The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 185


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Handoko kini melesat dengan kecepatan tinggi tanpa peduli resiko apa yang akan ia tanggung jika terjadi sesuatu yang tak ia inginkan. Bahkan setiap ia berhenti di rambu-rambu lalulintas, ia pasti membunyikan klakson mobilnya terus-menerus hingga membuat setiap pengendara lain yang merasa terganggu akan ulahnya pun tak segan-segan mereka mengumpati Handoko. Tapi sayangnya laki-laki itu tak memperdulikan setiap umpatan yang ia terima. Dan setelah lampu lalulintas itu berubah warna menjadi hijau, Handoko kembali melajukan mobilnya hingga ia berhenti di kediamannya.


Dengan bantingan pintu yang cukup keras, Handoko keluar dari mobilnya lalu dengan langkah tergesa-gesa ia masuk kedalam rumah yang langsung disambut oleh para pekerja rumah tersebut.


Handoko yang bisanya menyapa mereka atau sekedar melempar senyumannya kepada para art itu, hari ini ia tak melakukan itu semua bahkan wajahnya sekarang tampak datar dengan penuh emosi.


Dan tanpa sepatah katapun, Handoko langsung melangkahkan kakinya menuju lantai dua di rumah tersebut lebih tepatnya ia menuju ke kamar Puri. Sesampainya ia di depan kamar anak perempuannya itu, ia dengan cepat langsung mencoba membuka pintu tersebut tapi sayangnya ia tak bisa membukanya.


"Buka pintunya, anak sialan!" bentak Handoko sembari menggedor-gedor pintu kamar tersebut dengan membabi buta.


Puri yang tadinya sudah terlelap pun kini mengerjabkan matanya saat mendengarkan gedoran di pintunya.


"Ck, siapa sih. Ganggu banget. Gak bisa apa buat gue tenang satu hari aja," geram Puri sembari beranjak dari ranjangnya.


Dan setelah ia berada di depan pintu kamarnya, Puri langsung membuka pintu tersebut dan baru saja pintu itu terbuka lebar, ada sebuah tangan besar yang menampar pipi Puri cukup keras hingga membuat kepala sang empu menoleh kesamping.


Dan tanpa menunggu jeda lebih lama, Handoko kini menjambak kencang rambut Puri sehingga membuat kepala Puri menengadah ke atas.


"Papa sakit," ucap Puri sembari memegangi lengan Handoko agar sang ayah melepaskan jambakannya tadi.

__ADS_1


"Masih berani kamu panggil saya dengan sebutan Papa setelah semua yang kamu lakukan tadi hah!" geram Handoko.


"Apa yang Papa katakan? Aku tidak pernah melakukan apapun, Pa. Jika Papa masih marah gara-gara masalah di sekolah tadi, Puri benar-benar hanya di fitnah saja, Pa. Puri berani bersumpah," ujar Puri yang masih saja berbohong.


"Semua bukti sudah ada dan kamu masih saja berani omong kosong seperti ini? Dan kamu tau gara-gara kamu semua yang sudah saya punya selama ini perlahan akan hilang. Dasar anak sialan!" geram Handoko dan karena dirinya sudah dilanda emosi, dengan sadar ia semakin mengencangkan jambakannya lalu ia membenturkan kepala Puri di tembok rumah tersebut. Dan hal itu membuat kening Puri mengeluarkan darah segar.


"Sakit Pa," ucap Puri dengan air mata yang mengalir di pipinya. Tapi Handoko tak mendengarkan rintihan dari Puri tadi, ia semakin brutal saja untuk menyiksa Puri.


"Papa, stop!" jerit Mama Puri yang juga turut keluar dari kamarnya karena ia sempat mendengar kegaduhan disana bahkan para art itu juga dengan diam-diam menyaksikan apa yang telah tuan besar mereka lakukan ke nona muda mereka. Tanpa ada yang berani memisahkan keduanya.


Mama Puri kini berlari kearah Puri juga sang suami. Lalu setelah sampai ia langsung melepas paksa tangan Handoko dari rambut Puri. Dan setelah berhasil ia langsung memeluk tubuh Puri yang sepertinya sudah mulai lemas.


"Papa, apa-apaan sih? Kalau Papa mau marah ya marah saja jangan sampai melukai Puri seperti ini. Papa benar-benar sudah keterlaluan," geram Mama Puri.


