
Seperti biasa, setelah melakukan makan malam bersama, keluarga Abhivandya pasti akan berkumpul bersama di ruang keluarga hanya untuk sekedar bercanda gurau bersama.
Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, mereka semua akan bergegas kembali masuk kedalam kamar mereka masing-masing walaupun belum bisa memejamkan mata tapi setidaknya kamar lah tempat ternyaman bagi mereka terutama triplets ketika tak ada kegiatan diluar.
Seperti halnya dengan Azlan yang hanya memainkan ponselnya sembari berbaring manja di atas kasur king sizenya. Hingga tak terasa waktu kini menunjukan pukul 11 malam dan pada saat itu matanya sudah tak bisa ia kontrol lagi untuk tetap berjaga dan akhirnya ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dimalam itu.
Berbeda dengan Azlan, Zea justru sekarang tengah mengunci diri didalam kamarnya. Menutup telinga dengan kedua tangannya serta menahan tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah agar bibirnya itu tak mengeluarkan suara Isak tangisnya. Rumah yang beberapa bulan ini sepi kini kembali ramai bukan ramai karena kehangatan yang diterima Zea melainkan ramai karena kedua orangtuanya yang baru pulang setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah tersebut kini tengah saling adu mulut di hadapan Zea tadinya sebelum Zea memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Prank!!
Terdengar bantingan dan pecahan benda yang membuat Zea semakin meringkukkan tubuhnya.
"Apa uang yang kamu terima dariku tak mencukupi kehidupanmu? Apa diluar sana kamu sengaja mengumbar pesonamu agar bisa bersama laki-laki lain yang lebih muda dariku? Apa ada orang lain yang membuat kamu tak betah berdiam diri dirumah hah?" teriakan dari Papa Zea sangat nyaring terdengar.
"Jika iya memangnya kenapa? uang yang kamu berikan buatku hanya sedikit bahkan lebih sedikit dibanding pendapatanku. Hey tolong sadar diri bukannya kamu yang selalu tebar pesona dengan sekertaris murahanmu itu? jika tidak kenapa setiap hari ada saja alasan kamu buat keluar dari rumah ini?" balasan Mama Zea tak kalah nyaring.
Dan tak lama setelah itu terdengar tamparan yang cukup keras dan beberapa barang yang terlempar kemudian pecah.
Zea sudah tak tahan lagi dengan suasana ini. Suasana yang selalu ia dapatkan saat kedua orangtuanya berkumpul satu rumah seperti sekarang ini. Dan hal itu membuat diri Zea muak dan selalu ingin pergi dari rumah itu bahkan dulu ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya agar tak merasakan hal yang cukup pahit dalam kehidupannya yang sedari kecil tak pernah merasakan kasih sayang kedua orangtuanya.
Kini dia beranjak dari duduknya dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang yang sekiranya bisa membawa dirinya keluar dari rumah tersebut.
Dengan lincah Zea menekan nomor Erland karena sahabat satu-satunya itu yang ada di pikirannya sekarang. Tapi sayang Erland tak kunjung mengangkat telepon darinya.
__ADS_1
Zea menghapus air matanya kasar, kemudian dengan random ia memencet nomor di ponselnya yang kebetulan itu adalah nomor Azlan.
"Please Az, gue mohon angkat telepon gue," gumam Zea dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Suara keributan kedua orangtuanya pun juga masih bisa ia dengarkan bahkan semakin menjadi. Tak ada orang yang berani memisahkan kedua orang yang tengah dibakar oleh luapan kemarahan dan emosi yang membara itu.
Tut Tut Tut!
Sambungan telepon tersebut tampak tak diangkat oleh Azlan.
Zea kembali menghubungi nomor Azlan untuk yang kedua kalinya. Ia sangat berharap Azlan untuk kali ini akan mengangkat telepon tersebut walaupun ia tak yakin karena sekarang jarum jam sudah menunjukan pukul 12 malam dimana para orang-orang akan tidur dengan lelapnya.
Tapi sepertinya tuhan tak mengizinkan dirinya untuk tertekan malam ini, pasalnya panggilan keduanya tadi kini mulai tersambung dengan Azlan.
