
Teddy kini telah sampai di rumah pribadinya dengan membawa Alana dalam gendongannya. Dan baru saja ia mengetuk pintu dan pintu itu terbuka oleh seorang wanita yang selama ini menyandang status sebagai istrinya terpaku didepannya. Bahkan senyum yang tadinya mengembang untuk menyambut kepulangan suaminya kini senyuman itu hilang dengan tatapan penuh pertanyaan yang terpancar di matanya.
Teddy yang sedari tadi uring-uringan dengan hati dan pikirannya sendiri pun kini ia di tambah kebingungan saat menatap wajah cantik istrinya tampak kecewa padahal dirinya saja belum menjelaskan semua tentang Alana, tapi ia rasa tanpa penjelasan pun istrinya itu tau siapa Alana. Bahkan terlihat air mata perempuan itu mulai menetes sebelum di hapus kasar oleh perempuan itu.
"Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Teddy yang justru membuat perempuan itu terkekeh menatap dirinya.
"Apa yang perlu kamu jelaskan? Tentang hubunganmu dengan perempuan lain di luar sana dan sampai menghasilkan seorang anak?" tutur perempuan itu dengan bibir yang bergetar seakan-akan ia tengah menahan tangisnya yang akan pecah itu.
Dan saat Teddy ingin membuka bibirnya, perempuan tersebut lebih dulu melanjutkan perkataannya tadi.
"Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya karena semuanya sudah jelas dan buktinya sudah di depan mata," ucap perempuan tersebut sebelum dirinya beranjak dari hadapan Teddy menuju ke salah satu ruangan di rumah tersebut.
"Sayang!" panggil Teddy tapi sama sekali tak membuat istrinya itu menghentikan langkahnya. Perempuan itu justru semakin melebarkan langkahnya. Hingga tubuhnya tak bisa Teddy lihat lagi.
Teddy yang melihat amarah juga kecewa yang terpancar dari istrinya pun ia kini mengacak rambutnya frustasi. Sebelum dirinya berteriak memanggil salah satu pelayan di rumahnya itu.
"Bik Ijem!" teriakan itu membuat perempuan paruh baya yang namanya di panggil pun menghampiri Teddy.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Jaga anak ini mulai sekarang ataupun seterusnya," ucap Teddy sembari menyerahkan Alana ke gendongan perempuan paruh baya tersebut.
__ADS_1
Bik Ijem yang tak tau menahu pun ia memilih diam saja dan menjalankan perintah dari tuan rumah tersebut walaupun didalam otaknya itu banyak sekali pertanyaan tentang bayi mungil yang sekarang di gendongan itu.
Teddy yang berniat untuk menyusul sang istri, sebelum pergi ia menatap Alana dengan desisan tak suka.
"Lihat saja apa yang akan saya lakukan ke kamu, jika sampai rumah tangga saya hancur gara-gara kamu, bayi sialan!" umpat Teddy sebelum dirinya pergi.
Bik Ijem yang mendengar umpatan itu pun ia tampak terkejut.
"Bayi tidak bersalah seperti dia kenapa kena umpatan dari laki-laki seperti dia. Kalau pun rumah tangganya hancur pasti juga ulah dia sendiri, bukan gara-gara bayi cantik ini. Ck, dasar laki-laki menyebalkan," gerutu bik Ijem sebelum dirinya juga pergi membawa Alana juga satu koper berisi keperluan Alana ke kamar pribadinya.
...****************...
Disisi lain, Edrea kini telah berada di kantor polisi karena sesuai dengan janjinya kepada Puri sebelumnya jika hasil tes DNA sudah keluar maka Edrea akan memberitahu siapa ayah biologis dari Alana kepada Puri.
Dan setelah Puri juga menempelkan telepon ke telinganya, Edrea mulai angkat suara dengan mata yang terus terfokus ke wajah Puri walaupun terhalang oleh kaca di tengah-tengah mereka.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Edrea sekedar untuk basa-basi saja.
"Jauh lebih baik dari sebelumnya," jawab Puri tanpa melunturkan senyumannya yang diangguki oleh Edrea.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, gue kesini mau menepati janji gue waktu di rumah sakit, tentang hasil tes DNA Alana." Puri terlihat menganggukkan kepalanya sekaligus sebagai kode kepada Edrea agar perempuan itu segera melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Hasil dari tes DNA itu mengatakan bahwa ayah biologis dari Alana adalah Teddy Gusmawan, pemilik GS group," ucap Edrea yang membuat Puri menghela nafas. Diantara lega karena sudah mengetahui fakta tentang ayah kandung dari putri kecilnya itu atau ia bisa menghela nafas lega karena ayah kandung Alana bukan kakeknya sendiri yang selama ini selalu ia takutkan.
