
Setelah melepas kepergian kelima anggota keluarga mereka, kini Mommy Della, Daddy Aiden dan Erland kembali ke kediaman keluarga Abhivandya. Jika kalian tanya, dimana Adam dan Vivian, kedua orang itu sudah pergi untuk aktivitas masing-masing. Sedangkan Erland dan Daddy Aiden hari ini meliburkan diri dari padatnya aktivitas kantor mereka.
Dan saat ketiganya memasuki rumah tersebut hal pertama yang mereka rasakan adalah sepi, ya rumah itu terasa sangat sepi dan sunyi, seperti ada yang kurang dari rumah tersebut. Dan hal itu membuat Erland kini menghela nafas panjang.
"Mom, Dad. Erland ke kamar dulu," ucapnya dan tanpa menunggu persetujuan dari kedua orangtuanya, Erland langsung berlalu meninggalkan mereka menuju kamarnya.
Tingkah dari Erland yang tak seperti biasa karena laki-laki itu benar-benar terlihat murung sedari kemarin, membuat Mommy Della dan Daddy Aiden saling pandang satu sama lain.
"Dia kenapa sih Dad? Dari kemarin aku lihat-lihat kayaknya dia murung banget. Bahkan yang biasanya dia selalu jahil waktu makan atau kumpul keluarga untuk yang terakhir kemarin dia sama sekali gak rusuh seperti sebelum-sebelumnya. Apa dia lagi ada masalah?" tanya Mommy Della kepada sang suami. Yakin lah, dia sekarang sangat khawatir dengan anak laki-lakinya itu. Ia takut jika Erland memiliki masalah dan hanya di pendam sendiri tanpa menceritakan kepada dirinya dan berakhir anak laki-lakinya itu akan melakukan hal-hal negatif yang akan menghancurkan dirinya sendiri, seperti yang ada di pikiran Mommy Della saat ini.
Daddy Aiden yang mengerti kekhawatiran sang istri pun ia kini mengusap rambut Mommy Della dengan lembut.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Dia seperti itu mungkin karena saudara-saudara yang sedari kecil bahkan sedari dia didalam perut kamu, sekarang harus pergi meninggalkan dirinya sendiri disini. Dan itu pastinya membuat Erland harus menyesuaikan dirinya disini. Yang awalnya dia akan menjahili Rea dan akan bermain dengan Azlan, semua itu sudah tidak bisa dia lakukan lagi. Dan mungkin dia cukup sedih ditinggal saudara kembar dia. Maklumlah mereka kan triplets yang gak terbiasa pisah satu sama lain," ujar Daddy Aiden.
"Hmmmm iya juga sih. Tapi aku takutnya perubahan dia bukan karena hal itu tapi ada hal lainnya," tutur Mommy Della yang sudah tidak bisa menghalau rasa khawatirnya itu.
"Ya sudah kalau kamu masih khawatir sama dia, kamu temui dia dan ajak dia ngobrol. Siapa tau dari situ dia mau ngomong apa masalah yang sedang dia hadapi saat ini." Mommy Della menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu aku ke kamar dia dulu." Daddy Aiden tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebelum ia melepaskan tangannya yang berada di pinggang Mommy Della agar istrinya itu bisa langsung pergi menuju ke kamar anaknya.
Sedangkan Erland yang sudah berada di dalam kamarnya, ia menghela nafas dengan tatapan lurus menatap langit-langit kamarnya. Hingga ketukan di pintu kamarnya membuat dirinya mendudukkan tubuhnya sebelum ia berjalan mendekati pintu tersebut untuk membukanya. Dan saat pintu itu terbuka, Erland bisa melihat Mommy Della berdiri di depannya.
"Mommy. Ada apa?" tanya Erland.
"Mommy boleh masuk?" Bukannya menjawab Mommy Della justru bertanya balik.
Erland menganggukkan kepalanya lalu ia segera membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar Mommy Della bisa masuk kedalam kamarnya. Dan setelah Mommy Della masuk, barulah ia menutup kembali pintu kamar tersebut.
Erland yang melihat Mommy Della sudah duduk di pinggir ranjangnya ia segara mendekatinya lalu ikut duduk disamping sang Mommy.