📞 : "Assalamualaikum," ucap Azlan dengan suara khas bangun tidurnya.
📞 : "Emang lo sekarang ada dimana?" tanya Azlan yang sepertinya curiga dengan suara keributan yang samar terdengar dari sambungan telepon itu.
"Gu---gue sekarang dirumah. Az tolong jemput gue sekarang. Bawa gue pergi kemana aja terserah lo yang penting gue gak disini Az, gue mohon."
📞 : "Tunggu sebentar. Gue otw kesana." Setelah mengucapkan hal tersebut sambungan telepon keduanya terputus.
Azlan yang mendengar suara ketakutan dan penuh permohonan dari Zea tadi pun sempat khawatir ditambah ia juga mendengar keributan disana. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah Zea sekarang? Kenapa sangat ribut sekali di malam hari seperti ini bahkan Zea juga tengah menangis? Ada apa sebenarnya? pertanyaan yang terus terngiang di otak Azlan sekarang.
Setelah memakai jaket dan melapisi celana boksernya tadi menggunakan celana selutut, serta mengambil kunci mobilnya, Azlan kini keluar dari kamarnya dan dengan langkah terburu-buru ia menuruni anak tangga rumah tersebut.
__ADS_1
"Mau kemana kamu malam-malam seperti ini?" tanya Daddy Aiden yang ternyata baru keluar dari dapur untuk mengambil air minum.
Azlan menghentikan langkahnya dan menatap wajah Daddy Aiden.
"Azlan izin keluar bentar Dad. Ada teman Azlan yang sekarang lagi butuh bantuan," tutur Azlan sembari mendekati Daddy Aiden.
Daddy Aiden tampak menelisik mata Azlan untuk mencari kebohongan disana tapi jika dilihat lebih dalam lagi, anak pertamanya itu tak lagi sedang berbohong.
"Ya sudah kalau begitu. Pergi sana bantu teman kamu itu. Tapi ingat, jangan pulang terlalu pagi takut Mommymu nanti murka," ucap Daddy Aiden. Azlan pun mengangguk dan segera bersalaman kepada sang Daddy sebelum keluar dari rumah tersebut. Setelah dirinya keluar dari rumah, ia segera mengeluarkan mobilnya dari bagasi kemudian langsung tancap gas menuju rumah Zea.
Dan karena jalanan di malam hari yang sangat sepi hanya beberapa kendaraan saja yang lewat, Azlan dengan leluasa bisa menguasai jalan tersebut dan hanya butuh waktu 15 menit kini ia telah sampai di depan gerbang rumah Zea.
Azlan tak langsung keluar dari mobilnya melainkan ia menghubungi Zea untuk memastikan jika sang empu tadi benar-benar membutuhkan bantuan atau tidak. Siapa tau kan Zea hanya mengigau saja tadi.
📞 : "Halo Az. Lo udah sampai sini?"
"Iya, gue baru sampai dan gue sekarang di depan gerbang rumah lo."
📞 : "Tunggu sebentar Az. Lo jangan keluar dari mobil." Belum juga Azlan mensetujui atau sekedar menjawab ucapan Zea tadi, sang empu sudah lebih dulu memutus sambungan telepon mereka.
Azlan mendengus tapi ia dengan sabar menunggu kedatangan Zea di dalam mobil. 5 menit, 10 menit hingga 15 menit Zea belum juga terlihat di hadapan Azlan. Dan hal itu justru membuat Azlan kembali khawatir, takut jika terjadi sesuatu yang menimpa Zea di dalam rumah itu.
"Apa gue susul dia ya?" gumam Azlan dan setelah berpikir berulang kali akhirnya Azlan memutuskan untuk menghampiri rumah tersebut. Tapi baru saja ia membuka pintu mobilnya, terlihat Zea tengah berlari menghampiri dirinya dengan menyeret koper di tangannya. Tapi yang membuat Azlan terheran, kenapa Zea keluar dari rumah itu tak melewati gerbang di samping mobilnya melainkan gadis itu justru muncul dari arah lain yang ia tak tau dimana pintu rahasia itu berada.
__ADS_1