
Saat sudah berada didalam kelas yang triplets tuju tadi, lagi-lagi perhatian semua murid yang ada didalam kelas tersebut langsung tertuju kearah ketiga orang tersebut, terutama kepada Erland yang masih membopong tubuh Edrea. Sedangkan Edrea yang sudah benar-benar malu pun ia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Dimana meja lo?" tanya Erland dengan menundukkan kepalanya menatap kearah Edrea.
"Kursi pojok belakang sisi kanan," jawab Edrea tanpa mau melepaskan tangannya tadi.
Dan setelah Edrea memberitahukan posisi tempat duduknya, Erland kembali beranjak menuju bangku yang di maksud Edrea tadi. Dan saat dirinya sudah sampai di bangku tersebut, Erland langsung mendudukkan tubuh Edrea di kursi yang tadi sudah lebih dulu Azlan tarik ke belakang.
"Dimana teman yang lo maksud tadi? Dia di kelas ini juga kan?" tanya Azlan.
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya Edrea.
"Biar gue yang ngasih makanan itu ke dia. Katakan yang mana orangnya!" perintah Azlan yang membuat Edrea langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru kelas tersebut.
"Lho kok gak ada juga dikelas," ujar Edrea.
"Hey kalian semua ada yang tau dimana gadis yang sering duduk di bangku itu?" tanya Edrea yang ia tujukan kepada seluruh orang yang ada di dalam kelas tersebut sembari tangannya menunjuk kearah bangku pojok belakang bagian kiri.
"Siapa?" tanya salah satu orang disana yang belum paham dengan gadis yang dimaksud oleh Edrea itu.
"Ck, gadis yang duduk disitu tuh. Gue tadi belum kenalan sama dia jadi gak tau namanya siapa," ucap Edrea.
"Oh si permen candy alias Loli," ucap orang tadi.
__ADS_1
"Entahlah, tapi sepertinya memang dia orangnya. Kalian ada yang tau dia sekarang dimana?" tanya ulang Edrea. Semua orang disana menggelengkan kepala mereka untuk menjawab pertanyaan dari Edrea tadi.
Azlan dan Erland yang sedari tadi menyimak pun kini mulai menghela nafas lalu setelahnya mereka berdua kini menepuk bahu Edrea.
"Udahlah jangan heboh cariin temen lo itu. Dia udah besar, bisa jaga diri dia sendiri. Mending sekarang lo makan keburu jam istirahat selesai nanti," ucap Erland.
"Tapi---" belum sempat Edrea melanjutkan ucapannya tadi, mulutnya lebih dulu di bungkam oleh Erland. Lalu tanpa seizinnya, Azlan mendudukkan tubuhnya dikursi samping Edrea dan setelahnya tangannya bergerak untuk menyuapi Edrea.
Erland yang melihat Azlan mulai menyendokkan makanan itu pun dengan cepat ia melepaskan bungkam tadi.
"Buka," perintah Azlan tanpa menampilkan sedikit senyum kearah Edrea. Dan hal itu membuat sang empu kini langsung menuruti perintahnya tadi.
Saat suapa itu ia terima, Edrea langsung melirik kearah semua orang disana. Dan dirinya di buat syok saat dirinya baru sadar jika didepan kelas itu sudah ramai dengan siswa-siswi lain yang sepertinya kepo dengan aksi ketiga anak manusia yang tampan dan cantik itu. Bahkan saking syoknya, Edrea tersedak makanannya.
"Haish, ada yang punya air mineral baru gak?" teriak Azlan saat dirinya sudah tak menemukan air mineral di meja Edrea.
Salah satu siswi yang sepertinya baru dari kantin pun berlari mendekati Azlan sembari membawa sebotol air mineral ditangannya.
"Nih, kebetulan gue punya dua. Satunya buat---" belum sempat siswi itu mengakhiri ucapannya, Azlan dengan cepat menyambar air mineral tadi dari tangan siswi tersebut.
