
Kini semua keluarga Abhivandya telah sampai di salah satu rumah sakit yang tak jauh dari tempat kejadian itu dan di rumah sakit itu sudah ada Callie yang tengah di gendong oleh salah satu anak buah Leon yang tengah menunggu di depan ruang UGD.
"Mommy," panggil Callie saat ia melihat Edrea mendekati dirinya. Edrea yang mendengar panggilan dari Callie pun ia menampilkan senyuman di wajahnya.
"Hay anak Mommy. Bagaimana tidurnya tadi malam? Nyenyak kan?" tanya Edrea sembari mengambil tubuh Callie yang berada di gedongan anak buah Leon.
Callie tampak menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Edrea. Dan dengan mengalungkan tangannya ke leher Edrea, Callie mulai angkat suara, "Mommy, Callie tidak mau kehilangan Daddy," ujarnya yang membuat Edrea tersentak. Kenapa Callie berpikir seperti itu? Apa dia tadi melihat keadaan Leon sebelum mendapatkan penanganan di rumah sakit itu? Segala pertanyaan yang berada di otak Edrea memutar memenuhi pikirannya. Dan dengan tangan yang bergerak untuk mengelus rambut Callie, ia menatap kearah anak buah Leon tadi.
"Apa dia tadi lihat keadaan Leon?" tanya Edrea tanpa suara hanya pergerakan mulutnya saja yang untungnya anak buah Leon itu bisa memahaminya sehingga ia bisa menjawab pertanyaan dari Edrea tadi dengan gelengan kepalanya.
Dan hal tersebut justru membuat perasaan Edrea semakin tak karuan. Karena insting seorang anak itu pasti tidak akan salah, pasti ada hal yang membuat hatinya dan hati Callie hancur nantinya. Segala pikiran negatif itu kini muncul begitu saja dalam benak Edrea.
"Mommy, Callie tidak mau kehilangan Daddy," ulang Callie yang berhasil membuat Edrea tersadar kembali.
"Stttt, Daddy tidak akan kemana-mana. Daddy tidak akan pernah jauh dari kita. Daddy akan tetap di sini bersama kita," ujar Edrea mencoba untuk menenangkan Callie.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan Mommy kamu sayang. Daddy Leon tidak akan kemana-mana. Percaya deh sama Eomma," timpal Mommy Della.
"Tapi Callie tadi dengar Uncle Adam bicara kalau Daddy kritis dan kemungkinan untuk hidup kecil karena peluru mengenai jantung Daddy. Ucapan Uncle Adam itu menandakan jika Daddy sedang tidak baik-baik saja sekarang Mommy, Eomma, hiks," ujar Callie dengan air mata yang mengucur deras membasahi pipinya.
Edrea yang mendengar penuturan dari Callie, tubuhnya tampak menegang. Dan perubahan gestur tubuhnya itu mampu di baca oleh Mommy Della sehingga Callie dengan cepat ia ambil dari gendongan Edrea. Lalu setelahnya ia memerintahkan kedua putranya untuk mencoba menenangkan Edrea karena Mommy Della sekarang harus memenangkan Callie yang semakin menangis itu.
"Er, bisa nenangin Rea sendiri kan? Gue mau cari tau dimana Zea. Apa dia sudah sadar atau belum? Karena dia sekarang tanggungjawab Abang." Erland tampak menganggukkan kepalanya.
"Pergi aja bang. Urusan Rea biar sama gue. Tapi jangan lupa kasih kabar saat Lo udah ketemu dan tau keadaan Zea ke kita. Karena dia begitu juga gara-gara kita," ujar Erland.
"Iya gue bakal kasih tau kondisi dia nanti. Lo juga kasih kabar gue mengenai keadaan Leon." Erland tampak mengacungkan jari jempolnya untuk membalas ucapan dari Azlan.
Sedangkan Erland, ia kini mendekati Edrea.
"Kita duduk dulu yuk. Pegel juga kalau harus berdiri begini." Perlahan Erland membawa tubuh Edrea menuju ke kursi tunggu di depan ruangan tersebut lalu ia membantu Edrea untuk duduk di kursi tersebut.