"Ada apa Mom?" tanya Erland lagi. Mommy Della kini mengubah posisi duduknya hingga menghadap kearah Erland. Kemudian tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Erland.
"Erland kenapa? Mommy lihat-lihat dua hari ini kamu jadi diam tidak seperti sebelumnya. Apa Erland punya masalah?" tanya Mommy Della dengan sangat lembut. Erland yang kini tau maksud dari sang Mommy pun ia membalas genggaman tangan Mommy Della dan dengan senyum yang mengembang ia menjawab pertanyaan dari sang Mommy.
"Erland baik-baik saja Mom. Erland tidak memiliki masalah apapun. Mungkin diamnya Erland dua hari ini karena Erland lelah saja, tidak lebih dari itu," ujar Erland.
__ADS_1
"Kamu yakin hanya karena itu sayang?" Erland menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya.
"Bukan karena kamu merasa kehilangan setelah dua saudara kembarmu pergi jauh dari kamu?" Erland yang tadinya tersenyum kini senyuman itu perlahan menghilang dari bibirnya.
"Huh mungkin itu juga salah satu penyebabnya Mom. Kalau boleh terus terang, hati Erland benar-benar berat saat jauh dari mereka. Kita dari kecil selalu bersama dan terpisah hanya karena kita sekolah tapi setelah itu kita bisa kumpul lagi. Tapi sekarang, mereka pergi ke luar negeri yang entah kapan mereka akan pulang lagi kesini. Dan saat Erland masuk ke rumah ini, seakan-akan Erland langsung merasa jika Erland sendirian. Rumah ini yang selalu ramai dengan ocehan dan teriakan Rea, sekarang teriakan itu sudah tidak ada lagi. Dan biasanya Erland selalu ganggu bang Az saat dia belajar, sekarang Erland gak bisa ganggu dia lagi, Mom. Sepi Mom, Erland ngerasa jika Erland dirumah ini hanya sendirian tanpa ada orang lain di sekitar Erland," ucap Erland yang akhirnya bisa mengungkapkan keresahan hatinya yang dua hari ini melanda dirinya. Ia hanya tak terbiasa menjadi anak satu-satunya yang berada di dalam rumah besar bersama kedua orangtuanya.
Mommy Della yang melihat air mata Erland menetes pun ia segara memeluk tubuh anak laki-lakinya itu.
"Maafin Mommy sama Daddy ya nak. Karena secara tidak langsung Mommy sama Daddy yang memisahkan kamu dengan saudara kembar kamu. Tapi yakinlah sayang, kita ngelakuin itu juga terpaksa. Kondisi Daddy yang semakin hari semakin tua tidak memungkinkan jika dia harus bolak-balik ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya disana. Dan jika Daddy mau menetap di negara itu untuk sementara waktu, itu tidak akan bisa karena perusahaan Daddy disini jauh lebih amatir mengalami penurunan dibandingkan perusahaan yang akan di pegang oleh Azlan dan Leon nanti. Dan jika kamu tanya, kenapa Daddy tidak memilih kamu untuk ditugaskan ke salah satu perusahaan di luar negeri itu, kata Daddy, kamu lebih bisa memegang kendali perusahaan disini karena Daddy percaya dengan kemampuan kamu untuk mengolah perusahaan yang rawan akan segala hal yang akan merugikan perusahaan Daddy disini. Dan jika di bandingkan dengan Azlan juga Leon, kamu yang paling bisa mengontrol emosi kamu. Karena di negara ini jika tidak bisa mengontrol emosinya dalam bekerja akan berakhir fatal nanti. Beda dengan di negara luar, mereka sudah biasa bekerja di bawah tekanan yang keras," ucap Mommy Della menjelaskan kenapa harus Erland yang tinggal di negara itu bukan Leon ataupun Azlan.
"Dan satu lagi sayang, Mommy sama Daddy sengaja membuat Azlan dan Zea pergi dari negara ini," sambung Mommy Della yang langsung membuat Erland melepaskan pelukannya.
"Sengaja?" tanyanya yang diangguki Mommy Della.
"Iya sayang. Mommy sama Daddy sengaja karena akhir-akhir ini ada dua orang gila yang mencari keberadaan mereka berdua terutama Zea," jawab Mommy Della.
