
Erland kini berlari memasuki rumahnya kembali saat dirinya tadi bertanya kepada satpam di rumah tersebut. Dan dengan nafas ngos-ngosan, ia mulai angkat suara kala dirinya telah bergabung dengan keluarganya yang sekarang tengah berkumpul di ruang tamu.
"Kata Pak Bul, mobil Jio pergi kearah timur," ucap Erland yang semakin membuat Vivian panik bukan main.
"Ke timur. Dia mau kemana? Arah pulang kerumah itu ke barat bukan timur. Mom, Jio benar-benar pergi menjauh dari Vivian," ujar Vivian dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
Mommy Della yang juga menyesal karena tak memperhatikan Zico pun ia tak kalah khawatirnya dengan Vivian. Tapi ia mencoba untuk tenang agar Vivian tak semakin panik. Bahkan kini tangannya terulur untuk memeluk tubuh Vivian agar anak perempuannya itu sedikit tenang.
"Dad akan suruh anak buah Dad melacak keberadaan Jio. Dan Dad pastikan jika malam ini juga kita akan menemukan Jio dan kembali membawa pulang dia kesini," tutur Daddy Aiden dengan mengelus kepala Vivian. Lalu setelah ia melakukan hal tersebut, Daddy Aiden langsung menjauh dari keluarganya untuk menelepon salah satu anak buahnya.
Erland yang tak tega melihat kesedihan yang tengah melanda Kakaknya itu pun, ia menghela nafas sebelum akhirnya ia mulai angkat suara.
"Er, juga akan bantu buat cari Jio," timpal Erland yang langsung bergerak meninggalkan rumah tersebut, berniat untuk menelusuri setiap jalan raya. Siapa tau mobil Zico berhenti di tepi jalan dan laki-laki itu tengah menenangkan dirinya, pikir Erland. Tapi sebelum dirinya benar-benar pergi, ia tadi juga menyempatkan dirinya untuk menghubungi anak buahnya untuk berkumpul dan membantunya untuk menelusuri jalan raya disekitar rumahnya.
Sedangkan Azlan yang sedari tadi tengah sibuk dengan ponselnya pun ia kini mendekati istrinya.
"Aku nyusul Erland dulu. Kamu disini, jangan kemana-mana," ujar Azlan yang diangguki setuju oleh Zea. Azlan yang melihat persetujuan dari sang istri pun ia menyempatkan diri untuk mengecup kening Zea sebelum dirinya bergegas pergi menyusul Erland yang lebih dulu pergi dari rumah tersebut.
"Aku ikut mereka berdua. Jika ada apa-apa di rumah kabari aku segera. Dan kamu tetap disini jangan ikut cari Jio kemanapun. Mengerti?" Edrea yang mendapat titahan dari calon suaminya pun mendengus sebelum ia menganggukkan kepalanya, meng-iya-kan ucapan Leon tadi. Dan sama seperti yang di lakukan oleh Azlan sebelumnya, sebelum pergi Leon juga menyempatkan dirinya untuk mencium kening Edrea.
Dan sepeninggalan ke-tiga laki-laki tadi, suasana ruang tersebut tampak sunyi, hanya ada isakan dan gumam dari Vivian saja yang mengisi kesunyian di ruangan tersebut.
...****************...
Disisi lain, tepatnya di rumah sakit, Zico yang tadi sempat menenangkan dirinya, ia kini kembali ke depan ruang UGD setelah di rasa telinganya siap untuk menerima perkataan dari ibu-ibu yang selalu membanggakan anaknya sendiri itu.
Dan benar saja, baru juga dirinya mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi tunggu yang jauh dari kursi tunggu dua perempuan tadi, ternyata keduanya masih saja gencar-gencarnya mendekati Zico dan mencoba meluluhkan hati laki-laki tersebut.
"Nak, Jio sudah makan?" tanya ibu-ibu itu untuk sekedar basa-basi.
"Sudah," jawab Zico singkat.
