
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter sebelumnya. Leon kini telah di pindahkan ke rumah sakit dimana tempat itu juga merupakan tempat kerja Adam berada, terlebih lokasi rumah sakit itu tak jauh dari kediaman keluarga Abhivandya.
Leon yang keadaannya tak memungkinkan untuk di rawat di kamar inap pun dia sekarang di tempatkan di ruang ICU hingga keadaannya benar-benar pulih nantinya.
Tapi bukan hanya Leon saja yang di pindahkan di rumah sakit tersebut melainkan Zea juga kini berada di rumah sakit yang sama. Dan kini ia tengah di temani oleh Azlan di ruangannya.
"Bagaimana keadaan Edrea sekarang?" tanya Zea yang sedari tadi tak melihat Edrea sama sekali.
Azlan yang tadinya sibuk untuk menyendokkan bubur untuk ia suapkan ke Zea, tangannya kini berhenti melakukan aktivitasnya dan beberapa saat setelahnya terdengar helaan nafas panjang dari Azlan.
"Keadaan dia lebih tenang dari sebelumnya. Dia sudah tidak menangis lagi tapi dia justru sekarang banyak ngalamun," ujar Azlan.
"Jika aku di posisi Rea sekarang mungkin akan sama seperti dia. Ya gimana gak murung kalau orang yang kita sayang tengah terbaring dengan mata yang terus tertutup. Pasti berat di posisi Rea saat ini. Aku ingin sekali kesana untuk memeluk Rea, tapi keadaanku sendiri aja begini. Kaki yang sekarang bengkak, sakit kalau di buat jalan, belum lagi pusing yang tiba-tiba datang. Ck, benar-benar menyebalkan," ujar Zea dengan memukul-mukul pahanya sendiri.
"Hey, apa yang kamu lakukan. Hentikan, jangan memukul kakimu lagi." Azlan kini memegang kedua tangan Zea agar kekasihnya itu tak terus menerus memukul pahanya sendiri.
"Ish, aku tuh sebel tau Az. Saat Rea sekarang tengah terpuruk aku malah gak ada disampingnya," ucap Zea dengan kerucutan di bibirnya.
Azlan yang melihat wajah masam dari Zea pun ia segera membawa tubuh kekasihnya itu kedalam pelukannya.
"Sudah tidak apa-apa. Rea pasti tau dan mengerti kondisi kamu yang sekarang. Tidak perlu merasa sebal dan berakhir kamu menyakiti diri kamu sendiri. Jadi lebih baik kamu sekarang makan dulu ya, kasihan perut kamu yang dari tadi tidak terisi makanan sedikitpun," ucap Azlan sembari mengelus perut datar Zea.
"Ze," panggil Azlan tiba-tiba yang membuat Zea berdehem untuk menanggapi ucapan dari laki-laki tersebut.
"Kapan ya anak aku tumbuh dan berkembang disini," ujar Azlan yang masih mengelus perut Zea.
Zea yang mendengar penuturan dari Azlan pun dengan santainya ia menjawab, "Nanti kalau kita sudah bereproduksi," ujar Zea.
"Ya udah kalau gitu kita reproduksi sekarang aja yuk Ze. Aku udah gak sabar soalnya. Mumpung di sini juga cuma ada kita berdua," tutur Azlan yang membuat Zea langsung melebarkan matanya. Dan dengan cepat serta untuk berjaga-jaga Zea kini memukul tangan Azlan yang masih berada di perutnya lalu setelahnya ia menjauhkan tangan kekar itu dari dirinya.
"Jangan aneh-aneh deh Az," ucap Zea yang kini takut sendiri dengan Azlan.
"Lah kan tadi kata kamu anak aku akan berkembang setelah kita bereproduksi. Jadi apa salahnya kita mencoba disini siapa tau setelah itu anak aku langsung jadi," ujar Azlan dengan entengnya.
"Ck, maksud aku tuh ya gak sekarang juga. Nanti kalau udah lulus dan---"
"Baiklah kalau kita udah lulus kita langsung tancap gas bereproduksi 24 jam nonstop tanpa jeda," ucap Azlan yang justru bibirnya langsung terkena pukulan dari tangan Zea.
