The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 365


__ADS_3

"Adam. Anak Mommy!" teriak Mommy Della sembari berlari kearah Adam. Dan karena teriakan itu, membuat Adam mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang langsung membuat dirinya tersenyum lebar.


"Hay Mommy," sapa Adam yang membuat Mommy Della kini langsung berlari kearah anak laki-lakinya itu. Lalu tanpa aba-aba ia memeluk tubuh Adam yang hampir saja terjungkal kebelakang, namun untungnya laki-laki itu bisa langsung menyeimbangkan tubuhnya hingga hal tersebut tak terjadi.


"Mommy kangen Adam," ujar Mommy Della yang sekarang berada di dalam pelukan anak laki-lakinya tersebut.


Lagi-lagi suara Mommy Della semakin membuat Adam melebarkan senyumannya.


"Adam juga kangen sama Mommy. Maafin Adam yang tidak menempati janji Adam untuk pulang lebih awal," ucap Adam penuh sesal.


Mommy Della kini melepaskan pelukannya lalu kepalanya ia tengadahkan agar bisa melihat wajah rupawan anaknya itu.


"Ishhhh kamu mah kebiasaan. Janjinya kapan datangnya kapan. Mengulur waktu terus. Mommy bahkan sampai kepikiran kalau kamu mau menghindari keluarga ini terutama Mommy karena kamu dilangkahi oleh adik-adik kamu. Lagian kamu juga kenapa betah banget sendiri sih. Gak punya keinginan buat cari calon istri gitu?" Adam mendengus saat sang Mommy mulai bawel masalah dirinya yang terus saja betah melajang.


"Adam belum mau mikir kesana Mom. Adam masih mau menikmati masa muda Adam dulu. Adam juga masih mau fokus dengan kerjaan Adam, Mom. Lagian Adam juga belum punya rumah pribadi yang sangat besar seperti rumah ini. Karena cita-cita Adam, sebelum Adam menikah, Adam harus punya rumah seperti ini, punya mobil banyak, punya motor sport banyak, dan tabungan banyak juga, supaya anak dan istri Adam nanti hidupnya bisa terjamin," ujar Adam.


"Itu mah cuma alasan kamu saja. Sebenernya kamu itu sudah bisa beli apa yang kamu sebutkan tadi, tapi kamu terlalu pelit untuk mengeluarkan uang dari tabungan kamu," ucap Mommy Della.


"Astaga Mom. Tabungan Adam belum ada seberapa. Mungkin kalau buat beli mobil baru dan beberapa motor sport masih bisa tapi Adam lebih mengutamakan rumah dulu. Percuma saja kan kalau Adam beli transportasi tapi tempat untuk singgah masih di apartemen. Kalau gitukan jadinya jomplang banget Mom." Mommy Della tampak membisu, diam-diam membenarkan dan mensetujui apa yang di katakan oleh Adam tadi.


"Oh ya Mom, Rea sudah selesai make-upnya?" tanya Adam yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka sebelum Mommy Della nanti akan menerornya kembali tentang masalah pernikahan.


"Hmmm sebelum Mommy keluar dari kamarnya tadi, makeup dia sudah siap dan baru ganti bajunya. Mungkin kalau sekarang semuanya sudah beres," ujar Mommy Della.


"Kalau begitu, Adam boleh kesana kan?" Izin Adam.


"Oh ya udah kalau kamu mau kesana, kesana saja. Lagian dia dari tadi juga nungguin kamu. Buruan gih, sebelum acaranya nanti dimulai," ucap Mommy Della.


"Oke deh Adam kesana dulu. Bye Mom." Adam mengecup pipi Mommy Della sebelum dirinya bergegas keluar dari kamar pribadinya menuju ke kamar Edrea sembari tangannya sibuk memakai tuxedo.


Mommy Della yang melihat punggung Adam yang sudah menghilang dari pandangannya pun ia kini menghela nafas lega. Hatinya yang beberapa hari ini gemuruh dan tak tenang, akhirnya hari ini juga ia bisa menghela nafas lega setelah melihat Adam secara langsung dalam keadaan sehat seperti yang ia lihat terakhir kalian beberapa bulan lalu.


Sedangkan disisi lain, Adam yang baru sampai di depan pintu kamar Edrea tangannya kini mulai terulur untuk mengetuk pintu tersebut hingga suara sautan dari dalam yang mempersilahkan dirinya untuk masuk pun ia segara memutar kenop pintu tersebut dan mendorongnya hingga pintu dihadapannya kini terbuka lebar.


