
Kini Erland dan Kayla tengah menyelesaikan makanan yang dimasak oleh Kayla tadi.
"Enak kan?" tanya Kayla sembari melihat wajah Erland yang tampak kekenyangan itu. Ya bagaimana tak kekenyangan kalau dia saja sampai nambah 3 kali.
Erland hanya menjawab dengan acungan jempol saja dengan mengelus perutnya yang syukurnya perut sixpacknya itu tak berubah menjadi perut donat.
Kayla yang melihat hal itu pun terkekeh kecil kemudian ia beranjak dari duduknya dan berniat untuk membereskan piring kotor mereka berdua.
"Lo duduk aja biar gue yang bersihin ini semua," ucap Erland saat tangan Kayla mulai meraih piring di depannya.
"Eh gak usah. Lo aja yang duduk kan lo kekenyangan tuh," tolak Kayla.
"Ck, Lo duduk sekarang atau gak!"
"Gak. Udah lah Er, biar gue aja. Ini juga waktunya udah mempet," tutur Kayla.
"Jangan bantah! turutin apa yang gue ucapin tadi." Saat Kayla ingin menimpali ucapan tadi, tangan Erland sudah mendarat di bibir tersebut, membekap mulut itu supaya ia tak mendengar penolakan lagi dari Kayla.
"Kalau lo masih bawel jangan salahkan gue kalau nanti bibir gue mendarat di bibir lo," ancam Erland sembari melepaskan tangannya.
Kayla kini hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak berani berucap lagi. Sedangkan Erland kini tersenyum kemudian ia segera membereskan piring kotor tadi.
Tak berselang lama, Erland telah selesai mencuci piring dan segera menghampiri Kayla yang sedari tadi menatap dirinya dari kursi makan.
"Terimakasih," ucap Kayla.
"Gue yang harusnya berterimakasih sama lo karena udah dikasih makan disini. Kalau bisa sering-sering lah bikinin gue makanan kayak tadi," tutur Erland.
"Semua yang lo makan tadi gak gratis tau," ucap Kayla sembari berjalan menuju ruang santai dirumah tersebut diikuti Erland dibelakangnya.
"Oh gitu. Jadi bayar berapa untuk semua yang gue makan tadi?" tanya Erland sembari duduk di samping Kayla.
"10 juta," ucap Kayla dengan memperlihatkan 10 jarinya.
"Oke." Erland kini meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja di depannya itu.
__ADS_1
"Nomor rekening?" tutur Erland.
"Hah? nomor rekeningnya siapa?"
"Ya nomor rekening lo lah. Gue gak punya uang tunai jadi gue akan bayar makanan tadi lewat transfer," jawab Erland. Kayla yang tadi hanya berniat bercanda kini melongo. Bisa-bisanya dengan enteng Erland bersedia membayar makanan hasil masakannya tadi dengan harga yang cukup tak masuk akal.
"Eh gak usah Er. Gue tadi cuma bercanda doang. Makanan tadi gratis gak perlu bayar," tutur Kayla yang malah tak enak hati sendiri.
"Kalau gue mau bayar gimana?"
"Gak gue terima lah uang lo. Gue tadi cuma bercanda beneran, suer gak bohong." Erland kini menaruh kembali ponselnya setelah itu ia mengacak rambut Kayla dengan gemas.
"Libur kerja dulu nanti!" perintah Erland.
"Gue?" tanya Kayla sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya lah. Kan disini yang kerja sampingan cuma lo doang. Gue kan gak kerja," tutur Erland.
"Ck, Lo emang gak kerja tapi pemasukan terus bertambah dan masuk ke rekening lo. Lha gue kalau gak kerja ya gak makan. Udah lah gue mau siap-siap dulu." Kayla kini berdiri dari duduknya dan baru satu langkah, tangannya ditarik paksa oleh Erland hingga dirinya terhuyung dan jatuh di pelukan Erland. Untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu hingga akhirnya Kayla tersadar dan menjauh dari tubuh Erland.
"Maaf maaf gue gak sengaja," tutur Kayla dengan muka yang sudah memerah menahan malu.
"Btw muka lo kenapa merah kayak gitu?" sambung Erland dengan sebisa mungkin menahan tawanya.
