The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 64


__ADS_3

Kini waktu pulang sekolah tiba. Semua siswa/siswi tengah berlomba-lomba untuk segera keluar dari kelas yang menurut mereka sudah sangat memuakkan. Sama halnya dengan Zea yang juga turut berdesakan dengan teman-teman satu kelasnya. Dan setelah perjuangan yang sedikit menguras tenaga itu akhirnya Zea berhasil keluar dari kelas tadi. Tapi baru saja ia menghirup udara segar, tangannya tiba-tiba ditarik seseorang yang sedari tadi menunggunya disamping pintu kelasnya.


"Kalau masih ramai tunggu sebentar baru keluar bisa gak sih?" omel orang tersebut yang membuat Zea langsung mendangakan kepalanya karena jarak tinggi mereka berdua lumayan jauh.


Saat Zea melihat wajah orang yang menariknya tadi kini ia tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalau nunggu sampai semua orang keluar yang ada gue keburu mati di dalam lah Az," ucap Zea beralasan.


Azlan yang mendengar penuturan dari Zea tadi kini mengerutkan keningnya.


"Ya karena kelas itu udah cukup buat gue tertekan dari pagi sampai sore gini. Kalau gak langsung buru-buru keluar kan gue akan semakin tertekan mental dan otak gue yang kemungkinan besar akan membuat gue stress dan berakhir end," jelas Zea. Azlan memutar bola matanya malas.


"Itu mah cuma alasan lo aja. Mana alasan gak berbobot lagi."


"Ih siapa bilang itu cuma alasan. Apa yang gue bilang tadi emang kenyataannya Az," tutur Zea tak terima. Padahalkan memang dirinya tengah beralasan.


"Terserah lah. Kita pulang sekarang," ucap Azlan dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Zea yang masih tertegun di tempat tadi.


"Dia lagi PMS apa gimana sih? perasaan dari tadi pagi moodnya naik turun gak jelas. Haishh," gumam Zea. Setelahnya ia berlari hingga ia bisa disamping Azlan.


"Pelan-pelan aja kali Az jalannya," keluh Zea.


Tapi Azlan tak peduli, ia masih saja melangkahkan kakinya sangat lebar hingga dirinya sampai di samping mobilnya.


Kemudian tanpa kata-kata lagi ia langsung masuk kedalam disusul oleh Zea yang kini duduk di kursi sebelah Azlan.


"Huh, capek juga lari-lari dari kelas sampai sini," gumam Zea sembari mengipasi wajahnya yang memerah dengan tangannya.

__ADS_1


Azlan melirik sekilas kearah Zea, lalu ia segera menyalakan AC mobil tersebut dan mencari botol minum yang tadi sempat ia beli dan belum ia minum sama sekali. Dan setelah menemukan botol tadi Azlan langsung melempar botol tersebut di pangkuan Zea.


Zea yang tadinya fokus menatap kesamping pun sempat terperanjat kaget dan dengan seketika ia melihat botol tadi dipangkuannya kemudian ia menatap wajah Azlan yang sudah mulai menjalankan mobil tersebut.


"Terimakasih," ucap Zea. Kemudian ia segera meraih botol air mineral tadi untuk segera ia minum isinya.


"Az," panggil Zea setelah dirinya melepas dahaga.


"Hmmm," jawab Azlan hanya dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan didepannya.


"Gue punya janji sama lo."


"Gak," jawab Azlan cuek.


"Ck, gue gak tanya Az tapi ucapan gue tadi mengarah ke pernyataan," ucap Zea.


"Owh."


Azlan hanya menggedikkan bahunya untuk menimpali ucapan dari Zea tadi dan hal itu membuat Zea semakin gregetan dengan Azlan.


"Stop mobilnya!" perintah Zea tiba-tiba. Azlan bergeming dan hanya melirik sekilas kearah Zea.


"Azlan, gue bilang berhenti!" ucap Zea penuh penekanan.


"Kalau gue berhenti, Lo mau ngapain? Mau turun dari mobil dan pulang pakai taksi? Oh kalau gitu oke fine gue akan berhenti sekarang." Azlan kini meminggirkan mobilnya.


