The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 316


__ADS_3

Edrea yang tampak terkejut dengan aksi Adam itu pun ia kini memukul-mukul dada Adam saat dirinya kembali tersadar dari keterbengongannya tadi.


"Ish Abang apaan sih. Lepasin Rea. Rea mau masuk kedalam bang," berontak Edrea yang sama sekali tak membuat Adam melepaskan pelukannya tapi ia justru mengeratkan pelukannya.


"Abang. Lepasin Rea. Rea mau masuk. Hiks, Rea mau masuk bang, Rea mau ketemu sama Leon. Rea mau lihat keadaan Leon bang. Rea mau lihat senyum Leon," ucap Edrea yang menghentikan aksi memukul-mukul dada Adam tadi dan tergantikan dengan ia mencekram erat baju Adam.


"Maafin Abang, Rea," ujar Adam dengan suara lirihnya.


"Rea tidak butuh kata maaf dari Abang. Rea hanya mau melihat Leon itu saja." Adam tampak menggelengkan kepalanya.


"Abang! Rea mau ketemu Leon! Lepasin!" berontak Edrea dengan sekuat tenaga hingga kini pelukan dari Adam tadi terlepas. Lalu kemudian Edrea langsung berlari masuk kedalam ruangan tersebut tanpa permisi. Dan saat dirinya sudah sampai di dalam, matanya langsung tertuju kearah satu brankar di ruangan tersebut, dimana di brankar itu terdapat tubuh lemah Leon yang tengah terbaring disana dengan berbagai selang dan peralatan yang menempel di tubuhnya.


Edrea yang melihat keadaan sang kekasih yang terlihat sangat-sangat mengenaskan itu pun ia perlahan mendekati brankar tersebut hingga membuat beberapa dokter yang masih didalam ruangan tersebut menatap kearahnya.


Sedangkan Adam dan Erland yang tadi berada di luar, kini mereka berdua ikut masuk kedalam untuk mencegah Edrea supaya tidak mendekati Leon.


"Rea," ucap Adam. Kemudian ia berlari menghampiri Edrea lalu ia menarik tubuh Edrea yang hampir saja menyentuh tubuh Leon.


"Lepasin Rea!" teriak Edrea dengan histeris.


"Rea mau peluk Leon, bang. Hiks Leon," tangis Edrea.


"Maaf sayang. Kita lihat Leon dari sini saja ya. Nanti kalau keadaan Leon sudah mulai stabil Abang janji akan biarin Rea untuk ketemu Leon kapanpun Rea mau. Tapi untuk sekarang biarkan Leon istirahat sebentar saja ya," ucap Adam dengan mengelus rambut Edrea.


"Hiks tapi Rea mau peluk sekarang bang," tutur Edrea yang masih menatap kearah Leon berada.


"Iya sayang. Tahan dulu sebentar ya, kalau Leon nanti sudah melewati masa kritis, Rea boleh meluk dia. Dan sekarang kita berdoa saja supaya Leon berhasil melewati masa sulitnya itu dan kembali sadar agar bisa ketemu dengan Rea lagi. Dan satu lagi, Rea tidak boleh sedih jika Rea tidak mau melihat Leon juga ikut sedih nantinya." Adam kini menangkup kedua pipi Edrea dan menghapus air mata adik perempuannya itu dengan diakhiri ia mengecup keningnya.


"Sekarang kita keluar dulu ya, biarkan dokter menyelesaikan pekerjaannya untuk membantu Leon agar segera sadar," ucap Adam yang mendapat gelengan dari Edrea.


"Tenanglah sayang. Leon tidak akan kenapa-napa percaya sama Abang. Sekarang kita keluar ya," sambungnya dan perlahan ia membawa tubuh Edrea yang masih berada didalam pelukannya itu keluar dari ruangan tersebut.


Dan saat mereka bertiga telah keluar dari ruangan tersebut, bertepatan dengan itu pula Mommy Della dan Daddy Aiden telah kembali dengan Callie yang kembali tertidur lelap.