"Orang gila? mencari Zea? untuk apa? kurang kerjaan sekali orang gila itu," ucap Erland tak habis pikir.
Mommy Della yang mendengar ucapan dari Erland pun ia terkekeh kecil.
"Nah beberapa bulan setelah kejadian di rumah sakit itu, perusahaan mereka bangkrut dan mungkin sekarang sudah gulung tikar." Erland kini membelalakkan matanya. Perusahaan yang cukup terkenal namun tak sebesar perusahaan sang Daddy itu, kenapa bisa bangkrut? batin Erland.
"Kok bisa Mom?" tanya Erland penasaran.
Mommy Della menggedikkan bahunya.
"Mommy juga tidak tau kenapa mereka bisa bangkrut begitu saja. Mungkin ini ulah Daddy kamu. Secara Daddy kamu itu orangnya gak akan puas jika melihat orang yang sudah dia anggap anak sendiri justru diperlakukan semena-mena oleh orang lain yang ternyata adalah keluarga Zea sendiri. Jadi ya, kamu bisa membayangkan lah ya sebagaimana liciknya Daddy kamu itu," ujar Mommy Della yang kini membuat Erland mengerti. Pantas saja perusahaan itu bisa gulung tikar ternyata ulang sang Daddy sendiri.
"Dan mereka sekarang cari Zea buat menghasut dia agar Zea mau membantu mereka untuk melunasi hutang mereka dan mungkin mereka juga berniat mau memeras Zea. Makanya Daddy sama Mommy memutuskan untuk menyerahkan perusaahan di Amerika kepada Azlan yang otomatis Zea akan ikut pergi dari negara ini agar mereka terhindar dari dua manusia gila itu. Dan untuk Leon sama Rea, Daddy menempatkan mereka di London karena jarak antara negara itu dengan negara tempat tinggal Leon cukup dekat. Mommy dan Daddy mau Leon dekat dengan keluarganya kembali. Ini juga permintaan dari keluarga Leon disana. Kalaupun Leon tidak mau pulang, setidaknya keluarga dia bisa mengunjungi Leon kapanpun mereka mau," sambung Mommy Della untuk menjelaskan secara detail sebelum Erland nanti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan juga sang suami.
Erland yang sekarang sudah paham kenapa kedua orangtuanya itu memilih ke-empat orang itu yang pergi keluar negeri pun ia kini hanya ber-oh riya.
"Nah kamu sekarang sudah paham kan alasan Mommy sama Daddy ngelukain itu semua?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Iya Mom, Erland paham sekarang. Maafin Erland karena sempat marah dengan keputusan Mommy sama Daddy tentang permasalahan ini," ujar Erland sembari memeluk kembali tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang. Mommy bisa memaklumi kemarahanmu itu. Tapi sekarang setelah Erland tau alasannya, Mommy harap Erland jangan berubah lagi ya. Jadilah diri Erland sendiri. Jangan murung seperti dua hari ini, Mommy gak suka. Dan jangan merasa kesepian karena di rumah ini masih ada Mommy sama Daddy yang bisa menjadi teman Erland," ucap Mommy Della sembari mengelus rambut Erland.
"Iya Mom, Erland gak akan murung lagi. Dan berhubung hanya Erland yang sekarang tinggal sama Mommy dan Daddy, Erland janji. Erland akan jaga Mommy sama Daddy. Erland akan menjadi garda terdepan untuk keluarga ini," tutur Erland yang membuat Mommy Della tersenyum mendengarnya.
Sedangkan Daddy Aiden yang sedari tadi mengintip interaksi dari anak dan istrinya itu pun ia kini memutuskan untuk masuk kedalam kamar Erland tanpa permisi. Dan hal tersebut membuat Mommy Della dan Erland otomatis terkejut bahkan pelukan diantara keduanya terlepas.
"Haishhhhh, Daddy gak punya sopan santun. Masuk ke kamar orang gak pakai ketuk pintu dulu," tegur Erland.
"Mana Daddy peduli. Ini rumah-rumah Daddy sendiri. Daddy mau masuk ke mana saja gak pakai ketuk pintu dulu, ya terserah Daddy lah," ujar Daddy Aiden sembari mendekati Mommy Della yang sedari tadi hanya melihat sepasang anak dan ayah yang sepertinya sebentar lagi akan berperang.
