The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 332


__ADS_3

Kaki Teddy melemas saat dirinya menerima hasil tes DNA yang telah mereka lakukan 3 hari yang lalu. Dan hasil tes DNA itu memang menyatakan jika dirinyalah ayah biologis dari bayi perempuan yang ia tau namanya adalah Alana. Ia benar-benar sudah tidak bisa mengelak lagi, semua bukti sudah berada di depan matanya, mau melarikan diri juga tidak bisa pasalnya di rumah sakit itu banyak bodyguard keluarga Abhivandya yang selalu berjaga. Bahkan selama menunggu hasil tes DNA itu keluar para bodyguard itu juga mengikuti kemanapun dirinya pergi, tak lupa rumahnya juga dijaga ketat oleh mereka. Para bodyguard itu benar-benar tak memberikan celah sedikitpun untuk Teddy kabur begitu saja ataupun melakukan sebuah rencana untuk mensabotase tes DNA yang mereka lakukan. Tapi sayangnya lagi-lagi selain dirinya di awasi 24 jam, rumah sakit yang dijadikan untuk melakukan tes juga di jaga ketat oleh bodyguard keluarga Abhivandya tampa mengizinkan siapapun untuk masuk kedalam ruangan tersebut selain dokter yang sudah mereka kenalin.


Dan hasil dari tes DNA itu berhasil membuat Teddy kini kalangan kabut.


"Arkhhhh sial, kenapa dia harus memiliki DNA yang sama denganku. Jika begini aku tidak bisa beralibi lagi. Arkhhhh sialan!" geram Teddy dalam hatinya.


Saat dirinya terus bertarung dalam pikirannya yang tengah bercabang, Daddy Aiden yang sedari tadi memperhatikan laki-laki didepannya itu kini ia mulai angkat suara.


"Bagaimana tuan Teddy? Semuanya sudah jelas bukan? Maka dari itu anda harus bertanggungjawab dengan apa yang dulu anda lakukan. Jangan karena anak ini lahir di luar nikah, anda harus lepas tangan untuk bertanggungjawab dalam hidupnya. Saya memang tau dan saya paham tentang agama yang saya anut jika bayi yang lahir di luar pernikahan, nasab bayi itu kepada ibunya bukan ayahnya," ucap Daddy Aiden yang justru membuat Teddy tersenyum kearahnya, seakan-akan dirinya mensetujui kalimat terakhir yang Daddy Aiden ucapkan tadi.


"Nah itu anda tau. Terus kenapa anda malah memaksa saya untuk bertanggungjawab kepada dia?" ucap Teddy dengan menujuk kearah Alana yang berada di gendongan Mommy Della.


"Sebenarnya saya tidak memaksa anda untuk bertanggungjawab mengenai hidup dia dan yang lainnya yang bersangkutan dengannya. Tapi saya hanya mau mengatakan jika Anda seorang laki-laki tulen, gagah dan perkasa, seharusnya tanpa diminta pun anda anak berinisiatif untuk merawat bayi tidak berdosa ini setelah melihat hasil tes DNA yang terlihat begitu nyata ini. Tapi setelah saya perhatikan, anda sepertinya bukan seorang pria melainkan seorang banci yang haus belaian tanpa berniat bertanggungjawab atas perbuatan yang telah dibuatnya sendiri. Anda dulu saat membuat dia tampak puas bukan dan sangat menikmati, tapi saat dia lahir, kenapa anda seperti melupakan kepuasan yang anda dapatkan dulu? Dan disini saya juga menyimpulkan jika bukan hanya wanita yang selalu menjual dirinya sendiri yang dikatakan murahan, melainkan laki-laki yang seperti anda ternyata jauh lebih murahan," ucap Daddy Aiden yang begitu menujuk bahkan merobek hati Teddy yang sekarang tengah mengepalkan tangannya. Omongan laki-laki itu benar-benar sangat menyakiti perasaannya saat ini, begitu nyelekit dan tajam.


"Ah satu lagi. Jika anda tidak mau bertanggungjawab dengan Alana. It's okey, saya sekeluarga akan merawat dia sampai besar tapi anda harus ingat, jika semua itu tidak gratis. Tenang saja saya tidak akan melukai diri anda bahkan membunuh Anda, tapi saya akan menghancurkan usaha anda. Anda direktur utama GS group bukan? Perusahaan yang baru-baru ini sahamnya melonjak drastis karena menang tender proyek di sekitar kota Bandung bukan?" Teddy tampak terdiam tak membalas ucapan dari Daddy Aiden tadi melalui suara ataupun isyarat tubuhnya.


