
Saat Edrea dan teman-temannya tengah menikmati kebersamaan mereka. Berbeda dengan ketiga Abangnya ditambah Leon yang sekarang tengah berada di atas rooftop sekolah tersebut.
"Semua sudah beres kan?" tanya Adam kepada Leon yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
Leon kini mengalihkan pandangannya kearah Adam kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Beres. Semua perbuatan dia sudah tersebar bahkan sudah masuk akun gosip. Keluarga dia juga sudah mengalami kebangkrutan dan kemungkin ini semua gara-gara Daddy. Dan untuk selanjutnya kita akan bergerak sendiri atau menunggu instruksi Daddy? karena aku yakin Daddy gak akan pernah lepasin keluarga itu begitu saja apalagi Puri yang menurut pengamatan gue, dia tidak akan pernah menyerah sebelum apa yang dia mau terlaksana," tutur Leon sembari menyimpan ponselnya kembali.
Ya, semua foto-foto Puri yang tak senonoh itu tersebar karena keempat laki-laki itu. Dan jangan tanya dimana mereka mendapatkan foto-foto itu yang jelas ada uang maka apa yang mereka mau akan mereka dapatkan. Dan tentunya sumber dari foto-foto itu langsung dari laki-laki yang pernah tidur dengan Puri Jadi bisa di pastikan jika foto itu benar-benar nyata tanpa editan.
"Kita tunggu keputusan Daddy saja. Kalau kita langsung gerak sendiri, ngeri-ngeri sedap kalau Daddy tau dari orang lain karena gue yakin si singa tua itu selalu ngawasin kita semua dimana pun kita berada," ujar Erland.
"Ya sudah kalau gitu. Kita akan bergerak kalau Daddy perintahkan kita turun langsung buat basmi dia. Tapi ingat walaupun begitu, kita tetap harus melindungi Edrea karena wanita sialan itu masih berkeliaran di luar sana yang sewaktu-waktu akan kembali menyerang Edrea," tutur Azlan yang diangguki ketiga laki-laki lainnya disana.
"Kalau semua sudah selesai, Abang balik dulu. Masih ada pasien yang harus Abang tangani," ujar Adam sembari berdiri dari sofa yang lumayan lusuh itu.
"Masih ada pasien tapi udah berkeliaran kemana-mana," cibir Erland.
__ADS_1
"Heh Abang kesini karena khawatir sama Edrea. Bukan karena meninggalkan kewajiban Abang ya. Lagian Kakak mana coba yang bisa tenang kalau dapat telepon yang memberitahukan jika adiknya sendiri dapat masalah besar seperti tadi. Kalian aja yang tadinya di sekolah bela-belain kesini," balas Adam.
"Udah lah Abang mau balik ke rumah sakit dulu. Kalian disini sampai Rea pulang. Karena Mom, Dad sama Vivian sudah pulang tadi. Jagain dia baik-baik, kalau sampai lecet lagi kalian yang Abang bunuh," sambung Adam diakhiri dengan ancaman lalu tanpa menunggu persetujuan dari kedua adiknya itu, ia bergegas pergi dari rooftop tersebut meninggalkan Azlan dan Erland yang berdecak tak terima dengan ancaman Adam tadi.
"Tanpa dia perintah pun kita juga akan jaga dia," ujar Erland.
"Udah-udah jangan gerutu mulu. mending sekarang kita samperin Edrea, sekalian tanya keputusan dari masalah tadi," ujar Azlan sembari berdiri dari duduknya lalu ia mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Erland juga Leon di belakangnya.
Saat ketiga laki-laki itu tengah berjalan mencari keberadaan Edrea, banyak pasang mata yang melihat mereka dengan tatapan kagum. Kagum akan ketampanan mereka tentunya yang bisa dibilang sempurna.
"Gak dimana-mana tuh dua Abang jadi pusat kekaguman para perempuan. Tapi sayangnya tuh wajah kayak triplek, datar mulu gak ada ekspresi sama sekali, sok cool pula beda banget kalau lagi dirumah, beuh jahilnya nauzubillah. Tapi kalau dia terus-menerus cuek sama cewek, gimana mereka bisa punya pacar coba? Yang ada sebelum cewek yang mau deketin mereka, ceweknya yang menyerah dulu karena benteng es baloknya gak mencari-cari," gumam Edrea yang masih menatap kearah ketiga laki-laki itu lebih tepatnya ke Azlan dan Erland yang menjadi topik pembahasan di otaknya itu.
