
Disetiap perjalanan menuju rumahnya, Edrea terus terdiam sembari memikirkan apakah dirinya tadi memang salah dengar atau memang Leon tadi memanggilnya dengan sebutan yang tak asing baginya. Haish pikirannya sekarang tambah kalut, ia belum tau kebenaran tentang Leon kenapa bisa akrab dengan keluarganya, belum lagi dengan nomor asing yang mengganggunya ditambah hari ini ia lagi-lagi harus berpikir dan menebak pendengarannya sendiri.
"Arkh, menyebalkan," teriak Edrea tiba-tiba yang membuat Leon kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea yang tengah mengacak-acak rambutnya.
"Lo kenapa aneh gitu? gak lagi kesurupan kan?" tanya Leon yang sudah kembali memperhatikan jalan didepannya.
Edrea yang baru sadar jika dirinya masih didalam mobil bersama dengan Leon pun kini ia kembali membenarkan tatanan rambutnya kemudian nyengir kuda kearah Leon yang sempat meliriknya sekilas.
"Astaga kayaknya emang benar lo lagi kesurupan. Tadi teriak-teriak gak jelas sekarang senyum-senyum sendiri," ucap Leon dan beberapa saat ia bergidik ngeri.
Edrea yang dituduh kesurupan pun melayangkan pukulannya ke lengan Leon dengan cukup keras.
"Sialan lo. Gue masih dalam kesadaran diri gue sendiri ya, gak ada kata kesurupan di kamus gue. Belum juga setan masuk di tubuh gue, mereka udah insecure sama kecantikan gue," tutur Edrea dengan penuh percaya diri.
Leon yang mendengar penuturan dari Edrea tadi hanya bisa memutar bola matanya malas. Walaupun tak bisa ia pungkiri jika perkata Edrea tadi memang benar adanya, jika wanita yang tengah duduk disampingnya itu memiliki paras yang sangat menawan dan pria mana saja yang melihatnya pasti akan berusaha untuk mendekatinya.
Kini tak ada lagi percakapan dari keduanya hingga mobil Leon memasuki lingkungan rumah Edrea.
Edrea dan juga Leon kini turun dari mobil tersebut.
"Thanks atas tumpangannya. Jangan kapok gue repotin," ucap Edrea saat sudah berdiri disebelah Leon.
"Hmmm. Tenang aja, gue juga gak merasa direpotkan sama lo," tutur Leon yang membuat Edrea menganggukkan kepalanya.
"Owh ya, masuk dulu gih. Ngopi-ngopi atau ngeteh-teh dulu yuk," ajak Edrea.
"Lain kali aja lah Re. Gue masih ada urusan lain soalnya."
"Yah, ya udah kalau gitu lo hati-hati dijalan dan sekali lagi thanks lo udah mau gue tumpangi," tutur Edrea sembari tersenyum ramah.
Leon mengangguk.
"Gue cabut dulu. Assalamualaikum," pamit Leon sembari masuk kedalam mobilnya kembali.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, bye sampai ketemu besok saat perform hihihi."
"Siapin diri lo buat besok. Jangan gugup, kalau sampai gugup awas aja," tutur Leon sembari menurunkan kaca mobilnya.
"Gak akan." Leon tersenyum kemudian ia mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Edrea yang kebetulan sang empu berdiri di samping pintu kemudi.
"Bye, Re," ucap Leon yang sudah bersiap menjalankan mobilnya.
"Bye. Hati-hati," teriak Edrea saat mobil Leon sudah mulai berjalan tak lupa ia juga melambaikan tangannya kearah mobil tersebut.
Setelah mobil tadi tak terlihat lagi dari jangkauan mata Edrea, kini ia memilih masuk kedalam rumah yang tampak sepi. Entah kemana para penghuni rumah tersebut, Edrea tak tau. Kini ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Saat Edrea baru sampai di dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk di ponselnya. Edrea kini merogoh ponselnya dari tas kecil yang ia bawa tadi. Kemudian ia langsung melihat pesan masuk tersebut.
"Haish nomor ini lagi," gumam Edrea tapi tangannya membuka pesan tersebut dan membaca isinya.
