
Kini Edrea sudah memasuki halaman rumah keluarga Abhivandya. Ia nampak seperti biasanya, masuk kerumah dan langsung mencari keberadaan sang Mommy tercinta.
"Assalamualaikum. Mommy, oh Mommy, where are you?" teriak Edrea heboh.
Azlan dan juga Erland yang kebetulan juga baru sampai di rumah tersebut kini menggelengkan kepalanya dengan tingkah adik perempuan mereka.
"Berisik banget sih. Itu mulut apa kenalpot racing," tutur Erland sembari menghampiri Edrea yang sudah memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah kedua Abangnya.
Edrea mencebikkan bibirnya.
"Ck, baru juga ketemu udah mau cari gara-gara aja nih orang rese," geram Edrea.
Erland semakin mendekati Edrea dan saat dirinya sudah berada tepat didepan Edrea, matanya tak sengaja melihat lebam di pipi Edrea walaupun tadi si bontot sudah menyamarkan lebam tersebut dengan makeup yang ia pinjam dari salah satu gurunya disekolah tadi.
Erland kini menyelipkan rambut Edrea yang menutupi lebam tersebut yang membuat Edrea menelan salivanya dengan susah. Dan saat dirinya ingin menghindar dari Erland, tangan Erland lebih dulu mencekal pinggang Edrea dan membawanya kedalam pelukannya sehingga Edrea tak bisa menghindari dirinya lagi.
"Mau kemana lo hah? menghindar dari gue?" geram Erland.
"Ck apaan sih Bang? menghindar buat apa coba? dah lah lepasin gue," tutur Edrea mengelak sembari berusaha melepaskan pelukan Erland yang semakin mengamati lebamnya itu.
"Ish Bang lepasin, ngap nih gak bisa napas gue," ucap Edrea kembali namun Erland mengabaikan ucapan Edrea.
"Bang Azlan bantuin." Azlan yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua adiknya pun kini menghampiri keduanya untuk memisahkan Erland dan juga Edrea.
"Sudah-sudah jangan kayak anak kecil," ucap Azlan namun hanya ucapan saja bukan dengan tindakan.
"Ck, Lo coba kesini deh Bang," tutur Erland.
"Gue udah di sini Er dari tadi," jawab Azlan.
"Maksud gue lebih deketan gitu lho dan lihat ini baik-baik!" perintah Erland. Azlan yang penasaran dengan yang ditunjuk oleh Erland pun kini mendekatkan tubuhnya ke arah keduanya.
"Nih lihat baik-baik di pipi Rea." Azlan memperhatikan pipi Edrea dengan sangat detail dan saat dirinya telah melihat apa yang Erland tadi lihat pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Edrea yang malah membenamkan wajahnya di dada bidang Erland bahkan sekarang ia malah yang memeluk Erland dengan sangat erat.
"Idih ngapain lo malah ngumpet di dada gue. Ngomong sekarang siapa yang udah lakuin ini semua ke lo!" tutur Erland. Edrea hanya menggelengkan kepalanya bahkan semakin menenggelamkan wajahnya dan kini jaket yang digunakan oleh Erland pun turut ia gunakan untuk persembunyiannya saat ini.
"Rea!" panggil Azlan dengan tegas.
Edrea yang mendengar ketegasan dari seorang Azlan pun semakin menciutkan nyalinya.
"Bang Er, bantuin cari alasan dong," ucap Edrea yang kini tengah menengadahkan kepalanya menatap wajah Erland.
"Gak. Gue juga butuh penjelasan dari lo mengenai luka lebam lo itu," tutur Erland yang kini juga berubah menjadi tegas.
__ADS_1
Edrea kini melepaskan perlahan pelukannya tadi dari tubuh Erland dan dengan secepat kilat ia berlari menghindari keduanya namun jangan dikira gampang lari dari dua laki-laki tersebut pasalnya baru beberapa langkah saja Edrea kembali tertangkap oleh Erland.
"Abang!!! lepasin!!!" teriak Edrea memberontak yang sudah berada di gendongan Erland.
"Diam gak. Kalau gak bisa diam Abang sumpel tuh mulut pakai kaos kaki, mau," geram Erland saat telinganya sudah tak tahan lagi dengan teriakan dari Edrea yang begitu cetar membahana.
Edrea yang mendengar ancaman tadi pun langsung membungkam mulutnya. Dan kini ia hanya bisa pasrah saja saat nanti kedua Abangnya itu akan mengintrogasinya.
"Ck, Mommy juga kemana sih? kalau ada Mommy kan gue bisa berlindung di bawah keteknya," gumam Edrea namun telinga Erland mampu menangkap perkataan dari Edrea tadi.
"Jangan harap lo bisa berlindung di ketek Mommy untuk hari ini," ucap Erland.
Edrea memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan dan tak lagi menanggapi ucapan dari Erland yang masih saja menggendongnya menuju ruang keluarga.
Erland kini dengan perlahan menurunkan tubuh Edrea saat sudah berada di ruang keluarga. Dan dengan paksa, Erland mendudukkan tubuh Edrea di atas salah satu sofa yang berada disana.