"Rea," panggil Yesi sembari menyenggol lengan Edrea.
"Hmmmm," jawab Edrea hanya dengan deheman saja.
"Abang lo tuh di keroyok sama cewek-cewek. Lo gak mau bantuin gitu?" tanya Yesi yang merasa kasih dengan kedua saudara kembar Edrea juga Leon yang sekarang tengah menampilkan ekspresi wajah yang seakan-akan tengah tertekan.
__ADS_1
"Gak ah. Kalau lo mau, lo aja yang bantuin mereka keluar dari lingkaran para cewek-cewek pemuja visual itu. Kalau gue sih ogah, takut luka gue yang belum kering ini kesenggol sama mereka yang akhirnya hanya akan buat jahitannya terbuka," ujar Edrea.
"Iya juga sih. Ya udah lo gak usah bantuin mereka. Ngeri juga kalau lengan lo berdarah-darah lagi kayak tadi," tutur Yesi.
"Lah tuh tau. Kalau lo mau, sana gih buruan bantuin Abang gue. Siapa tau kalau kalian bantuin salah satu dari Abang gue, kalian bakal dilirik sama mereka," ucap Edrea.
"Hmmm enggak dulu deh Rea, makasih lho ya atas tawarannya. Sebenarnya mau sih punya pasangan tampan seperti mereka, tapi resikonya itu lho bikin dag-dig-dug. Belum apa-apa aja gue udah ngeri sendiri apalagi udah resmi jadi pasangan mereka, mental gue gak akan setebal mental lo. Kalau gue sih cukup yang sederhana, apa adanya, mau nerima gue apa adanya, setia dan tentunya pekerja keras. Dan untuk laki-laki seperti mereka gue serahin ke lo aja deh Rea yang udah ahli dalam menaklukkan hati para pria tampan." ucap Yesi yang membuat Edrea menghela nafas.
"Tolong ya, gue belum pernah pacaran sama sekali jadi teori dari mana coba kalau gue jadi penakluk para pria tampan. Nyatanya gue juga pernah ditolak sama Zico," ujar Edrea yang tiba-tiba saja mengingat Zico.
"Lah iya gue baru sadar kalau lo pernah di tolak Zico. Tapi btw tuh anak kemana sih kok beberapa minggu ini gak kelihatan batang hidungnya, Joni juga gak pernah kelihatan tuh orang," ucap Resti yang tiba-tiba menyambar percakapan dari Edrea juga Yesi.
"Zico lagi sakit dan dia juga mau pindah sekolah ke luar negeri. Kalau Joni, gue rasa dia masih sibuk sama urusannya dan mungkin dia memilih untuk menjalankan kelas online biar dia gak ketinggalan pelajaran. Kemarin saat kita ujian, gue sempat lihat Joni masuk kok, hanya saja saat gue mau nyapa dia, dia kayak buru-buru gitu. Jadi ya dari pada gue menghalangi jalannya dan mengulur waktunya, gue mengurungkan niat buat nyapa dia," ujar Edrea.
"Ziko sakit apa? perasaan terakhir kita lihat dia baik-baik aja."
"Ya pokoknya ada lah. Gue gak bisa ngasih tau penyakit dia karena itu merupakan privasi Zico. Dan jika suatu saat nanti kalian-kalian semua lihat Zico, jangan panggil dia dengan nama Zico tapi panggil Jio karena beberapa hari yang lalu dia ngabarin gue kalau dia ganti nama dan jika ada yang masih panggil dia dengan nama Zico, dia akan marah sama orang itu dan perlu kalian tau jika dia marah, habis sudah kalian semua," tutur Edrea diakhiri dengan menakutkan-nakuti mereka semua. Padahal Zico tidak akan pernah melukai orang-orang yang menurutnya memang tidak membahayakan dirinya walaupun orang itu memanggil dirinya dengan sebutan Zico sekalipun. Tapi ya itu dia tetap akan menggila dan akan langsung mencari orang-orang yang memang menganggu pikirannya.
__ADS_1