"Mobil udah gue berhentiin, kalau lo mau turun silahkan," tutur Azlan yang sepertinya moodnya semakin hancur.

__ADS_1


Tapi bukannya keluar dari mobil tadi, Zea justru memutar tubuhnya menghadap Azlan yang sama sekali enggan melihatnya.


"Lihat gue bentar," ucap Zea.


"Gak, buat apa gue lihat lo. Buang-buang waktu gue aja. Kalau mau turun, buruan." Zea menghela nafas kemudian ia melepaskan seat beltnya lalu tanpa permisi ia menangkup kedua pipi Azlan dan menuntun kepala Azlan untuk menghadap dirinya.


"Ck apa-apa sih lo," geram Azlan sembari melepaskan kedua tangan Zea.


"Sumpah ya Az, gue heran sama lo hari ini. Lo benar-benar beda. Entah apa yang merasukimu sampai lo jadi kayak gini. Sudah gue bilang sedari tadi kalau gue ada salah sama lo bilang aja. Jangan kayak gini, diem mulu sedari tadi. Kapan bisa selesai masalah kita? Sedangkan lo aja gak bisa terbuka sama gue. Padahal kalau gue ada masalah gue selalu cerita sama lo bahkan kalau lo salah sama gue, gue juga akan bicarain baik-baik sama lo. Kalau kayak gini berasa gue punya pacar yang lagi cemburu gak jelas dan berakhir akan ngambek dan cuek kayak lo sekarang ini," tutur Zea.


"Kalau gitu kita pacaran aja. Beres kan?" tutur Azlan sembari melihat wajah Zea yang kini tengah melongo. Namun sesaat setelahnya ia tertawa.


"Hahahaha, itu tadi hanya perumpamaan aja Az. Jangan anggap serius ah."


"Memangnya kenapa kalau perumpamaan lo tadi gue anggap serius?" Zea menghentikan tawanya tapi tatapannya sekarang menatap mata Azlan.


"Ya itu semua gak akan mungkin terjadi lah Az. Lo itu ada-ada aja. Udah ah jangan ngaco. Lupakan saja, sekarang kita ke mall ya buat nepatin janji gue kemarin dan tadi siang," ucap Zea sembari membuang mukanya.


"Kenapa gak mungkin? Dan kenapa lo mengalihkan topik pembicaraan hmm?" tanya Azlan sembari tangannya kini meraih dagu Zea dan menggerakkan dagu itu hingga wajah cantik Zea kembali berhadapan dengan wajahnya.


"Emmm anu itu stttt. Si---siapa juga yang mengalihkan pembicaraan?" tutur Zea yang tiba-tiba lidahnya kelu.


"Jadi kalau gue anggap perumpamaan yang lo buat tadi jadi kenyataan gimana?" Zea menelan salivanya saat wajah Azlan semakin lama semakin dekat dengan wajahnya.


"Apakah lo sangat keberatan dengan hal itu dan status baru lo di kehidupan gue? Atau mungkin di hati lo masih ada nama Erland?" Zea tak bisa berbuat apa-apa sekarang, ia hanya mematung di tempat kala wajah Azlan tinggal beberapa senti didepannya bahkan kedua hidung mancung mereka sekarang saling beradu.


Bohong jika hati Zea sekarang tak berdebar, pikiran nakalnya bahkan sudah memenuhi akalnya kala bibir Azlan sangat dekat dengan bibirnya. Deru nafas Azlan membuat dirinya ingin pingsan saja saat itu juga.

__ADS_1


Dan sekarang Azlan malah tersenyum miring, seakan-akan ia tahu isi pikiran Zea. Setelah itu ia menjauhkan wajahnya dan beralih disamping telinga Zea.


"Apa yang gue bilang tadi dan perumpamaan yang lo buat tadi akan segera menjadi kenyataan. Perlu lo dengar baik-baik kalau gue suka sama lo, gue sayang sama lo, Zeaquel Ataura," bisik Azlan dan setelah itu ia mencium kening Zea kemudian menjauhkan wajahnya dari gadis yang entah dari kapan mulai ia sukai.


__ADS_2