Kayla dengan cepat menutup wajahnya dan berlari menuju kamarnya. Sedangkan Erland kini tertawa terbahak-bahak.
"Ck, kenapa pakai merah kayak gini sih ah elah lemah banget," gerutu Kayla saat sudah di dalam kamarnya. Ia terus bergerutu sampai terdengar ketukan pintu kamarnya berbunyi.
Tok tok tok!!
"Iya, kenapa?" teriak Kayla.
"Hari ini jangan kerja dulu. Libur satu hari," teriak Erland dari luar.
"Gue gak makan kalau gak kerja. Gue juga gak mau kena omel pak bos nanti."
__ADS_1
"Gue bosnya Kay. Dan Lo masih bisa makan hanya libur satu hari aja. Gue akan tetap gaji lo untuk libur hari ini. Jadi jangan bawel mulu dan sekarang ganti baju lo, kita keluar habis ini. Gue tekankan sekali lagi jangan ngebantah!" teriak Erland penuh penekanan.
Kayla berdecak tapi ia segera Menganti baju santainya. Tak butuh waktu lama, ia keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Erland yang sudah sangat rapi dengan celana jeans, kaos putih polos dilapisi oleh jaket denim dipadupadankan dengan sepatu yang senada dengan kaosnya. Entah dari mana Erland mendapatkan pakaian itu semua karena sebelumnya Erland hanya menggunkan kaos berwarna hitam dan celana seragamnya.
"Ehemmm," dehem Kayla. Erland yang sedari tadi memainkan game online di ponselnya itu pun kini segera keluar dari game tadi dan menatap Kayla yang tampak cantik dengan celana jeans panjang, kaos dengan warna yang sama dengan Erland tapi bagian luarnya ia menggunakan kemeja flanel, dipadu padankan dengan sepatu putih dan rambut yang terurai begitu saja.
Sesaat Erland terpesona dengan wajah cantik natural hanya dengan polesan make up yang sangat tipis itu.
"Kedip kali Er. Gue ngeri sendiri lihat mata lo kayak mau copot gitu. Apa style gue aneh?" tanya Kayla yang menyadarkan Erland kembali.
"Gak aneh sama sekali hanya saja ada yang kurang," tutur Erland sembari berdiri dari duduknya.
"Apa?" tanya Kayla penasaran.
"Nanti aja gue kasih taunya. Kita pergi dulu sekarang keburu malam." Erland meraih kunci motornya kemudian keluar dari rumah tersebut diikuti oleh Kayla.
"Buruan naik!" perintah Erland saat dirinya sudah siap di atas motornya. Kayla pun mengangguk dan dengan hati-hati ia naik motor tersebut, lalu memakai helm yang diberikan oleh Erland.
"Rumah udah lo kunci?" tanya Erland memastikan.
"Udah," jawab Kayla. Erland pun mengangguk kemudian ia dengan perlahan menjalankan motor sportnya itu menuju kesalah satu pusat kota di daerah tersebut yang kebetulan baru ada pasar malam.
Butuh beberapa jam akhirnya mereka sampai di lokasi yang mereka tuju dan dengan segera Erland juga Kayla turun dari motor tersebut.
"Ayok," ajak Erland sembari menggandeng tangan Kayla masuk ke sekitar lapangan yang sudah dipenuhi dengan beberapa pedangan makanan, aksesoris, pakaian, boneka dan lain sebagainya.
"Ini seperti pasar malam," ucap Kayla.
"Kan emang pasar malam sayang," tutur Erland. Kayla yang mendengar kata sayang keluar dari mulut Erland pun kini menatap Erland dengan kerutan di keningnya.
"Gue salah dengar apa gimana sih?" tanya Kayla dalam batin.
"Gue tau kalau gue ganteng Kay," ucap Erland yang membuat Kayla mencebikkan bibirnya.
"PD sekali dirimu ini bapak Erland."
__ADS_1
"Heh gue belum punya anak ya. Jadi jangan panggil gue dengan sebutan bapak kalau calon suami boleh." Kayla kini memukul pelan perut Erland.
"Canda mulu jadi orang. Stop bercanda sekarang mari berjelajah wahana," tutur Kayla penuh antusias.