The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 356


__ADS_3

Zico dibuat menunduk saat Mommy Della dan Daddy Aiden tengah berjalan menuju kearah. Walaupun mereka berdua kini tengah tersenyum kearahnya, tapi menurut Zico senyuman itu justru semakin membuat dirinya semakin merasa bersalah.


"Jio," panggil Mommy Della sembari mendudukkan tubuhnya disamping Zico.


"Kamu semalam kemana saja nak? Kenapa harus pergi tanpa pamit dari sini? Apa Mommy sama Daddy ada salah sama kamu sehingga kamu tadi malam pergi begitu saja? Dan kenapa kamu bisa kecelakaan? Apa itu murni kecelakaan atau ada seseorang di balik kecelakaanmu itu? Dan gimana keadaan kamu, baik-baik saja kan?" tanya Mommy Della beruntun sembari mengelus rambut Zico lalu setelahnya ia menatap Zico dari atas sampai bawah.


Zico yang mendapat pertanyaan yang terdengar sangat hangat di hatinya pun ia menggigit bibir bawahnya. Lalu setelahnya ia memberanikan diri untuk menatap kearah Mommy Della dengan mata yang sudah mulai memerah.


"Ada apa hmmm? Ada yang sakit? Katakan sama Mommy," ujar Mommy Della. Zico menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari perempuan paruh baya yang tengah duduk di samping itu.


"Ji---Jio tidak kenapa-napa. Jio baik-baik saja," jawab Zico yang membuat Mommy Della kini menghela nafas lega.


"Syukurlah kalau gitu. Lain kali kamu harus hati-hati entah dimana pun kamu berada. Disaat kamu jalan kaki atau mengendarai transportasi lain. Kehati-hatian itu harus diutamakan. Jangan sampai meleng dan berakhir akan berakibat fatal seperti yang kamu alami tadi malam. Untung saja kamu gak kenapa-napa kalau sampai terluka, Mommy tidak akan menyalahkan kamu tapi Mommy akan menyalahkan diri Mommy yang tidak bisa menjaga anak Mommy yang satu ini," tutur Mommy Della. Dan perkataan Mommy Della itu sekarang berhasil membuat air mata yang sedari tadi Zico tahan akhirnya menetes juga.


"Maafin Jio," ucap Zico dengan penuh penyesalan.


"Lho lho lho kenapa kamu malah minta maaf sama Mommy? Kamu itu tidak salah Jio, Mommy yang salah karena tadi malam tidak memperhatikan kamu. Dan ini kenapa kamu nangis hmmm?" Zico menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Mommy tidak salah. Jio yang salah. Jio seperti anak kecil saja yang tidak memikirkan orang lain saat Jio melakukan apa yang Jio lakukan tadi malam. Maafin Jio yang sudah bikin semua orang di rumah ini khawatir sama Jio. Maafin kelakuan Jio yang seperti anak kecil ini Mom, Dad. Maaf maaf maaf," ujar Zico yang langsung membuat Mommy Della kini menarik tubuh Zico kedalam pelukannya.


"Stttt sudah-sudah. Mommy sama Daddy bahkan semua orang di rumah ini sudah memaafkan Jio. Asal Mommy mohon jangan di ulangi lagi ya nak. Jika Jio mengulangi hal yang sama seperti tadi malam, Mommy bisa gila karena khawatir sama Jio. Jio sekarang anak Mommy sama Daddy. Jika Jio kenapa-napa berarti salah Mommy dan Daddy yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Kamu sekarang bukan lagi tanggungjawab Vivian melainkan kamu tanggungjawab Mommy sama Daddy. Dan kamu tidak perlu khawatir, Mommy sama Daddy akan selalu disamping Jio dimanapun Jio berada. Dan Mommy harap semua masalah yang sedang Jio hadapi setidaknya bisa terbuka dengan Mommy ataupun Daddy, cerita sama kita layaknya kamu sedang curhat kepada orangtua kamu yang dulu. Jio mengerti kan, nak?" tutur Mommy Della. Zico yang masih menangis dalam pelukan Mommy Della pun ia menganggukkan kepalanya.


