The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 190


__ADS_3

Di hari yang berbeda keadaan Puri semakin membaik dan pada siang itu juga ia sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan baru saja dia dan sang Mama sampai di rumah, langkah mereka terhenti saat melihat Handoko yang tadinya tengah terduduk di ruang tamu kini mulai menghampiri mereka berdua tanpa melempar senyum sedikitpun atau setidaknya merasa bersalah dengan Puri yang sudah ia buat masuk kerumah sakit.


Dan saat Handoko sudah berdiri di depan kedua perempuan itu, Handoko mulai angkat suara.


"Apakah perlu menghambur-hamburkan uang hanya untuk membela dia?" tanya Handoko yang ia tujukan untuk sang istri.


Mama Puri yang tak mengerti arah pembicaraan sang suami pun mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu menghambur-hamburkan uang bagaimana?" tanya Mama Puri.


"Kamu masih tanya menghamburkan uang bagaimana? Apa otakmu itu sudah hilang? buat apa kamu bawa dia kerumah sakit segala hah? Dan satu lagi kenapa kamu mau laporin keluarga Abhivandya ke kantor polisi? Kamu tau gara-gara kamu Iyas jadi mengundurkan diri dari kuasa hukum kita! dia satu-satunya orang yang selalu membantu kita dalam masalah hukum dan sekarang kita kehilangan dia, dan itu gara-gara kamu! Apakah kamu pernah berpikir imbas dari semua itu hah?" tanya Handoko dengan suara meninggi.


"Apakah kehilangan Iyas lebih penting dari pada memikirkan masa depan anak kamu sendiri?" geram Mama Puri.


"Dia bukan anakku lagi. Dan perlu kamu tau aku lebih baik kehilangan dia selamanya dari pada kehilangan Iyas yang selalu membantu aku disaat masa-masa sulitku. Sedangkan anak itu membantuku sedikitpun saja tidak, malah selalu membuat masalah hingga aku sudah berada di titik terendah sekarang. Jadi tak ada alasan lagi untuk mempertahankan dia lagi, tak ada gunanya," ucap Handoko dengan tatapan tajamnya yang ia arahkan ke Puri.


"Tutup mulutmu! Jika kamu sudah benar-benar tidak menganggap Puri sebagai anakmu sendiri, masih ada aku yang akan selalu menjadi orangtuanya. Aku sanggup menjadi ibu sekaligus ayah untuknya. Dan mulai saat ini Puri tak akan pernah membutuhkan sosok ayah seperti kamu ini. Satu lagi, jangan pernah menyentuh Puri untuk kedepannya karena urusan Puri sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan kamu lagi," ujar Mama Puri kemudian ia mulai memapah tubuh lemah Puri menuju lantai dua rumah tersebut. Tapi belum sempat mereka berdua menaiki tangga, suara Handoko kembali terdengar.


"Berhenti! Anak sialan itu sudah tidak pantas lagi berada di rumah ini. Mulai hari ini dia bukan lagi anggota rumah ini dan silahkan pergi sebelum saya seret keluar!" ucap Handoko dengan menunjuk pintu utama rumah tersebut.


Mama Puri kini mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Ma," panggil Puri yang sudah meneteskan air matanya sedari tadi. Mama Puri kini menoleh kearah sang anak lalu ia mengelus lengan Puri untuk menenangkan sang empu.


"Tenang sayang. Masih ada Mama disamping kamu," ujar Mama Puri.


Lalu setelahnya tatapan matanya teralih kembali ke arah Handoko.


"Berani sekali kamu mengusir anakku," bentak Mama Puri tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Kenapa tidak berani mengusir dia? Dia tidak ada hak atas rumah ini. Dan perlu kamu ingat jika rumah ini adalah rumahku bukan rumahmu," tutur Handoko yang semakin membuat Mama Puri emosi.


