The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 26


__ADS_3

Edrea dengan malas menuruni anak tangga, menuju ruang makan yang sudah ada dua saudara kembarnya tanpa Mommy Della dan Daddy Aiden yang ternyata kemarin baru berangkat ke Landon karena ada beberapa pekerjaan yang harus Daddy Aiden tangani di negara tersebut.


Dengan ogah-ogahan ia mendudukkan tubuhnya di kursi depan Azlan dan juga Erland yang tengah menatap dirinya.


"Buruan sarapan!" perintah Erland dengan menyodorkan sepiring nasi goreng ke arah Edrea.


"Males," tutur Edrea sembari menggeser piring tadi dari depannya.


"Edrea!" gertak Azlan. Edrea mencebikkan bibirnya namun tangannya kembali menarik piring tadi dan dengan terpaksa menyantap makanannya hingga separuh.


"Habisin!" perintah Erland.


"Udah kenyang bang," tutur Edrea.


Erland pun berdecak setelah itu ia mendekati Edrea dan mengambil piring Edrea kemudian ia dengan telaten menyendokkan nasi goreng tadi.


"Buka mulut lo," ucap Erland yang sudah mengacungkan sendok berisi makanan kearah mulut Edrea.


"Rea udah kenyang Bang Er," tutur Edrea.


"Jangan banyak alasan. Gue gak mau ya tar ada telfon dari sekolah lo ngabarin kalau lo pingsan karena kurang sarapan. Buruan buka mulut lo sekarang!"


Edrea kini memilih pasrah saja dan mengikuti apa yang di perintahkan Erland tadi hingga sarapannya habis.


"Gue hari ini yang antar jemput lo," tutur Erland sembari berdiri dari duduknya.


"Hah? pakai motor?"


"Gak, kita pakai mobil," tutur Erland. Edrea kini bisa bernafas lega. Bukannya ia takut dibonceng dengan motor, melainkan ia hanya tak mau kesusahan untuk naik turun motor sport milik Erland itu.


"Berangkat sekarang?" tanya Edrea.


"Iya lah. Arah sekolah lo sama sekolah gue beda, ya kali berangkatnya mepet," jawab Erland.


"Makanya biarin Rea berangkat sendiri."


"Gak akan!" ucap Azlan dan juga Erland kompak yang membuat Edrea kaget.


"Ck posesif amat sih. Berasa punya pacar dua gue," gerutu Edrea.


"Bodoamat, buruan pakai tuh tas lo kalau gak gue tinggal nih."


"Ya udah sih tinggal aja tar gue juga bisa hubungi pihak sekolah dengan alasan sedang ada keperluan keluarga," jawab Edrea santai.


"Emang lo udah punya suami? sok-sokan ada keperluan keluarga segala, belajar yang bener dulu bikin orangtua bangga. Masih kelas 11 juga, udah mikirin keluarga," omel Azlan.

__ADS_1


"Ck kan cuma alasan doang Bang. Kayak teman-teman Rea saat bolos sekolah kan alasan mereka juga gitu ditambah surat yang mereka buat sendiri dan ditandatangani sendiri atas nama orangtua mereka, dan nyatanya pihak sekolah percaya-percaya aja tuh," ucap Edrea.


"Terus lo mau contoh mereka gitu?" tanya Azlan dengan tatapan tajam namun yang ditatap masih saja santai.


"Sekali-kali aja boleh lah bang."


"Gak! gue gak akan pernah biarin itu terjadi," tolak Azlan dengan tegas.


"Buruan sana berangkat sekarang tanpa ada alasan apapun," sambungnya.


"Ck Abang mah pelit. Masak bolos sekali aja gak boleh," gerutu Edrea sembari beranjak dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Azlan di ruang makan tersebut sendirian, tapi sebelum pergi ia menyempatkan untuk mencium pipi Azlan. Sudah kebiasaan Edrea walaupun dalam keadaan sebal seperti tadi ia masih saja tak bisa meninggalkan kebiasaan itu.


Azlan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Edrea tadi.


Kini Edrea menghampiri Erland yang sudah berdiri dengan bersandar di mobil Ferrari berwarna hitam miliknya yang hanya ia pakai kalau memang si motor kesayangannya itu tengah rusak.


Edrea dengan kasar membuka pintu mobil tersebut dan segera masuk kedalam tak lupa dengan menutupnya dengan kasar pula.


Erland hanya bisa menghela nafas, setelah itu ia juga turut masuk kedalam mobilnya dan segera menjalankan mobil tersebut menuju sekolah Edrea.


Selama perjalanan tak ada obrolan dari mereka berdua bahkan mulut bawel dari Edrea kini maju beberapa senti kedepan yang membuat Erland gemas. Ingin sekali ia menguncir bibir Edrea dengan karet gelang.


Butuh waktu 15 menit, mobil Erland sampai di depan gerbang sekolah Edrea yang sudah banyak siswa/siswi berlalu-lalang untuk masuk kedalam sekolahan tersebut.


Erland mengerutkan keningnya.


"Emang kenapa?" tanyanya penasaran.


"Pokoknya jangan," geram Edrea. Namun sepertinya Erland menghiraukan ucapan dari Edrea karena nyatanya sekarang dia sudah membuka pintu mobilnya dan perlahan keluar dari mobil tersebut.