"Jadi kalau Jio sudah setuju dengan perkataan Mommy, jangan nangis lagi oke. Mommy gak suka lihat anak Mommy nangis seperti ini." Mommy Della kini melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Zico sebelum tangannya kini bergerak untuk menghapus air mata anak laki-laki barunya itu.


"Oh ya, Jio sudah makan tadi?" tanya Mommy Della yang dijawab gelengan kepala oleh Zico.


"Kalau gitu, Jio sarapan dulu yuk. Mommy tadi sengaja bikin makanan banyak buat Jio. Yuk nak, Mommy temani Jio untuk makan dulu. Terus setelah itu kamu nanti bersihin badan kamu baru setelahnya kamu istirahat," ucap Mommy Della sembari membawa tubuh Zico menuju ke ruang makan meninggalkan Vivian dan juga Daddy Aiden yang kini tengah berdecak kesal melihat istrinya yang sepertinya tidak menganggap keberadaannya itu.

__ADS_1


"Ck, lihat Vi, saingan Daddy sekarang tambah satu. Tiga orang aja sering banget bikin Daddy emosi apalagi ini jadi empat orang, dah lah Daddy sudah terverifikasi jadi sad Daddy," curhat Daddy Aiden kepada anak perempuannya itu. Dan curhatannya tersebut membuat Vivian kini terkekeh.


"Yang sabar ya Dad. Tapi Daddy tidak perlu khawatir. Kan sebentar lagi Azlan akan pergi ke luar negeri mengurus bisnis Daddy disana. Erland sebentar lagi juga pasti akan di sibukkan dengan aktivitas kuliah ditambah aktivitas kantor yang pastinya akan menyita banyak waktu dia. Hmmm bang Adam sekarang juga kan sudah sangat sibuk dengan urusan rumah sakit. Jio pun sebentar lagi akan kembali ke Rusia menuntaskan pengobatan dia juga katanya dia mau kuliah disana. Dan saat mereka semua sudah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, Daddy kan bisa bermanja-manja dengan Mommy. Dan Vivi jamin tidak akan ada lagi pengganggu keromantisan kalian berdua," ujar Vivian untuk menenangkan ayahnya yang terlihat sudah gusar, takut jika tahta tertinggi di hati Mommy Della akan tergantikan dengan anak laki-laki kandung ataupun angkatnya.


"Jika di pikir-pikir benar juga apa yang kamu katakan tadi. Mereka sebentar lagi akan sibuk dengan urusan masing-masing. Dan saat mereka sibuk, Daddy bisa berduaan sama Mommy selama mungkin. Lagian urusan kantor kan sebentar lagi juga akan di ambil alih sama Erland. Hmmmm kalau gitu Daddy akan biarin Mommy kamu untuk sekarang bermanjaan sama anak-anaknya. Tapi setelahnya jangan harap Daddy akan melepaskan Mommy dan membiarkan mereka bermanjaan dengan istri Daddy sedetikpun," ujar Daddy Aiden sembari beranjak dari duduknya.


"Daddy mau kemana?" tanya Vivian saat melihat pergerakan kaki Daddy Aiden menuju ke anak tangga rumah tersebut.


"Hehehe Daddy belum mandi, Vi. Jadi Daddy mau mandi dulu sekarang. Bye anak Daddy yang paling cantik," ucap Daddy Aiden diakhiri dengan ia memberikan flying kiss kearah Vivian. Yang lagi-lagi tingkah dari Daddy Aiden tadi membuat Vivian tak bisa menahan tawanya.


"Ya ampun ada-ada saja si bapak negara. Kalau kolega-koleganya lihat sifat aslinya ini, aku jamin mereka tidak akan takut lagi sama Daddy," gumam Vivian yang tak habis pikir dengan sifat Daddy Aiden saat di luar rumah dan saat di dalam rumah bersama keluarga yang jauh berbeda. Dan sifat itu ternyata menurun kepada Azlan dan juga Erland yang memiliki sifat sama persis seperti sifat Daddy Aiden yang satu itu.


...****************...