"Kalau sampai dia keluar dari rumah ini, aku juga tidak akan segan-segan keluar dari sini." Handoko mengangkat sebelah alisnya dengan senyum mengejeknya.


"Silahkan. Memang lebih baiknya begitu. Rumah ini akan tenang setelah dua hama penghancur pergi," ucap Handoko penuh dengan sindiran.


Mama Puri kini mengepalkan tangannya.


"Ekspektasimu terlalu tinggi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini. Bahkan mungkin aku akan bersyukur atas keputusanku," balas Handoko, kemudian ia kembali berjalan menuju sofa yang ia duduki tadi sekaligus untuk menunggu kedua wanita itu turun kebawah dan benar-benar keluar dari rumah tersebut.


Dan setelah beberapa menit telah berlalu, Puri dan Mamanya kini terlihat menuruni anak tangga dengan beberapa koper ditangan mereka.


Dan setelah sampai di bawah, mata Mama Puri menatap tajam kearah sang suami sebelum kembali melangkahkan kakinya. Dan saat mereka berdua berada tepat disamping Handoko, langkah mereka terhenti saat Handoko bersuara.

__ADS_1


"Kalian periksa isi koper mereka!" perintah Handoko kepada dua bodyguardnya dan dengan segara bodyguard tersebut menjalankan tugasnya.


"Apa-apaan kalian ini?" ucap Mama Puri tak terima sembari terus memberontak agar bodyguard tadi tak meraih kopernya. Tapi sayangnya karena tenaganya kalah dengan tenaga kedua bodyguard tadi, alhasil koper milik Puri dan Mamanya sekarang sudah berada di tangan sang bodyguard.


Mama Puri yang sudah benar-benar tak bisa menahan emosinya, ia langsung melangkahkan kakinya menuju Handoko dan setelah sampai di depan sang suami, tangannya langsung mengayun untuk menampar pipi Handoko tapi sayangnya belum sempat tangan itu mendarat di pipi tersebut, Handoko lebih dulu mencengkeram tangan Mama Puri dengan kuat.


"Dari pada kamu membuang-buang waktu hanya untuk menamparku, lebih baik tanganmu ini kamu gunakan untuk menandatangani berkas itu saja," tutur Handoko sembari melirik sebuah berkas yang sudah berada di atas meja tepat di belakang Mama Puri.


Mama Puri kini menolehkan kepalanya dengan kerutan di dahinya. Dan setelah tangannya terlepas dari cengkraman Handoko, ia langsung merebut berkas tadi lalu membaca isi dari berkas tersebut.


Setelah ia membaca semua isi berkas tadi, matanya melebar sempurna.


"Apa ini?"


"Bukankah kamu sudah membaca isi dari berkas itu? jika tidak bisa membaca biar aku suruh salah satu art disini membacakan untukmu," ucap Handoko.


"Tidak perlu. Dan jika ini maumu, aku akan tanda tangan tapi sekali lagi kamu jangan pernah menyesali semua ini di kemudian hari," tutur Mama Puri sembari mengambil bolpoin yang tergeletak di atas meja tadi.


"Tidak akan pernah," balas Handoko.


Mama Puri semakin meradang dan dengan cepat ia menandatangani berkas perceraian tersebut. Lalu dengan keras ia meletakan bolpoin tersebut kembali ke tempatnya semula.

__ADS_1


"Setelah perceraian ini aku akan menuntut harta gono-gini kita dan juga uang nafkah untuk Puri," ujar Mama Puri yang justru membuat Handoko mengerutkan keningnya.


"Harta gono-gini? yang benar saja. Kamu selama ini tidak bekerja jadi buat apa menuntut harta gono-gini walaupun kamu masih mau menuntut itu semua, aku juga yang akan menang. Dan untuk nafkah anak sialan itu, aku tidak akan pernah sudi memberikan nafkah kepada anak yang bukan darah dagingku sendiri," tutur Handoko dengan tatapan tajamnya.


__ADS_2