
Saat dirumah Handoko tengah terjadi keributan besar, berbeda di rumah keluarga Aiden yang tampak tenang dan damai seperti biasa. Dan kini Daddy Aiden dan Mommy Della tampak ingin pergi pasalnya mereka sekarang tengah berpakaian rapi tak seperti biasanya.
Bahkan Edrea yang sedari tadi duduk di ruang keluarga kini menatap kedua orangtuanya yang tengah turun dari anak tangga dari atas sampai bawah.
"Dad sama Mom mau kemana?" tanya Edrea saat kedua orangtuanya sudah menginjakkan kakinya di lantai satu rumah tersebut.
Kedua orang itu kini menghentikan langkah mereka lalu menatap kearah Edrea.
"Mau ngurusin urusan kamu sebentar," jawab Mommy Della.
"Urusan Rea? Urusan apa itu, kok Rea sendiri gak tau?" tanya Edrea sembari berjalan mendekati kedua orangtuanya.
"Ck, masih muda tapi udah pikun. Urusan kamu di sekolah sama di kantor polisi lah," timpal Daddy Aiden yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
"Kantor polisi? perasaan Edrea gak pernah ada urusan sama pihak berwajib deh," ujar Edrea.
"Mulai sekarang kamu punya urusan dengan pihak berwajib atas masalah kamu dengan teman kamu kemarin," tutur Mommy Della.
"Temanku yang kemarin? Siapa? Puri?" tanya Edrea menebak-nebak dan langsung diangguki oleh kedua orangtuanya.
"Lho sebentar-sebentar, perasaan Edrea gak pernah melaporkan kejadian kemarin ke polisi deh. Tapi kenapa masalah itu bisa sampai kesana? Ahhhhh Rea ingat ini pasti ulah Daddy sama Mommy kan?" tutur Edrea yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
Edrea kini berdecak saat mengetahui semua itu adalah ulah kedua orangtuanya.
"Ck, padahal Rea gak mau kejadian kemarin sampai melibatkan pihak berwajib. Bahkan Rea udah maafin perlakuan dia," ucap Edrea dengan kepala yang tertunduk.
Daddy Aiden dan Mommy Della kini saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya mereka berdua memutar bola matanya malas.
"Jangan sok baik begitu. Mom sama Dad tau isi hati dan pikiran kamu," tutur Mommy Della diakhir dengan helaan nafas.
"Mom tau kalau kamu punya rencana menghancurkan dia perlahan kan? Membuat reputasinya hancur di mata orang-orang, membuat dia kehilangan kebebasannya dan perlahan melemahkan mentalnya yang akhirnya teman kamu itu menyerah dengan sendirinya lalu dia akan melakukan bunuh diri. Mom udah bisa menebak jalan pikiran kamu ini Rea," sambung Mommy Della yang membuat Edrea menegakkan kepalanya kembali dengan cengiran kudanya. Kedua orangtuanya itu memang benar-benar bisa sekali menebak isi pikirannya yang licik itu.
Sedangkan Mommy Della dan Daddy Aiden yang melihat cengiran di bibir Edrea pun berdecak sebal.
"Dad peringatkan ke kamu Rea. Jangan pernah melumpuhkan lawan dengan menghancurkan mental seseorang, membunuh dia secara perlahan dengan permainan kamu itu. Bukan karena Dad mencoba melindungi orang-orang yang sudah menyakiti kamu tapi Dad justru tak ingin kamu di kemudian hari akan mendapatkan balasnya. Jika kamu mau lihat orang yang sudah membuat hidup kamu menderita mati atau lenyap dari dunia ini maka langsung bunuh saja mereka, jika memang orang itu sangat meresahkan dan mencoba melukai diri kamu. Tapi jangan sekali-kali kamu mencoba menarik ulur hidup mereka seolah-olah kamu memberikan kebahagiaan tapi berujung kamu menjatuhkannya. Dan kamu tau sediri bukan kalau masalah kamu ataupun anak-anak Dad lainnya yang sudah sampai ditelinga Dad ataupun Mom, masalah itu akan kita bawa ke pihak kepolisian," tutur Daddy Aiden.
"Ck, bagaimana Rea mau bunuh dia, sedangkan kejadian itu berada di lingkungan sekolah dan saat Rea mau balas pembuatannya, dia justru berteriak. Alhasil Rea harus mengikuti akting dia lah kalau tidak pasti Rea yang bersalah atas kejadian kemarin," jawab Edrea.
"Ya sudahlah, semua juga sudah terjadi. Lain kali kalau memang nyawamu terancam, serang dia dengan perlawanan pula, jangan kasih mereka kesempatan untuk hidup," ujar Daddy Aiden yang diangguki oleh Edrea.