Disisi lain, Edrea dan Leon kini tengah di sibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Mulai dari memesan gedung untuk acara pernikahan mereka, WO dan masih banyak lagi yang harus mereka selesaikan dalam waktu beberapa hari sebelum hari H pernikahan mereka. Ya walaupun acara mereka mendapat bantuan dari kedua belah pihak keluarga, tapi keputusan tetap berada di tangan mereka berdua. Tak terkecuali dengan pakaian yang akan mereka kenakan, awalnya Mommy Della sudah mempersiapkan pakaian untuk mereka dan sudah di setujui dari Edrea maupun Leon, tapi saat mereka sekarang tinggal fitting baju tersebut, tiba-tiba saja Leon berubah pikiran setelah melihat langsung gaun pilihan Mommy Della sekarang tengah di coba oleh Edrea.


Sesampainya ia di hadapan Edrea, Leon langsung memeluk tubuh Edrea dengan sangat erat.


"Lho lho lho ini kenapa peluk-peluk?" heran Edrea.


"Stttt diam. Kamu balik ke ruang ganti dan jangan pakai gaun ini lagi," ujar Leon sembari membawa tubuh Edrea menuju ke tempat ganti baju. Dan apa yang dilakukan oleh Leon tersebut membuat pegawai butik yang tadi membantu Edrea melongo di tempatnya sebelum dirinya mengikuti langkah kaki sepasang pengantin itu.


Edrea yang mendengar larangan dari Leon pun ia kini menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah calon suaminya itu.


"Lah kenapa gak boleh pakai gaun ini? Kan gaun ini akan aku pakai saat acara kita nanti. Kalau aku gak pakai gaun ini, aku pakai apa dong?" tanya Edrea.


"Gaun disini banyak bukan hanya satu ini saja. Jadi kamu gak perlu khawatir, kamu nanti akan tetap pakai gaun impian kamu asal jangan yang ini," ujar Leon sembari melepaskan pelukannya saat mereka sudah sampai di depan ruang ganti dan saat dirasa sudah tak ada lagi orang yang akan menatap tubuh elok Edrea.

__ADS_1


"Lha emang kenapa? Gaun ini bagus banget lho. Aku bahkan kamu aja udah setuju kalau gaun ini akan kita pakai saat acara nanti," ucap Edrea yang sepertinya ia sudah mantap dengan pilihan sang Mommy.


"Ck, itu dulu saat aku belum lihat bentuk gaunnya secara langsung. Dan karena aku sudah lihat gaun ini, aku tarik kata-kata ku yang dulu. Gaun ini jelek banget, gak cocok sama wajah kamu yang cantik ini. Jadi sekarang kamu buruan ganti. Dan mbak, tolong cariin gaun pengantin yang pas buat calon istri saya," ujar Leon. Dan tanpa menunggu bantahan dari Edrea, ia segara membuka pintu ruang ganti di hadapannya itu lalu mendorong pelan tubuh Edrea kemudian setelah tubuh calon istrinya sudah masuk ke dalam ruangan, Leon kembali menutup pintu tersebut. Lalu setelahnya ia berjalan mendekati pegawai butik tadi yang masih berdiri tegak di tempatnya walaupun tadi Leon sudah memberikan arahan kepadanya untuk mencarikan gaun untuk Edrea.


"Saya yang akan membantu mbak untuk memilih gaun untuk calon istri saya. Tapi sebelumnya, panggil salah satu teman mbak kesini dan suruh dia menunggu calon istri saya di dalam ruangan itu. Jangan biarkan dia keluar sebelum kita menemukan gaun pengantin lainnya yang sekiranya cocok untuk dia," ujar Leon. Dan setelah mengucapkan hal tadi, ia langsung melangkahkan kakinya ke satu deret gaun khusus untuk pengantin. Sedangkan pelayan butik tadi langsung bergerak mencari temannya untuk melaksanakan tugas dari Leon tadi sebelum dirinya nanti mengikuti Leon untuk mencarikan gaun untuk Edrea.


Sedangkan didalam ruang ganti, Edrea tengah menggerutu sebal dengan kelakuan Leon tadi.


