The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 292


__ADS_3

Mata Edrea kini melebar sempurna saat ia baru mengingat dengan benda di tangannya itu.


"Gue baru ingat kalau topi ini sama persis dengan topi milik Mr. Misterius itu. Coraknya, modelnya dan warnanya juga sama," ucap Edrea. Tapi setelahnya ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak mungkin. Pasti ini cuma kebetulan saja. Lagian kan topi dengan model begini tidak hanya satu saja tapi banyak orang yang jual topi seperti ini," sambung Edrea.


"Haishhh sudahlah. Gue yakin Mr. Misterius itu bukan Leon," ujar Edrea dan saat dirinya ingin meletakan kembali topi tersebut ke tempat semula, tak sengaja matanya menatap ke benda-benda yang justru semakin memperkuat dugaannya sebelumnya.


"Mau mengelak tapi bukti yang gue temukan ini semakin buat gue percaya dengan dugaan gue tadi. Ya tau sih Leon punya kalung yang sama seperti yang gue kasih ke Mr. Misterius itu. Tapi masak kebetulan banget gue nemuin dua benda yang sama persis dengan yang di miliki oleh Mr. Misterius," gumam Edrea sembari menyenderkan kepalanya di atas meja rias tersebut. Hari ini otaknya benar-benar dipaksa untuk berpikir keras atas semua hal yang ia alami saat ini.


"Apa gue cari bukti lain ya?" pikir Edrea dengan menegakkan kepalanya kembali.


"Oke fiks gue harus cari bukti lagi mumpung gue lagi kekunci disini. Dan daripada gue nanti terus kepikiran tentang hal ini sampai kebawah dirumah mending gue bergerak sekarang. Walaupun gue gak yakin gue bisa nemuin bukti lain, tapi tak apa lah kalau mencoba dulu. Dan gue berharap, saat gue lagi mengumpulkan bukti, Leon tidak masuk kedalam kamar ini. Jika sampai masuk dan menangkap basah gue lagi ngacak-ngacak kamarnya, bisa mati gue," ujar Edrea.


Dan setelah mengucapkan hal tersebut, tangan Edrea kembali bergerak menelusuri setiap ruangan tersebut. Bahkan disetiap sela-sela kamar tersebut tak luput dari pencariannya.


Saat didalam ruangan itu ia sudah tak menemukan bukti apapun, Edrea dengan gesit bergerak masuk kedalam kamar mandi.


Matanya terus aktif melihat kamar mandi tersebut hingga penglihatannya terhenti ke sebuah lemari kecil di sana.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Edrea segera menghampiri lemari tersebut.


"Arkhhhh, kenapa pakai di kunci segala sih," geram Edrea saat ia tak bisa membuka pintu dari lemari tersebut.


"Kuncinya juga dimana lagi," sambungnya sembari melihat disekelilingnya. Siapa tau ia bisa menemukan keberadaan kunci lemari tersebut. Tapi sayangnya, ia tak melihat benda kecil itu di kamar mandi itu.


Walaupun begitu, Edrea tak putus semangat. Ia sekarang justru berlari kedalam kamar itu untuk mencoba mencari kunci yang pas untuk lemari tersebut karena ia tadi tak sengaja melihat ada beberapa kunci yang Leon taruh di laci nakas. Dan setelah ia mengambil satu gerombolan kunci tersebut, Edrea kembali masuk kedalam kamar mandi itu. Lalu ia bergegas untuk mencobanya satu-persatu.


Beberapa menit telah berlalu, usaha Edrea tak juga membuahkan hasil sama sekali bahkan sampai satu gerombol kunci tadi telah ia coba semua tapi tetap saja tak ada yang cocok dengan lemari tersebut.


"Arkhhhh, kenapa kalian gak mau gue ajak kerja sama sih. Gak ada satupun yang cocok," geram Edrea.