Azlan yang sudah memastikan bahwa air mineral itu benar-benar masih baru, dengan cepat ia menyodorkan air mineral itu di depan Edrea.
"Buruan minum," ucap Azlan. Edrea yang tenggorokannya sudah mulai sakit pun tanpa menunggu lama ia langsung menyambar botol air mineral tersebut dan menengguk isinya. Setalah botol air mineral itu sudah berpindah tangan, Azlan kini mengalihkan pandangannya kembali kearah siswi yang memberikannya minuman tadi. Azlan yang melihat siswi itu masih berdiri tegak di sampingnya pun dengan cepat Azlan merogoh saku celana sekolahnya untuk mengambil dompet miliknya. Lalu setelahnya ia memberikan uang seratus ribu kearah siswi tadi.
__ADS_1
"Uang untuk bayar air itu. Kembaliannya buat lo semua," ujar Azlan lalu setelahnya tangannya bergerak untuk memberikan kode agar siswi tadi menjauh darinya.
Siswi itu yang sebenarnya tak mengharapakan uang itu karena yang ia harapkan adalah nomor ponsel Azlan pun dengan seketika ia mengerucutkan bibirnya. Usahanya untuk mendapatkan ponsel laki-laki idamannya kini pupus kembali. Dan dengan berat hati dan langkah lunglai siswi itu segera menjauh dari mereka bertiga.
"Huh gagal maning, gagal maning. Ya udah lah gak papa yang penting ada sesuatu dari ayang Azlan yang bisa gue pajang," ucap siswi tersebut diakhiri dengan senyum saat melihat kearah uang yang di berikan Azlan tadi.
Sedangkan Edrea yang sudah selesai meminum air tersebut kini ia bisa bernafas lega.
"Huh lega. Hampir aja nih tenggorokan jebol gara-gara tersedak," gumam Edrea.
"Lagian lo bisa-bisa kesedak begitu. Lo lagi mikirin apa hah? Temen lo itu gak usah di pikirin lagi, biarin aja," geram Azlan.
"Gue gak lagi mikirin dia, tapi gue tersedak tuh gara-gara lihat noh para warga sekolah kumpul semua di kelas ini. Bahkan sampai meluber tuh di luar," ujar Edrea sembari menunjuk kearah kerumunan orang-orang di kelasnya itu dan di luar kelas dengan dagunya.
Azlan dan Erland kini mengalihkan pandangan mereka kearah semua orang di sana. Dan saat tatapan mereka berdua bertemu dengan tatapan semua orang dikelas tersebut, semua orang disana nyalinya tampak menciut seketika.
"Ngapain kalian kesini hmmm? Siapa yang nyuruh kalian semua berkumpul disini?" ucap Erland dengan suara rendahnya dan hal itu membuat suasana di kelas tersebut tiba-tiba menjadi mencekam.
"Keluar sekarang dan jangan ada yang masuk ataupun mendekati kelas ini. Jika sampai gue tau ada yang mengabaikan ucapan gue tadi, gue jamin hidup orang itu tidak akan tenang," sambung Erland dengan garangnya.
"Gue hitung sampai 3. Kalau kalian semua gak keluar dari sini, siap-siap apa yang gue katakan sebelumnya akan terjadi mulai detik ini juga," ujar Erland. Lalu setalahnya tangannya kini terangkat untuk memberikan kode hitungan akan segera dimulai.
Semua orang yang ketakutan dengan ancaman yang bisa menjadi kenyataan jika mereka melanggarnya pun dengan cepat mereka berbondong-bondong keluar dari kelas tersebut untuk menyelamatkan dirinya mereka masing-masing agar terhindar dari siksaan si singa jantan.
__ADS_1
Dan belum juga Erland mulai menghitung mundur, semau orang yang tadi berkerumun di depan ataupun di luar kelas pun dengan seketika semuanya menjauh dan situasi yang tadinya sangat ramai dengan bisikan orang-orang itu pun kini sudah sunyi kembali.