"Ck, sayang sekali. Kalau nak Jio tadi belum makan, nak Jio bisa pergi makan dulu sama anak saya. Kebetulan anak saya belum makan dari tadi sore." Diam, Zico hanya terdiam setelah mendengar ucapan dari ibu-ibu tadi tanpa berniat menimpali ataupun menawarkan dirinya untuk menemani gadis tersebut. Tidak, ia tak akan mau melakukan hal tersebut. Dan biarkan saja dirinya dianggap tak peka atau apalah, ia tak peduli sama sekali!
Saat perkataannya tadi tak mendapat respon apapun dari laki-laki incarannya, gadis tersebut menyenggol lengan ibunya dengan kerucutan di bibirnya.
"Tenang saja. Mama pasti bisa meluluhkan hatinya," bisik wanita paruh baya tadi yang sayangnya masih terdengar jelas di indra pendengaran Zico yang memang cukup tajam itu.
Dan hal tersebut membuat Zico memutar bola matanya malas.
"Ayolah dok, cepat keluar!" geram Zico yang sudah tak tahan harus berlama-lama berdekatan dengan dua perempuan tersebut.
__ADS_1
Ingin sekali ia pergi dari rumah sakit dan meninggalkan dua orang tadi. Tapi sayangnya ia masih ingat akan tanggungjawab atas apa yang ia dapatkan kala ia menyetir mobil dalam keadaan melamun itu.
"Ehemmm nak Jio," panggilan dari wanita paruh baya tadi membuyarkan lamunan Zico.
"Astaga. Apa lagi ini? Bisakah aku menyumpal mulut ibu-ibu ini dengan kaos kakiku, sungguh suaranya sangat-sangat mengganggu ketenanganku," batin Zico diakhiri dengan ia mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.
"Nak Jio, ibu boleh minta tolong tidak." Zico menghela nafas sebelum ia menolehkan kepalanya dengan salah satu alis terangkat.
"Itu, ibu mau minta tolong nak Jio temani anak ibu untuk makan malam. Kasihan dia kalau harus menunggu sampai kita kembali kerumah nanti. Ibu juga takut penyakit lambungnya kembuh," ucap ibu-ibu tadi dengan wajah memelas.
"Kenapa tidak anda saja yang menemani putri anda? Kenapa harus saya?" tutur Zico dengan bahasa formalnya yang justru membuat wanita paruh baya tadi menggaruk tengkuknya.
"Itu, ibu capek nak. Kita berdua tadi hanya jalan kaki dari rumah menuju swalayan dan jaraknya cukup jauh sekitar 1 kilometer," alasan ibu-ibu tadi.
"Swalayan?" tanya Zico yang diangguki kedua orang tadi.
"Iya, rencananya sih begitu. Tapi belum sampai di swalayan, eh malah kita lihat kejadian tadi di depan mata kita, alhasil kita berhenti dan lebih baik kita berdua menolong orang itu dulu," ujar ibu-ibu tersebut untuk memperkuat alasannya sebelumnya.
Sedangkan Zico yang tak ingin berpikir negatif terhadap oranglain pun ia menganggukkan kepalanya, walaupun ia tak percaya sepenuhnya dengan dua orang di sampingnya itu. Tapi ya sudahlah, iya-in aja biar mereka cepat diam.
"Jadi gimana nak, bisa kan kamu nemenin anak ibu buat makan malam?"
"Maaf, saya tidak bisa. Saya disini memiliki tanggungjawab yang lebih besar kepada seseorang yang masih di tangani oleh para medis didalam ruangan itu daripada menemani putri anda untuk makan malam," ujar Zico tanpa menatap kearah dua orang disampingnya itu.
"Sekali lagi maaf ibu. Saya tidak bisa menemani putri anda. Karena menunggu disini lebih penting daripada bersama putri anda. Jadi saya mohon dengan sangat, jika putri anda lapar, temani dia. Kalaupun anda capek, putri anda bisa memesan makanannya lewat online dan nanti biar saya yang membayarnya," tutur Zico.