"Anda diam berarti perusahaan itu memang milik anda. Dan lihat saja apa yang akan saya lakukan ke perusahaan anda itu nantinya, hmmm sepertinya bukan nanti lagi melainkan besok pagi," ucap Daddy Aiden yang membuat tubuh laki-laki itu kini menegang. Jika orang ternama di depannya itu sudah mengucapakan ancaman untuknya, maka ancaman itu benar-benar akan dia lakukan sesuai dengan perkataannya tadi. Maka dari itu banyak pembisnis yang segan kepada laki-laki dengan julukan monster bisnis itu. Bahkan sebisa mungkin mereka tidak akan pernah menyingung dan mencari masalah dengan dia jika mereka masih ingin hidup aman, damai dan sentosa. Namun jika mereka sudah menyinggung monster bisnis maka jangan harap mereka akan lepas dengan mudah begitu saja dari genggaman tangannya.


Tapi sekarang justru Teddy tengah berurusan dengan orang itu. Dan hal tersebut membuat dirinya kini menyesali perbuatannya yang dulu. Jika saja dirinya tidak melakukan hubungan dengan Puri, pasti dirinya sekarang tidak dibuat pusing begini memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan itu.


"Diam anda saya artikan iya. Jadi selamat menunggu hari kehancuran anda tiba tuan Teddy yang terhormat," ucap Daddy Aiden dengan menepuk-nepuk bahu Teddy sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Teddy yang tengah bertarung dengan perasaannya dan pikirannya sendiri itu.


Dan saat Daddy Aiden juga yang lainnya sudah keluar dari rumah sakit tersebut, suara seseorang yang memanggil namanya membuat Daddy Aiden mengentikan langkahnya. Bahkan kini dirinya menolehkan kepala kearah sumber suara.

__ADS_1


Ia terus menatap seseorang yang tadi memanggilnya hingga orang tersebut kini sudah berdiri di depannya.


"Kenapa anda memanggil saya?" tanya Daddy Aiden dengan bersedekap dada.


"Begini tuan. Sa---"


"To the point," potong Daddy Aiden yang sepertinya sudah muak berbasa-basi dengan laki-laki didepannya itu.


Teddy kini berdehem untuk meredam emosinya sendiri yang ingin sekali menghajar Daddy Aiden. Tapi niatan itu ia urungkan, takut, bukannya dia nanti yang menghabisi Daddy Aiden tapi justru dia yang akan kehilangan nyawa nantinya jika melawan laki-laki menyeramkan itu.


"Jika tidak ada hal yang penting saya permisi dulu." Ucapan dari Daddy Aiden membuyarkan lamunan Teddy.


"Eh eh eh, jangan dulu tuan. Saya benar-benar ingin berbicara dengan tuan," ujar Teddy yang berhasil menghentikan langkah Daddy Aiden dan yang lainnya kembali.


"Begini tuan, saya mau mengakui dia sebagai anak kandung saya tapi dia jangan tinggal bersama saya, tinggal bersama tuan saja, di rumah tuan. Walaupun begitu saya janji kok akan memberikan uang untuk biaya hidup dia selama di asuh tuan dan keluarga," ucap Teddy mengutarakan idenya itu yang justru membuat Daddy Aiden tersenyum miring ke arahnya.


"Apa anda kira saya orang yang kekurangan uang jadi untuk menghidupi anak satu ini saya harus menerima kucuran dana dari anda?" Teddy tampak terdiam dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.


"JAWAB! Apa saya kekurangan uang?" bentak Daddy Aiden yang membuat Teddy terperanjat kaget.


"Ti---tidak tuan."


"Jika tidak kenapa anda mengatakan sebuah ide konyol seperti tadi hah? Anda mau merendahkan harga diri saya?" Teddy dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Daddy Aiden tadi.

__ADS_1


"Bukan begitu maksud saya tuan," sangkal Teddy.