Mommy Della yang melihat keadaan putrinya yang tengah kacau itu pun ia kini menatap kearah Adam sebagai tanda ia menginginkan penjelasan dari putranya itu.


"Er, bawa Rea ke taman dulu. Disana mungkin Rea akan lebih tenang ditambah dengan udara pagi yang bisa membuatnya kembali rileks," ujar Adam yang diangguki oleh Erland.


"Kita ke taman dulu yuk," ajak Erland yang mendapat gelengan lesu dari Edrea.

__ADS_1


"Rea tidak mau kesana bang, Rea mau ke mushola saja," ujar Edrea.


"Ya sudah kalau gitu kita kesana sekalian sholat subuh juga," tutur Erland. Dan dengan memegangi lengan Edrea, Erland perlahan membawa tubuh adiknya itu pergi dari depan ruang UGD meninggalkan ketiga orang dewasa tadi karena Callie sekarang sudah berada di tangan anak buah Leon dan juga sudah meninggalkan tempat tersebut.


Saat dirasa Edrea maupun Callie sudah tak ada didekat tempat ketiga orang tadi, Mommy Della mulai angkat suara.


"Dam, bisa jelasin ke Mommy kenapa Rea sampai seperti orang linglung begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Leon?" tanya Mommy Della penuh dengan kekhawatiran.


Adam kini menghela nafasnya dengan kasar lalu sembari mendudukkan tubuhnya di kursi tak jauh darinya, dan hal tersebut diikuti oleh kedua orangtuanya.


"Sebenarnya Adam juga bingung harus menjelaskannya bagaimana. Tapi yang pastinya Leon sekarang sedang tidak baik-baik saja. Luka yang didapatkan dari tusukan pisau itu benar-benar sangat dalam dan ternyata tusukan itu terkena tepat di luka lama Leon hingga menimbulkan luka lama itu terbuka kembali. Dan peluru yang menebus tubuh Leon ternyata mengenai jantungnya, ya walaupun hanya mengenai sedikit saja tapi hal itu tetap saja berakhir fatal." Adam menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya itu.


"Dan perlu Mom tau, saat kita tadi baru selesai mengoperasi Leon, dia sempat tak bernafas bahkan Elektrokardiogram dia sudah menunjukkan garis lurus. Beberapa cara sudah kita lakukan hingga akhirnya kita berhasil mengembalikan detak jantung itu walaupun sekarang detak jantung itu sangat lemah. Mom, Dad, Leon sekarang tengah kritis dan mungkin dia juga akan mengalami yang namanya koma seperti yang Rea dulu alami. Kita juga tidak bisa memastikan keadaan Leon selanjutnya akan semakin membaik atau justru memburuk, jadi kita hanya bisa berdoa saja untuk Leon karena terus terang saja Adam tidak bisa melihat Edrea seperti tadi. Adam tidak tega melihat Edrea akan bersedih saat melihat kondisi Leon yang benar-benar diambang kematian," sambung Adam dengan kepala yang menundukkan, bahkan otaknya kini membayangkan betapa terpuruknya Edrea nanti jika Leon benar-benar meninggalkan dirinya.


Daddy Aiden yang berada didekat Adam pun ia menepuk punggung anak pertamanya itu.


"Leon anak yang kuat mana mungkin dia dengan gampangnya mati begitu saja. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia lagi. Jangan berpikir yang tidak-tidak lagi," ujar Daddy Aiden semata-mata untuk menenangkan Adam walaupun dirinya sendiri juga sudah membayangkan hal negatif mengenai Leon tapi setidaknya ia masih bisa menyembunyikan hal tersebut sehingga semua orang tidak bisa melihat kekhawatiran di wajah Daddy Aiden dan justru hanya bisa melihat ketenangan di wajah laki-laki paruh baya itu.


"Benar apa yang Daddy kamu katakan. Dia pasti baik-baik saja. Dan Mommy juga mau bertanya satu pertanyaan lagi untuk kamu." Adam kini menegakkan kepalanya dengan tatapan yang langsung tertuju kearah Mommy Della.


"Bagaimana keadaan Zea? Apa dia baik-baik saja?" tanya Mommy Della yang membuat Adam kini menganggukkan kepalanya.