Edrea yang melihat itu pun memelototkan matanya dan dengan segera ia juga turun dari mobil Erland. Setelah itu ia menghampiri Erland yang tengah mengamati sekolahan yang digunakan Edrea menuntut ilmu.


"Lumayan juga," tutur Erland karena ia baru pertama kali melihat sekolah Edrea dari jarak dekat seperti saat ini.


Edrea yang sudah berada di samping Erland pun langsung menatap ke sekeliling Abangnya itu yang sudah menjadi pusat perhatian para siswi sekolah tersebut tentunya dengan bisikan-bisikan yang masih bisa didengar Edrea.


"Ya ampun gue gak mimpi kan? sekolah kita didatengin pangeran tampan," ucap salah satu siswi yang berada di lokasi.


"Astaga bukannya itu ketua geng Regaza si Erland. Wahhhhh ternyata gosip tentang ketampanan dia bak dewa Yunani itu bukan sekedar gosip belaka tapi memang dia tampan," jerit siswi yang lainnya.


"Iya, gue setuju sama lo. Benar-benar tampan ya Gusti. Bagus nih buat memperbaiki keturunan," jawab siswi yang mungkin sahabat dari wanita yang berucap sebelumnya.


Begitulah kira-kira bisikan para siswi tadi yang membuat Edrea bergidik ngeri. Setelah itu ia menyenggol lengan Erland.


"Bang," panggil Edrea dengan lirih. Erland yang sedari tadi masih memperhatikan sekolah Edrea pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Edrea.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya.


"Lo sekarang pergi aja deh dari sini," bisik Edrea dengan mata yang masih memantau sekitarnya yang semakin lama semakin banyak siswi yang memperhatikan Erland.


"Haduh, sebegitu tampan kah Abang gue dimata mereka sampai-sampai semua siswi heboh dan keluar dari kelas mereka buat lihatin bang Erland. Padahal dia gak seganteng Xu Kai," batin Edrea.


"Lo ngusir gue?"


"Ck, gue bukan ngusir bang. Tapi kan Abang juga harus ke sekolah takutnya nanti telat lagi," tutur Edrea.


"Ini masih jam setengah tujuh Rea. Jarak sekolah lo ke sekolah gue juga gak terlalu jauh paling-paling 15 menit nyampe," ucap Erland.


"Tapi Bang."


"Tapi apa? takut gebetan lo tau kalau lo dianterin sama pria tampan hah?"


Edrea berdecak sebal.


"Bukan itu ih. Coba Abang lihat disekitar Abang sekarang." Erland pun menuruti ucapan dari Edrea.


"Di sekitar Abang emang ada apa?" tanya Erland.


"Ya Allah bang. Itu lihat banyak siswi yang lihatin lo sampai ada yang nganga tuh." Erland kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea kembali.


"Ya terus kenapa emang? biarin aja sih orang mereka juga punya mata," tutur Erland yang membuat Edrea frustasi.


"Ya Allah kenapa hamba punya Abang yang kayak gini sih," batin Edrea. Rasanya ia ingin menjerit di situ juga dan menyeret abangnya untuk segera meninggalkan sekolah itu sebelum para siswi semakin beraksi untuk meminta tanda tangan dan lain sebagainya yang akan membuat Erland pada akhirnya akan murka nanti.


"Ya udah deh serah Abang. Tapi please, Abang sekarang pergi aja ya. Gue takut tar Abang di keroyok sama cewek-cewek haus akan belain itu. Emang Abang mau?" Erland bergidik ngeri, membayangkan saja ia sudah merasa muak apa lagi sampai kejadian.


"Oke-oke Abang pergi sekarang," ucap Erland akhirnya. Setelah itu Erland mendekatkan tubuhnya ke arah Edrea dan tanpa kenal tempat Erland mengecup kening Edrea. Dan aksinya itu membuat orang-orang tadi menjerit iri kepada Edrea.


"Belajar yang benar. Nanti kalau udah pulang sekolah langsung telpon Abang. Jangan pulang sebelum Abang jemput. Paham," tutur Erland.


Edrea memutar bola matanya malas.


"Iya-iya. Udah ah sana pergi." Erland tersenyum sesaat kepada Edrea dan yang bisa melihat senyum itu hanya Edrea saja. Setelah itu ia mengacak rambut Edrea.


"Ck kebiasaan," gerutu Edrea. Kemudian ia pun memegang pundak Erland yang mengisyaratkan untuk abangnya itu menundukkan badannya. Setalah itu Edrea yang juga lupa akan situasi tadi mengecup pipi Erland.


"Hati-hati jangan tawuran mulu," ucap Edrea.


"Bawel," tutur Erland sembari masuk kedalam mobilnya dan perlahan ia menjalankan mobil tersebut meninggalkan area sekolah Edrea.


Edrea pun melambaikan tangannya kearah mobil Erland tersebut. Dan tanpa ia ketahuilah ternyata ada sepasang mata yang menatap tajam, memperlihatkan interaksinya dan juga Erland tadi. Mungkin bagi orang yang tak mengetahui hubungan antara keduanya akan berpikir bahwa mereka itu adalah sepasang kekasih saking romantisnya perlakuan mereka tadi. Padahal mereka tak tau ternyata Erland dan Edrea adalah saudara kembar yang jika di dalam rumah akan bertingkah layaknya kartun Tom and Jerry. Ribut terus tak ada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2