__ADS_1
"Mau peluk Abang gak?" tawar Erland yang hanya dilirik oleh Edrea saja sebelum gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Ish gak usah malu-malu gitu. Kalau mau peluk ya peluk aja kali. Mumpung Abang murah hati nih mau menjadi sandaran lo." Edrea tampak terdiam tak bergerak sedikitpun bahkan untuk menolak tawaran dari Erland tadi ia sangat enggan hingga hal tersebut membuat Erland menghela nafas lelah.
"Ya sudah kalau lo gak mau peluk gue. Tapi kalau lo mau cerita Abang dengarin," ujar Erland yang masih mencoba untuk mengalihkan kesedihan Edrea saat ini. Tapi sepertinya apa yang ia lakukan itu sama sekali tak membuahkan hasil pasalnya Edrea masih saja enggan untuk membuka bibirnya itu bahkan terlihat tatapannya itu tampak kosong menatap ke arah pintu ruang UGD tersebut.
Erland yang tak tega dengan kesedihan yang masih berusaha Edrea tahan itu pun ia kini mengelus rambut adiknya dengan lembut.
"Abang tidak tau pasti perasaanmu sekarang gimana Rea karena Abang belum pernah mengalami hal seperti yang kamu alami saat ini. Tapi percayalah kamu orang kuat, Leon pun juga sama, dia laki-laki kuat. Apapun yang dia hadapi saat ini pasti bisa dia tangani. Dan yakinlah Leon tidak akan pernah meninggalkanmu begitu saja. Dia akan berjuang untukmu seperti susahnya dia berjuang untuk keluar dari rumahnya dan memilih untuk bersamamu," batin Erland yang tak mungkin bisa ia ucapkan karena ketika kata-katanya itu terucap, ia yakin Edrea akan histeris dibuatnya.
Erland masih mengelus rambut Edrea dan Edrea masih menatap lekat pintu ruangan tersebut hingga beberapa saat setelahnya terlihat pintu itu terbuka dan langsung membuat Edrea berdiri dari duduknya. Lalu tanpa menunggu lama, Edrea mendekati seseorang yang baru keluar dari ruangan tersebut yang ternyata adalah Adam.
Adam yang melihat Edrea berdiri didepannya dengan keadaan baik-baik saja pun ia menghela nafas lega dengan senyuman di bibirnya yang terukir. Sebelum senyumannya itu luntur saat pertanyaan dari Edrea masuk kedalam indra pendengarannya.
"Abang, gimana keadaan Leon? Dia baik-baik saja kan? Luka di tubuhnya tidak terlalu serius kan? Dia sekarang sudah membuka matanya kan? Pasti dia sekarang lagi nyariin Rea kan bang? Ya, dia pasti sekarang lagi nyariin Rea. Rea boleh masuk sekarang kan bang? Rea udah gak sabar lihat keadaan dia? Rea juga sudah tidak sabar buat lihat senyuman dia saat melihat Rea dalam keadaan baik-baik saja. Dan satu lagi Rea juga akan cerita tentang pertemuan Rea dengan Mommynya. Rea juga mau cerita panjang tentang Mommynya yang ternyata sangat baik. Dan Rea juga akan memberikan kabar bahagia untuk dia, pasti dia juga sama senangnya dengan Rea. Jadi Rea mau masuk kedalam sekarang," ucap Edrea dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Dan saat dirinya ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut, langkahnya selalu saja di hadang oleh Adam yang selalu berdiri di depannya.
"Ish Abang minggir dulu. Rea mau ketemu sama Leon. Rea gak mau lihat dia nungguin Rea didalam," ujar Edrea sembari mendorong tubuh Adam hingga ia berhasil membuat tubuh Adam bergeser sedikit. Tapi baru satu langkah ia masuk kedalam ruangan tersebut, Adam langsung mencegah lengan Edrea dan kemudian ia menarik tubuh adiknya itu hingga Edrea kini berada didalam pelukannya.