"Abang!" teriak Edrea histeris. Dan saat dirinya ingin melangkah kakinya kearah Adam, Adam lebih dulu mencegahnya.


"Stop, tetap disitu biar Abang saja yang kesana," ujar Adam. Ia takut adiknya yang sepertinya tengah keberatan gara-gara gaun yang ia kenakan saat ini, membuat Edrea terjatuh dan berakibat riasannya nanti akan rusak.


Edrea yang mendengar perintah dari Adam pun dengan patuh ia kembali mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa di kamarnya itu.


Dan setelah Adam mendudukkan tubuhnya disampingnya. Edrea baru memeluk tubuh Adam.


"Dek, sepertinya kamu jangan peluk Abang dulu deh," ucap Adam sembari melepaskan pelukan dari Edrea tadi secara paksa.


"Ihhhh emangnya kenapa? Rea kan kangen sama Abang. Masak saat Rea kangen begini, Abang gak mau di peluk sih. Ck, jahat," ujar Edrea dengan tangan yang terlipat di depan dada dan jangan lupakan dengan kerucutan di bibirnya.


"Ehhhh maksud Abang bukan begitu. Abang mau kok kamu peluk seperti biasanya, tapi untuk sekarang jangan dulu. Abang takut kalau makeup kamu nanti nempel di baju Abang ini. Kalau baju Abang yang kotor sih gak masalah, tapi kalau makeup kamu yang rusak, itu akan memakan banyak waktu sedangkan rombongan keluarga Leon, kata Daddy tadi sudah otw kesini. Jadi kamu tahan diri kamu dulu. Kalau nanti acaranya sudah selesai baru peluk-peluk lagi. Paham kan maksud Abang, sayangnya Abang yang paling cantik?" ujar Adam sembari mencolek lengan Edrea berulangkali.


"Ck, iya-iya Rea paham," ucap Edrea yang masih terdengar tak terima dengan keputusan dari Adam tadi.


"Kalau memang sudah paham, adik Abang yang sebentar lagi akan menjadi ratunya tuan Elsworth gak boleh manyun gitu dong bibirnya. Kalau manyun gitu kan kelihatan jelek banget. Malu tau kalau keluarga besar Leon nanti lihat kamu cemberut gini. Maka dari itu kamu sekarang harus smile," tutur Adam sembari menunjukkan senyum manisnya yang hanya mendapat lirikan mata dari Edrea.


"Rea lagi gak mood buat senyum," ujar Edrea yang masih menekuk wajahnya.


"Lho kok gitu. Apa Rea sekarang lagi ngambek sama Abang?" tanya Adam yang sama sekali tak mendapat jawaban dari Edrea.


Adam yang sebenarnya tidak perlu mendengar jawaban dari Edrea pun ia sudah bisa menebaknya jika tebakannya itu memang benar adanya. Edrea sekarang tengah merajuk kepadanya.


"Baiklah, Abang mengalah. Abang gak mau lihat Rea cemberut seperti ini lagi. Jadi kalau Abang punya salah sama Rea, Abang minta maaf ya. Dan sekarang Rea boleh peluk Abang tapi hati-hati ya jangan sampai makeup kamu luntur nanti," ucap Adam sembari merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut pelukan hangat dari Edrea.


"Abang jahat ihhh. Padahal Rea cuma mau peluk aja bukan yang lain tapi Abang gak ngebolehin Rea buat peluk Abang pakai alasan makeup Rea segala lagi. Kalau makeup Rea rusak, bodoamat lah yang terpenting kerinduan Rea sudah mendapat obatnya," ujar Edrea yang semakin mengeratkan pelukannya. Dan hal tersebut membuat Adam ketar-ketir. Takut jika apa yang ia katakan tadi terjadi.

__ADS_1


"Tapi kalau makeup kamu itu beneran luntur kamu nanti akan menyesal di kemudian hari saat melihat wajah kamu yang jelek terpampang nyata di album pernikahan kamu. Dan saat kamu nanti punya anak yang ada anak kamu nanti akan menertawakan wajah kamu yang mungkin akan mirip seperti ondel-ondel gara-gara makeup yang gak rata. Emang kamu mau di ketawain sama anak kamu sendiri?" tanya Adam sebagai membayang para keponakannya yang entah kapan akan di proses itu menertawakan Edrea.