"Halah banyak alasan. Kalau anda memang benar-benar mau bertanggungjawab, bawa dia, rawat dia, dan sayangi dia sebagai anak kandung anda sendiri. Karena sebenarnya anak itu tidak menginginkan kekayaan orangtuanya melainkan menginginkan kasih sayang orangtua kandungnya sendiri. Jadi anda tenang saja, harta anda tidak akan habis hanya untuk merawat dia, karena saya yakin anak ini nantinya tidak akan menuntut lebih dari apa yang anda berikan kepadanya," ucap Daddy Aiden.


Teddy tampak terdiam, tak tau ingin melakukan ataupun menjawab ucapan dari Daddy Aiden tadi. Hingga laki-laki dia depannya itu kembali angkat suara.


"Saya beri waktu 3 menit untuk anda berpikir. Apakah anda ingin merubah keputusan anda atau tidak? Tapi ingat konsekuensi yang saya katakan kepada anda tadi tetap berlaku jika anda benar-benar menolak dia didalam hidup anda," ucap Daddy Aiden yang tak mendapat jawaban sama sekali oleh Teddy yang tampak mematung di tempatnya berdiri saat ini.


Waktu terus berjalan hingga tepat di batas waktu yang di berikan Daddy Aiden tadi, Teddy tak kunjung mengucapakan keputusan akhir dari permasalahan ini. Hingga Daddy Aiden yang jengah pun ia mencoba bersabar agar tak membunuh Teddy saat itu juga dan ia hanya menepuk pundak Teddy membuat laki-laki tadi menengadahkan kepalanya, menatap wajah datar Daddy Aiden.


"Saya tidak punya waktu lebih hanya untuk menemani anda bermain-main seperti ini. Katakan keputusan anda sekarang!" ucap Daddy Aiden dengan tatapan tajam mengarah ke manik mata Teddy yang sekarang tampak kesusahan menelan salivanya sendiri.


"Katakan tuan Teddy yang terhormat!" ujar Daddy Aiden penuh penekanan.


"Ba---baiklah saya akan bertanggungjawab untuk merawat dia. Tapi saya mohon kepada tuan, jangan menghancurkan bisnis saya." Daddy Aiden tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Saya tidak akan menghancurkan bisnis anda jika anda benar-benar ingin merawat dia," ujar Daddy Aiden kemudian ia memberikan kode kepada Mommy Della untuk memberikan Alana ke tangan Teddy.


"Ingat nama dia, Alana Gantari. Berikan dia kasih sayang yang tulus dari anda. Jangan pernah anda menyakiti dia, jika anda melakukan hal tersebut maka anda akan berurusan dengan saya. Karena saya ataupun anggota keluarga saya akan selalu melihat keadaan dia selama satu bulan sekali. Bukan hanya untuk saat ini melainkan untuk selamanya, selama dia masih di dunia ini. Dan jangan pernah berharap anda bisa pindah rumah karena saya pastikan jika anda melakukan hal tersebut maka saat saya menemukan anda kembali, saya pastikan kepala anda akan terpisah dengan tubuh anda saat itu juga. Anda mengerti tuan Teddy yang terhormat?" Teddy tampak menganggukkan kepalanya dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.


"Bagus jika anda mengerti ucapan saya tadi. Ah dan satu lagi, mengenai ASI dia, anak buah saya setiap hari akan datang mengantarkannya ke rumah anda jadi anda tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan hal tersebut. Dan didalam koper ini sudah ada perlengkapan anak itu," ucap Daddy Aiden sembari menunjuk kearah koper yang sudah berada di samping Teddy.


"Dengan anda mensetujui untuk merawat dia, saya rasa urusan kita dan permasalahan ini telah selesai. Dan saya pamit undur diri, selamat pagi dan sampai jumpa lagi tuan Teddy yang terhormat," tutur Daddy Aiden dengan mengulas sebuah senyuman kearah Teddy dan tanpa menunggu Teddy membalas ucapannya, Daddy Aiden dan yang lainnya segara pergi dari hadapan Teddy yang masih mematung di tempatnya tanpa menampilkan ekspresi wajah senang ataupun sedih sekalipun. Justru laki-laki itu terlihat seperti orang linglung saat ini. Bingung harus berbuat apa setelah ini dan dia juga memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya di hidupnya setelah kehadiran anak yang sama sekali tak ia inginkan hadir di dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2