"Apa jangan-jangan kuncinya di bawa sama Leon lagi. Ck, kalau begini gue mau bukannya pakai apa dong? Gue penasaran banget soalnya sama isi didalam lemari ini itu apa, sampai-sampai Leon aja menguncinya," ucap Edrea diakhiri dengan helaan nafas panjang.


Edrea kini terdiam sembari memutar otaknya untuk mencari cara agar ia bisa membuka lemari tersebut tanpa membuat lemari itu rusak.


Dan setelah menguras tenaganya yang tersisa, Edrea akhirnya menemukan satu cara yang sering dilakukan oleh kedua saudara kembarnya itu.


"Cari peniti sekarang," ucap Edrea dan lagi-lagi ia berlari untuk mengobrak-abrik kamar Leon.


"Nangis juga nih gue. Kamar ini sih gede tapi isinya gak komplit," gerutu Edrea saat ia tak menemukan benda kecil yang ia cari tersebut.


"Eh sebentar. Sepertinya gue lihat sesuatu," ujar Edrea saat matanya tadi mengarah ke meja belajar di kamar tersebut.


"Mungkin pakai penjepit kertas bisa kali ya. Coba aja lah, siapa tau Dewi keberuntungan masih berpihak ke gue," ucap Edrea yang sudah mengambil penjepit kertas tersebut. Lalu setelahnya ia berlari kembali masuk kedalam kamar mandi. Untung saja kondisi kamar mandi itu saat ini tidak basah dan licin, jika sampai basah Edrea pastikan dirinya sudah terjatuh dari tadi.


...****************...


Edrea terus berusaha untuk membuka pintu lemari tersebut di bantu dengan penjepit kertas yang ia temukan tadi hingga beberapa menit setelahnya, pintu itu akhirnya bisa ia buka. Dan hal tersebut membuat Edrea ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya. Namun ia urungkan saat mengingat dirinya sekarang berada di dalam kamar seseorang yang tengah ia cari tau kebenaran tentang orang itu.


"Gak sia-sia emang punya Abang yang sering bolos dan sering telat pulang malam. Karena dari situ gue jadi tau dan paham gimana caranya buka pintu tanpa kunci. Gak sia-sia emang berguru sama mereka. Ahhhh kalau kayak gini kan makin sayang gue sama mereka," ucap Edrea yang sekarang bisa membanggakan kedua Abangnya itu.


Dan setelah berkata demikian, Edrea kembali fokus dengan tujuan utamanya yang langsung membuat tangannya bergerak untuk melihat isi didalam lemari tersebut.


"Handuk biasa, handuk kimono, sabun baru, sampo baru, pasta gigi baru, sikat gigi baru, body lotion, deodorant dan softlens. Oke am---" ucap Edrea menggantung saat ia mengetahui satu hal yang kembali membuat dirinya curiga.

__ADS_1


"Sebentar-sebentar. Sepertinya ada hal yang aneh," ujar Edrea dengan tangan yang terulur untuk mengambil salah satu benda yang ia sebutkan tadi.


"Softlens. Sejak kapan Leon pakai softlens. Kenapa gue gak sadar padahal gue hampir setiap hari sama dia dan selalu menatap matanya. Eh tapi sebelumnya gue pernah lihat kacamata di kamar Leon yang ada di rumah gue waktu itu. Apa mungkin softlens ini dia pakai karena dia malu kalau harus pakai kacamata? Dan mungkin dia juga tidak mau di ejek sama teman-temannya. Hemmm benar-benar memusingkan," ucap Edrea.


"Jangan sampai kerja keras gue ini zonk gak ada hasil sama sekali," sambungnya.


Dan untuk memanfaatkan waktu yang ada Edrea kembali bergerak dan tujuannya kali ini adalah walk in closet. Tapi lagi-lagi ujian menerpanya.


