
Leon terus mengusap kepala Edrea dengan lembut untuk memberikan ketenangan kepada gadis tersebut. Hingga kesunyian di dalam ruangan tersebut pecah sast Edrea kini mulai angkat suara.
"El," ucap Edrea.
"Hmmm," jawab Leon hanya dengan deheman saja.
"Lo masih patah hati kah?" tanya Edrea tanpa menatap ke wajah Leon.
"Hmmm," jawab Leon.
Edrea yang sedari tadi pertanyaannya hanya di jawab dengan dehem pun kini ia menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Leon saat ini.
Hingga saat dirinya melihat wajah Leon, ia melebarkan matanya ketika ia melihat ada darah diujung bibir Leon.
"El, Lo muntah darah," ucap Edrea yang sudah menjauhkan tubuhnya dari pelukan Leon tadi.
"Astaga El, kita kerumah sakit sekarang," panik Edrea dan saat dirinya ingin beranjak dari ranjangnya, lengannya lebih dulu di cekal oleh Leon.
"Gue gak muntah darah, Edne," ucap Leon sembari duduk dari rebahannya tadi.
"Jangan bohong El. Di bibir lo aja sekarang banyak dari tuh," ujar Edrea.
"Iya gue juga tau. Tapi ini darah bukan dari organ dalam gue, tapi dari bibir gue," tutur Leon.
"Kalau lo gak percaya, nih gue lihatin," sambungnya sembari memperlihatkan bibir bagian dalamnya yang sedari tadi terkena gigitannya itu.
"Astaga kok bisa begitu sih? Lo apain tuh bibir?"
"Gue gigit buat pelampiasan. Gue ke kamar mandi dulu. Jangan kemana-mana," ucap Leon sembari berdiri dari duduknya dan mulai berjalan menuju ke kamar mandi Edrea yang berada didalam kamar tersebut.
__ADS_1
Edrea yang melihat kepergian dari Leon pun ia menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hingga beberapa menit telah berlalu, Leon kini sudah kembali dari kamar mandi Edrea tadi bahkan kini ia juga sudah mendudukkan tubuhnya di ranjang tepat di samping tubuh Edrea.
"Kenapa tadi bisa kecelakaan hmmm? Lo mikirin apa?" tanya Leon penasaran.
"Mana gue tau. Mungkin gara-gara penglihatan gue kehalang sama air mata kali, jadinya sampai gak lihat kalau ada pembatas jalan," ujar Edrea yang kini membuat Leon menghela nafas panjang.
"Dan kalau lo tanya gue mikirin apa selama di perjalanan tadi sebelum kejadian itu. Gue akan jawab kalau otak gue ini sedari tadi di penuhin dengan nama lo," sambung Edrea sembari menatap kearah Leon.
"Lo tau sendiri kan El kalau gue tuh anaknya gak suka di bentak. Apalagi tadi yang bentak gue orang yang udah lama mengenal gue. Belum lagi sebelumnya lo juga bersikap cuek, dingin dan kayak mau jaga jarak sama gue. Alhasil gue jadi gak tenang dan gue bilang kalau tadi mau cari barang gue yang hilang di restoran lo, itu sebenarnya hanya alasan saja. Gue ngelakuin itu karena gue mau ngikutin lo dan gue mau tau alasan lo tadi pagi bersikap seperti itu. Siapa tau kan kalau gue ada di samping lo, lo bisa bicara jujur sama gue, cerita apa yang sedang menguasai pikiran lo tadi. Eh tapi saat gue disana, lo malah ngusir gue terus. Ck, menyebalkan," ujar Edrea dengan mengerucutkan bibirnya.
