The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 206


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju sekolahnya, Edrea maupun Leon tak ada yang angkat suara hingga mobil yang mereka tumpangi kini telah sampai di parkiran sekolah.


Dan saat Edrea ingin membuka pintu mobil, lengannya tiba-tiba di cekal oleh Leon yang membuat dirinya mengurungkan niatnya tadi. Bahkan tatapan matanya kini menatap tangan Leon sebelum akhirnya melihat wajah sang empu.


"Ada apa?" tanya Edrea.


"Jujur sama gue. Lo mau pindah sekolah, bukan?" tanya Leon tiba-tiba yang membuat Edrea terdiam sesaat tapi setalahnya ia menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Leon.


Edrea kini mengerutkan keningnya.


"Kenapa harus pindah sekolah segala?" ulangnya yang membuat Edrea menghela nafas.


"Sebenarnya kalau gue dikasih pilihan mau pindah sekolah atau gak. Gue pasti milih gak pindah sekolah. Karena disini gue udah punya banyak teman. Tapi lagi-lagi kalau Dad sama Mom udah memutuskan sesuatu maka gue sebagai anak yang baik, mau gak mau harus ngikutin arahan mereka berdua. Dan kata mereka berdua, ini juga buat kebaikan gue. Kalau gue pindah sekolah ke sekolahan yang sama dengan bang Az dan bang Er, keselamatan gue lebih bisa di pantau lagi sama mereka," ujar Edrea.


"Tapi kenapa lo gak bilang sama gue lebih awal, bahkan lo menyembunyikan semua itu dari gue," ucap Leon.


Edrea kini menatap lekat kearah Leon lalu beberapa detik setelahnya tawanya pecah seketika yang membuat Leon mengernyitkan dahinya.


"Puftt hahaha!"


"Rea," panggil Leon yang sudah mulai jengah dengan suara tawa Edrea yang ia yakini tawa itu tak tulus dari Edrea, melainkan tawa yang Edrea buat-buat.


Edrea kini perlahan menghentikan tawanya dengan tangan yang mengusap air mata yang mulai keluar dari ujung matanya.


"Hahahaha maaf-maaf. Lagian lo juga lucu sih jadi orang," ucap Edrea.


"Lucu darimana coba?," geram Leon.


"Dibagian lo bilang kenapa gue nyembuhin ini semua dari lo. Hello Prince El, lo bukan siapa-siapa gue, orang spesial gue pun bukan. Ya kali semua yang sedang gue alami harus laporan dulu sama lo. Emang lo siapa hah?" tutur Edrea dengan semaksimal mungkin ia menahan tawanya.


"Gu---gue teman lo. Sebagai teman yang baik gue juga berhak tau masalah lo," ujar Leon dengan mengalihkan pandangannya ke luar kaca disampainya.


"Teman-teman gue yang lain juga belum ada yang tau masalah kepindahan gue. Makanya hari ini gue mau kasih kabar ini ke semua orang di sekolah ini terutama Pak Bagong," tutur Edrea sembari menatap kearah Leon dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Pak Bagong?" tanya Leon sembari mengalihkan pandangannya kearah Edrea.


Edrea menganggukkan kepalanya.


"Iya. Dan harusnya yang berhak bertanya seperti yang kamu lontarkan sebelumnya adalah Pak Bagong. Karena apa? Karena beliau adalah orang yang paling spesial di hati gue selama sekolah disini," jawab Rea.


"Lo punya hubungan sama Pak Bagong? Lo pacaran sama dia?" tanya Leon.


"Hmmm bisa jadi. Udah ah gue mau masuk dulu. Thanks atas tumpangannya," tutur Edrea lalu setalahnya ia turun dari mobil Leon dan melenggang pergi begitu saja.


Sedangkan Leon, laki-laki itu diam-diam mengepalkan tangannya dan dengan kasar ia membuka pintu mobil tersebut, lalu menutupnya dengan sekuat tenaga. Ia tak peduli lagi jika pintu mobilnya itu akan rusak karena ulahnya sendiri.


Dan setalah melakukan hal tersebut, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah yang di tuju Edrea tadi.


Edrea yang sadar jika langkahnya itu diikuti oleh Leon, ia sengaja membelokkan langkahnya ke ruangan khusus untuk tukang kebun sekolah tersebut yang terdapat di pojok sekolah. Dan kebetulan sekali saat dirinya sampai disana, ia melihat Pak Bagong tengah menyapu di depan ruangan tersebut.


"Pak Bagong!" teriak Edrea yang membuat sang empu menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Edrea tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan mata Pak Bagong dan setelah itu ia berlari kearah Pak Bagong yang sekarang tengah melebarkan senyumnya.


"Eh Non Rea. Ada apa Non panggil saya tadi?" tanya Pak Bagong setelah Edrea sampai di depannya.


Mereka berdua kini saling terdiam, hingga Edrea melihat langkah Leon yang semakin mendekati arah mereka berdua.


"Pak pak pak," ucap Edrea sembari menepuk-nepuk pundak Pak Bagong.