"Oh God. Masak gue harus berjuang kayak buka pintu lemari tadi sih. Arkhhhh Leon, Lo benar-benar menyebalkan," geram Edrea. Namun walaupun begitu Edrea tetap saja melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"Huwaaaaa akhirnya lo kena juga tong. Tapi kali ini gue berharap di dalam ruangan ini ada bukti kuat tentang tebakan gue tadi. Karena ruangan ini adalah harapan gue satu-satunya," ujar Edrea sebelum dirinya masuk kedalam ruangan tersebut.


Dan dengan helaan nafas berkali-kali, Edrea kini membuka pintu ruangan tersebut dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam. Dan saat ia menyalakan lampu di ruangan tersebut, ia dibuat terkejut oleh benda di hadapannya saat ini.


"Astaghfirullah hal adzim. Nih orang yang naruh manekin disini kurang ajar banget sih. Memangnya gak ada tempat lain selain disini. Bikin jantungan aja jadinya," gerutu Edrea diakhiri dengan ia memukul patung manekin tadi.


Kemudian setelahnya matanya kembali menelisik setiap sudut di ruangan tersebut.


Hingga ia menemukan satu ruangan lain di dalam walk in closet tersebut.


"Kalau sampai ruangan itu pintunya terkunci, siap-siap aja Leon gue bantai," ujar Edrea yang tenaganya sudah terkuras habis namun rasa penasarannya masih menghantui dirinya.


Namun saat dirinya sudah memutar kenop pintu di ruang rahasia itu, Edrea tersenyum senang saat pintu itu bisa ia buka tanpa harus melewati rintangan yang benar-benar sangat menyebalkan dan membuang waktunya itu.


"Nah gini kan enak," ujar Edrea sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.


"Lo itu orang kaya Leon. Kalau gak matiin satu lampu aja lo gak akan jadi miskin," ucap Edrea yang terheran dengan sifat hemat Leon itu pasalnya di setiap ruangan yang ia kunjungi selalu saja lampu di ruangan-ruangan itu mati. Dan hal tersebut membuat tugas Edrea bertambah.


Saat Edrea sudah menemukan saklar lampu di ruangan tersebut dan ia juga sudah menyalakan lampunya, ia langsung dimanjakan dengan beberapa lukisan indah yang ia sadari jika orang yang ada di dalam lukisan itu adalah dirinya.


"Wahhhhh baru tau gue kalau Leon bisa melukis. Mana hasilnya cakep-cakep lagi. Nanti minta satu ah buat gue bawa pulang," ujar Edrea sembari terus melangkahkan kakinya hingga langkah kakinya terhenti tepat di depan lukisan yang terpajang di paling ujung ruangan tersebut.


"Mereka siapa?" tanya Edrea penasaran. Dan saat ia menyentuh lukisan tersebut. Bingkai lukisan itu tampak goyah. Dan beberapa saat setelahnya lukisan tersebut bergeser dengan sendirinya.


Lalu lukisan itu terhenti saat benda itu sudah memperlihatkan isi dibalik lukisan tersebut yang merupakan foto asli dari lukisan itu.


Edrea yang penasaran pun tangannya kini mengambil foto tersebut. Dan setelah mengamati juga membaca tulisan yang berada tepat di bawah foto tersebut dan tulisan di balik foto itu, Edrea menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia ketahui saat ini.


...****************...


Disisi lain, Leon yang baru selesai membereskan pekerjaannya pun ia kini bergegas keluar dari ruang kerjanya dan berniat untuk merebahkan tubuhnya dikamarnya sebelum nantinya ia kembali ke rumah Edrea.


Dan saat Leon sudah sampai didepan kamar pribadinya tangannya bergerak untuk membuka pintu tersebut.


Namun Ia kini berdecak saat tau pintu di kamarnya itu tengah terkunci. Dan saat dirinya ingin mengambil kunci tersebut didalam saku celana sekolahnya, ia dibuat panik saat tak menemukan benda tersebut.


