The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 88


__ADS_3

"Lho Rea, kapan kamu disini?" tanya Mommy Della.


"Rea baru beberapa menit yang lalu tapi kedua anak laki-laki kalian sudah berada disana mungkin selama Mom dan Dad sedang bermesraan. Sepertinya otak bang Az dan bang Er sudah merekam semua adegan tadi dengan baik di ingatan mereka, iya kan bang?" tanya Edrea dengan teriakan.


Azlan dan juga Erland saling pandang kemudian mereka dengan kompak menghela nafas sebelum akhirnya ikut bergabung dengan Edrea.


"Benarkah begitu?" tanya Mommy Della harap-harap cemas saat Azlan dan Erland sudah berdiri di samping Edrea.


Dan dengan santainya mereka mengangguk yang membuat Mommy Della langsung menutup wajahnya yang sudah memerah menggunakan kedua telapak tangannya karena malu kemesraannya tadi dengan Daddy Aiden dilihat oleh ketiga anaknya. Untung saja Edrea menyadarkan mereka kalau tidak sudah jadi tontonan 21+ secara live, apalagi yang melihat anak-anak mereka. Duh mau ditaruh mana muka Mommy Della nanti karena sudah sangat malu. Kalau Daddy Aiden, ia sangat tenang dan santai tanpa merasa malu sedikitpun.


"Apa ya gak ada tempat lain gitu lho, buat kalian umbar keromantisan yang bertema 18+ ini? Dikamar kek atau kalau bosen di kamar mulu, Mom dan Dad kan bisa sewa hotel buat satu malam. Atau kalau gak bulan madu lagi sana. Toh kita bertiga juga bukan anak kecil lagi yang ditinggal bentar aja nangis. Asal jangan begini lah Mom, Dad, bikin kita pengen aja kan jadinya," tutur Edrea dengan kerucut di bibirnya bahkan ucapannya di angguki setuju oleh Azlan dan Erland.


"Kalau mau kayak gini terus didepan kita mending Mom sama Dad nikahkan kita dulu. Biar kalau kita lihat kayak tadi dan buat kita kepingin, kita bisa langsung praktekkan ke pasangan kita masing-masing," ucap Erland dan lagi-lagi ucapan itu diangguki kedua saudara kembarnya.


Sedangkan Daddy Aiden langsung memelototkan matanya.


"Heh, ingat kalian masih sekolah dan di bawah umur ya. Toh pasangan kalian mau kalian kasih makan apa hah?"


"Umur kita udah termasuk boleh nikah lho Dad, kita bentar lagi juga 18 tahun. Udah punya KTP juga kita. Daddy bukannya udah tau uang tambahan yang selama ini kita dapat dari mana, jadi tanpa uang Daddy kita bisa kasih makan ke pasangan kita nanti, selain Rea yang bisanya minta doang," ucap Azlan.


"Heh buat apa juga Rea kerja kalau masih ada Daddy dan kalian berdua yang setiap bulan jatah uang jajan ngalir terus. Dan kalau Rea udah nikah juga Rea gak mau ngasih nafkah suami Rea lah. Keenakan suami Rea nanti, biar dia yang berusaha kerja keras buat penuhin kewajibannya sebagai suami. Karena Rea pengen kayak Mommy, jadi ibu rumah tangga yang ngurus rumah, suami dan anak-anaknya. Bukan jadi wanita karir. Wong katanya wanita itu di ciptakan dari tulang rusuk kok bukan tulang punggung," jawab Rea dengan bangganya.


Semua orang disana kecuali Mommy Della yang sekarang sudah bersembunyi di pelukan Daddy Aiden, mereka mendengus kesal dan memutar bola mata mereka jengah kala mendengar penuturan dari Edrea tadi.

__ADS_1


"Dah lah terserah kalian. Yang harus kalian ingat, jangan harap kalian bisa nikah sebelum pendidikan kalian selesai. Paham," ucap Daddy Aiden sembari beranjak dari duduknya tak lupa membawa tubuh Mommy Della yang sedari tadi berada dipeluknya.


Setelah itu sepasang suami istri yang tadi tertangkap basah sedang bermesraan dengan anaknya sendiri sekarang beranjak pergi dari hadapan ketiga anaknya yang dengan kompak mencebikkan bibirnya.


"Bucin," ucap mereka kearah Daddy Aiden dan Mommy Della yang jaraknya belum jauh dari mereka.


"Iri aja, jomblo," balas Daddy Aiden yang mendapat pelototan tajam dari ketiga anaknya itu.


Saat Daddy Aiden dan Mommy Della sudah tak terlihat lagi, nampak Azlan juga Erland menghela nafas lega setidaknya mereka terbebas dari serangkaian pertanyaan yang orangtuanya akan tanyakan kepada mereka berdua sebelum keluar dari rumah itu.


