The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 355


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Vivian tadi katakan, ia dan Zico kini telah berada didalam ruang CCTV setelah sebelumnya mereka bertanya kepada para suster yang tengah bertugas di tempat pendaftaran dan juga bertanya kepada satpam di sana yang ternyata mereka sama sekali tak melihat seseorang yang mereka cari. Dan satu-satunya kesempatan mereka untuk melihat kemana orang yang Zico tabrak itu, hanya mengandalkan rekaman CCTV di rumah sakit tersebut walaupun tadi mereka sempat memohon-mohon pada pihak rumah sakit agar di izinkan untuk masuk kedalam ruangan yang sangat privasi itu. Namun usaha mereka akhirnya tak sia-sia, dan disinilah mereka berdua berada. Diruangan penuh dengan rekaman orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit tersebut.


"Gimana Pak, udah nemu kan orang yang keluar dari ruang VIP nomor 4?" tanya Zico tak sabaran.


"Tunggu sebentar Mas, saya masih berusaha ini," ujar penjaga CCTV tersebut.


Zico yang mendengar hal tersebut pun ia berdecak sebal. Ingin sekali ia mengambil alih penjaga CCTV itu. Tapi sayangnya ia sudah berjanji kepada pihak rumah sakit untuk tidak membuat keributan atau mengganggu penjaga CCTV itu.


Dan karena mengingat janji itu, Zico kini mengatupkan bibirnya walaupun begitu ia terus menggerutu di dalam hatinya.


Hingga tak berselang lama, gerutuan di hati Zico terhenti saat penjaga CCTV itu memperlihatkan rekaman CCTV yang mengarah ke ruangan yang Zico maksud.


"Ini rekamannya Mas. Kita coba lihat perlahan mulai dari jam berapa tadi?" tanyanya.


"Sekitar jam 6 pagian," jawab Zico yang diangguki oleh penjaga CCTV tersebut yang sekarang langsung memutar rekaman CCTV di jam yang Zico tadi katakan.


Ketiga orang yang tengah menatap layar monitor di depannya itu terdiam dengan memperlihatkan pergerakan yang terjadi dalam rekaman tersebut hingga suara Zico membuyarkan ke fokusan Vivian dan penjaga CCTV tersebut.


"Stop!" teriak Zico yang membuat penjaga CCTV itu langsung me-pause rekaman CCTV yang tengah menampilkan seorang perempuan dengan pakaian biasa tengah keluar dari kamar VIP nomor 4.


"Coba zoom Pak," perintah Zico yang langsung dilakukan oleh petugas CCTV itu.


Dan saat gambar itu sudah di zoom, Zico langsung membelalakkan matanya.


"Itu dia orangnya Kak. Itu dia," ucap Zico sembari menunjuk kearah monitor tersebut.


Vivian yang berada di samping Zico pun tangannya kini bergerak untuk mengusap lengan Zico dengan lembut.


"Kamu tenang dulu. Kita lihat kemana dia perginya," ujar Vivian.


"Pak coba play lagi rekamannya. Dan lihat ke rekaman CCTV lainnya yang menampilkan orang itu akan pergi kemana," sambung Vivian yang diangguki oleh penjaga CCTV tersebut sebelum dirinya mulai melanjutkan rekaman CCTV dan mengikuti arah pergi dari seseorang yang tengah ia pantau.


Beberapa rekaman CCTV dari berbagai titik kini terpampang nyata di depan Zico hingga tiba di rekaman CCTV yang menampilkan orang itu tengah berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut hingga beberapa saat ada sebuah mobil yang ia ketahui jika itu adalah mobil taksi menghampiri perempuan itu. Hingga perempuan itu masuk kedalam mobil tersebut sebelum mobil itu menghilang dari pantauan CCTV tersebut. Dan hal tersebut membuat Zico menundukkan kepalanya dengan lesu.


Vivian yang melihat hal itut pun ia kini menggenggam tangan Zico.


"Di rekaman ini, orang yang Mbak sama Mas cari sudah keluar dan pergi dari rumah sakit ini," jelas penjaga CCTV tersebut.


"Iya Pak. Kalau begitu saya dan adik saya pamit undur diri dulu. Terimakasih atas waktu bapak. Selamat pagi," ujar Vivian dengan membagikan sekilas senyuman ramahnya kepada penjaga CCTV tersebut sebelum akhirnya ia menuntun tubuh Zico keluar dari ruangan tersebut.