"Mulut kamu itu ya ihhhh. Maksud aku tuh kita buat anaknya nanti kalau udah lulus dan udah nikah. Ya kali kita buatnya sekarang. Ingat dosa Az. Kamu mah ishhh menyebalkan," ujar Zea dengan kerucutan di bibirnya. Dan hal tersebut membuat Azlan terkekeh.
"Bercanda sayang. Aku juga masih terlalu waras buat ngelakuin hal itu," tutur Azlan yang justru semakin membuat Zea mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Bodoamat. Aku gak peduli," marah Zea.
"Cieee yang marah nih. Jangan marah dong sayang kalau marah aku ajak reproduksi sekarang juga nih," ucap Azlan yang langsung mendapat pelototan mata dari Zea.
"Azlan!" geram Zea sembari memukul lengan kekasihnya itu.
"Aws kenapa di pukul sih sayang. Sakit tau," ucap Azlan dengan mengelus lengannya yang terkena bogeman dari Zea tadi. Walaupun sebenarnya ia tak merasakan sakit sedikitpun tapi membuat Zea sebal seperti saat ini adalah hobi baru Azlan.
"Bodoamat," ujar Zea dengan menekankan ucapannya itu.
"Ih kok gitu. Ini beneran sakit lho. Apa kamu gak kasihan sama pacar kamu sendiri?"
"Gak. Aku lebih kasihan sama cicak yang gak bisa nangkap nyamuk noh," jawab Zea dengan menujuk kearah pojok ruangan dimana disana ada seekor cicak yang tengah mencari mangsanya.
Azlan yang tadi mengikuti arah pandang dari Zea pun ia menghela nafasnya sebelum ia kini mendekatkan wajahnya di wajah Zea. Dan tanpa permisi, Azlan kini mengigit pipi kekasihnya itu.
"Gemes," ucap Azlan setelah ia melepaskan gigitannya.
__ADS_1
Sedangkan Zea yang mendapat gigitan tadi ia kini memukul lengan Azlan membabi buta.
"Azlan!" geram Zea.
"Iya sayang," ucap Azlan yang masih berani menjawab ucapan dari Zea tadi walaupun dengan sesekali meringis merasakan pukulan dari Zea itu. Kalau satu pukulan sih dia masih biasa saja tapi kalau membabi buta seperti ini Azlan juga akan merasa sakitnya pukulan Zea.
"Ihhhh menyebalkan!" Zea kini menghentikkan pukulannya tadi lalu setelahnya dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya. Lalu kemudian ia membelakangi tubuh Azlan tak lupa ia menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.
"Eh sayangku marah?" tanya Azlan yang sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari Zea. Dan saat dirinya menyentuh lengan kekasihnya, tangannya langsung di tangkis oleh Zea.
"Jangan pegang-pegang," ujar Zea dengan galaknya tanpa merubah posisinya sebelumnya.
"Sayang marahnya dipending dulu ya. Kan sayang belum makan. Kalau nanti udah makan, mau marah silahkan," tutur Azlan.
"Gue udah kenyang. Makan aja sana sendiri," ujar Zea dengan merubah panggilnya yang tadinya menggunakan kata aku-kamu sekarang menjadi lo-gue.
Azlan yang mendengar perubahan dari panggilan itu pun ia kini menaruh tempat makan yang tadi sudah ia ambil kembali keatas nakas. Lalu tanpa berucap sedikitpun, ia kini beranjak dari tempat duduknya kemudian ia segera berpindah ke brankar yang disana sudah ada Zea. Dan tanpa Zea duga, Azlan kini merebahkan tubuhnya disampingnya. Lalu yang lebih membuat Zea terperanjat kaget, tangan Azlan kini telah melingkar indah di pinggangnya.
"Jangan marah lagi. Maafin aku," bisik Azlan tepat di samping telinga Zea. Walaupun kepalanya masih tertutup oleh selimut tapi hembusan nafas dari Azlan yang menerpa telinganya itu masih bisa ia rasakan. Dan hal tersebut membuat jantung Zea berdegup kencang.
Bahkan ia dibuat semakin terkejut saat Azlan membuka selimut Zea kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zea.
"Sayang maaf," ucap Azlan dengan suara lirihnya yang berhasil membuat Zea kembali tersadar dan dengan cepat ia melepaskan pelukan dari Azlan tadi.
"Jauh-jauh sana dari gue," usir Zea yang semakin merapatkan tubuhnya di pembatas brankar.
