
Edrea terus berlari menuju rumah Mama Tania yang ia jadikan sebagai rumah jadi-jadiannya itu. Untungnya jarak rumahnya yang sebenarnya dengan rumah tersebut cukup dekat dan jika berjalan kaki membutuhkan waktu 10 menit saja. Dan kini saat dirinya sudah semakin dekat dengan rumah tersebut, langkah kaki Edrea ia pelankan bahkan ia terlihat seperti seseorang yang berniat untuk mencuri.
Ia kini menatap kearah mobil yang terparkir di depan gerbang rumah tersebut tapi tak terlihat sang empu yang mempunyai mobil tersebut disana.
"Lah kok orangnya gak ada? atau jangan-jangan dia nekat masuk lagi. Aduh gawat," gumam Edrea. Setelah itu ia berlari kocar-kacir menuju pintu belakang rumah tersebut yang untungnya pintu tadi tak terkunci hingga memudahkan dirinya masuk kedalam tanpa gedoran terlebih dahulu.
"Aman gak ada orang," gumam Edrea.
Ia lagi-lagi mengendap-endap bahkan ia berjongkok sembari menatap ke sekeliling hingga langkah kakinya itu terhenti saat Mama Tania perlahan masuk kedalam dapur. Yap, pintu belakang tersebut langsung tertuju ke ruang dapur rumah tersebut.
"Stttt, Mantan," panggil Edrea dengan suara yang super duper lirih.
"Sttttt Mantan assalamualaikum woy," panggil Edrea lagi.
Mama Tania kini menghentikan aktivitasnya dan menatap ke sekelilingnya.
"Kok aku dengar ada suara orang ya disini," ucap Mama Tania.
"Tapi kok gak ada wujudnya," sambungnya dan sedetik kemudian ia bergidik takut.
"Ya ampun mantan ini Rea. Ah elah," tutur Edrea yang sedikit menaikan suaranya sembari mengintip Mama Tania dari samping kulkas yang sedari tadi ia gunakan untuk menghalangi tubuhnya agar tak terlihat orang lain.
Mama Tania kini menolehkan kepalanya tepat di arah Edrea sekarang berada.
"Astagfirullah, tuyul," jerit Mama Tania.
"Stttt mantan mah malah teriak-teriak," gerutu Edrea sembari berdiri dari jongkoknya tapi sebelumnya ia memastikan jika di dapur tersebut hanya ada dirinya juga Mama Tania saja.
"Ini aku, Edrea. Anak Mommy Della dan Daddy Aiden yang paling cantik," tuturnya. Mama Tania kini membuka kedua tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutupi matanya. Dan perlahan mata tersebut terbuka. Mama Tania kini tampak menghela nafas lega saat melihat didepannya itu bukanlah makhluk astral.
"Ada apa sayang?" teriak Papa Reiki dari arah ruang makan.
"Ah bukan apa-apa, Pa. Cuma Mama tadi lihat tikus besar di sini tapi tikusnya udah pergi keluar kok. Jadi tenang aja," jawab Mama Tania saat melihat kode dari Edrea yang tak boleh memberitahu tentang dirinya kepada siapapun.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa disitu tadi?" tanya Mama Tania yang menurunkan intonasi suaranya.
"Hehehe ada masalah yang cukup genting soalnya," tutur Edrea yang membuat kerutan di kening Mama Tania terlihat.
"Apa hubungannya masalah kamu itu sama ngumpet di sini? Kamu mau cosplay jadi kecoa atau bagaikan sih?."
Edrea menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia pun juga tak tau kenapa dirinya bisa jangkok di sana tadi padahal jika dilihat-lihat lagi, arah dapur dan ruang tamu cukup jauh dan juga terhalang tembok pembatas.
"Ck, udahlah. Mama juga gak heran lagi sama tingkah aneh kamu yang tak ada habisnya. Ayo sekarang keruang makan, kita sarapan bareng." Mama Tania kini menarik tangan Edrea namun tubuh Edrea tak berpindah tempat sedikitpun.
"Ayo, kenapa malah kayak patung begitu?"
"Bentar Ma. Rea mau tanya sesuatu dulu sama Mantan." Mama Tania kini mengangkat kedua alisnya seakan-akan mewakili suaranya.