"Ta---" Belum sempat ucapan gadis yang sedari tadi diam membisu dan mengandalkan ibunya untuk merayu Zico menyelamatkan perkataannya, pintu ruang UGD terbuka dan muncullah dokter yang menangani korban.
Zico yang melihat hal tersebut pun ia segera berdiri dari duduknya dan mulai mendekati dokter tadi.
"Huh, akhirnya," batin Zico, seakan-akan satu bebannya kini telah hilang dibenaknya.
"Gimana keadaan dia, Dok?" tanya Zico saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan dokter tadi yang kini justru tengah tersenyum kearahnya.
"Apakah semua wanita di muka bumi ini sangat gemar menebar senyumannya kepada orang lain? Jika lelaki lain yang di berikan senyuman genit seperti ini mungkin mereka akan senang. Tapi tidak denganku yang justru muak dengan senyuman yang penuh artian itu. Haishhhhh menyebalkan," batin Zico sebal sendiri dibuatnya. Baru saja ia terbebas dari dua manusia tadi, masak iya dia harus dihadapkan dengan manusia lainnya yang menatapnya seperti mangsa yang siap mereka terkam. Menyebalkan!
"Dok," penggilan Zico tadi membuat dokter dihadapannya kembali tersadar.
"Ah iya ada apa?" tanya dokter tersebut.
"Kondisi pasien yang baru saja dokter tangani bagaimana?" geram Zico yang emosinya sudah berada di puncak ubun-ubun jangan sampai emosinya itu meledak dan berakhir rumah sakit ini akan menjadi pelampiasannya nanti.
__ADS_1
"Oh ah, kondisi pasien baik-baik saja. Hanya saja kepalanya tadi bocor. Tapi untuk kondisi tubuhnya yang lain tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun walaupun begitu, pasien harus di rawat inap beberapa hari dulu disini hingga kondisinya benar-benar pulih. Dan sebentar lagi, pasien akan kami pindah ke ruang rawat inap," ujar dokter tadi tanpa melunturkan senyumannya.
Zico yang mendengar penuturan dari dokter tersebut kini ia menghela nafas lega.
"Baiklah kalau begitu. Saya ucapkan terimakasih karena berkat dokter dia bisa selamat," ujar Zico dengan mengulas senyum tipisnya. Hingga hal tersebut membuat dokter tadi hampir saja jatuh ke lantai sebelum salah satu suster menangkap tubuh dokter tadi.
"Aduh, maaf ya Kak. Dokter Okti memang begini. Kalau begitu kita permisi dulu," ujar suster tadi yang sepertinya sedari tadi memperhatikan interaksi antara kedua orang tadi.
Dan dengan jalan yang kesusahan suster tadi membawa dokter Okti menjauh dari Zico dan hal tersebut membuat Zico menggelengkan kepalanya.
Lalu setelahnya ia berjalan mendekati kedua orang yang ikut bersamanya tadi.
"Ibu sudah mendengar penjelasan dari dokter tadi kan kalau orang yang saya tabrak tadi sekarang dalam keadaan baik-baik saja." Wanita paruh baya tersebut menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ibu dan putri ibu sudah bisa pulang sekarang. Biarkan saya yang menunggu pasien sampai dia benar-benar keluar dari rumah sakit ini nanti. Dan maaf, saya tidak bisa mengantar kalian pulang kerumah kalian. Tapi tunggu sebentar." Tangan Zico kini bergerak untuk mengambil dompet yang berada di salah satu saku celananya lalu kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar uang bernilai 100 ribu rupiah, dan setelahnya ia menyerahkannya ke tangan ibu-ibu tadi.
"Untuk ucapan terimakasih dan permintaan maaf dari saya. Sekaligus untuk membayar taksi online yang sudah saya pesan yang nantinya akan mengantar ibu dan putri ibu sampai rumah," ujar Zico. Ya, saat dia mendengarkan ucapan dari ibu-ibu tadi, diam-diam Zico memesankan sebuah taksi online untuk mereka.