Mommy Della yang sedari tadi hanya menjadi pendengar dari kedua orang tersebut kini menghela nafas saat sifat kejam Daddy Aiden menurun ke anak-anaknya itu. Bahkan laki-laki itu sangat mendukung perlakuan anaknya itu untuk tak segan-segan melayangkan nyawa seseorang. Astaga, jika saja Mommy Della mempunyai keahlian untuk mencuci otak seseorang, pasti Mommy Della akan mencuci otak suami dan anak-anaknya itu agar mereka tak mempunyai otak kejam seperti saat ini. Tapi sayangnya sifat kejam itu sudah masuk kedalam DNA mereka yang tentunya hal itu sangat sulit di hilangkan. Bahkan karena sering bergaul dengan mereka semua, Mommy Della pun perlahan juga memiliki sifat yang sama seperti mereka.
"Oh ya Dad, Mom. Rea punya satu permintaan," ucap Edrea yang mampu mengembalikan kesadaran Mommy Della dari pikirannya tadi.
__ADS_1
Daddy Aiden kini menaikkan satu alisnya sebagai respon dari ucapan Edrea tadi.
"Begini, Rea minta perpindahan sekolah Rea ditunda sampai pengambilan raport karena sebentarnya Rea masih bingung mau berpamitan kepada teman-teman Rea yang udah sangat baik sama Rea bagaimana. Dan Rea juga ingin ikut kegiatan akhir semester sama mereka," tutur Edrea penuh dengan permohonan.
Daddy Aiden kini menghela nafas setelahnya ia memeluk pinggang sang istri. Dan hal itu tak luput dari pandangan Edrea yang membuat sang empu berdecak.
"Bukannya kasih jawaban atas keinginan Rea tadi eh malah bucin," sindir Edrea yang langsung membuat Mommy Della tersenyum kearah Edrea dan kemudian ia justru membalas pelukan tadi dengan sangat erat.
"Astaga, bisa tidak sih serius sebentar. Frustasi nih lama-lama hadapin orangtua sendiri yang bucinnya udah gak ketulungan begini," geram Edrea. Yang membuat kedua orangtuanya itu terkekeh.
"Baiklah, Dad sama Mom setuju dengan kemauanmu itu. Toh kenaikan kelas juga tinggal menghitung hari saja. Tapi Dad ingatkan sekali lagi ke kamu, walaupun di sekolah itu sudah tidak ada orang yang mencelakai kamu kemarin, kamu harus tetap waspada dengan orang disekitar kamu. Dan Dad gak mau mendengar kamu terluka lagi. Jika sampai hal itu terjadi lagi, bukan hanya orang yang melukai kamu yang akan Dad hancurkan tapi juga seluruh sekolah itu yang Dad musnah," ancam Daddy Aiden.
Edrea yang mendengar persetujuan dari sang Daddy pun menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang di bibirnya. Dan kini ia bergerak untuk memeluk tubuh sang Daddy hanya untuk sekedar ucapan terimakasih. Tapi sayangnya belum sempat tubuhnya mendarat di tubuh sang Daddy, dirinya sudah dihadang oleh sang Mommy yang sudah pasang badan di depan Daddy Aiden.
"Eits eits eits mau apa kamu?" tanya Mommy Della dengan garangnya bahkan dirinya kini sudah berkacak pinggang.
"Ck, cuma mau peluk dong lho Mom. Masak gak di bolehin sih. Toh Rea tuh anak kandung Daddy yang gak mungkin akan menjadi pelakor di hubungan orangtuanya sendiri. Kalau sampai hal itu terjadi maka kewarasan Rea perlu di pertanyakan," tutur Edrea.
"Tapi kewaspadaan harus tetap diutamakan, mau itu kamu anak kandung kita sekalipun. Jadi jangan harap kamu bisa peluk suami Mommy," ucap Mommy Della yang lagi dalam mode posesif.
Saat Edrea ingin protes lagi, Mommy Della dengan cepat menarik sang suami untuk menjauh dari Edrea yang kini hanya bisa melongo melihat kepergian mereka berdua.
__ADS_1
"Astaga! sabar. ingat mereka orangtua kandung kamu, Edrea. Jangan sampai menyakiti mereka. Huh sabar," gumam Edrea sembari berjalan menuju tempat duduknya tadi tak lupa ia juga mengelus dadanya sendiri agar bisa mengontrol emosinya itu sebelum dirinya bertindak untuk mencubit usus kedua orangtuanya itu yang sudah kelewat bucin tanpa lihat juga peduli akan situasi dan kondisi disekitar mereka berdua.