"Lho kok kunci gue hilang," ucap Leon dengan meraba-raba setiap saku yang berada di celana dan bajunya.


"Apa jatuh di ruang kerja kali ya? Hmmm mungkin iya," gumam Leon dan saat dirinya ingin berjalan menuju ruang kerjanya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat ia mengingat sesuatu.


"Sebentar, bukannya gue tadi sebelum masuk ke ruang kerja, gue masuk dulu ke kamar. Dan sepertinya gue tadi lupa gak kunci pintu itu dan---" ucap Leon diakhiri ia membelalakkan matanya.


"Astaga, gue lupa kalau gue tadi gak ngambil kunci kamar gue. Dan gue biarin ngegantung gitu aja. Haishhhhh," ujar Leon dan ia memutar tubuhnya untuk menuju ke kamarnya kembali.


"Tapi kenapa pintu ini bisa kekunci? Dan siapa yang ngambil kunci kamar gue? Apa mungkin salah satu mbak pekerja disini? Hmmm sepertinya memang mereka yang mengambilnya. Dan untuk memastikan, lebih baik gue tanya dulu sama mereka," ucap Leon.

__ADS_1


Kemudian setelahnya Leon kini bergegas menuju ke lantai satu di rumah tersebut dengan sesekali memanggil para pekerja rumahnya itu.


"Mbak!" teriak Leon menggema di seluruh rumah tersebut yang membuat para pekerja tersebut berbondong-bondong menghadap kepada dirinya yang baru sampai di lantai satu rumah itu.


"Iya tuan ada apa?" tanya salah satu art tersebut.


"Begini Mbak. Saya tadikan lupa gak ambil kunci kamar saat saya keluar. Dan kunci itu saya gantungkan begitu saja di kenop pintu. Apa salah satu dari kalian yang mengambil kunci kamar saya dan menyimpannya?" tanya Leon sembari menatap satu-persatu para art dihadapannya tersebut.


"Saya tidak mengambilnya tuan karena dari tadi saya beres-beres di belakang rumah," jawab salah satu art tersebut.


"Yang lainnya?" tanya Leon yang langsung mendapat gelengan kepala dari semua orang di hadapannya tersebut.


"Ini beneran gak ada yang pegang kunci kamar saya?" tanya Leon untuk memastikan. Namun lagi-lagi ia mendapatkan jawaban yang sama. Dan hal tersebut membuat Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kalau kayak gini saya mau masuk ke kamar pakai apa dong mbak? Mana kunci cadangan di rumah Edrea lagi," ucap Leon gusar karena ada hal penting yang ingin Leon ambil dari kamarnya itu.


"Kita juga tidak tau tuan. Karena kamar tuan hanya memiliki dua kunci saja. Yang satu kunci utama dan yang satu kunci cadangan. Dan dua-duanya tuan sendiri yang pegang," tutur salah satu art tersebut.


Leon yang sudah tak tau harus bagaimana pun ia kini memijit pangkal hidungnya.


"Ya sudah lah mbak. Biar nanti saya ambil kunci cadangan di rumah Edrea. Dan maaf sudah mengganggu waktu kerja kalian. Kalian boleh kembali melakukan tugas kalian masing-masing," ujar Leon yang diangguki oleh para pekerja di rumahnya tersebut sebelum mereka satu persatu pergi dari hadapan Leon.


Sedangkan Leon, ia kini melangkahkan kakinya berniat untuk menyusul Callie dan Edrea yang ia pikir masih bermain di ruang keluarga sesuai dengan yang dikatakan oleh kedua bodyguardnya tadi saat mereka berada ruang kerjanya.


Tapi saat ia sudah memasuki ruangan tersebut, ia mengerutkan keningnya saat dirinya tak melihat keberadaan Edrea di ruangan itu melainkan ia hanya melihat Callie yang tengah duduk sendiri di ruangan tersebut di temani oleh televisi dan cemilan yang berada di pangkuannya.