Edrea yang kini menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Adam yang kini tengah tersenyum pun tak terasa bibirnya juga ikut melengkung ke atas.


"Mereka tidak akan berani menertawakan Mommynya sendiri. Kalau sampai mereka sekurang ajar itu, Rea tinggal balikin lagi dia ke dalam perut Rea," ucap Edrea yang berhasil membuat tawa Adam pecah.


"Mana bisa mereka mau kamu kembalikan ke perut lagi, yang ada perut kamu gak akan muat jika harus di huni sama anak-anak kamu nanti," ujar Adam.


"Ya kalau gak muat, tinggal tuker saja mereka dengan sapi atau kerbau sekalian." Lagi-lagi ucapan dari Edrea yang entah dibagian mana yang lucu, kini membuat Adam tertawa kembali.


"Kamu ini ada-ada saja. Masak anak sendiri mau di tukar sama hewan peliharaan," ujar Adam yang tak terasa ia kini mengeratkan pelukannya ke tubuh Edrea.


Hingga beberapa saat tak ada yang membuka suara karena keduanya sekarang tengah menyalurkan kerinduan yang sempat tertahan itu. Sampai Adam kini mulai berbicara kembali.


"Rea," panggilnya.


"Ya?"


"Jaga diri Rea ya. Kalau Leon nanti berani nyakitin kamu. Ngomong sama Abang, biar Abang hajar dia." Edrea kembali terkekeh mendengar ucapan dari Adam itu. Karena terus terang saja jika dibandingkan dengan Azlan dan Erland, Adam lah yang paling lemah dalam urusan bela diri. Ia tidak terlalu menyukai olahraga yang satu itu.


"Yakin Abang mau lawan Leon?"


"Yakin lah," jawab Adam penuh percaya diri.


"Tapi Rea gak yakin Abang akan menang melawan Leon. Karena tingkat bela diri Leon tuh jauh lebih tinggi dan lebih jago di banding bang Az dan bang Er. Sedang kan Abang melawan salah satu dari mereka saja udah kao duluan, gimana kalau lawan Leon, bisa-bisa langsung dibawa ke UGD nanti," ujar Edrea.


"Wahhhhh tampaknya kamu meremehkan Abang."


"Kalau iya memangnya kenapa. Lagian Rea mengatakan hal itu juga menurut fakta bukan hanya fitnah semata," ucap Edrea.


"Wahhhhh gak bisa di biarin ini. Apa kamu sekarang butuh bukti kalau Abang ini sebenarnya lebih kuat dari Leon?" Edrea menaikkan salah satu alisnya.


"Bukti apa coba? Apa yang mau Abang lakukan?" tanya Edrea penasaran.


"Gampang saja. Abang bisa menyuntikkan Leon dengan obat dosis tinggi dengan porsi yang tidak sesuai dengan semestinya. Abang akan jamin setelah obat itu beraksi, Leon akan terkapar di rumah sakit dan mungkin dia juga bisa kehilangan nyawanya. Kamu mau? Kalau kamu benar-benar mau bukti itu, Abang bisa mengabulkannya sekarang," ujar Adam yang berhasil membuat Edrea melongo. Dan pertanyaannya tadi langsung mendapat gelengan kepala dari Edrea.


"Jangan dong bang. Ya kali Leon harus mati disaat kita mau menikah seperti ini. Nanti saja kalau dia selingkuh baru Abang boleh menyuntikan obat yang Abang maksud itu kedalam tubuh Leon. Tapi kalau dia gak selingkuh, ya jangan dong masak iya Rea jadi janda kan gak banget," ucap Edrea.


"Jadi apa kamu sekarang percaya kalau Abang lebih kuat dari Leon?" Edrea mencebikkan bibirnya. Ingin sekali ia mengatakan tidak tapi ia masih sayang nyawa Leon dan ia juga tak mau menjanda di usia muda yang pastinya akan berakhir menjadi buah bibir orang lain nantinya.


"Iya deh iya. Abang yang paling kuat diantara Leon, bang Az, bang Er ataupun Daddy," ujar Edrea yang terpaksa meng-iya-kan ucapan Adam tersebut.