Pak Bagong yang awalnya melanjutkan aktivitasnya pun harus menghentikannya.


"Iya, kenapa non?" tanya Pak Bagong.


"Bapak turunin dikit dong badannya. Rea mau bisikin sesuatu ke Bapak," ucap Edrea yang langsung dituruti oleh Pak Bagong.


Dan saat tubuh Pak Bagong sejajar dengan tubuh Edrea, Edrea melirik sekilas kearah Leon dan saat sang empu menatap kearah dirinya, Edrea langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Pak Bagong.


"Rea mau ngucapin terimakasih karena bapak udah bantuin Rea saat Rea kena hukuman guru disini," bisik Edrea dan setalahnya ia menjauhkan wajahnya dari wajah Pak Bagong sembari tersenyum manis.


Sedangkan Leon yang menganggap apa yang ia lihat tadi bukan lah seseorang yang tengah berbisik, melainkan ia melihat Edrea seperti tengah mencium pipi Pak Bagong pun dengan cepat ia melangkahkan kakinya mendekati dua orang tadi.

__ADS_1


Pak Bagong yang tak tau jika dirinya kini tengah ditatap nyalang oleh Leon pun dengan polosnya ia membalas senyuman Edrea sembari menganggukkan kepalanya.


Dan hal itu justru membuat Leon semakin mengepalkan tangannya. Dan setelah dirinya sampai di dekat dua orang tersebut, Leon langsung menyeret tangan Edrea dan membawa tubuh gadis itu di belakang tubuhnya. Bahkan Leon kini tengah menatap tajam kearah Pak Bagong tanpa menampilkan senyum sedikitpun.


Sedangkan Edrea yang melihat hal itu pun dengan sebisa mungkin ia menahan tawanya hingga membuat dirinya menghela nafas berkali-kali dan setalah rasa ingin tertawanya itu hilang, Edrea memulai aktingnya kembali.


"Ish El, Lo apa-apaan sih pakai pegang-pegang tangan gue segala. Lepasin ih, nanti kalau ada yang cemburu kan gue juga yang repot," ucap Edrea dengan berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Leon yang ia rasa semakin ia berusaha untuk melepaskan cekalan tadi, Leon semakin mengeratkan genggamannya.


Ucapan Edrea tadi hanya dianggap angin lalu oleh Leon. Pasalnya laki-laki itu tak bergeming sedikitpun.


"El, lepasin!" tutur Edrea.


"Diam Edne!" ucap Leon dengan suara rendahnya yang justru membuat siapapun yang mendengarnya takut dengan Leon. Tak terkecuali dengan Edrea yang sekarang sudah menghentikan aksinya untuk melepas cekalan dari Leon tadi.


Sedangkan Pak Bagong, ia sedari tadi hanya terbengong karena tak paham situasi yang tengah ia hadapi saat ini.


"Pak," panggil Leon yang membuat Pak Bagong yang awalnya tengah memberikan kode kepada Edrea yang seolah-olah kode itu merupakan kode pertanyaan tentang situasi saat ini pun kini ia mengerjabkan matanya berkali-kali lalu setalahnya ia menatap kearah Leon.


"Eh, iya Mas Leon ada apa?" tanya Pak Bagong.


"Saya peringatkan kepada bapak jangan pernah dekati Rea lagi mulai saat ini!" perintah Leon yang membuat Pak Bagong semakin bingung.


"Apa bapak mengerti apa yang saya ucapkan tadi?" tanya Leon yang dijawab anggukan oleh sang empu.


"Jika bapak sudah paham, maka sekarang bapak mudur 10 langkah kebelakang," perintah Leon. Pak Bagong yang sebenarnya masih bingung pun langsung mengikuti arahan dari Leon tadi.


"Tetap disitu sampai kita pergi dari sini," ucap Leon saat Pak Bagong sudah menjauh dari mereka berdua. Dan hal itu lagi-lagi hanya mendapat anggukan kepala dari sang empu dan setalahnya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Leon membawa Edrea pergi dari lingkungan kerja Pak Bagong tersebut.


Tapi ditengah-tengah perjalanan mereka, Edrea menyempatkan dirinya untuk menoleh kearah Pak Bagong dan dengan lantang ia berteriak.


"PAK BAGONG, I LOVE YOU, SARANGHAEYO, AISHITERU, WO AI NI, AKU TRESNO KARO KOWE, YA LYUBLYU TEBYA, AKU SAYANG KA--- Aaaaaaaa!" belum sempat dirinya meneruskan kata-kata sayangnya untuk Pak Bagong, Leon yang sepertinya sudah jengah mendengarkan suara Edrea itu pun dengan cepat ia menggendong tubuh Edrea ala karung beras.


Sedangkan Pak Bagong yang melihat hal itu hanya bisa tertawa kecil dengan gelengan kepalanya.


"Anak muda jaman sekarang, sama orang yang sudah tua begini masih saja di cemburui, dasar," gumam Pak Bagong yang masih menatap Edrea dan Leon dari kejauhan tanpa melunturkan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2