kantin. Gue laper," jawab Joni.


"Lo belum sarapan?"


Joni menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Belum. Makanya gue ajak lo ke kantin," ujar Joni. Dan kini mereka berdua pun sudah berada di kantin sekolah tersebut. Joni pun langsung mendudukan tubuhnya setelah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Edrea tadi. Edrea juga turut duduk di depan Joni yang tengah memesan makanannya.


"Tapi Jon, gue udah sarapan tadi dirumah," ucap Edrea.


"Ya terus?"


"Jadi gue ngapain dong ikut lo kesini?"


"Nemenin gue makan lah sekalian bayarin nanti hehehe," jawab Joni dengan cengiran di bibirnya.


"Astaga. Ya udah deh Lo pesan apa aja yang lo mau sana. Gue nanti yang akan bayar semuanya, itung-itung ucapan terimakasih buat kemarin dan hari ini," tutur Edrea. Joni yang mendengar ucapan dari Edrea pun matanya berbinar, setidaknya ia tak mengeluarkan uang sakunya yang tengah dipotong oleh orangtuanya mulai hari ini, karena ulahnya kemarin bertengkar dengan Zico yang kebetulan adalah sepupunya sendiri dan menyebabkan orangtua mereka kemarin harus datang ke sekolah.


"Beneran kan ini?" tanya Joni memastikan.


"Iya beneran. Emang gue pernah bohong gitu?"


"Mana gue tau," ucap Joni sembari mengedikan bahunya.


"Lah lo mau kemana?" tanya Joni was-was.


"Mau ke kelas," jawab Edrea.


"Lha katanya mau bayarin makanan gue."


"Iya gue bayarin tenang aja, elah. Gue juga mau bayar dulu sebelum ke kelas," tutur Edrea dan kini ia mulai melangkah kakinya menuju ke beberapa penjual di kantin tersebut yang makanannya tadi di pesan oleh Joni.


Setelah membayar semuanya, Edrea kembali menghampiri Joni.


"Udah gue bayari semuanya. Sekali lagi thanks buat kemarin dan sekarang," ucap Edrea.


"Gue yang harusnya berterimakasih ke lo karena udah traktir gue pagi ini," tutur Joni.

__ADS_1


"Ah elah cuma traktir doang gak sebanding dengan lo kemarin yang lari keliling lapangan." Joni tersenyum malu sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya udah gue ke kelas dulu ya. Bye," pamit Edrea. Joni pun menganggukkan kepalanya, setelah itu Edrea pergi dari area kantin tersebut menghampiri kelasnya.


...******...


Sedangkan di jalan raya Erland harus berhadapan dengan segerombolan geng motor yang tiba-tiba menghadang jalannya.


"Bisa minggir gak lo semua!" geram Erland pasalnya sejak 10 menit yang lalu mereka terus berjejer rapi di depan mobil Erland tapi anehnya saat Erland menghampiri mereka, dengan kompak mereka tak menyerang Erland malah semua orang itu mundur, entah karena takut atau mungkin yang lainnya. Hanya geng motor itu yang tau.


"Mau kalian apa hah?"


Saat pertanyaannya itu baru saja terlontar, kini terdengar suara gemuruh motor sport mendekati lokasi tersebut. Erland menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa gerangan yang datang dan saat pengendara motor tersebut melepas helmnya, bibir Erland seketika mengeluarkan smriknya.


Pengendara motor tadi perlahan mendekati Erland yang masih menatap dirinya dengan tatapan menantang tanpa ada takutnya sama sekali.


"Cih, jadi ini semua anggota geng lo?" tanya Erland meremehkan.


"Pengecut!" sambungnya setelah itu ia melayangkan pukulannya walaupun untuk pertama pukulan tersebut dapat orang itu hindari hingga ia sudah tak tahan lagi untuk kembali menyerangnya hingga membabi buta walaupun sesekali ia juga terkena pukulan lawannya tersebut. Sedangkan anak buah sang lawan yang melihat bos mereka terkapar lemah pun segera menyerang Erland secara bersamaan.


Erland sempat kewalahan menghadapi semua orang tersebut hingga terdengar suara sirine polisi yang membuat para anggota geng motor tersebut kocar-kacir meninggalkan Erland tak lupa mereka juga membawa bos mereka yang tak lain dan tak bukan si Satya, ketua geng motor Janze yang selalu berlaga angkuh dan seakan-akan dirinya lah yang paling kuat, tak terkalahkan di dunia ini padahal hanya besar di omongan saja kalau kenyataannya mah tak ada apa-apanya dengan Erland.


Erland menatap jauh kearah geng motor tadi yang perlahan tak bisa ia lihat lagi dan kini ia dengan perlahan menghampiri mobilnya namun sepertinya perutnya sedang tak baik-baik saja sekarang karena tadi sempat terkena rantai yang dibawa anak buah Satya.


"Arkh," erang Erland sembari memegangi perutnya dan tak lama setelah itu ada tangan yang memegangi lengannya dan langsung melingkarkan lengan tadi ke arah leher orang tersebut. Erland yang diperlukan seperti itu secara tiba-tiba pun langsung menolehkan kepalanya.


"Bi---biar gue bantu lo sampai masuk mobil," ucap orang tersebut terbata saat tatapan tajam Erland menusuk penglihatannya. Ia sebenarnya takut dan tak ingin ikut campur dengan urusan Erland tadi tapi ia masih ingat jika dulu dirinya diselamatkan oleh seorang Erland, masak iya saat Erland tadi tampak membuatkan bantuan, ia tak membantunya. Walaupun yang ia lakukan tadi hanya menyetel sirine polisi palsu dari ponselnya tapi kan setidaknya aksinya tadi berhasil dan membuat para geng tadi pergi.


"Gak perlu," tolak Erland sembari menarik tangannya dari leher orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Kayla.


Namun baru beberapa langkah saja perutnya kembali terasa sakit.

__ADS_1


"Jangan keras kepala Erland, toh gue juga gak gigit kok tenang aja," tutur Kayla setelah itu ia memaksa lengan Erland ia lingkaran kembali ke lehernya bahkan tangannya yang lain kini sudah melingkar di pinggang Erland dan dengan paksa ia membawa tubuh Erland ke arah mobil tersebut.


__ADS_2