"Nah gitu dong. Dari tadi kek, kan Abang gak perlu repot-repot buat menyombongkan diri Abang di hadapan kamu seperti tadi. Tapi kalau di pikir-pikir tak apa lah. Kamu kan juga perlu tau sehebat apa Abangmu ini," ucap Adam yang membuat Edrea kini memutar bola matanya malas. Tapi sesaat setelahnya ia kembali mengeratkan pelukannya di tubuh Adam sembari menghirup aroma tubuh Abangnya itu yang benar-benar membuat siapapun yang menciumnya akan langsung dibuat candu.


Saat kedua orang itu masih dalam acara melepas rindu, pintu kamar Edrea terketuk dari luar dan hal tersebut membuat keduanya kini melepaskan pelukannya masing-masing.


Dan beberapa saat setelah suara ketukan itu terdengar, pintu kamar tersebut langsung terbuka lebar yang memunculkan Mommy Della di belakang pintu tersebut.


"Rea, udah siap kan nak? Kalau udah siap, kita keluar sekarang karena keluarga Leon sudah tiba dan sebentar lagi, acara ijab kabul akan di laksanakan," ujar Mommy Della.


Edrea yang masih duduk disamping Adam dengan reflek ia meraih tangan Adam dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Deg-degan ya?" tanya Adam yang sangat peka dengan apa yang tengah Edrea rasakan saat ini.


"Udah jangan deg-degan. Rileks aja oke. Ini hanya ijab kabul saja bukan mau debus," sambung Adam yang membuat Edrea mendengus sebal. Menenangkan sih menenangkan tapi mbok ya dengan cara apa gitu bukan malah membandingkan hal yang baik dengan hal yang buruk juga dong.


"Abang ish, gak lucu tau," ucap Edrea.


"Lah kan Abang emang gak lagi ngelawak dek, jadi ya maklumlah kalau gak lucu. Gimana sih kamu ini," timpal Adam yang membuat Edrea kini berdecak sebal.


"Terserah abang lah," ujar Edrea sembari berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Eh eh eh tungguin Abang dong," ucap Adam saat Edrea mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar tersebut.


Dan saat dirinya berhasil menyamai langkah Edrea, ia kini mengulurkan tangannya yang membuat Edrea kini mengerutkan keningnya.


"Mau apa?" tanya Edrea tak santai. Ia takut jika abangnya itu akan menjahilinya lagi nanti.


"Ck, genggam tangan Abang. Abang akan mengantarkan kamu ke samping calon suami kamu," ujar Adam.


Edrea melirik sekilas tangan Adam tersebut, memastikan jika abangnya itu benar-benar tak ingin menjahili dirinya. Dan karena dirinya ragu untuk menggenggam telapak tangan Adam, ia memilih melingkarkan tangannya di lengan Adam. Dan hal tersebut membuat Adam tersenyum kearah Edrea yang dibalas senyuman pula oleh sang empu.


Sepasang Abang dan adik tadi terus berjalan menuruni anak tangga di rumah itu satu persatu hingga semua pasang mata tertuju kearah mereka berdua.


Leon yang melihat pujaan hatinya yang selama beberapa hari ini tak ia lihat pun matanya kini berbinar. Terpancar rasa bahagia, haru, bangga, dan kekaguman dibalik mata itu yang tak bisa ia ungkapkan hanya dengan kata-kata saja. Hari ini perasaan benar-benar dibuat campur aduk. Namun rasa bahagianya lebih dominan daripada perasaan yang lainnya.


Matanya terus tertuju kearah Edrea hingga perempuan itu telah sampai di sampingnya pun Leon tak juga memutus pandangannya itu.


Edrea yang lama-lama risih di lihat secara intens seperti saat ini pun ia kini menyenggol lengan Leon agar laki-laki itu kembali tersadar.


"El, jangan lihatin aku seperti itu. Waktunya tidak tepat, El," bisik Edrea yang berhasil membuat mata Leon kini mengerjab berkali-kali.


"Ini semua juga gara-gara kamu tau sayang. Kamu hari ini benar-benar sangat cantik sekali," puji Leon yang bukannya membuat wajah Edrea tersipu malu atas pujiannya itu, ia justru langsung mendapat pelototan mata dari Edrea.


"Ohhh jadi maksud kamu, di hari-hari sebelumnya aku tidak terlihat cantik gitu?" Leon yang sepertinya telah salah bicara pun ia kini mengigit bibir bawahnya. Belum juga mereka sah menjadi pasangan suami istri masak iya mereka sudah bertengkar seperti ini. Kan gak banget!


Dan saat Leon ingin menjelaskan apa yang ia katakan tadi, suara dari penghulu mengurungkan niatnya.