Di dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran mobil, tak ada yang bersuara hingga Vivian menyadari sesuatu yang jika mereka lewatkan akan membuat Zico mendapat masalah besar nantinya.

__ADS_1


"Jio, tunggu sebentar." Vivian menghentikkan langkah kakinya yang otomatis langkah Zico juga terhenti.


"Kakak mau tanya, kamu sudah melunasi biaya administrasinya?" tanya Vivian yang membuat Zico kini menegakkan kepalanya kembali.


"Astaga Jio lupa Kak. Kalau gitu, Kakak ke mobil dulu. Biar Jio ngurus administrasi dulu. Kakak gak bawa mobilkan?" Vivian menggelengkan kepalanya karena dirinya tadi ke rumah sakit itu hanya menggunakan taksi online saja.


"Ya sudah kalau begitu. Ini kuncinya. Jio menyelesaikan urusan Jio sebentar. Kakak tunggu disana," ujar Zico dan setelah kunci mobilnya ia serahkan ke Vivian, Zico langsung bergegas masuk kembali kedalam rumah sakit tersebut tanpa memperdulikan Vivian yang tengah menatap kepergiannya.


Hampir setengah jam Vivian menunggu Zico didalam mobil milik adiknya itu, segala macam aktivitas sudah ia lakukan untuk menghalau kesendiriannya itu, hingga akhirnya orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang juga dan kini orang itu telah duduk di kursi kemudi.


"Udah?" tanya Vivian yang hanya diangguki oleh Zico untuk menjawabnya.


Lalu tanpa melihat kearah Vivian terlebih dahulu, Zico sudah menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang seperti biasa sudah sangat macet walaupun jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Dan hal tersebut membuat mood Zico semakin hancur saja. Bahkan laki-laki itu tak segan-segan membunyikan klakson mobilnya saat dirasa mobilnya hanya stay di tempat.


"Ck, sampai kapan sih nih kota lepas dari kata macet. Lama-lama gue bikin transportasi mobil dengan jurus menghilangkan kalau kayak gini terus caranya," gerutu Zico yang masih bisa didengar oleh Vivian yang sekarang tengah mati-matian menahan tawanya. Karena jika saja dia tertawa sudah dipastikan Zico akan semakin merajuk nanti.


"Sabar dikit sayang. Maklum saja kalau jam segini banyak orang-orang yang sudah mulai beraktivitas," tutur Vivian yang semakin membuat Zico mengerucutkan bibirnya.


"Oh ya sayang. Sebelum kita pulang, kita kerumah Daddy sama Mommy dulu ya. Mereka mau ngomong sama Jio katanya," ujar Vivian yang kini mendapat lirikan mata dari Adiknya itu.


"Bukannya kita memang harus kesana, karena Jio kan harus mengantar Kakak ke rumah kedua orangtua Kakak," ucap Zico yang membuat Vivian kini tersenyum.


"Mereka memang orangtua Kakak, keluarga kandungan Kakak. Tapi Kakak sudah terlalu nyaman dengan orang-orang yang sejak kecil Kakak kenal. Bukannya Kakak tidak mengakui atau menerima fakta yang ada, melainkan Kakak hanya lebih nyaman dengan rumah kedua orangtua Kakak yang sudah membesarkan Kakak dan rumah itu harusnya rumah kamu karena kamu anak tunggal dari Mama dan Papa. Jadi aku disana hanya menumpang sama kamu. Dan Kakak harap kamu mengizinkan Kakak untuk tinggal di rumah yang penuh kenangan itu. Tapi jika kamu tidak mengizinkan Kakak---" belum sempat Vivian menyelesaikan ucapannya, tangan kiri Zico langsung bergerak untuk menggenggam tangannya.


"Oh ya kalau boleh tau, Om sama Tante mau ngomong apa sama Jio?" tanya Zico.


Vivian yang mendengar panggilan Zico untuk orangtuanya itu pun ia mendengus kesal dan saking kesalnya ia bahkan sempat memukul lengan Zico.


"Jangan panggil mereka dengan sebutan Om dan Tante. Kamu tadi tau kan kalau mereka tidak suka dipanggil seperti itu. Bahkan mereka juga sudah memberitahu kamu jika mereka mau kamu panggil dengan sebutan Mommy sama Daddy. Jadi panggil lah mereka dengan sebutan itu bukan dengan sebutan yang lainnya. Kamu paham Jio?" ujar Vivian.