📨 : 082xxxxxxxxx
"Jangan lupa untuk istirahat lebih awal hari ini. Jangan terlalu memikirkan hal yang tak perlu lo pikirkan. Cukup nikmati saja hari-hari lo. Dan jangan pernah mencari tahu siapa gue yang sebenarnya."
"Astaga. Siapa sebenarnya orang dibalik nomor misterius ini? sumpah gue penasaran banget. Arkh," geram Edrea sembari mengguling-gulingkan badannya.
Setelah lelah dengan kelakuannya sendiri, Edrea kini memencet nomor Erland yang entah kemana manusia satu itu. Jika masih dirumah tidak mungkin karena kamar abangnya itu terkunci juga motor kesayangan Erland juga tadi tak ia lihat.
📞 : "Halo, assalamualaikum. Ada apa? kenapa?" tanya Erland saat sambungan telepon itu terhubung.
"Abang sekarang dimana?" tanya Edrea dengan rengekan manja.
📞 : "Kepo lo kek Dora. Buruan katakan ada apa? kalau gak ada apa-apa gue matiin."
"Ck, Rea gabut dirumah sendirian. Abang buruan kasih tau Rea, Abang sekarang dim---" Belum sempat Edrea menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon tadi sudah diputus sepihak oleh Erland.
"As---tagfirullah," ucap Edrea yang awalnya ingin mengumpat tapi masih ia tahan.
__ADS_1
Ia kini mencoba untuk menghubungi Azlan tapi Abang pertamanya itu tak menjawab telepon darinya bahkan sampai beberapa kali yang membuat dirinya berdecak kesal. Setalah kedua Abangnya itu tak bisa ia andalnya, kini ia beranjak keluar dari kamar menuju garasi mobil rumah tersebut tapi sebelumnya ia mengambil kunci mobil Erland yang tergantung di lemari khusus untuk menaruh kunci kendaraan dirumah tersebut.
Setelah itu ia menjalankan mobil Erland menuju salah satu cafe yang hanya memakan waktu kurang dari setengah jam dari kediamannya tersebut.
Saat dirinya sudah melangkahkan kakinya masuk kedalam, matanya tak sengaja menatap seseorang yang tak asing baginya.
Karena rasa penasarannya, apakah dirinya itu salah lihat atau tidak, akhirnya ia mendekati orang tersebut yang tengah membelakanginya.
"Zico," ucap Edrea yang membuat orang tadi menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan ternyata matanya kali ini tak salah lihat.
"Lho Rea, Lo juga ada di sini," tutur Zico. Edrea menganggukkan kepalanya.
"Gue boleh duduk disini kan?" tanya Edrea.
"Oh ah silahkan." Edrea kini mendudukkan tubuhnya berhadapan langsung dengan Zico.
"Oh ya lo kesini sama siapa?"
"Sendiri aja kok. Ngilangin rasa gabut gue aja," ucap Zico.
Tak ada percakapan lagi diantara kedua orang tersebut hingga minuman yang di pesan Edrea tadi datang ke hadapan sang empu.
"Lo kenapa clingukan kayak gitu? cari seseorang?" tanya Edrea curiga karena sedari tadi Zico tengah menatap kesana kemari seperti dirinya tengah mencari seseorang dengan ekspresi wajah yang begitu khawatir dan panik.
"Ah enggak kok. Tadi gue cuma kayak lihat seseorang yang mirip sama teman gue," tutur Zico yang mendapat anggukan percaya oleh Edrea.
Edrea terus menyantap makanan ringan di depannya sembari sesekali memperhatikan Zico yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Hmmm, Rea," panggil Zico.
"Ya?"
"Gue duluan ya. Udah ditungguin nyokap dirumah soalnya. Sampai ketemu besok, bye," ucap Zico sembari berlalu dari hadapan Edrea yang kini tambah curiga dengan gerak-gerik Zico sedari tadi.
__ADS_1
"Haish sudahlah, otak gue udah terlalu banyak mikirin orang lain," gumam Edrea yang tampaknya sudah lelah dengan pikirannya sendiri dan kini ia kembali menikmati kesendiriannya dengan menatap kearah sekitarnya yang ternyata banyak orang yang tengah berduaan dengan mesranya.
"Nasib-nasib," gumam Edrea kemudian ia menyesap minumannya hingga tuntas untuk mengurangi rasa iri kepada pasangan yang tengah terbuai asmara itu.