"Baik, berhubungan semuanya sudah berada di tempat. Kita mulai saja acara ijab kabulnya," ucap penghulu tersebut.


"Tuan Leon sudah siap?" Leon yang ditanya seperti itu, ia menganggukkan kepalanya sembari menghela nafas berkali-kali untuk menghilangkan rasa berdebar di dadanya itu.


"Tuan Aiden sudah siap?" Daddy Aiden dengan mantap ia menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu silahkan saling berjabat tangan." Daddy Aiden lebih dulu mengulurkan tangannya dihadapan Leon. Leon yang melihat tangan Daddy Aiden, dengan tangan yang bergetar ia membalas uluran tangan tersebut.


Saat Daddy Aiden merasakan dinginnya tangan Leon, ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak jika ia tak ingat situasi saat ini. Dan dengan sekuat tenaga, Daddy Aiden memilih untuk menahan tawanya.


Dan setelah dipastikan dua tangan itu saling bersalaman, penghulu itu memberikan instruksi kepada Daddy Aiden untuk segera mengucap kata-kata ijab.


Daddy Aiden yang mengerti pun ia kini menghela nafas panjang sebelum ia kini mulai mengucapkan ijab.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Elsworth Leonardo Grissham bin Carlos Tevez Grissham almarhum dengan anak kandung saya Edrea Dwyne Abhivandya binti Aiden William Abhivandya dengan mas kawin satu unit rumah, satu set perhiasan dan uang tunai 1 milyar rupiah dibayar tunai!"


Leon menghirup oksigen dalam-dalam. Setelah itu ia mulai mengucapakan kata-kata kabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Edrea Dwyne Abhivandya binti Aiden William Abhivandya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Leon dengan satu tarikan nafasnya dan dengan sangat lantang.


Daddy Aiden yang mendengar hal tersebut pun ia kini tersenyum bangga kearah Leon.


"Gimana para saksi sah?" Ucap penghulu dan dijawab teriakan sah oleh semua orang yang berada di sana juga tak lupa dengan sorakan kebahagiaan dari kedua keluarga mempelai. Dan setelah itu situasi kembali kondusif saat penghulu mulai membacakan doa-doa.


"Aamiin," ucap mereka semua setelah penghulu selesai mengucapkan doa-doa tersebut.


"Selamat kalian berdua sekarang sudah sah menjadi suami istri dimata agama ataupun di mata hukum. Dan silahkan Nona mencium tangan suaminya," titah penghulu tersebut yang langsung membuat keduanya kini saling berhadapan satu sama lain. Dan saat tatap mata mereka bertemu, senyum kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka yang tadinya sempat menegang itu.


Edrea kini mengambil tangan Leon untuk ia cium. Dan momen tersebut langsung diabadikan oleh semua orang yang berada di tempat tersebut.


Lalu tanpa di perintahkan terlebih dahulu karena Leon sudah tau apa yang setelahnya akan terjadi pun ia segara mencium kening Edrea cukup lama agar orang-orang disana tidak berebutan untuk mengambil gambar mereka.


Dan setelah melakukan hal tersebut, lagi-lagi mereka saling melempar senyum satu sama lain. Mereka sekarang bangga dengan pasangan masing-masing.


Leon yang bangga kepada Edrea karena telah memilih kembali setelah keluarganya itu sempat menorehkan luka yang cukup dalam di hidupnya.

__ADS_1


Sedangkan Edrea, ia benar-benar bangga dengan keteguhan hati Leon yang benar-benar tak pernah goyah dari cinta mereka dan tak lupa dengan kegigihan Leon untuk memperjuangkan dirinya dan berusaha untuk melindungi dirinya walaupun hanya di balik layar saja. Dan berakhir dirinya mengakui hal tersebut karena ketahuan oleh Edrea langsung bukan karena mengaku sendiri. Dan karena usaha dan perjuangan Leon itu, kini cinta mereka bersatu. Tidak akan ada lagi orang yang berniat untuk memisahkan mereka lagi. Karena mereka sekarang satu dan hanya bisa di pisahkan dengan kematian saja. Dan Edrea maupun Leon berjanji tidak akan pernah melukai hati pasangan mereka masing-masing. Mereka akan selalu menjaga rumah tangga yang baru beberapa menit itu terjalin hingga maut yang akan menghancurkannya nanti dengan seizin sang maha kuasa tentunya.


__ADS_2