"Dia sekarang baik-baik saja Mom. Bahkan kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya dan dia juga sudah sadar dari pingsannya," jelas Adam.


"Dia sekarang ada di kamar nomor 5, gak jauh dari sini tinggal belok kiri lurus terus, nanti ketemu kok kamarnya," ujar Adam yang diangguki oleh Mommy Della.


"Ya sudah kalau gitu Mommy kesana dulu." Mommy Della kini beranjak dari duduknya tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, Adam lebih dulu mencekal lengannya.


"Mommy boleh kesana setelah Adam ngobatin luka Mommy dulu," ujar Adam.


"Eh, tidak usah Dam. Mommy gak kenapa-napa kok."


"Gak kenapa-napa tapi pipinya memar gitu," ujar Adam yang membuat Mommy Della kini menggigit bibir bawahnya.


"Tapi beneran ini gak kenapa-napa Dam," ucap Mommy Della.


"Ck, ya sudah kalau gitu biar Daddy aja yang ngobatin luka Mommy kamu," timpal Daddy Aiden yang sepertinya ia sudah pusing jika harus mendengar pertengkaran dari anak dan istrinya itu. Dan ucapan dari Daddy Aiden tadi membuat Adam dan Mommy Della mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tersebut.


"Baiklah. Tunggu sini sebentar, Adam ambil P3K dulu." Adam beranjak dari duduknya dan segera berjalan menuju tempat yang ia tuju.

__ADS_1


Dan beberapa saat setelahnya ia sudah kembali dengan membawa kotak kecil lalu setelahnya ia menyerahkan kotak tersebut kearah Daddy Aiden supaya laki-laki itu segera mengobati luka Mommy Della.


Saat ketiga orang di depan ruang UGD tersebut tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Pintu dari ruang itu kini terbuka yang membuat Adam langsung berjalan kearah salah satu dokter yang sekarang berdiri di depan pintu itu.


"Gimana?" tanya Adam to the point.


"Huh, detak jantungnya sudah kembali normal," jawab dokter tersebut yang membuat Adam kini bisa menghela nafas lega, setidaknya Leon masih memiliki harapan untuk hidup kembali.


"Tapi---"


"Tapi apa dok?" sela Edrea yang baru sampai di tempat tersebut.


Dokter tersebut tampak menatap Edrea sesaat sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Adam yang di angguki oleh sang empu, tanda jika Adam mengizinkan dokter tadi melanjutkan ucapannya.


"Dia masih kritis dan dia tidak akan sadar untuk beberapa hari kedepan," ujar dokter tersebut yang benar-benar membuat hati Edrea hancur berkeping-keping. Apalagi saat mendengar bahwa Leon tidak akan sadar diwaktu dekat ini yang berarti laki-laki itu tengah koma saat ini.


"Dan kemungkinan pasien akan di pindahkan ke rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih lengkap dari fasilitas disini," ujar dokter tersebut.


"Baiklah. Lakukan apapun yang sekiranya bisa mempertahankan dia," ucap Daddy Aiden yang mendapat anggukan dari dokter tadi.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Dan kita akan segera memberikan surat rujukan untuk pasien agar pasien segera bisa di pindahkan," tutur dokter tersebut yang langsung diangguki oleh semua orang di sana kecuali Edrea yang kini sudah menangis di pelukan Erland.


Erland yang tau jika Edrea tengah rapuh apalagi mimpi buruknya yang dulu kini kembali terulang walaupun memang bukan dirinya sendiri yang mengalaminya tapi trauma di diri Edrea, Erland rasa masih ada sampai sekarang.


"Hiks, kenapa bukan Rea aja yang mengalami ini semua bang. Bukannya tadi mereka mengincar nyawa Rea, kenapa tidak Rea aja yang tertembak dan tertusuk pisau. Kenapa harus Leon? Hiks ini semua gara-gara Rea, ini semua gara-gara Rea!" teriak Edrea histeris.


