
Keterdiaman Edrea pecah saat suara sorakan para warga sekolah tak terkecuali dengan para guru yang sekarang tengah meneriaki kata terima kecuali para kaum hawa yang merasa patah hati karena pujaan hati mereka telah menyatakan perasaannya kepada kekasihnya terdengar nyaring di telinga Edrea.
Azlan yang sedari tadi memeluk Zea dan menyaksikan lamaran dari Leon pun ia merasa gregetan sendiri dengan adiknya yang tak kunjung memberikan jawaban, hingga saat ia sudah benar-benar gemas dengan Edrea, ia menendang pelan kaki Edrea hingga membuat adiknya itu berdesis sebelum memelototkan mata tak terima kearah Azlan.
"Mau Abang colok mata Lo? Dan daripada lo melototin Abang kayak gitu mending lo jawab tuh ajakan Leon. Jangan kayak orang bloon gitu cuma diem doang. Ingat kalau lo nolak, banyak kaum hawa yang udah ngantri di belakang lo. Dan Abang ingetin kalau lo nolak dia, jangan galau setelahnya," ucap Azlan dengan suara yang ia perkeras agar Edrea mendengar ocehannya itu.
"Buruan sana kasih jawaban. Kasihan Leon noh, lama-lama dia kena penyakit warises karena kelamaan jongkok," sambung Azlan yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya. Lalu setelahnya ia menatap kearah Leon kembali yang masih senantiasa menunggu jawabannya.
Edrea mengigit bibir bawahnya dengan menghela nafas beberapa kali sebelum dirinya angkat suara untuk menjawab ajakan dari Leon tadi.
"El," panggil Edrea sembari membungkukkan tubuhnya. Tapi bukan untuk mengucapakan sebuah kata yang Leon tunggu-tunggu melainkan Edrea kini justru membantunya untuk kembali berdiri. Dan hal tersebut membuat Leon mengerutkan keningnya dengan hati yang gusar, takut jika Edrea menolak dirinya. Begitu pula dengan beberapa orang yang tadi meneriaki mereka kini langsung terdiam. Dan dengan seketika suasana di tempat itu sangat sunyi sepi karena musik yang tadi mengiringi Leon juga telah berhenti.
Dan yang membuat semua orang ketar-ketir adalah raut wajah Edrea yang tampak murung, tak ada senyum yang terpancar dari wajah gadis itu. Dan hal tersebut membuat semua orang berasumsi jika Edrea akan menolak lamaran Leon tadi. Jika benar, pasti Leon sangat malu setelah itu, batin mereka semua menatap iba kearah Leon.
"Edne," ucap Leon dengan suara tercekat. Bahkan matanya kini telah berkaca-kaca. Jangan sampai ketakutannya kejadian juga.
Edrea yang tadi menundukkan kepalanya kini ia menatap manik mata Leon cukup dalam.
"El, dengerin aku baik-baik ya," ucap Edrea yang justru membuat tubuh Leon menegang.
__ADS_1
"Sebelumnya aku minta maaf ke semua orang yang ada disini jika keputusanku nanti akan membuat kalian kecewa," ujar Edrea dengan menatap satu-persatu semua orang yang ada di sekitarnya. Bahkan sempat matanya bertemu dengan mata kedua orangtuanya, Adam, Mommy Elia, Callie dan kedua Kakak Leon yang sedari tadi juga melihat aksi Leon tersebut karena memang hari ini sudah di rencanakan dan sudah mendapat restu dari kedua belah pihak. Dan semua itu tergantung dengan Edrea-nya sendiri. Bahkan raut wajah ketujuh orang tadi juga tampak was-was, ikut berdebar merasakan apa yang tengah Leon rasakan saat ini.
Pandangan Edrea kini kembali tertuju kearah Leon.
"El, maaf, aku---" ucapan Edrea dengan wajah yang tertunduk bahkan air matanya kini terjatuh membasahi pipinya.
Leon memejamkan matanya, sepertinya memang ketakutannya itu benar-benar terjadi saat ini. Tapi ia tak boleh bersedih terlebih dahulu mungkin kekasihnya itu masih menginginkan kebebasan sebelum nantinya terikat olehnya dan mungkin Edrea juga ingin mengejar cita-cita dulu sebelum menikah nanti. Dan Leon akan mengerti hal tersebut.
Leon kini membuang nafas kasar dengan mata yang terbuka dan dengan berbesar hati ia menutup kembali kotak kecil yang berisi cincin tadi. Tapi saat dirinya ingin angkat suara, Edrea justru menatapnya dengan tajam yang membuat dirinya kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Apakah dirinya memiliki salah saat ini hingga Edrea menatapnya seakan-akan dirinya adalah mangsanya? Sungguh sangat menakutkan, batin Leon.
"Kenapa kotaknya di tutup sih?" geram Edrea dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Hah? Gimana?" tanya Leon seperti orang bodoh saja.
"Lah bukannya kamu tadi nolak aku?" Edrea berdecak sebal.
"Ishhhh kan ucapan aku belum selesai tadi. Kenapa kamu gampang banget menyimpulkan ucapan seseorang sih. Menyebalkan," ucap Edrea dengan kerucutan di bibirnya.
"Tapikan kamu tadi bilang maaf sama semua orang dan juga sama aku," ujar Leon yang masih bingung atau dirinya memang tidak peka dengan kondisi saat ini.