Azlan menoleh ke arah Erland yang mendapat respon anggukan oleh sang empu, kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan Edrea yang menatap kedua Abangnya penuh tanya.


Dan sebelum abangnya itu menjangkau knop pintu, Edrea berlari sekencang-kencangnya dan setelah sampai ia langsung berdiri di hadapan Azlan juga Erland, menghalangi mereka berdua agar berhenti melangkah kaki mereka.


"Kepo Lo kayak Dora," jawab Erland.


"Ck Abang ih, kasih tau yang bener lho," geram Edrea.


"Lo gak perlu tau. Sekarang Lo minggir kita udah telat ini," ucap Azlan sembari memindahkan tubuh Edrea dengan sekali angkat saja.


"Rea ikut bang." Azlan yang sudah membuka pintu rumah tersebut kini menghela nafas panjang kemudian menoleh kearah Edrea.


"Gak. Anak gadis itu cukup diam dirumah saja. Gak boleh keluar malam-malam." Edrea mencebikkan bibirnya mendengar penolakan dari Azlan. Kemudian tatapannya beralih ke arah Erland.

__ADS_1


"Bang Er, Rea ikut ya," rengek Edrea.


"Ih ogah. Lo kalau ikut gue nyusahin mulu, habisin uang pula. Rugi bandar kalau gue ngajak lo. Mending dirumah aja nonton pacar dan suami halu lo sana," usir Erland sembari mengibas-ibaskan tangannya kearah Edrea.


"Ayo lah bang. Ajak Rea keluar malam ini. Rea gabut tau, bosen juga dirumah mulu. Rea janji kalau Rea ikut salah satu dari kalian, Rea gak akan nyusahin dan gak akan habisin uang kalian. Ya boleh ya, Rea ikut, please," bujuk Edrea dengan kedua telapak tangannya yang ia satukan sembari mengeluarkan jurus puppy eyesnya.


"Gak!" tegas Azlan dan Erland.


"Abang ih, pelit banget sih. Rea cuma mau ikut doang lho. Rea juga udah janji tadi. Kalau Abang mau pacaran, Rea janji gak akan ganggu dan Rea nanti akan menjauh dari kalian. Boleh ya please." Rea tak patah semangat untuk mendapatkan izin keduanya.


"Toh kalau Rea di rumah sendiri, Rea takut kalau nanti denger suara-suara misterius dari kamar Mom dan Dad. Kalian tau sendiri lah suara itu apa. Iman Rea gak akan kuat tau bang," sambung Edrea. Padahal di kamar orangtuanya sudah dilengkapi fasilitas kedap suara jadi apapun yang orangtuanya lakukan didalam kamar, suaranya tak akan bisa terdengar sampai luar. Dan ucapan Edrea tadi hanya alibi semata, agar kedua Abangnya kasihan kepadanya dan mengajak dirinya keluar jalan-jalan malam ini.


Azlan dan Erland tampak saling pandang , seperti saling komunikasi lewat tatapan mata mereka. Kemudian mereka dengan kompak mengalihkan pandangannya kearah Edrea dengan senyum yang mengembang di bibir kedua laki-laki tampan itu yang membuat hati Edrea membuncah. Ia sepertinya berhasil merayu abangnya itu.


"Gak. Lo tetap dirumah apapun alasannya," final Azlan sembari merubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. Hal itu mampu membuat senyum gembira Edrea luntur seketika.


"Abang!" teriak Edrea yang menyusul kedua saudara kembarnya itu yang sudah berada didalam mobil masing-masing.


Ia berdecak saat kedua mobil itu sudah melaju meninggalkan lingkungan rumah tersebut sebelum Edrea berhasil masuk kedalam salah satu mobil tadi.


Tapi bukan Edrea namanya kalau harus menyerah, ia sekarang berlari masuk kembali kedalam rumah. Kemudian ia mengambil kunci mobil miliknya, setelah itu ia bergegas menuju garasi. Tapi sayang saat dirinya sudah sampai, ia dibuat melongo menatap deretan mobil yang masih terparkir rapi di garasi rumah itu yang satu persatu ban mobilnya di beri rantai yang saling terhubung.


"Wanjir, niat banget tuh dua kunyuk. Astaga. Arkhhhh sebel," geram Edrea dan mau tak mau ia harus mengurungkan niatnya untuk mengikuti kedua Abangnya itu. Dengan hentakan kaki ia kembali kedalam rumah mewah tersebut dengan perasaan sebal, kesal dan dongkol dihatinya. Awas saja ia akan balas dendam nanti.

__ADS_1


__ADS_2