"Lho Callie kenapa sendirian disini? Mommy kemana?" tanya Leon saat dirinya sudah mendekati anak perempuannya tersebut bahkan ia sekarang sudah duduk di samping Callie.


Sedangkan Callie yang mendapat pertanyaan itu pun ia hanya melirik sekilas kearah Leon.


"Callie lagi butuh sendiri Dad. Dan Mommy, Callie kunci di kamar Daddy. Karena Mommy gangguin Callie tadi," ucap Callie dengan polosnya. Tapi ucapannya tersebut justru membuat Leon melebarkan matanya.


"Apa? Daddy tidak salah dengar kan? Mommy, kamu kunci di kamar Daddy?" Callie tampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan oleh Leon tadi.


"Astaga. Berarti kamu yang udah ambil kunci Daddy?" lagi-lagi pertanyaan dari Leon tadi dijawab anggukan kepala oleh anak perempuan tersebut.


"Katakan dimana Callie menyembunyikan kunci kamar Daddy," ucap Leon dengan suara yang cukup lantang.


"Ck, Daddy bicaranya biasa aja kali. Jangan bentak-bentak Callie seperti itu," ujar Callie tak terima.


"Huh, maaf Daddy kelepasan. Sekarang Daddy minta kunci kamar Daddy di balikin, boleh kan?" ucap Leon dengan suara yang ia lembut kan kembali.


"Tidak boleh. Kalau Callie berikan kunci itu sama Daddy, pasti Daddy langsung bukain pintu buat ngeluarin Mommy dari kamar Daddy. Dan perlu Daddy tau, Callie sekarang lagi marah sama Mommy. Karena Mommy tadi ganggu Callie saat Callie lagi nonton kartun kesukaan Callie. Callie tidak mau diganggu lagi sama Mommy, Dad," ujar Callie.


"Callie tidak perlu khawatir. Daddy janji tidak akan membiarkan Mommy menggangu Callie lagi. Tapi Daddy mohon kembalikan kunci kamar Daddy," ucap Leon dengan menengadahkan tangannya di depan Callie.


Callie yang melihat ekspresi wajah sang Daddy yang penuh permohonan pun akhirnya hatinya itu luluh dan berakhir ia kini bergerak dan berlari menuju ke arah dapur. Dan tak berselang lama ia kembali dengan membawa kunci tersebut ditangannya.


"Ini Dad kuncinya. Tapi Daddy harus ingat dengan janji Daddy tadi untuk tidak membiarkan Mommy menganggu Callie lagi nanti atau seterusnya," ujar Callie sembari mengulurkan jari kelingkingnya yang langsung dibalas dengan jari kelingking milik Leon.


"Daddy janji sayang," ucapnya. Dan hal tersebut membuat Callie kini benar-benar menyerahkan kunci kamar tersebut ke tangan Leon.


Tapi baru saja kunci itu mendarat di tangan Leon, laki-laki itu sempat terkejut saat merasakan suhu dingin di kunci tersebut. Mungkin Callie menyembunyikan kunci itu didalam kulkas, batin Leon. Namun saat ia ingin bertanya langsung kepada Callie mengenai persembunyian kunci tadi, ia tiba-tiba teringat dengan perkataan Callie sebelumnya mengenai Edrea yang sekarang tengah berada di kamarnya karena ulah anak perempuannya itu.


Dan hal tersebut membuat Leon segera berlari menuju ke lantai dimana kamarnya itu berada dengan hati yang sedang harap-harap cemas sekaligus khawatir. Bahkan ia juga sempat takut, bukan karena takut jika kamarnya akan menjadi korban kekesalan Edrea, melainkan ia takut jika Edrea mengetahui sesuatu yang selama ini ia rahasiakan dari kekasihnya itu.

__ADS_1


...****************...


Oke fiks author ngambek, bye😑


__ADS_2