__ADS_1
"Ck, maksud aku tadi tuh maaf karena udah mematahkan ribuan hati para kaum hawa yang menjadi fans berat kamu karena aku tidak bisa menolak lamaran kamu!" ucap Edrea dengan lantang.
Leon mengerjab-ngerjabkan matanya dengan ucapan Edrea tadi. Otak pintarnya itu sedang tak bisa ia gunakan maksimal untuk saat ini hingga setiap perkataan Edrea tadi harus ia telaah satu-persatu hingga beberapa saat setelahnya matanya terbuka lebar.
"Jadi?" Edrea mencebikkan bibirnya, lalu setelahnya menendang tulang kering Leon untuk meluapkan kekesalannya kepada sang kekasih yang tampak lemot itu.
Leon yang mendapat serangan mendadak dari Edrea pun ia tak bisa mengelak lagi alhasil ia kini meringis kesakitan. Tapi saat ia ingin mengusap tulang keringnya tadi yang masih berdenyut sakit, tubuh Edrea lebih dulu memeluknya.
"Elsworth Leonardo Grissham, aku Edrea Dwyne Abhivandya menerima lamaranmu. Bersedia menjadi kekasih dan pasanganmu seumur hidup. Bersedia menjadi istri yang akan menemani kamu di saat senang ataupun susah dan bersedia menjadi seorang ibu dari anak-anakmu!" teriak Edrea nyaring hingga membuat telinga Leon berdengung dibuatnya tapi ia mana peduli dengan telinga dan tulang keringnya yang terasa sakit itu karena yang mendominasi dirinya saat ini bukan lah rasa sakit melainkan rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Perjalanannya yang menguras tenaga akhirnya terbayarkan juga. Kekasih pertamanya akan menjadi kekasih terakhirnya dan satu-satunya. Tak sia-sia dirinya yang telah mencari keberadaan Edrea dari ujung negara di dunia hingga ujung negara di dunia yang lainnya. Tak sia-sia dirinya mempertaruhkan nyawanya untuk meminta restu kepada keluarga Abhivandya yang dulu sangat tak suka lebih tepatnya menghindari keberadaan Leon agar hidup mereka yang sudah aman tak kembali di porak-porandakan oleh keluarga Leon seperti sebelumnya. Tak sia-sia juga dirinya menerima amukan dari ketiga Abang Edrea yang dulu memukul dirinya hingga kritis di rumah sakit gara-gara dirinya ketahuan mengikuti Edrea kemanapun perempuan itu pergi padahal dirinya sudah di larang keras untuk melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya semua usahanya kini berbuah manis, kepahitan yang dulu ia alami kini telah usai diganti dengan kebahagiaan. Hingga sekarang ia tahu makna dari sebuah kata akan ada pelangi setalah hujan. Dia sekarang sudah mendapatkan kembali pelanginya yang sempat hilang. Pelangi yang selalu ia dambakan dan namanya selalu dalam doanya.
Dan saking bahagianya, air mata Leon kini menetes membasahi baju kebaya yang tengah Edrea kenakan saat ini.
"Thanks sayang," ucap Leon dengan suara bergetar. Edrea yang merasakan pundaknya basah pun ia mengelus punggung Leon dengan anggukan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Leon tadi.
"Thanks Az, Er." Azlan dan Erland yang masih duduk di tempatnya sebelumnya pun mereka menganggukkan kepalanya dengan senyum mereka.
"Thanks Mommy, Mom Del, Dad, bang Adam, Kak Azzo, Kak Alice, thanks Callie," ucap Leon dengan mata yang menatap kearah ketujuh orang yang tak jauh dari tempat mereka berdua yang sekarang tengah tersenyum dengan mengacungkan jari jempolnya.
__ADS_1
"And thanks God," ucap Leon dengan wajah yang menengadah menatap kearah atas. Kemudian Leon melepaskan pelukannya dan dengan menatap wajah lekat Edrea yang juga tengah menangis bahagia pun ia kini membuka kembali kotak kecil tadi lalu memasangkan cincin diamond tadi tepat di jari manis Edrea. Kemudian setelahnya ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat kening Edrea sebelum dirinya kembali memeluk tubuh kekasihnya itu bahkan ia kini mengangkat tubuh Edrea dan berputar yang membuat semua orang kini bertepuk tangan memberikan selamat atas lamaran yang sangat epik itu. Bahkan guru-guru yang ikut terbawa hati dengan adegan yang baru saja mereka lihat pun tak sedikit yang ikut meneteskan air mata mereka terutama para guru wanita yang justru sesegukan sekarang merasakan kebahagiaan dari kedua muridnya itu. Tak hanya para guru tapi beberapa murid dan wali murid yang tadi menyaksikan pun juga ikut bahagia atas kisah cinta mereka berdua.
Hari ini benar-benar hari bahagia bukan hanya untuk para kelas 12 saja yang baru lulus, bukan juga hanya keluarga Abhivandya dan keluarga Grissham saja. Melainkan semua orang disana juga merasakan kebahagiaan yang sangat membuncah itu. Penutupan acara perpisahan yang sangat epik, mungkin ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi warga sekolah SMA Balerix karena apa yang di lakukan oleh Leon baru kali ini terjadi dan kecil kemungkinan akan terulang kembali.