
Edrea terdiam sesaat karena tatapan dari laki-laki disampingnya itu ditambah suara yang cukup dingin lagi-lagi memukul mundur dirinya.
Dan kini Edrea kembali terduduk dengan kepala yang tertunduk sembari tangannya memainkan ujung baju yang sangat kebesarannya itu.
"Gue cuma pengen tau siapa lo, udah itu aja. Gue hanya ingin identitas lo yang asli biar gue gak penasaran terus saat lo bantuin gue disaat gue dalam bahaya. Gue yakin lo sering ngawasin gue dari jauh, dan gue yakin lo juga orang yang udah nolongin gue dari maut saat mobil gue lagi duel sama mobil yang gue gak kenal itu mobil siapa. Bahkan gue pun yakin kalau nomor asing yang sering ngirim gue pesan itu adalah nomor ponsel lo. Dan keyakinan itu bertambah saat gue tadi coba telefon nomor yang gak gue kenal itu dan bertepatan itu pula ponsel lo bunyi. Gak mungkin hanya kebetulan aja. Gue yakin orang yang selalu ngelindungi gue selain keluarga gue, orang yang selalu ngawasin dari jauh dan orang yang punya nomor misterius adalah lo. Jadi gue mohon kasih tau gue identitas lo yang sebenarnya," tutur Edrea dengan lirih tanpa menegakkan kepalanya.
Laki-laki tadi yang telah mendengarkan semua ucapan dari Edrea pun menatap sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue udah tekanan ke lo dari tadi buat jangan cari tau identitas gue. Lo cukup diam dan jaga diri lo baik-baik saja. Dan jangan pernah berontak kalau keluarga lo terlebih kedua Abang lo sangat protektif jaga lo dengan cara dia nyita mobil atau kendaraan lain milik lo, juga gak ngizinin lo buat keluar rumah sendiri. Mereka ngelakuin itu karena mereka gak mau kehilangan lo, gak mau lo kenapa-napa dan dari kejadian ini keluarga lo sangat terpukul bahkan kedua Abang lo selalu nyalahin diri mereka sendiri karena mereka merasa gak bisa jadi Abang yang baik buat lo bahkan selama lo hilang mereka berdua hanya tidur paling lama hanya 2 jam dan selebihnya mereka gunakan buat cari lo. Bahkan sekolah mereka, mereka tinggalkan. Jadi apa yang sebenarnya Abang lo lakuin itu adalah hal yang sangat benar menurut gue. Karena kalau perlu lo tau, saat lo melangkahkan kaki lo keluar gerbang rumah lo berarti tandanya nyawa lo dalam pengintaian oknum-oknum yang menginginkan nyawa lo." Laki-laki tadi menjeda ucapannya untuk sesaat sebelum ia melanjutkannya lagi.
"Jadi gue harap lo bisa ngertiin mereka. Please setelah ini nurut sama dua Abang lo. Mereka sayang sama lo tapi rasa sayangnya, mereka ungkapin dengan cara melindungi lo seperti sebelum-sebelumnya. Jadi gue harap tidak akan ada lagi kejadian seperti ini untuk kedepannya. Lo ngerti?" Edrea hanya bisa menganggukkan kepalanya karena bibirnya sudah tak kuasa lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun setelah mendengar semua perkataan dari laki-laki disampingnya apalagi saat mendengar keadaan keluarganya saat ini. Hanya karena keegoisannya, dia membuat semua orang menjadi sedih dan terus mengawatirkannya.
Laki-laki tadi tampak tersenyum dari balik maskernya dan tangannya kini bergerak untuk mengelus kepala Edrea.
"Udah jangan nangis lagi. Hapus air mata lo karena beberapa meter lagi lo bakal ketemu sama abang-abang lo," ucapnya sembari menarik kembali tangannya setelah itu ia meminggirkan mobil tersebut.
"Lo hanya tinggal ngikutin jalan ini aja. Dan setelah belokan tajam yang ada didepan, lo bisa ketemu sama mereka karena mereka sekarang sudah melacak jejak lo lewat GPS ponsel lo. Gue tinggal dulu, jangan sampai kejadian ini keulang lagi," ucap laki-laki tersebut dan saat dirinya ingin membuka pintu mobil tadi, lengannya dicekal oleh Edrea hingga membuatnya menghentikkan gerakan tangannya.
