The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 132


__ADS_3

"Kalian sudah paham bukan apa yang Daddy tadi katakan? atau perlu Daddy jelaskan lagi untuk yang ketiga kalinya tentang kegunaan dari anting itu?" tutur Daddy Aiden yang sepertinya sudah mulai geram karena triplets tak paham-paham dengan ucapannya tadi. Entah sifat lemot darimana yang triplets dapatkan yang jelas bukan dari dirinya dan juga Mommy Della.


Triplets tampak mengangguk-anggukan kepalanya, nampaknya Daddy Aiden tak perlu menjelaskan lagi karena mengangguknya triplets bisa ia artikan mereka paham dengan semuanya.


"Tapi gini Dad, Erland sama bang Az kan masih sekolah apa gak bakal kena hukuman karena pakai anting?" tanya Erland yang masih ragu. Jujur saja ia tak ingin mendapat hukuman karena sejak dia dekat dengan Kayla hidupnya serasa berubah dan menjadi lebih tertib akan peraturan-peraturan yang ada di sekitarnya. Ditambah ia juga masih ngeri jika membayangkan telinganya di tindik menggunakan jarum yang sangat besar, arkkhhhhhhh sangat mengerikan, batin Erland.


Daddy Aiden tampak saling pandang dengan Mommy Della, seakan-akan mereka berdua tengah berkomunikasi lewat tatapan mata.


"Yeee ditanya sama anaknya malah keenakan tatap-tatapan," sindir Erland yang tak kunjung mendapat jawaban dari sang Daddy.


Daddy Aiden dan Mommy Della sama-sama memutar bola matanya lalu keduanya sudah kembali menatap ketiga anaknya yang berada di depannya itu secara bergantian.


"Hmmmm baiklah Dad akan kasih kalian waktu untuk memakai anting itu di telinga kalian. Tapi Dad punya ide lain agar kalian terus dalam pantauan Daddy dan Mommy," tutur Daddy Aiden setelah itu ia beranjak dari duduknya yang membuat triplets mengerutkan keningnya. Ide apa yang dimaksud Daddynya itu?


Mereka terus menerka-nerka ide dari Daddy Aiden hingga sang empu sudah kembali dengan membawa satu kotak di tangannya. Dan setelah Daddy Aiden kembali duduk disamping Mommy Della, ia langsung membuka kotak tersebut kemudian mengambil dua buah kalung dari sana.


"Nih." Daddy Aiden menyerahkan dua kalung tersebut kearah Azlan dan Erland.


"Ini apa lagi astaga," tutur Erland setelah menerima kalung tadi.


"Itu kalung bodoh. Itu saja kamu tak tau? Dasar," geram Daddy Aiden yang langsung mendapat geplakan maut dari sang istri.

__ADS_1


"Mulutnya," peringat Mommy Della dengan mata yang melotot.


"Refleks, maaf sayang. Anak kamu itu juga menyebalkan sekali. Apa-apa tanya ini apa, itu apa dan segala macam. Padahal udah jelas bentuk barangnya masih aja tanya. Ya kali dia gak tau nama barang-barang yang Daddy kasih tadi," ucap Daddy Aiden mencari pembelaan untuknya sendiri.


"Ck, maksud Erland tuh kalung ini buat apa lagi?" tutur Erland memperjelas maksudnya.


"Fungsi kalung itu sama seperti fungsi anting itu hanya saja kalung itu tak ada sangkut pautnya dengan keluarga besar Abhivandya," ucap Daddy Aiden.


Azlan dan Erland menganggukkan kepalanya dan mereka langsung memakai kalung tersebut di lehernya karena ia tak mau mendapat omelan dari sang Daddy.


"Buat Rea mana Dad?" tanya Edrea yang juga ingin memiliki kalung tersebut.


"Kamu kan sudah punya anting itu," tutur Daddy Aiden.


Mommy Della menyenggol lengan suaminya.


"Kasih aja," tuturnya dan diangguki Daddy Aiden. Lalu ia mengambil satu lagi kalung tersebut dari kotak yang sama seperti sebelumnya.


"Nih. Tapi kamu juga harus pakai anting itu," perintah Daddy Aiden mutlak.


