The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 123


__ADS_3

Setelah memastikan jika pistolnya sudah mengarah tepat di kepala Edrea, laki-laki tadi langsung menarik pelatuk dan...


Dor!!


Suara tembakan menggema didalam rumah tersebut, bertepatan pula dengan seseorang yang ambruk kelantai berkat tembakan tadi. Tapi sayangnya yang ambruk dan terkena peluru bukan lah Edrea melainkan bodyguard yang tadi sempat berduel dengan Edrea.


Bukan hanya hebat dalam bela diri, Edrea juga hebat dalam menangkap gerak-gerik musuh, instingnya sangatlah kuat maka dari itu saat tangannya tadi ia gunakan untuk menghabisi orang didepannya tapi ekor matanya selalu mengawasi sekelilingnya dan saat pelatuk ditarik, Edrea langsung memutar tubuh lawannya untuk menghadang peluru tadi agar tidak mengenai kepalanya. Dan bisa dikatakan tubuh bodyguard tadi Edrea gunakan sebagai tameng penghalau peluru.


Dan setelah bodyguard yang sudah tak bernyawa tadi tergeletak dilantai, Edrea langsung menyambar pistol yang berada di belakang tubuh bodyguard yang telah mati tadi dan dengan secepat kilat Edrea membalas tembakan itu kearah laki-laki tersebut yang langsung mengenai jantung laki-laki tadi.


Edrea tersenyum saat bidikannya tepat sasaran.


"Perfect," ucap Edrea diakhiri ia meniup ujung pistol tersebut.


Beberapa saat setelahnya telinga Edrea mendengar banyak derap kaki yang mulai mendekatinya dan mau tak mau Edrea harus berlari sekencang-kencangnya sebelum mereka menemukan dirinya ditempat kejadian tadi.


"Oh shittt!" umpatnya saat melihat dua bodyguard tengah menghadang jalannya padahal kurang beberapa meter lagi dia sudah bisa keluar dari rumah itu.


Dan tanpa pikir panjang Edrea menembak kedua bodyguard tadi tepat mengenai ulu hati dan kepalanya.


Setelah melumpuhkan keduanya Edrea kembali berlari dan mencoba menghindari bodyguard yang ternyata sudah menyadari dirinya yang sudah menyebabkan keonaran di rumah tuannya itu.


"Tutup gerbang depan!" teriak salah satu bodyguard disana.


Edrea yang mendengar hal itu pun memelototkan matanya. Kalau gerbang utama telah ditutup Edrea harus keluar lewat mana? ya kali dia memanjat tembok yang sangatlah tinggi itu. Mungkin jika memanjat saja Edrea masih mampu tapi sayangnya diatas pagar tembok yang mengelilingi rumah tersebut terdapat pecahan kaca dan terpasang duri-duri yang terbuat dari kawat. Bisa dibayangkan jika dirinya nekat untuk memanjat pagar tembok itu, dirinya akan berakhir luka-luka terutama pada bagian bawah tubuhnya. Dan sayangnya Edrea masih menyayangi tubuh indahnya, alhasil ia akan memikirkan cara lain sembari menghindari serangan para bodyguard yang masih saja mengejarnya walaupun dia berniat hanya ingin memutari rumah besar itu. Karena itulah salah satu cara agar dirinya kemungkinan bisa selamat dan sesekali dirinya juga menembakkan peluru kearah para bodyguard yang jumlahnya tak sedikit itu.

__ADS_1


"Arkhhhh, pakai habis segala sih. Baru juga gue bantai 5 orang. Gak seru ih," geram Edrea saat pistol tadi sudah tak bisa mengeluarkan peluru lagi.


"Huh kalau gini, satu-satunya cara terus lari sampai para om-om lelah sendiri," gumamnya sembari menyembunyikan pistol yang sudah tak berpeluru itu ke selipan celananya karena jika ia menaruh di saku celana, disana sudah penuh dengan garpu dan pisau. Jadi mau tak mau ia harus menyimpan pistol itu disana karena ia tak ingin pistol itu ia buang, mubasir katanya.


Edrea terus berlari mengitari rumah tersebut yang awalnya ia berniat untuk keluar dari gerbang belakang, sampai disana gerbang itu juga sudah ditutup rapat oleh bodyguard.


"Sebagian berbelok arah agar dia nanti terkepung," ucap bodyguard yang sedari tadi mengintruksi teman-temannya.


Edrea yang mendengar hal itu menggeram kesal tapi hatinya menghangat saat melihat sebuah mobil Jeep yang terparkir di halaman depan rumah tersebut.


"Bodoh, kenapa gak kepikiran dari tadi. Ah sudahlah yang penting sekarang bisa menghindari mereka. Dan berharap saja kunci mobil itu ada didalam," tutur Edrea sembari menambah kecepatan larinya.


Hingga kini tubuhnya sudah sampai di samping mobil Jeep tadi dan tanpa menunggu lama lagi, Edrea langsung masuk kedalam dan sialnya harapannya tak sesuai kenyataan. Kunci mobil itu tak ada di dalam mobil tersebut.


"Oh ayolah," gumam Edrea sembari terus berusaha mencoba menyatukan beberapa kabel yang sesuai apa yang pernah ia lihat dan pelajari. Hingga sesekali matanya menatap para bodyguard yang hanya berjarak beberapa meter saja dari mobil Jeep itu bahkan terdengar beberapa tembakan yang mengenai body mobil tersebut.