Laki-laki itu pun kini menoleh kearah Edrea dengan alis yang terangkat satu ya walaupun tak bisa Edrea lihat hal itu.
__ADS_1
"Terimakasih karena lo udah nolongin gue untuk yang kesekian kalinya. Dan tunggu sebentar." Edrea kini melepaskan tangannya dari lengan laki-laki tersebut dan kini dirinya tengah sibuk dengan tas besar yang sedari tadi di punggungnya yang sekarang sudah berpindah tempat di pangkuannya.
Saat Edrea sudah menemukan apa yang ia cari, ia langsung menyerahkannya ke laki-laki tersebut.
"Parfum?" tanyanya.
"Hehehe, anggap aja sebagai hadiah buat lo. Ya walaupun itu hasil curian tapi gak papa lah hemat uang," jawab Edrea dengan cengiran kudanya. Laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Oke gue terima parfum ini," ucapnya dan saat tangannya ingin membuka pintu mobil itu lagi-lagi tangannya di cegah oleh Edrea.
"Masih ada lagi tau. Buru-buru amat mau pergi," tutur Edrea dengan kerucutan di bibirnya.
"Ck, jangan bawel. Tunggu sebentar." Tangan Edrea kembali aktif mengobrak-abrik isi tasnya yang penuh harta karun itu. Setelah menemukan hal yang membuat matanya terpana saat dirinya ingin mencuri kemarin, Edrea langsung menarik lengan laki-laki tersebut cukup kuat hingga membuat tubuhnya condong ke arah Edrea. Laki-laki itu sudah was-was jika Edrea punya niatan untuk membuka masker atau topinya. Tapi sepertinya tebakannya salah, pasalnya tangan Edrea kini melingkar hingga belakang lehernya.
"Selesai," ucap Edrea sembari menjauh dari tubuh laki-laki tadi.
Laki-laki itu menatap kearah lehernya yang sekarang sudah terpasang sebuah kalung.
__ADS_1
"Gue gak tau itu bisa dijual dengan harga mahal apa gak. Tapi kalung itu salah satu benda yang menarik dimata gue saat kemarin mau ngerampok. Walaupun kalung itu bisa dijual dengan harga jutaan, jangan pernah ada niatan buat jual kalung itu. Awas aja kalau sampai lo jual gue bakal cariin lo sampai ketemu," ancam Edrea.
"Hmmm. Ada lagi?" tanyanya.
Edrea tampak berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau udah. Gue pergi," ucapnya dan kini pintu itu sudah ia buka lebar kemudian ia segera keluar dari mobil tersebut.
"Pergi sana buruan!" perintah laki-laki tersebut. Setelah Edrea berpindah tempat dan sekarang dirinya sudah di kursi kemudi.
"Iya ih. Bawel banget. Sekali lagi terimakasih Mr. Misterius. Sampai ketemu lagi, bye. Jaga diri lo baik-baik biar bisa ngawasin gue terus. Hehehe bye." Edrea melambaikan tangannya lalu mobil yang sekarang di kendarai oleh Edrea perlahan menjauh dari laki-laki tadi.
Laki-laki tadi tampak tersenyum kemudian matanya beralih ke kalung yang di berikan Edrea.
"Bisa-bisanya lagi diculik pakai acara nyolong segala, Edne Edne," gumamnya dengan kekehan kecil. Setelah itu ia menatap parfum dan mencoba untuk menyemprotkan parfum tadi ke tangannya.
"Hmmm not bad," ucapnya setelah mencium aroma dari parfum tadi.
Dan tak berselang lama terdengar deruman mobil dari belakangnya.
__ADS_1
Laki-laki tadi pun segera melepas topi dan masker yang menutupi wajahnya lalu dengan santai ia masuk kedalam salah satu mobil yang sudah berhenti didepannya. Setelah ia masuk, mobil itu melaju meninggalkan tempat tadi diikuti beberapa mobil lainnya di belakang.