Dan setelah menyerahkan uang tadi, Zico buru-buru menyusul para suster yang mendorong brankar orang yang ia tabrak tadi, meninggalkan dua perempuan yang kini menatap punggungnya dengan tatapan geram.
"Mama, gimana sih. Katanya bisa meluluhkan dia. Tapi lihat, dia sekarang malah mengusir kita secara halus seperti tadi," ucap gadis tersebut.
Wanita paruh baya yang tadi mengepalkan tangannya menahan emosinya pun ia kini menghela nafas kemudian mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Untuk saat ini Mama gagal menaklukkan dia, tapi yakinlah suatu saat nanti Mama jamin dia akan bertekuk lutut di hadapan kita," ujar ibu-ibu tersebut dengan penuh keyakinan.
"Ck, jangan banyak omong dulu. Buktikan!" tutur gadis tadi sembari pergi dari samping ibunya dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Kamu sudah membuat anak saya sebal. Jadi jangan salahkan saya, jika suatu saat nanti kamu tidak bisa saya taklukan, saya akan memakai cara kotor untuk mendapatkan kamu untuk anak saya," monolog ibu-ibu tadi dengan menatap kemana arah pergi Zico tadi sebelum akhirnya ia mengikuti langkah putrinya yang lebih dulu meninggalkan rumah sakit tersebut.
Zico yang kini sudah berada di depan kamar inap korban tersebut, ia menyempatkan dirinya untuk menoleh kearah belakang untuk melihat apakah dua perempuan tadi mengikutinya atau tidak. Dan setelah dipastikan kedua orang yang menurutnya gila tadi tak terlihat di penglihatannya, Zico kini menghela nafas lega.
"Akhirnya," ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya di udara. Dan bertepatan dengan itu, para suster yang tadi membawa pasien kini telah keluar, mereka sempat menatap Zico dengan tatapan yang berbeda-beda.
Zico yang baru menyadari keberadaan para suster tersebut pun ia menerbitkan cengiran di bibirnya sembari menggeser tubuhnya agar tak menghalangi para suster tadi untuk pergi dari kamar tadi.
Dan dengan bisik-bisik manja suster-suster tadi mulai menjauh dari Zico. Tapi Zico mana peduli dengan mereka, toh yang mereka lakukan juga tak merugikan dirinya.
Hingga saat suster tadi sudah tak terlihat lagi, Zico mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang kamar inap dari seorang korban yang ia tabrak tadi. Dan seperti apa yang ia katakan kepada dua perempuan gila tadi, jika dirinya akan menunggu korban tersebut hingga dia benar-benar sembuh total dan di perbolehkan untuk pulang ke rumahnya.
Dan saat dirinya sudah masuk kedalam ruangan tadi, ia yang penasaran wajah korban yang ia tabrak itu pun kakinya kini melangkah mendekati brankar pasien.
__ADS_1
Ia menelisik wajah yang kini tampak damai dengan mata yang masih tertutup. Korban yang tadi tak sempat ia lihat dengan detail wajahnya karena ia benar-benar panik, kini wajah korban sudah bisa ia lihat secara langsung tanpa ada halangan darah atau yang lainnya yang menghalangi wajah cantik dari korban tadi.
Bahkan karena kecantikan dari orang tersebut membuat Zico tampak tak bergeming, matanya terus menatap kagum keindahan di depan matanya. Keindahan yang sudah sempat ia lihat sebelumnya, namun waktu itu ia hanya bisa melihatnya dari jarak jauh tapi sekarang keindahan itu bisa ia pandang dengan jarak yang begitu dekat dan sangat-sangat jelas di matanya. Dan tanpa sadar, sudut bibir Zico kini terangkat hingga membentuk sebuah senyuman manis disana yang sayangnya senyuman itu tak bisa perempuan itu lihat.