"Ih kok gitu. Gak mau." Azlan kembali memeluk tubuh Zea dengan erat. Padahal niatnya tadi hanya ingin mengerjai Zea supaya perempuan itu tidak kepikiran dengan keadaan Edrea sekarang saat keadaannya sendiri masih seperti saat ini. Tapi ternyata candaan dari Azlan tadi berujung dirinya sendiri yang di buat repot dengan marahnya seorang Zea yang pastinya akan menambah beban dan pikirannya.
"Gue bilang menjauh ya menjauh. Jangan peluk-peluk gue," ucap Zea.
"Sayang," rengek Azlan saat Zea berhasil melepaskan kembali pelukannya bahkan kekasihnya itu sekarang sudah terduduk dengan tatapan tajam yang ia arahkan ke dirinya.
"Maaf," sambungnya dengan menundukkan kepalanya dengan tangan yang bergerak untuk memainkan selimut yang berada di depannya.
Zea yang melihat tingkah Azlan yang sangat-sangat berbeda dari sebelumnya itu pun ia kini mengerutkan keningnya.
"Ini beneran Azlan bukan sih? Kok dia jadi kayak bocil gini. Manja banget, gak kayak biasanya yang super duper tegas. Atau jangan-jangan dia kesurupan lagi dan yang nempatin tubuhnya sekarang adalah arwah anak kecil," batin Zea diakhiri dengan ia bergidik ngeri dengan pikiran negatifnya itu.
Ia masih menatap Azlan yang terus mengucapkan kata maaf di bibirnya hingga akhirnya tangannya kini bergerak untuk memegang kening Azlan.
Azlan yang merasakan tangan Zea berada di keningnya itu, ia kini menegakkan kembali kepalanya.
"Az, lo gak papa kan? Otak lo gak lagi eror kan? Lo---" belum juga Zea menyelesaikan ucapannya, Azlan dengan cepat memeluk tubuh Zea.
"Maafin aku sayang. Aku tadi hanya bercanda. Maaf, hiks," ucap Azlan dengan air mata yang menetes yang berhasil membuat Zea tersentak dibuatnya.
"Lho Az, kok nangis," ujar Zea dengan berusaha melihat wajah Azlan namun laki-laki itu tidak ingin menunjukkan wajahnya yang berada di ceruk leher Edrea.
"Hiks, maaf," ulang Azlan.
Zea yang sudah tak tau harus berbuat apa karena tadi ia juga tengah mengerjai Azlan pun ia kini menepuk-nepuk punggung Azlan pelan.
"Iya-iya gue maafin. Tapi jangan nangis lagi ya," ucap Zea.
"Gak mau. Kamu aja masih marah sama aku," tutur Azlan.
"Lah kata siapa? Gue udah gak marah lagi sama lo." Azlan menggelengkan kepalanya.
"Kalau udah gak marah kenapa manggilnya pakai lo-gue harusnya kan aku-kamu," ucap Azlan.
__ADS_1
"Eh maaf tadi kelepasan. Maafin aku ya sayang. Udah ya jangan nangis lagi. Cup cup cup," ujar Zea yang kini membuat Azlan melepaskan pelukannya kemudian ia menatap wajah Zea yang tengah memincingkan alisnya.
"Janji," ucap Azlan sembari mengacungkan jari kelingkingnya kearah Zea.
Zea yang sudah tak kuasa melihat kegemasan yang di pancarkan dari wajah kekasihnya itu pun ia memilih untuk mengalah dan berakhir ia membalas uluran jari kelingking dari Azlan tadi.
"Iya aku janji," ujar Zea kemudian tangannya kini terulur untuk menghapus air mata Azlan.
"Udah ya jangan nangis lagi. Masak laki-laki nangis, malu sama cicak diruangan ini," tutur Zea yang kembali membuat bibir Azlan mengerucut lucu.
"Laki-laki juga manusia, punya hati dan juga punya perasaan kali. Emang yang boleh nangis cewek aja? gak, laki-laki juga berhak buat nangis," jawab Azlan.
"Ya udah iya, maaf deh," ucap Zea mengalah. Dan setelah ia mengatakan hal tersebut Azlan kini merentangkan kedua tangannya yang lagi-lagi membuat Zea memincingkan alisnya.