"Apa katamu? Aku keterlaluan? Tidak salah ucapanmu itu? Yang justru keterlaluan itu dia. Dia sudah menghancurkan semua yang aku punya. Perusahaan yang aku rintis dari nol sekarang sudah benar-benar hancur karena ulah anak sialan ini. Jadi bersiap-siaplah cepat atau lambat kita akan tidur di jalanan," ucap Handoko dengan suara yang meninggi.


"Papa ngomong apaan sih. Jangan ngelantur seperti itu, jangan omong kosong. Kita semua gak akan pernah jadi gelandangan. Perusahaan Papa juga akan baik-baik saja. Keluarga miskin itu tadi hanya menakutkan-nakuti kita saja. Jadi stop nyalahin Puri. Dia gak tau apa-apa. Dia itu hanya di fitnah sama keluarga miskin itu," tutur Mama Puri.


"Kita yang keluarga miskin. Bukan mereka! Mereka keluarga terpandang bahkan terkenal sampai manca negara. Dan bukankah kamu tadi sudah melihat di berita paling panas hari ini yang membahas perusahaan kita bahkan kamu juga sudah membaca email dari tangan kananku sendiri. Jadi dimana omong kosong ku tadi hah? semuanya sudah jelas kalau kita benar-benar hancur saat ini!" geram Handoko yang sudah benar-benar frustasi dengan sang istri yang selalu saja masih bertingkah sombong seperti ini.

__ADS_1


"ini sudah berkali-kali kamu buat perusahaan rugi besar dan sudah berkali-kali saya maafkan kamu. Tapi sekarang jangan harap kamu bisa mendapat maaf dari saya. Bahkan sampai mati pun saya tidak akan pernah memaafkan semua kesalahanmu kecuali kamu bisa membangkitkan perusahaan saya kembali," ujar Handoko sembari menunjuk wajah Puri.


"Dan untuk kalian berdua, semua fasilitas yang saya kasih ke kalian entah itu berupa kartu ATM, mobil dan sebagainya saya akan tarik kembali. Dan mulai sekarang belajar lah untuk menghemat selagi kalian tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Satu lagi, semua art disini mulai besok akan di berhentikan. Dan urus anak sialan kamu itu jangan pernah meminta bantuan, mau itu berupa uang atau apapun dari saya. Karena mulai hari ini dia bukan anak saya lagi," sambung Handoko dan setelahnya ia berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mau mendengarkan protesan dari sang istri.


"Sialan! Dasar suami tidak tau diri. Kembali! Jika kamu tidak kembali aku pastikan mulai besok kita akan pisah ranjang!" ancam Mama Puri yang sama sekali tak menggoyahkan hati Handoko. Hingga laki-laki itu sudah menghilang dari balik pintu kerjanya.


"Arkhhhh. Sialan. Ini semua gara-gara keluarga itu," geram Mama Puri. Dan beberapa saat setalahnya Mama Puri kini tersadar jika ada sang anak yang membutuhkan pertolongannya.


"Sayang. Kamu bertahan ya, kita akan kerumah sakit sekarang," ucap Mama Puri sembari memapah tubuh lemas Puri.


"Pak Ujang! Bantu saya!" teriak Mama Puri yang menggelegar memenuhi rumah tersebut hingga membuat seorang laki-laki menghampiri dirinya.


"Bantu saja bawa tubuh Puri ke mobil Pak," ujar Mama Puri kemudian diangguki oleh laki-laki tersebut. Kemudian ketiga orang tersebut dengan tergesa-gesa turun ke lantai bawah lebih tepatnya menuju mobil Mama Puri dan setelah sampai di dalam mobil, Mama Puri langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sedangkan para art yang tadi mengintip keributan tersebut pun kini saling pandang dengan mulut yang terbuka lebar. Sebenarnya mereka sudah tau akan berita mengenai perusahaan milik tuan mereka. Tapi mereka pikir hanya kerugian besar yang sudah berkali-kali perusahaan itu alami dan tidak berdampak ke pada pekerja para art disana. Tapi ternyata masalah yang kini sedang dihadapi tuan besar mereka bukanlah masalah yang gampang untuk diatasi.


"Jadi kita benar-benar akan di pecat besok?" tanya salah satu art tersebut.


"Sepertinya begitu," jawab satunya lagi yang membuat semua orang disana menghela nafas lesu dan para art itu sekarang mulai melangkahkan kakinya untuk kembali bekerja walaupun semangat mereka sudah hilang saat mengetahui bahwa mereka akan di pecat dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2