The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 169


__ADS_3

Leon menghela nafas setelah para teman-teman itu telah kembali bergabung dengan dirinya setelah memastikan ucapnya tadi.


"Gimana? udah percaya kan?" tanya Leon.


Jojo kini mendudukkan tubuhnya di samping Leon kemudian ia mengeluarkan serpihan kaca yang ia pungut dari tong sampah tadi. Untung saja tong tampah itu isinya hanya ada serpihan kaca itu saja yang membuat teman-teman Leon lebih muda lagi melihat bukti itu tanpa harus mengorek-orek tong sampah tersebut.


"Ternyata yang lo katakan tadi memang benar. Jadi kita harus bagaimana sekarang? jika perempuan itu terus kita biarkan begitu saja bisa membahayakan nyawa Edrea," ujar Jojo sembari melihat kearah Edrea yang sudah berada di pinggir lapangan karena pertandingan tadi sudah usai dan dimenangkan kelas Edrea tentunya.


"Jangan gegabah. Kita lihat kedepannya saja. Jika perempuan itu masih berniat nyelakain Edrea baru kita bertindak," ucap Leon sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Lo mau kemana?" tanya Galuh saat Leon sudah melangkahkan kakinya menjauh dari gerombolan teman-temannya itu.


"Ganti baju. Habis ini giliran gue yang tanding," ujar Leon yang membuat teman-temannya menganggukkan kepalanya.


Sedangkan disisi lain, Edrea kini sudah terduduk dengan satu botol air mineral di tangannya tapi tatapan matanya tak lepas dari Puri yang tengah marah-marah tak jelas kepada timnya tadi.


"Lo tadi keren banget tau Re. Gue aja yang cewek terpesona sama karisma lo. Apalagi para kaum Adam kayaknya sampai ngiler tuh lihat kelincahan lo tadi," tutur Resti sembari memijit bahu Edrea.

__ADS_1


"Hiperbolanya keterlaluan," timpal Edrea membalas perkataan Resti yang menurutnya tak sesuai dengan fakta dan terlalu dilebih-lebihkan.


"Tapi emang gue akuin pesona lo tadi benar-benar bikin klepek-klepek para fans boy lo tau Re. Karena sedari tadi gue perhatiin para laki-laki itu, mereka seakan-akan menggebu-gebu kasih dukungan ke lo tadi," kini giliran Yesi yang bersuara tak lupa tangannya yang ia gunakan untuk mengipasi Edrea masih tetap bergerak.


"Ck, bisa gak sih kalian gak ngomongin hal itu? bosen gue dengernya," tutur Edrea sembari ia berdiri dari duduknya. Tapi sebelum ia pergi, lengannya lebih dulu di cekal oleh Yesi.


"Mau kemana?" tanya Yesi sembari menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Edrea.


"Ganti baju," ucap Edrea.


"Nanti aja elah. Habis ini masih ada pertandingan basket cowok dan Lo tau---" belum sempat Yesi menyelesaikan ucapannya, Edrea lebih dulu menutup mulut Yesi dengan tangannya.


Kini beberapa menit telah berlalu bahkan pertandingan pun sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu, sedangkan Edrea baru juga selesai berganti pakaian dan dia sekarang mendekati kedua sahabatnya yang sudah berteriak histeris.


"Dasar toa," cibir Edrea sembari mendudukkan tubuhnya disamping Yesi tapi untungnya sang empu tak mendengar cibiran dari Edrea tadi mungkin jika ia mendengar, adu mulut dari keduanya tak bisa dihindari lagi. Padahal jika dirumah, Edrea sama saja memiliki suara cetar membahana seperti toa, memang dasar anak bontot Daddy Aiden ini tak berkaca diri terlebih dahulu.


Setelah ia mendudukkan tubuhnya, Edrea langsung mengeluarkan ponselnya, ia sebenarnya sudah tak mood lagi buat melihat pertandingan seperti ini tapi gara-gara kedua sahabatnya yang masih betah berada di pinggir lapangan sebagi suporter tim yang mereka dukung alhasil mau tak mau Edrea juga harus berada di sisi mereka. Walaupun ia tak melihat permainan tersebut karena perhatiannya kini teralihkan dengan visual idol kesayangannya yang hanya bisa ia lihat lewat layar ponselnya saja.

__ADS_1


Tapi sayangnya ketenangannya harus terusik dengan teriakan demi teriakan dari para siswa-siswi di sekitarnya. Hingga teriakan Resti yang membuat dirinya menghentikan tangannya yang tadi terus sibuk bermain ponsel.


"Go Ayang Leon go. Hancurkan lawan!" teriak Resti. Edrea kini menolehkan kepalanya kearah Resti dengan kerutan didahinya.


Dan kini ia mengikuti arah pandang Resti yang tertuju ke arah Leon.


"Ternyata dia juga ikut tanding. Pantas saja banyak yang histeris neriakin nama dia," batin Edrea.


Tapi kini matanya terus tertuju ke pertandingan tersebut yang seakan-akan pertandingan yang tadi menurutnya sangat membosankan itu kini lebih menarik dari pada layar ponselnya yang menampilkan wajah rupawan idolanya itu.


Edrea terus melihat pertandingan itu dengan sesekali ia refleks ikut berteriak saat tim Leon memasukan bola ke ring lawan. Hingga kini giliran Leon yang tengah mengecoh lawan dengan bola di tangannya dan dengan gesit Leon mampu melewati para tim lawan. Hingga saat dirinya sudah berada di depan ring lawan ia sedikit melompat hingga bola yang di tangannya kini melayang dan berhasil masuk kedalam ring tersebut bertepatan itu pula banyak teriakan dan tepuk tangan dari para pendukungnya, kecuali Edrea yang justru terdiam dengan mata yang ia pertajam lagi.


"Sebentar, kayak kenal sama kalung yang di pakai Leon," batinnya sembari terus melihat kearah kalung yang ada dileher Leon sekarang.


Edrea terus mengingat dimana dan kapan ia melihat kalung yang sama persis dengan kalung yang digunakan Leon itu. Hingga matanya kini melebar saat ingatannya tertuju ke sebuah peristiwa saat dirinya ditolong oleh orang misterius setelah ia meloloskan diri dari rumah Zico beberapa waktu yang lalu.


"Gue ingat sekarang. Kalung itu sama persis dengan kalung yang gue kasih ke orang misterius itu. Jangan-jangan orang misterius yang selama ini bantuin gue kalau lagi dapat masalah itu sebenarnya Leon? Tapi gak mungkin Leon, matanya aja beda. Kalau Leon warna bola matanya hitam pekat kalau orang misterius itu warna bola matanya lebih ke tipikal warna amber. Dan juga orang misterius itu punya tato kecil di belakang telinganya, bentuknya juga kalau gak salah kepala singa sama tulisan kecil di bawah gambar singanya. Sedangkan Leon bersih gak ada tato sama sekali," batin Edrea yang terus menebak-nebak.

__ADS_1


"Ahhhh mungkin hanya kebetulan aja kali Leon punya kalung yang sama persis dengan kalung yang gue kasih ke orang misterius itu. Toh kalung begituan juga gak mungkin hanya ada 1 didunia. Jadi bisa gue simpulkan kalau orang misterius itu bukanlah Leon melainkan orang lain yang entah kapan gue akan tau wajah asli orang itu tanpa masker dan topi yang nutupin wajahnya. Huh," sambung Edrea diakhiri dengan helaan nafasnya.


__ADS_2