"Tapi aku tidak pantas untuk memanggil mereka dengan sebutan itu Kak, setelah semua kesalahan yang Jio perbuatan kepada mereka," ucap Zico.


"Kata siapa kamu tidak pantas memanggil mereka dengan sebutan Mommy sama Daddy. Perlakuan kamu dulu memang sangat sulit untuk di maafkan jika orang yang hidupnya kamu ganggu itu adalah orang lain. Tapi lihatlah Daddy sama Mommy, mereka malah merangkul kamu saat mereka tau kalau kamu punya penyakit. Bahkan mereka tidak menghakimi kamu seperti orang-orang lain yang jika mengalami hal tersebut pasti nyawa kamu sudah melayang ditangannya. Mereka justru membantu kamu untuk bangkit dan membiayai kamu untuk keluar dari penyakit kamu itu. Dan sekarang mereka hanya mau dipanggil dengan sebutan Mommy dan Daddy sama kamu saja kamu masih enggan. Apa begini cara kamu untuk berterimakasih kepada mereka? Mereka tidak menginginkan lebih dari itu Jio. Jadi jangan kecewakan mereka dengan kamu memanggil mereka dengan sebutan Om ataupun Tante. Meraka hanya ingin kamu panggil Daddy sama Mommy, tidak dengan panggilan yang lain," tutur Vivian panjang lebar untuk meyakinkan Zico yang masih tampak enggan atau lebih tepatnya malu dengan melontarkan penggilan itu kepada dua orang yang hidupnya hampir saja ia hancurkan.


Vivian yang melihat keterdiaman dari Zico pun ia kini menghela nafas kasar.


"Baiklah kalau kamu tidak mau memanggil orangtua kandung Kakak dengan sebutan Mommy sama Daddy berarti kamu sudah tidak menganggap Kakak sebagai Kakakmu lagi. Jadi lebih baik sekarang kamu pinggirkan mobilnya dan biarkan Kakak keluar," ucap Vivian yang otomatis membuat Zico kini melebarkan matanya. Bahkan genggaman di tangan Vivian semakin erat yang perempuan itu rasakan.


"Oke, fine, Jio kalah. Jio akan memanggil mereka dengan sebutan Mommy sama Daddy. Puas?" Zico menatap Vivian dengan garangnya. Tapi tatapan itu justru dimata Vivian terlihat sangat lucu hingga berhasil membuat perempuan itu kini tertawa terbahak-bahak sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Ck, kenapa malah ketawa? Jio lagi marah lho ini gara-gara Kakak ngancam Jio dan berhasil mengalahkan Jio," ujar Zico tak terima.

__ADS_1


"Buwahahaha kamu marah? Ya kali wajah orang lagi marah kok lucu begini," ucap Vivian sembari mencubit pipi Zico dengan gemas.


"Ck, jangan pegang-pegang." Zico menepis pelan tangan Vivian yang tadi mencubit pipinya.


"Bodoamat." Tangan Vivian kembali bergerak untuk mencubit pipi Zico kembali. Namun tangan itu tiba-tiba terhenti di udara saat Zico mengeluarkan lirikan mautnya yang benar-benar terlihat sangat menakutkan. Dan hal tersebut membuat Vivian menjauhkan tangannya dan dengan susah payah ia menelan salivanya.


Sedangkan Zico yang melihat wajah ketakutan dari Vivian pun ia sekuat mungkin menahan tawanya. Hingga...


"Puftttt hahahaha. Lucu banget sih wajah Kakakku ini kalau lagi ketakutan. Tenang aja Kak, adikmu ini gak akan makan Kakak kok, tapi cuma gigit kayak gini aja," ucap Zico dan dengan cepat ia mendekatkan wajahnya ke wajah Vivan. Lalu dengan gesitnya bahkan saking gesit, pergerakannya itu sama sekali tak terbaca oleh Vivian. Hingga terdengar rintihan kesakitan dari Vivian saat pipi perempuan itu kini tengah digigit oleh Zico.


"Aw aw aw sakit, Jio. Lepas ih." Vivian memukul-mukul lengan Zico saat adiknya itu masih saja menggigit pipinya tanpa ampun.


Zico yang sudah merasa puas mengigit pipi Vivian pun ia melepaskan gigitannya itu. Tapi sebelum memundurkan wajahnya ia mencium gemas pipi Vivian yang menjadi bekas gigitannya tadi.