"Padahal gaun ini bagus banget. Tapi tuh orang kenapa sih bisa-bisanya berubah pikiran. Padahal dulu saat Mommy ngasih lihat foto gaun ini, dia orang pertama yang setuju dengan pilihan Mommy. Tapi sekarang--- ish menyebalkan," ucap Edrea sembari menghentak-hentakkan kakinya. Padahal jika di lihat-lihat gaun itu sangat cantik di tubuhnya yang sangat langsing itu. Walaupun ya gaun itu memiliki model yang mengekspose bahunya dan memperlihatkan belahan dadanya. Tapi itu justru membuat Edrea semakin terlihat hot dan seksi.


Saat Edrea menatap lekat tampilan dirinya di pantulan kaca di depannya dan sesekali berdecak kagum dengan keelokan tubuhnya juga kecantikan yang ia miliki, Edrea kini dibuat terkejut saat pintu ruang ganti itu terbuka.


"Astaga naga bonar. Si mbak, ngagetin aja," kaget Edrea sembari memegang dadanya yang hampir saja mencelos keluar karena saking kagetnya dengan salah satu pegawai butik tersebut yang kini tengah tersenyum kearahnya.


"Maaf Kak. Saya tidak tau kalau Kakak lagi bengong tadi," ujar pegawai tersebut.


"Ck, saya tadi gak lagi bengong mbak tapi saya lagi melihat penampilan saya. Oh ya mbak, menurut mbak, penampilan saya sekarang gimana?" tanya Edrea sembari merentangkan kedua tangannya dan mempersilahkan perempuan di hadapannya tersebut menilai tampilannya saat ini.


Pegawai itu kini tengah menatap Edrea dari atas sampai bawah sebelum dirinya kini tersenyum lalu memberikan dua jempolnya kearah Edrea.


"Good Kak. Perfect. Gaun ini sangat pas dengan tubuh Kakak. Saat Kakak pakai gaun ini jadi terlihat anggun tapi masih ada kesan seksinya. Perfect pokoknya. Cantik," puji pegawai itu yang membuat Edrea kini tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.


"Tuh kan apa yang saya bilang. Gaun ini tuh pas banget di tubuh saya. Tapi kenapa tuh manusia satu ribetnya minta ampun. Gak ada angin gak ada hujan bisa-bisanya dia berubah pikiran. Dan kamu tau mbak, kata dia gaun ini jelek, gak cocok sama badan aku dan wajah aku. Padahal mah perfect banget kan mbak?" ucap Edrea yang lagi-lagi bertanya pendapat dari perempuan dihadapannya itu. Tapi pertanyaannya itu justru tak mendapat respon apapun dari perempuan di hadapannya itu. Bahkan hanya sekedar anggukan kepala pun tidak pegawai itu lakukan dan justru ia kini tengah menundukkan kepalanya.


"Ck, si mbak malah malu-malu kucing lagi. Pakai nunduk-nunduk segala. Lihat sini dong mbak kan saya tadi lagi tanya pendapat mbak," ujar Edrea sembari menggoyang-goyangkan tubuh perempuan dihadapannya itu yang berhasil membuat sang empu kini menegakkan kembali kepalanya.


"Nah gitu kan enak kalau mau ngobrol. Jadi gimana, saya perfect kan pakai gaun ini?" Lagi-lagi pertanyaan itu terlontar dari bibir Edrea yang sekarang mendapat respon anggukan kepala dari pegawai tersebut walaupun terlihat takut-takut.

__ADS_1


"Tuh kan, emang ya manusia satu itu saja yang matanya lagi rusak. Bisa-bisanya gaun super cantik ini malah bagi dia jelek. Kalaupun jelek kalau aku yang pakai akan kelihatan can---" ucapan Edrea terhenti saat dirinya memutar tubuhnya dan menatap kearah pantulan cermin untuk melihat penampilannya lagi yang justru ia juga melihat seseorang tengah bersedekap dada di ambang pintu ruang ganti tersebut yang membuat Edrea kini memperlihatkan cengiran di bibirnya. Walaupun di dadanya sudah berdisko riya saat matanya menatap tatapan tajam yang terpancar dari mata orang di belakangnya itu.


__ADS_2