"Apa?" tanya Zea yang tak paham dengan maksud dari Azlan tadi.
Dan hal tersebut membuat Azlan kini berdecak sebal.
"Ck, peluk. Zea mah gak peka," ujar Azlan dengan menghentak-hentakkan kakinya dan memukul-mukul pahanya, persis seperti anak kecil yang tengah marah dengan ibunya.
"Az, kamu beneran baik-baik aja kan? Kamu gak lagi kesurupan kan?" tanya Zea yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Seorang Azlan yang terkenal dengan cowok cool, kulkas 7 pintu, beruang kutub, dan masih banyak lagi sebutan yang menggambarkan jika dirinya adalah laki-laki dingin tapi sayangnya itu semua tidak berlaku saat berada di hadapan Zea. Walaupun awalnya Azlan terlihat masih wajar-wajar saja, tapi sepertinya mulai saat ini juga Azlan akan lebih manja dengannya. Jika memang benar, Zea hanya berharap dirinya akan di beri kesadaran yang lebih lagi. Karena baru beberapa menit saja ia menghadapi tingkah manja dari kekasihnya saat ini, ia sudah di buat pusing sendiri apalagi nanti, Zea benar-benar tak bisa membayangkannya.
Dan ucapan dari Zea tadi membuat Azlan kembali melengkungkan bibirnya kebawah. Zea yang tau jika itu menandakan jika Azlan akan menangis lagi, ia segera memeluk tubuh kekasihnya itu.
"Oke-oke sayang. Maafin aku ya. Ini juga udah aku peluk. Jangan nangis lagi oke," ujar Zea.
"Gak mau," rengek Azlan.
"Lho kok gak mau. Terus biar kamu gak nangis lagi, aku harus apa sekarang?" tanya Zea.
Azlan kini menengadahkan kepalanya untuk menatap kearah wajah Zea.
"Cium," ucap Azlan yang membuat Zea kini menghela nafas berat lalu setelahnya ia mencium kening Azlan.
"Ih ciumnya bukan disitu," ujar Azlan.
"Lah terus dimana?" Jari Azlan kini bergerak menujuk kearah bibirnya.
"Disini," ujar Azlan. Dan hal tersebut justru membuat Zea kini menepuk bibir Azlan.
"Ye itu mah modus kamu aja," ucap Zea dengan galaknya.
"Huwaaaaa Mommy, Zea jahat sama Azlan," teriak histeris Azlan yang membuat Zea kini menepuk keningnya sendiri lalu setelahnya ia mengeratkan pelukannya sembari mengelus rambut Azlan dengan lembut.
"Maaf sayang. Tadi tangan aku refleks. Jangan nangis lagi ya please. Dan permintaan kamu tadi lebih baik diganti aja oke," ucap Zea dengan suara yang super duper lembut.
"Gak mau," kekeuh Azlan dengan sesegukan.
"Kok gak mau sih. Ayo lah sayang," ucap Zea dengan memperlihatkan ekspresi wajah memelasnya.
Azlan yang melihat ekspresi wajah Zea yang berubah pun dengan kerucut dibibirnya ia mulai angkat suara, "Aku gak mau cium di bibir lagi," ucapnya yang seketika membuat mata Zea berbinar bahagia.
"Benarkah?" tanya Zea memastikan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Azlan.
"Kalau gitu, gantinya apa dong?" tanya Zea.
"Gantinya kamu harus makan dulu, gak boleh ngambek lagi, gak boleh marah-marah lagi dan nanti peluk aku. Aku mau tidur setelah memastikan kamu udah selesai makan," jawab Azlan dan dengan cepat ia melepaskan pelukannya lalu setelahnya ia mengambil piring yang berisi bubur. Kemudian ia segera menyuapi Zea karena ia tak mau mendengarkan penolakan dari Zea atas syaratnya yang terakhir tadi.
...****************...
__ADS_1
Hari ini kita isi dengan kegemasan pasangan satu ini dulu ya, capek juga nulis yang tegang-tegang soalnya 🤠Oh ya eps ini juga 2000 lebih lho, jadi yok 350 like sebelum jam 12 siang bisa kan? Harusnya sih bisa. Happy reading teman-teman, See you next eps bye 👋 jangan lupa LIKE, VOTE, HADIAH dan KOMEN. TERIMAKASIH