"Arkhhhh AYOLAH!" teriak Edrea dan setelah teriakan tersebut ajaibnya mesin mobil tadi menyala dan tak membuang waktu lagi karena para bodyguard sudah mengepung mobil tadi, Edrea langsung tancap gas. Ia tak peduli jika beberapa bodyguard sudah tertabrak olehnya.


Edrea terus melajukan mobil tadi menuju gerbang utama rumah tersebut dan ketika ia sampai, Edrea menambah kecepatan mobil tersebut hingga...


Brak!!


Gerbang rumah yang tadinya tertutup rapat kini telah terbuka lebar setelah Edrea memberanikan diri untuk menabrakkan mobil tadi kearah gerbang.


"Sialan! Keluarkan mobil dan kejar dia sampai dapat. Jangan buat bos kecewa!" perintah salah satu bodyguard. Baru separuh gerombolan bodyguard tadi berpencar, ada salah satu maid yang mendekati sebagian bodyguard yang masih berdiri menunggu mobil siap. Maid itu memberitahu keadaan Zico yang sudah tak sadarkan diri didalam kamar.

__ADS_1


Semua bodyguard sempat syok akan kabar itu dan alhasil 10 orang kembali masuk kedalam rumah untuk segera membawa bos mereka ke rumah sakit dan sisanya akan sama ke tujuan awal yaitu mengikuti Edrea.


Edrea yang sudah mulai menjauh dari rumah tersebut tampak bisa menghela nafas lega. Setidaknya dirinya sudah terhindar dari mara bahaya yang entah nanti kembali lagi atau tidak.


Dirinya kini mengedarkan pandangannya ke sisi jalan yang terlihat sudah tak terlalu gelap karena sinar matahari sudah mulai menyinari bumi walaupun masih terlihat malu-malu.


"Lah gue dimana sekarang?" tanyanya pada diri sendiri karena ia tak tau arah pulang.


"Kalau gini kan percuma gue keluar tadi. Arkhhhh elah, kasih petunjuk lah," sambungnya dan tak sengaja saat matanya menatap spion di dalam mobil tersebut, ia melihat ada sebuah tas yang tak asing baginya.


Dan untuk memastikan penglihatannya tadi, Edrea kini menoleh kebelakang dan benar saja apa yang ia lihat memang tak salah. Ia tersenyum girang kemudian dia meminggirkan mobilnya dan berhenti terlebih dahulu untuk mengambil tas tadi yang terletak di kursi belakang.


Dengan susah payah Edrea menggapai tas itu hingga akhirnya tas tadi sudah berada di genggaman tangannya.


"Yes dapat. Kamu memang keberuntunganku, oh my bag," ucap Edrea sembari menciumi tas miliknya yang terakhir kali ia pakai. Bahkan ia tadi sempat heran kenapa tasnya berada didalam mobil Jeep itu? Padahal seingatnya ia diculik memakai mobil taksi biasa. Tapi bodoamat lah yang penting sekarang ia harus mencari bala bantuan dan untung saja ponselnya tak hilang.


Edrea dengan secepat kilat mengambil ponsel tersebut dan mencoba menghidupkannya.


"Lah kutu kupret. Pakai mati segala nih hp. Pasti habis dah nih daya baterainya," tutur Edrea dengan bibir yang sudah maju beberapa senti kedepan.


"Ah bodoh, gue kan selalu bawa power bank." Tangannya kini mengobrak-abrik isi tas itu untuk mencari benda kotak yang senantiasa ia bawa kemana-mana selain ponsel dan dompetnya. Setelah mendapatkan benda tadi Edrea segera menghubungkan ponselnya dengan benda tersebut hingga layar ponsel tadi menyala dan menampilkan ikon baterai yang tengah mengisi daya. Dan karena Edrea sudah tak sabar, ia langsung menghidupkan ponselnya yang kali ini berhasil ia nyalakan dan dengan segera tangan lentiknya itu mencari kontak sang Daddy untuk meminta Daddynya itu segera menjemput dirinya. Tapi sayang lagi-lagi ia harus di uji dengan sinyal ponsel yang hilang, alhasil sambungan telepon itu gagal.


"Anjing. Ada-ada aja sih masalah gue. Capek nih suruh mikir sama ngeluarin tenaga mulu," geram Edrea tapi tak hayal dirinya kini terus menggoyang-goyangkan ponselnya, berharap ada satu sinyal saja yang tersesat di ponselnya.


"Arkhhhh. Sinyal sialan! kalau kayak gini kan gue harus keluar mobil jadinya. Arkh kalau orang-orang sialan itu nemuin gue dan berhasil nangkap gue lagi. Siap-siap aja gue bakal salahin lo." Edrea membuka pintu mobil tersebut dan segera keluar untuk mencari sinyal di sekitar hutan lebat itu. Ia terus mondar-mandir, lompat sana lompat sini, bahkan ia juga naik ke atas mobil Jeep yang mesinnya ia biarkan menyala pun sudah ia lakukan. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Hingga telinganya mendengar teriakan seseorang yang langsung membuat tubuhnya membeku ditempat.

__ADS_1


__ADS_2