"Puri!" suara Edrea membuat lamunan Puri buyar seketika.
"Lo gak papa kan?" Puri kembali memperlihatkan senyumannya.
"Tidak Rea, aku tidak kenapa-napa. Aku baik-baik saja. Dan aku mau berterimakasih ke kamu karena sudah memberitahuku tentang hal itu. Dan terimakasih karena sebelum hasil tes itu keluar kamu dan keluargamu sudah mau membantuku juga menolongku untuk merawat Alana sementara waktu. Terimakasih Rea dan tolong sampaikan kata terimakasihku ini ke semua keluargamu terutama kepada kedua orangtuamu. Dan katakan permintaan maaf dari ku kepada mereka karena telah merepotkan mereka semua termasuk kamu Edrea. Maaf," ucap Puri.
"Iya, nanti akan gue sampai ke mereka. Dan akan gue usahain bawa Alana satu bulan sekali kesini buat jenguk kamu. Ya walaupun bukan gue terus yang akan mengajaknya kesini tapi gue yakin salah satu keluarga gue akan ngajak dia saat giliran mereka menjenguk Alana di rumah ayahnya," ujar Edrea yang membuat mata Puri berbinar senang.
"Benarkah?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Kata Daddy sih tadi gitu. Sebisa mungkin kita akan bergantian buat jenguk dia satu bulan sekali dan akan ajak dia kesini nemuin lo. Biar dia tau ibu kandung dia, sekalian biar lo juga gak rindu berkepanjangan dengan Alana," ucap Edrea.
"Terimakasih Rea, terimakasih," ujar Puri tampak kesenangan. Dan hal tersebut membuat Edrea mengembangkan senyumnya.
Dan saat Puri dan Edrea saling tersenyum senang, salah satu polisi tampak menghampiri Puri dan mengatakan sesuatu yang tak Edrea tahu dan hanya diangguki oleh Puri. Dan setelah polisi tadi kembali ke posisinya, Puri kembali angkat suara.
"Udah dulu ya, Re. Si bapak polisi udah ngode kalau waktunya udah habis. Sampai ketemu lagi, dan aku tunggu kedatangan kamu ataupun keluargamu dengan membawa Alana. Sekali lagi terimakasih atas semua kebaikan yang udah kamu dan keluargamu lakukan ke aku. Dan maaf aku tidak bisa membalas kebaikan mereka, tapi aku yakin Tuhan akan membalasnya. Bye, Re. See you," ucap Puri dengan penuh semangat dan setelah mengucapkan hal tersebut sambungan dari keduanya terputus bertepatan dengan Puri yang meletakkan telepon tadi ke tempatnya.
Lalu beberapa saat setelahnya tampak kedua polisi tadi langsung menggiring tubuh Puri agar kembali ke sel tahanan. Tapi sebelum tubuh Puri menghilang dari pandangan Edrea, perempuan itu masih sempat-sempatnya melambaikan tangan kepada Edrea dengan senyum yang mengembang bahkan deretan gigi rapinya itu terlihat. Dan hal tersebut dibalas dengan lambaian tangan juga senyuman oleh Edrea. Hingga perempuan itu benar-benar telah menghilang dari pandangan Edrea yang membuat Edrea menghela nafas berat.
__ADS_1
"See you juga Puri," gumam Edrea yang justru terlihat bersedih sekarang karena senyuman dari Puri tadi dimata Edrea justru menggambarkan betapa hancurnya Puri. Namun ia juga bisa apa? Menolong Puri? Menolong dengan cara apa? Mengeluarkan perempuan dari penjara, juga tidak mungkin. Walaupun Daddy Aiden memang baik tapi jika urusan hukum dia tidak akan ikut campur semakin dalam, jika orang itu sudah masuk penjara dan hakim sudah ketuk palu maka pantang untuk Daddy Aiden mengeluarkan orang tersebut yang jelas-jelas telah bersalah. Semua itu bukan hanya berlaku untuk orang lain melainkan untuk anak-anaknya juga. Jika mereka berbuat salah dan berurusan dengan hukum maka jangan harap Daddy Aiden akan mengeluarkan uang untuk mengeluarkan orang yang telah bersalah walaupun itu anaknya sendiri. Dia yang berbuat salah, maka dia yang akan menanggungnya sendiri, begitulah prinsip dari bapak negara bernama Aiden William Abhivandya.
Edrea kini menghela nafas kembali sebelum dirinya akhirnya beranjak meninggalkan tempat tersebut dengan air mata yang menetes namun selalu ia hapus tanpa membiarkan orang lain melihatnya.