Leon yang mendengar keluh kesah Edrea dan diakhiri dengan ia melihat bibir manyun dari perempuan tersebut. Ia kini memperlihatkan senyumannya kembali. Dan sekilas menghilangkan rasa sakit di dalam dadanya itu. Dan mungkin jika dia di tolak Edrea untuk saat ini, ia bisa mencobanya kembali di hari berikutnya, dimana ia bisa memastikan jika Edrea telah siap menjadi seorang istri. Tapi jika suatu saat nanti ia juga di tolak lagi, mungkin ia akan mengikhlaskan Edrea dengan yang lain. Yang terpenting ia bisa melihat perempuan tersayangnya itu tersenyum bahagia walaupun alasan bahagianya Edrea bukan dirinya.
Dan tanpa mengucap sepatah katapun, Leon kini bergerak untuk memeluk tubuh Edrea.
"Maaf atas semua yang gue lakuin tadi pagi. Entah itu dari berubahnya sikap gue atau bentakan gue tadi. Gue benar-benar minta maaf, Edne," ujar Leon.
"Ck, tadi aja minta peluk sampai merajuk dan sekarang malah sok-sokan gak mau di peluk. Mana pakai alasan gak mau maafin gue lagi," ujar Leon.
"Kan emang gue gak ada niatan buat maafin semua kesalahan lo tadi," ucap Edrea.
"Beneran nih gak mau maafin gue?" Edrea kini mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mantap.
"Gak nyesel nih?"
"Gak lah, ngapain nyesel," jawab Edrea.
"Yakin?" tanya Leon menggoda.
__ADS_1
"100% yakin," ujar Edrea.
"Ya sudah kalau gitu jangan salahkan gue kalau---" ucap Leon yang sengaja ia gantung. Dan hal tersebut membuat Edrea kini menatap Leon dengan tatapan penasaran.
"Kalau lo harus ngerasain gelitikan maut dari gue," sambung Leon yang sekarang sudah melancarkan aksinya tersebut.
Edrea yang mendapat serangan mendadak dari Leon pun ia tak sempat mencegahnya hingga akhirnya ia hanya bisa pasrah menerima gelitikan dari Leon tersebut.
"Hahahaha, El hentikan," ucap Edrea dengan terus berusaha untuk membebaskan dirinya.
"Gak akan. Siapa suruh Lo tadi gak mau maafin gue. Jadi rasakan ini," ujar Leon yang merubah posisinya menjadi di atas tubuh Edrea yang tengah berbaring itu.
"Hahaha oke, oke gue menyerah El. Gue maafin lo. Jadi stop. Jangan gelitikin gue lagi," tutur Edrea sembari menangkap kedua tangan Leon tadi. Bahkan tatapan mata mereka berdua kini saling bertemu.
Hingga Leon yang sedari tadi menahan dirinya, ia sekarang justru membungkukkan tubuhnya dan tangan yang berada di genggaman Edrea tadi ia lepaskan dan sekarang ia gunakan untuk mengunci pergerakan Edrea.
Edrea yang melihat wajah Leon yang terus mendekati wajahnya pun ia dengan susah payah menelan salivanya. Apalagi posisi mereka sekarang ini benar-benar seperti posisi orang yang mau melakukan hal negatif.
Dan saat wajah Leon sudah benar-benar dekat dengannya bahkan sampai hidung mereka saling bergesekan, dengan cepat Edrea memiringkan kepalanya karena ia tau tujuan utama Leon sekarang adalah bibirnya.
Dan setelah itu Edrea mendorong kencang tubuh Leon agar menjauh darinya. Hingga saat tubuh laki-laki itu menjauh, Edrea langsung beranjak dari ranjangnya. Takut-takut jika Leon nanti kembali khilaf dan alhasil dirinya akan di unboxing sebelum waktunya.
"Gak kena, wleee," ucap Edrea sembari menjulurkan lidahnya kearah Leon. Dan ia melakukan hal tersebut untuk memecahkan kecanggungan yang tengah mereka berdua rasakan.
Sedangkan Leon yang hampir saja khilaf pun ia sekarang hanya bisa tersenyum sembari melihat Edrea yang terus mengejeknya. Walaupun didalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri akan aksinya tadi.
...****************...
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE dan KASIH HADIAH 💜
__ADS_1
...~Selamat berpuasa~...