"Stttt, Rea tenang dulu. Jangan seperti ini. Abang tau lo sekarang lagi hancur-hancurnya karena mendengar keadaan Leon yang sekarang. Tapi apa lo tau jika tadi lo yang terkena itu semua, apa keadaan lo akan jauh lebih baik dari keadaan Leon yang sekarang? Abang rasa tidak, dan mungkin nyawa lo udah melayang di tempat saat kejadian itu berlangsung. Dan apa lo tau kalau lo yang berada di posisi Leon sekarang akan membuat semua orang senang terutama Leon? Tidak Re, semua akan sama hancurnya dengan apa yang lo rasain sekarang bahkan bisa jauh lebih hancur dan mungkin dendam Leon akan semakin besar kepada keluarganya sendiri karena sudah melukai lo untuk yang kedua kalinya. Dan Leon ngelakuin ini semua karena dia mau ngelindungin Lo, biar Lo selamat dari bahaya itu agar orang-orang di keluarga terutama ayahnya tidak tertawa senang karena berhasil melenyapkan lo dari dunia ini. Dan jika lo yang menggantikan Leon, dia akan jauh sengsara dari apa yang dialami dia sebelumnya. Dia sudah kehilangan Lo dari hidupnya, dia akan memendam dendam di hatinya, dia akan terkurung lagi di rumahnya dan yang pastinya dia akan menjadi orang yang akan terus di siksa oleh ayahnya. Semua itu jauh lebih mengerikan dari apa yang Leon saat ini alami Rea. Jadi stop nyalahin diri lo sendiri karena Abang tau Leon tidak akan suka mendengarkan ucapan lo itu," tutur Erland panjang lebar karena ia benar-benar muak mendengar Edrea yang selalu menyalahkan dirinya sendiri sedari tadi.


"Er." Mommy Della menggelengkan kepalanya agar Erland tak membentak atau menaikkan nada suaranya kepada Edrea. Pasalnya Mommy Della tau emosi Erland saat ini masih meluap-luap.


Tapi gelengan dari Mommy Della tadi hanya diabaikan begitu saja oleh Erland.


"Dan daripada lo nangis-nangis gak jelas begini. Mending kita doa aja supaya Leon segera melewati masa kritisnya. Karena kalau lo cuma nangis terus gini, gak akan bisa membuat Leon langsung sadar lagi seperti dulu," tutur Erland dengan tegas. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut Erland melepaskan pelukannya dan menatap lekat mata Edrea yang sudah merah itu.


"Hapus air mata lo. Doa sekarang dan jangan nangis mulu. Leon sekarang hanya butuh doa bukan air mata," sambung Erland sembari tangannya kini bergerak untuk menghapus air mata adiknya tersebut. Kemudian setelahnya ia mendudukkan tubuh Edrea di salah satu kursi disana. Dan tanpa memperdulikan kondisi Edrea yang masih sesegukan dan sesekali meneteskan air matanya sebelum akhirnya air mata itu ia usap dengan kasar, Erland langsung menggenggam tangan Edrea.


"Doa dan jangan nangis lagi," peringat Erland lagi sebelum ia menggerakkan kedua tangan Edrea agar menengadah untuk memulai doa dengannya.


Mommy Della, Daddy Aiden serta Adam yang melihat hal tersebut pun mereka hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya mereka memilih tempat duduk mereka sendiri-sendiri sebelum akhirnya mereka ikut berdoa. Karena apa yang dikatakan oleh Erland tadi memang benar. Leon saat ini tidak membutuhkan air mata semua orang terutama air mata dari Edrea karena air mata itu tidak bisa membantunya untuk keluar dari masa kritisnya itu. Dan justru Leon sekarang membutuhkan doa dari semua orang agar membantunya melewati apa yang tengah ia alami saat ini.

__ADS_1


...****************...


2000 kata lebih, ayo lah 350 sebelum jam 6 sore. Dan selain ini misteri mana yang belum terpecahkan? Kasih tau di kolom komentar ya, kita akan selesai misteri itu satu persatu. Jangan lupa tinggalkan LIKE, VOTE, KOMEN dan HADIAH. Terimakasih


__ADS_2