"Dah sembuh," ucap Zico sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Vivian yang sekarang tengah mengerucutkan bibirnya.


"Ck, sakit tau, Jio. Kamu ini, ihhhh dah lah Kakak mau marah sama kamu. Kakak gak mau ngomong sama Jio lagi. Kakak mau merajuk," ujar Vivian dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bahkan tatapan matanya kini mengarah ke luar jendela mobil.


Sedangkan Zico yang melihat hal tersebut pun bukannya mencoba untuk membujuk Vivian agar tak marah dan merajuk kepadanya, Zico sekarang justru terkekeh melihatnya. Karena ia tau apa yang Vivian tadi ucapkan tak akan pernah terjadi.


"Mau merajuk kok ngomong di depan orang yang menjadi alasannya buat merajuk." Vivian yang mendengar perkataan Zico pun ia melirik sini kearah adiknya itu.


"Baiklah-baiklah. Kalau mau merajuk, merajuk lah," tutur Zico saat ia melihat tatapan tak bersahabat dari Kakaknya itu. Walaupun tadi ia sempat ingin meneruskan kata-katanya, tapi saat ia melihat Vivian sudah dalam mode tatapan sinis, ia urungkan niatnya tadi. Karena jika ia meneruskan, sudah dipastikan Vivian nanti akan menangis yang akan membuat dirinya kesusahan sendiri nanti.


Zico terus mengendarai mobilnya hingga mobil itu kini telah memasuki pekarangan rumah mewah dari keluarga Abhivandya. Dan baru saja mobil itu berhenti, Vivian langsung keluar dari mobil tersebut dengan tak santai. Dan hal tersebut membuat Zico hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tapi sesaat setelahnya ia menghela nafas panjang dengan mata yang melihat bangunan rumah di hadapannya itu. Setelah membuat keributan satu tahun yang lalu, setelah menyembunyikan fakta bahwa Vivian salah satu keluarga pemilik dari rumah tersebut selama bertahun-tahun, dan setelah tadi malam membuat orang-orang di rumah tersebut tak tertidur karena mencari dirinya. Apakah masih pantas Zico menginjakkan kakinya di rumah tersebut setelah banyak sekali masalah yang ia timbulkan? Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otaknya hingga lamunan Zico buyar saat pintu mobil tepat di sebelahnya terbuka dan menampilkan Vivian di sana.


"Keluar. Jangan punya niatan buat kabur lagi ya kamu. Kakak gak bakal izinin hal itu terjadi," ujar Vivian yang kini mulai bergerak menarik tubuh Zico untuk keluar dari mobil tersebut.


"Jio bisa keluar sendiri Kak," ucap Zico yang kini mulai keluar dari mobilnya walaupun tarikan di lengannya masih Vivian lakukan.


Vivian yang melihat Zico sudah benar-benar keluar dari mobil tersebut, ia segera menutup pintu mobil itu cukup keras. Hingga membuat Zico memelototkan matanya.


"Kak, mobil Jio nanti bisa rusak," ucap Zico.


"Rusak tinggal beli lagi. Lagian kamu tuh sudah jadi sultan muda. Jadi buat beli mobil satu lagi yang baru uang kamu juga gak akan habis," ujar Vivian dengan menggandeng lengan Zico dan membawa laki-laki itu masuk kedalam rumah mewah itu.


Sedangkan Zico yang mendengar kata-kata Kakaknya itu ia tampak terdiam sesaat sebelum ia diam-diam membenarkan apa yang Vivian tadi katakan. Dan tanpa ia sadari kaki jenjangnya itu kini telah masuk kedalam rumah mewah itu.


"Duduk dulu anak muda," ucap Vivian sembari mendorong pelan tubuh Zico agar laki-laki itu segara jatuh kesalah satu sofa di ruang tamu.

__ADS_1


"Kakak cari Daddy sama Mommy dulu. Kamu jangan kemana-mana. Kalau sampai Kakak balik dan gak nemuin kamu disini. Siap-siap saja besok kamu akan lihat perusahaan kamu akan rata dengan tanah," ancam Vivian sebelum ia pergi dari hadapan adiknya itu yang kini tengah mendengus kesal dengan segala ancaman yang selalu Vivian itu lontarkan yang hanya sampai di mulut perempuan itu saja dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Tapi walaupun begitu Zico tak berani melanggar apa yang sudah Vivian perintahkan sebelumnya.


__ADS_2