
Setelah Vivian benar-benar memasukinya area rumah besar itu, Daddy Aiden menyambungkan earpiece ke salah satu anak buah Erland.
"Dua orang ikuti Vivian dengan diam-diam jangan sampai ketahuan oleh Vivian maupun anak buah Zico!" perintah Daddy Aiden.
"Baik tuan," balas anak buah Erland dan tak berselang lama terlihat ada dua orang berbaju serba hitam dengan tudung kepala dan masker yang menutup sebagian wajahnya, keluar dari mobil dan mulai berjalan mendekati gerbang rumah tersebut.
Saat kedua orang tadi menyusul Vivian masuk kedalam, suara Azlan mengalihkan atensi Daddy Aiden.
"Dad, buka link yang Az kirim tadi. Disana kita bisa lihat pergerakan dari Vivian maupun anak buah Erland," ujar Azlan. Dan dengan cepat Daddy Aiden merogoh ponselnya lalu segera membuka sebuah link yang di berikan oleh Azlan. Setelah link tadi terbuka, benar saja disana menampilkan keadaan disekitar Vivian dan anak buah Erland tadi yang kini sudah mulai mendekat kearah pintu utama rumah tersebut dimana pintu itu penjagaannya lebih ketat dari sebelumnya.
Kedua anak buah Erland terdiam dibalik pohon besar yang tak jauh dari Vivian yang sudah berada di antara anak buah Zico yang dengan gesit langsung mengurung Vivian di tengah-tengah mereka dengan sebuah samurai yang mereka acungkan kearah Vivian. Tapi bukan Vivian namanya jika tidak bisa menangani masalah itu dengan santai. Buktinya ia sekarang malah menatap satu persatu orang-orang yang mengintari dirinya dengan tatapan yang ia buat sesendu mungkin.
"Apa salah saya Om? Kenapa kalian mau menyerang saya? hiks," ucap Vivian dengan mengusap air mata buayanya.
"Siapa anda? Kenapa bisa masuk ke sini?" tanya salah satu dari kumpulan orang-orang tadi.
__ADS_1
"Hiks kenapa semua orang disini tak ada yang mengenalku? padahal aku adalah Kakak dari orang yang menjadi bos atau tuan kalian," ucap Vivian dengan sengaja meninggikan suaranya. Biarkan saja jika Zico mendengar suaranya, itu juga lebih bagus dan memudahkan pekerjaan dari pada harus masuk kedalam dengan menyerang sembari menampilkan sebuah drama yang memuakkan ini.
"Jaga ucapan anda Nona. Jangan asal mengklaim diri anda Kakak dari tuan kita. Dan jika anda berbohong kita tak akan segan-segan untuk menghabisi nyawa Nona sekarang juga. Dan sebelum itu semua terjadi mending Nona pergi dari sini!" Sentak satu orang yang lainnya yang umurnya kemungkinan lebih tua dua tahun dari Vivian.
"Dan jika anda memang Kakak dari tuan saya, kenapa wajah anda tak ada mirip-miripnya sama sekali dengan tuan kita?" Vivian terdiam tapi masih dalam mode menangis. Memang benar wajah Vivian dan Zico beda jauh, tak ada mirip-miripnya sama sekali entah gen darimana yang ia dapat karena jika ia teliti setiap inci wajahnya tak ada mirip-miripnya sama sekali dengan Mama, Papa dan sanak keluarga yang lainnya.
"Apakah wajah menjadi patokan untuk seseorang yang mempunyai status adik kakak? Bukankah diluar sana masih banyak orang-orang yang saling bersaudara tapi wajah mereka tak ada kesamaan sedikitpun, begitu juga dengan kita berdua. Tapi walaupun wajah kita tak ada kemiripan setidaknya DNA kita berdua punya keterikatan dan mengalir di tubuh kita berdua. Dan hal itu tidak bisa Om semuanya simpulkan dengan hanya melihat orang itu saja sebelum memiliki bukti yang nyata seperti surat hasil tes DNA yang membuktikan bahwa saya bukanlah Kakak dari tuan kalian. Dan seingat saya dari kecil sampai tuan kalian besar saya lah yang merawat dia. Ibu dan ayah kita satu orang. Itu semua tak bisa kalian pungkiri!" teriak Vivian sembari mengusap air matanya dengan kasar.