Edrea menatap binar kalung yang di sodorkan oleh Daddy Aiden untuknya dan dengan raut wajah yang gembira, Edrea menerimanya dan segera memasang kalung tersebut tak lupa ia juga memakai anting tadi di telinganya sebelah kanan bagian atas yang dimana ia sudah mendapatkan tindik tersebut sejak ia memasuki sekolah menengah pertama. Alhasil hanya dia dan keluarganya saja yang tau jika dia memiliki 3 tindik di telinganya. Karena ia sangat jarang memakai anting di bagian yang sekarang sudah terpasang anting khusus keluarga besar itu. Maka dari itu pihak sekolah tak mengetahui hal tersebut. Tapi setelah ini entahlah nasib Edrea akan bagaimana di sekolah. Atau mungkin ia nanti akan terus menggerai rambutnya untuk menutupi anting tadi.

__ADS_1


"Kalung dan anting itu jangan sampai hilang atau jauh dari kalian. Kalau sampai itu terjadi berarti nyawa kalian yang menjadi taruhannya. Entah itu dari orang luar atau Daddy sendiri. Kalian paham?" Triplets tampak kesulitan menelan salivanya sendiri pasalnya jika Daddy Aiden sudah mengatakan sesuatu dengan tatapan yang serius maka ucapannya itu tak ada lagi kesan bercanda dan akan terjadi jika mereka benar-benar melakukan kesalahan itu.


"Paham Dad," jawab mereka bertiga dengan takut-takut.


"Dad, apa anting ini gak lebih baik di pegang dulu sama Daddy gitu?" tanya Azlan dengan ragu.


"Daddy sudah menyerahkan ke kalian berarti anting itu sudah menjadi tanggung jawab kalian untuk menjaganya," ucap Daddy Aiden yang mendapat anggukan dari Azlan dan Erland. Mungkin mereka nanti akan menyimpannya di rumah ini tanpa memakainya terlebih dahulu sebelum lulus sekolah.


"Dan ada satu lagi yang akan Daddy tanyakan ke kalian. Terutama kamu, Edrea," tutur Daddy Aiden yang tiba-tiba saja membuat aura di ruangan tersebut menjadi sangat mencekam dan menakutkan.


"Tan---tanya apa Dad?" ucap Edrea dengan gelagapan.


"Kenapa kamu bisa di culik? ceritakan semua kejadiannya mulai dari awal hingga akhir!" perintah Daddy Aiden mutlak.


Edrea menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia tak ingin menceritakan kejadian itu kepada keluarganya. Biarkan urusannya dengan Zico, dirinya sendiri yang menyelesaikannya. Bukannya ia mau merendahkan kekuatan dari Zico tapi jika di lihat-lihat dari pengalamannya kemarin ia bisa melihat kekuatan Zico masih bisa ia tangani sendiri dengan bantuan beberapa anak buah Daddy Aiden yang mungkin akan ia kelabuhi untuk membantunya tanpa ketahuan sang Daddy. Walaupun nyawanya menjadi taruhan untuk melindungi keluarganya, tak apa lah yang penting keluarganya tak ada yang tahu siapa dalang di balik penculikannya itu. Bukan karena ia kasihan dengan Zico, tapi ia hanya ngeri sendiri jika Daddy atau kedua Abangnya itu tau apalagi sampai ke keluarga besar Abhivandya dan Genoveva tau. Duh bisa lenyap seketika Zico nanti. Dan cara pelenyapannya itu yang membuat Edrea membayangkannya saja sudah bergidik ngeri apalagi ia melihat cara eksekusinya secara langsung, bisa-bisa ia mati berdiri nantinya dan tak enak makan selama berminggu-minggu.


Saat Edrea masih menyelam dalam pikirannya sendiri pada saat itu lah suara Daddy Aiden kembali menginterupsinya.


"Edrea! kamu dengar ucapan Daddy tadi bukan?" tanya Daddy Aiden dengan suara rendahnya yang justru membuat siapa saja takut akan hal itu.


Edrea menelan salivanya dengan susah payah sebelum angkat suara.

__ADS_1


"Ehem, Rea dengar kok Dad. Tapi apa sebaiknya tidak besok saja yang menceritakan itu semua? Ini sudah malam Dad dan mungkin jika Edrea cerita nanti bisa sampai tengah malam dan berakhir kita besok pagi bangun kesiangan yang membuat Daddy nantinya akan telat untuk pergi kekantor dan kita juga telat pergi kesekolah," alasan Edrea.


Tapi bukannya mendapat persetujuan dari sang Daddy, ia justru mendapat tatapan tajam dari laki-laki yang menyandang status sebagai ayahnya itu bahkan tak hanya Daddy Aiden yang menatapnya dengan tajam melainkan kedua Abangnya pun juga sama, menatap dirinya seakan-akan Edrea sekarang menjadi tawanan mereka.


__ADS_2