"Apa hari ini Mantan kedatangan tamu yang tak diundang?" Mama Tania tampak berpikir dan mengingat sekilas. Sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Seingat Mama, sejak kemarin hingga pagi ini gak ada tamu yang berkunjung di rumah ini," jawab Mama Tania. Edrea kini tampak menghela nafas lega. Setidaknya Zico tak melakukan hal itu dan membuatnya kembali aman.
"Emangnya ada apa sih? kenapa kamu tanya tamu segala?" tanya Mama Tania kepo.
"Bye Mantan, assalamualaikum," salam Edrea sembari berlari keluar dari dapur tersebut menuju pintu utama rumah itu.
"Dasar aneh. Waalaikumsalam," jawab Mama Tania.
Edrea masih saja berlari hingga dirinya melewati 3 orang yang berada di ruang makan tanpa menyapa mereka sepatah kata pun. Sedangkan ketiga orang tadi menatap heran kearah Edrea yang semakin lama semakin hilang dari pandangan mereka.
"Lah tuh bocah kapan masuknya?" tanya Farel.
"Entahlah, padahal sedari tadi gak ada bunyi ketukan pintu," jawab Sofia.
"Dia masuk lewat pintu belakang," timpal Mama Tania yang sekarang sudah bergabung dengan keluarganya.
"Bahkan dia sampai ngumpet-ngumpet segala disamping kulkas tadi," sambungnya.
__ADS_1
"Kenapa dia ngumpet segala? lagi main petak umpat kah?"
"Entahlah Mama juga tak tau."
"Kalian ini kayak gak tau aja sama si triplets yang super mengherankan itu. Hal kayak begitu tadi sudah wajar mereka lakukan," kini Papa Reiki angkat bicara.
"Iya juga sih," tutur Farel dan juga Sofia serempak.
Setelah pembahasan mengenai tingkah Edrea tadi, mereka kini segera menyantap sarapan masing-masing.
Sedangkan disisi lain, Edrea bergegas keluar dari rumah tersebut dan segera menghampiri Zico yang ternyata tengah menyenderkan tubuhnya di samping mobilnya.
Edrea kini merapikan tampilannya yang sudah cukup berantakan sebelum menyapa Zico. Setelah dirasa cukup rapi ia mengangkat suaranya.
"Hey Zic," sapa Edrea. Zico yang tadi menundukkan kepalanya sembari menatap layar ponselnya kini menegakkan kepalanya menghadap kesumber suara.
"Eh hey," sapa balik Zico.
Edrea tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya.
"Maaf udah bikin lo nunggu lama," tutur Edrea tak enak hati.
"Tak masalah Rea. Toh salah gue juga yang gak beri tahu lo terlebih dahulu kalau gue mau ngajak lo berangkat sekolah bareng," ucap Zico yang hanya diangguki oleh Edrea.
"Masuk gih." Zico telah membuka pintu mobil bagian depan untuk Edrea.
Edrea pun menatap sekilas kearah Zico yang tengah tersenyum kepadanya, setelah itu ia beranjak masuk kedalam mobil tadi dan mencari posisi nyaman.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Zico saat sang empu juga sudah masuk dan sudah siap menjalankan mobil tersebut.
"Hmmm sepertinya gak ada." Zico mengangguk kemudian perlahan ia menjalankan mobilnya menuju sekolah mereka.
Tak ada percakapan didalam perjalanan mereka tadi hingga mobil itu kini mulai memasuki area sekolah Edrea juga Zico.
__ADS_1
Saat mobil itu sudah terparkir rapi dan saat mereka secara bersamaan keluar dari mobil tersebut, banyak pasang mata yang menatap mereka bahkan ada yang terkaget karena menurut informasi yang beredar bahwa Edrea dulu sudah ditolak mentah-mentah oleh Zico bahkan banyak yang bilang kalau Edrea juga sudah menyerah dan melepaskan Zico dari pria incarannya. Tapi kenapa hari ini mereka terlihat baik-baik saja? bahkan sampai satu mobil. Apakah mereka ketinggalan sebuah informasi penting? pikir warga sekolah tersebut yang terus-menerus menatap keduanya.