"Jika benar anda Kakak dari tuan kami. Apa anda membawa bukti juga untuk meyakinkan kita?" tanya salah satu orang tadi.
"Maaf tapi kita tidak bisa percaya begitu saja dengan anda, Nona. Bisa saja foto itu hasil editan anda untuk mengelabuhi kita. Apakah ada bukti yang lebih memperkuat jika anda memang Kakak kandung dari tuan kami? Dan kami tak butuh cerita anda. Kita hanya butuh bukti, bukan hanya sekedar omong kosong saja." Vivian dalam diam mengepalkan tangannya.
"Kali ini orang-orang yang menjaga pintu utama lebih pintar dan terlalu ketat penjagaannya," batin Vivian.
"Anda tidak bisa menunjukkan hal itu bukan. Jadi kami tak akan segan-segan lagi untuk melenyapkan anda, Nona," tuturnya kemudian orang itu memberikan kode lewat matanya kepada anak buah Zico yang lainnya yang ikut mengepung Vivian agar segera menyerangnya.
__ADS_1
Dan sedetik kemudian anak buah Zico yang jumlahnya lebih dari lima orang itu dengan bersamaan menyerang Vivian dari segala sisi. Vivian yang sudah terkepung pun tak bisa melakukan apapun dan dengan terpaksa ia mengeluarkan senjatanya. Dengan gerakan yang gesit ditambah ia bisa membaca pergerakan lawan hanya hitungan menit saja ia bisa melumpuhkan mereka semua tentunya dengan senjata setrumnya yang tak terlalu kentara oleh orang-orang sekitar.
"Makanya jangan mempersulit saya buat masuk Om. Jadi kena setrum kan," gumam Vivian dan sebelum dirinya membuka pintu utama itu ia sempatkan untuk menginjak satu persatu orang-orang yang ia kalahkan itu.
Setelah puas ia segera membuka pintu utama itu. Saat pintu itu terbuka lebar perlahan kakinya melangkah memasuki rumah yang terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aneh sekali bukan. Jika diluar penjagaannya sangat ketat kenapa di dalam rumah malah sepi. Padahal dalam bayangan Vivian didalam rumah itu ia akan kembali memainkan drama atau bertarung lagi. Tapi tak disangka ia malah mendapati rumah yang sangat sepi itu.
"Aneh sekali. Kemana orang-orang di rumah ini. Tidak mungkin Zico tinggal di rumah ini tanpa ada Art yang membantu pekerjaan rumah tangga dan dilihat dari kondisi rumah ini, sangat bersih. Tidak mungkin juga Zico hanya memiliki anak buah di depan tadi. Pasti dibalik ini semua ada sesuatu yang tersembunyi. Entah itu serangan secara tiba-tiba atau dia sudah pergi dari rumah ini," gumam Vivian. Dan tanpa pikir panjang ia berlari menuju lantai atas yang ia yakini pasti Zico berada di lantai tersebut.
Ia membuka satu-persatu ruangan yang ada di lantai tersebut tapi ia tak menemukan keberadaan Zico sama sekali.
"Arkh sial. Dia benar-benar sudah pergi," geram Vivian.
"Siap yang pergi?" tanya seseorang tepat dibelakang Vivian.
"Kakak," sambungnya.
__ADS_1
Vivian membelalakkan matanya saat mendengarkan suara yang sangat ia kenal. Sudah beberapa tahun ini ia tak mendengarkan suara itu tapi hari ini ia kembali mendengarkan suara yang sangat ia rindukan itu. Ia dengan segera membalikan badannya tapi saat dia berbalik, tubuhnya menegang seketika. Senyum yang tadinya terukir kini senyuman itu luntur bertepatan tubuh dia sudah sepenuhnya menghadap arah yang berlawanan.