"Tapi kan ini kamar Erland. Dari kecil Erland sudah dikasih kekuasaan di kamar ini. Jadi mau itu yang punya rumah kek atau siapapun harus tetap ketuk pintu dulu. Hargai privasi orang lah," ucap Erland.
"Emang kamu punya privasi apa? Daddy rasa gak ada privasi juga di kamar ini," tutur Daddy Aiden tak mau kalah.
"Ck namanya privasi ya Erland gak mau sebutin lah. Dah lah, Daddy keluar aja dari sini. Ganggu orang mau pacaran aja." Erland mendekati Daddy Aiden lalu menarik tangan laki-laki tersebut hingga tubuh Daddy Aiden kembali berdiri dari duduknya.
"Kamu ngusir Daddy?"
"Iya, emang kenapa? Daddy gak terima. Kalau gak terima kita duel aja yuk Dad. Menyebalkan juga Daddy lama-lama," ujar Erland.
"Oh kamu nantangin Daddy. Oke Daddy terima tantangan kamu itu," ucap Daddy Aiden yang sudah siap pasang kuda-kuda. Erland yang melihat hal tersebut pun tak mau kalah, ia kini juga pasang kuda-kuda siap untuk bertempur dengan sang Daddy.
Tapi sayangnya apa yang ia pikirkan ternyata salah besar, ia pikir Daddy-nya itu akan menyerang dia dengan pukulan, ternyata Daddy Aiden menyerang dirinya mengunakan gelitikan yang membuat tawa gelinya menggelegar memenuhi kamar tersebut. Sesekali ia juga berhasil menghindar dan berlari menjauhi Daddy Aiden tapi sayangnya dirinya bisa di tangkap oleh sang Daddy hingga membuat dirinya kembali mendapat gelitikan di tubuhnya dari Daddy Aiden.
Aksi dari kedua laki-laki berbeda usai itu tak lepas dari mata Mommy Della. Ia sekarang bahkan tersenyum dan sesekali ia juga ikut tertawa saat mendengar tawa dari Erland. Dan karena ia merasa gemas sendiri dengan bayi besarnya yang sekarang sudah berusia 18 tahun itu, ia kini beranjak dari duduknya lalu ia ikut bergabung dengan Daddy Aiden yang sekarang tengah memberikan gelitikan kepada Erland diatas ranjang. Ia tak ingin kalah dengan sang suami sehingga ia kini juga menyerang Erland dengan gelitikan mautnya juga.
Dan apa yang tengah dilakukan oleh sepasang orangtua dan anak itu pasti akan membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari mereka bertiga. Keharmonisan yang sedari dulu terjalin tak akan pernah pudar walaupun semakin lama umur mahligai rumah tangga semakin tua. Karena kunci dari rumah tangga yang selalu kokoh walaupun diterjang berbagai badai besar adalah sebuah keharmonisan yang selalu mereka ciptakan. Jika keharmonisan itu tidak terjalin maka tidak akan ada kata lain selain kata perpisahan. Dan kata itu sangat pantang untuk keluarga Abhivandya, sampai kapanpun mereka janji akan terus menjaga keharmonisan keluarga mereka untuk selamanya.
......~TAMAT~......
Huwaaaaa akhirnya selesai juga. Hufttt. Kalau boleh jujur, ini cerita yang paling menguras otak author. Yang awalnya cerita ini hanya akan author jadikan cerita menye-menye seperti cerita cinta monyet tapi ternyata melenceng jauh dari ide author di awal. Dan justru malah banyak actionnya. Tapi syukur Alhamdulillah author bisa menyelesaikan cerita ini sampai ratusan eps seperti ini.
Dan author ucapakan terimakasih untuk kalian semua yang sudah setia dengan cerita ini sampai END. Pengen nangis kalau lihat kesetiaan kalian๐ญ Sayang kalian banyak-banyak pokoknya ๐ค
Oh ya jangan lupa untuk mampir ke cerita baru author yang judulnya "The Dark Love" ya.
__ADS_1
Sekali lagi author ucapkan terimakasih banyak atas kesetiaan kalian. Love you guys ๐ See you ๐