Setelah itu ia juga mendudukkan tubuhnya disampaing Edrea untuk berjaga-jaga jika Edrea nanti akan melarikan diri kembali.
"Sekarang jelaskan luka lebam itu siapa yang ngelakuin!" tutur Azlan dengan menatap tajam kearah Edrea begitu juga dengan Erland yang juga tengah menatap dirinya dengan tatapan mengintimidasinya.
Edrea yang ditatap seperti itu oleh kedua saudara kembarnya pun dengan refleks mengigit bibir bawahnya sembari memainkan jari jemarinya.
"Edrea!" gertak Erland yang sudah merasa gemas dengan Edrea.
"Ck, sabar elah Bang," ucap Edrea mencoba untuk setenang mungkin.
"I---iya iya. Edrea jelasin penyebab terjadinya luka lebam ini," ucap Edrea pada akhirnya.
"Kenapa pakai ketauan segala sih padahal udah gue kasih bedak sama foundation tadi," batin Edrea. Ia lupa atau memenang tak tau jika kedua saudara kembarnya itu memiliki tatapan tajam bak elang. Mau menutupi luka tadi dengan satu botol foundation dan bedak pasti akan ketahuan juga oleh keduanya.
"Buruan Edrea!" geram Erland tak sabaran.
Edrea kini menghela nafasnya.
"Jadi Edrea tadi gak sengaja di tampar sama teman Edrea di sekolah," tutur Edrea.
Azlan dan juga Erland dengan kompak mengerutkan keningnya.
"Mana ada orang nampar gak sengaja Edrea," ucap Erland yang sudah mengepalkan tangannya.
"Tapi ini beneran Bang cuma gak sengaja aja. Tadinya tuh itu tamparan buat teman gue yang satunya lagi tapi karena gue gak bisa lihat teman gue itu mau ditampar oleh orang lain maka, gue dengan memberanikan diri berdiri di depan teman gue itu deh buat menghindari tamparan tadi. Tapi sayangnya Rea belum sempat mengelak tadi dan berujung Edrea lah yang kena gampar," ucap Edrea dengan mengarang walaupun ceritanya itu sedikit hampir sama dengan kejadian tadi.
"Cowok apa cewek?" tanya Azlan.
__ADS_1
"Hah?"
"Yang nampar lo cewek apa cowok, Edrea?" ulang Azlan.
"Hem itu dia hmmm cewek. Iya yang nampar gue cewek," tutur Edrea dengan gugup.
"Edrea, Lo gak bisa bohongin kita berdua."
Edrea kembali menggigit bibir bawahnya.
"Cowok bukan?" ucap Erland dengan nada rendahnya yang berarti Erland sudah dalam mood garang.
Dengan ragu Edrea menganggukkan kepalanya sembari menundukkan kepalanya.
Azlan memejamkan matanya sesaat sedangkan Erland, ia semakin mengepalkan tangannya.
"Siapa?" tanya Erland.
"Na---namanya Zi---Zico," jawab Edrea.
"Kasih alamat dia sekarang!" perintah Azlan.
"Hah? buat apa?"
"Kasih buruan."
"Gue gak tau alamat rumahnya Bang. Toh dia juga gak sengaja kok nampar gue tadi," tutur Edrea.
"Bukan nampar sih tapi bogem," sambung Edrea dalam batinnya.
"Mau dia sengaja atau gak. Gue gak peduli dan lo jangan coba-coba lindungi dia dari gue," ucap Erland.
"Abang ih. Udah ah jangan pada emosi gini, toh Rea juga udah gak papa kok. Dia tadi juga udah kena hukuman di sekolah. Dan soal alamat rumah dia, gue benaran gak tau," tutur Edrea.
Erland yang tadinya sudah siap untuk menuju kerumah Zico pun harus mengurungkan niatnya karena dia sendiri pun juga tak tau alamat laki-laki tersebut.
"Besok dan beberapa hari kedepan lo gak usah pakai mobil sendiri ke sekolah. Biar gue dan bang Azlan gantian yang akan antar jemput lo," ucap Erland tanpa bantahan.
"Tapi---"
"Kalau gue udah ngomong begitu bukan untuk lo bantah dan tolak Rea!" tutur Erland kemudian ia pun pergi menuju kamarnya meninggalkan kedua saudara kembarnya yang masih di ruang keluarga.
"Bang," rengek Edrea.
__ADS_1
"Apa? mau apa lo hah? gak terima sama keputusan Erland tadi? dan minta Abang buat bantuin lo bujukin Erland biar gak ngelakuin apa yang diomongin tadi?" Edrea pun mengangguk dengan penuh harap.
"Gak akan! gue juga setuju sama ide Erland tadi dan buat mobil lo, Abang sita dulu," ucap Azlan sembari menyambar tas sekolah Edrea dan mencari keberadaan kunci mobil tersebut. Setelah menemukannya, Azlan pun menyusul Erland ke lantai atas dan meninggalkan Edrea di ruangan tersebut seorang diri dengan wajah masam lebih masam dari lemon yang belum matang.