
Leon dan Callie masih berada di dalam kamar anak perempuan tersebut setelah Azzo, Alice dan Mommy Elia sudah pergi dari sana. Dan dengan posisi Leon masih memeluk Callie, matanya kini melirik ke segala arah untuk memastikan jika hanya Callie yang nanti akan mendengarkan ucapannya.
Dan saat sudah di pastikan bahwa situasi di dalam kamar Callie aman untuk ia mengatakan suatu hal kepada anak perempuannya itu, Leon perlahan melepaskan pelukannya.
"Cal, lihat Daddy," ucap Leon yang langsung di turuti oleh Callie.
"Daddy mau tanya. Callie kangen sama Mommy tidak?" tanya Leon. Callie yang sebenarnya tadi hampir saja tertidur di pangkuan Leon, ia menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Leon tadi.
"Ishhh jawab pertanyaan Daddy tadi Callie," ucap Leon sembari menggoyang-goyangkan tubuh Callie agar anak perempuannya itu tetap terjaga dan tak tertidur.
Callie yang tadi sudah menutup matanya, dengan malas ia kembali membukanya.
"Iya Daddy, Callie kangen sama Mommy," jawab Callie dengan ogah-ogahan.
Dan apa yang dikatakan oleh Callie tadi membuat mata Leon berbinar.
"Benarkah?" Callie menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Callie mau bertemu sama Mommy tidak?" Callie membuka satu kelopak matanya untuk melihat sesaat wajah sang Daddy sebelum mata itu kembali tertutup.
"Ishhh Callie kenapa tidur. Pertanyaan Daddy kan belum dijawab," gemas Leon yang masih menggoyang-goyangkan tubuh Callie.
"Haishhhhh Daddy bawel sekali sih. Callie ngantuk tau Dad. Callie memang ingin sekali bertemu sama Mommy tapi tidak untuk sekarang karena Callie benar-benar ngantuk," sebal Callie.
"Ck, Callie mah gak seru. Daddy gak like." Leon kini memindahkan tubuh Callie dari pangkuannya ke atas ranjang. Dan dengan kerucutan di bibirnya Leon memutar tubuhnya sehingga ia kini memunggungi Callie yang tengah menguap sembari mengucek matanya.
"Memangnya Daddy juga lagi kangen sama Mommy?" tanya Callie dengan menatap punggung Leon.
Diam, Leon tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari anaknya itu.
Dan hal tersebut membuat Callie berdecak sebal. Kalau sudah begini berarti sang Daddy sudah marah padanya, ia sudah hapal gerak-gerik Leon yang satu ini.
"Kalau Daddy kangen sama Mommy, ya samperin aja Mommy di rumahnya," ujar Callie dengan santai bahkan tanpa melihat situasi yang terjadi saat ini, ia kini merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai mencari posisi ternyaman untuk ia tidur.
"Masalahnya Oma sama Papa kamu gak ngizinin Daddy buat ketemu sama Mommy," curhat Leon sembari memutar tubuhnya kembali menatap kearah Callie yang masih grusak-grusuk di tempat tidur.
"Kenapa mereka tidak kasih izin Daddy buat ketemu sama Mommy?" tanya Callie penasaran.
"Pasti Daddy sudah nakal sama Oma dan Papa, atau kalau tidak Daddy sudah bikin Mommy nangis makanya Daddy di hukum seperti tadi dan tidak di perbolehkan untuk ketemu sama Mommy. Iya kan? Daddy ngaku aja deh sekarang. Kalau tau Daddy jahatin Mommy, Callie tadi tidak akan membantu Daddy keluar dari kamar. Biar Daddy kapok sekalian," omel Callie yang membuat Leon melongo tak percaya. Anak perempuannya itu sekarang kenapa jadi sangat bawel seperti ini? batin Leon.
Dan dengan cepat ia kini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak. Daddy tidak buat Mommy menangis. Daddy juga tidak nakal sama Oma ataupun Papa kamu. Mereka saja yang memang jahat sama Daddy. Mereka sudah mengurung Daddy dan memisahkan Daddy dari Mommy. Jahat kan?" Callie terdiam lalu beberapa saat setelahnya ia menggedikkan bahunya.
"Kalau memang Daddy tidak diizinkan ketemu sama Mommy ya sudah telepon saja dulu. Kalau urusan untuk bertemu nanti saja setelah Callie bangun tidur," ujar Callie yang sudah menutup matanya kembali dan hal tersebut membuat Leon kini mencebikkan bibirnya. Kalau saja ponselnya ada di tangannya, tanpa diperintah pun sudah jauh-jauh hari dia menghubungi Edrea. Tapi kan kali ini beda cerita karena ponselnya sekarang tengah di sita oleh Mommy Elia dan disimpan entah di mana.
"Ck, masalahnya tuh Daddy sekarang gak pegang ponsel Callie. Ponsel Daddy diambil sama Oma," ujar Leon.
"Ck, Daddy bawel banget sih. Pakai tablet Callie aja tuh buat telepon Mommy." Dengan mata yang tertutup Callie menujuk kearah meja belajarnya.
Leon mengikuti arah jari telunjuk Callie dan saat matanya menatap benda canggih itu yang dulu ia belikan untuk hadiah ulangtahun Callie pun ia kini menyunggingkan senyumannya.
"Uhhhh, terimakasih sayang. Daddy pinjam sebentar ya. Nanti pulsanya Daddy ganti. Dan ingat Callie jangan bilang sama siapapun termasuk Oma, Papa atau Mama kamu. Callie mengerti kan?" Ucap Leon yang diangguki oleh Callie.
"Terimakasih sayang. Daddy telepon Mommy dulu. Kamu sekarang tidur saja tidak papa, Daddy gak akan ganggu kamu lagi. Tidur yang nyenyak princess. Muach." Leon mendaratkan sebuah kecupan tepat di kening Callie sebelum ia menarik selimut anak perempuannya itu hingga lehernya. Kemudian setelah itu ia bergerak menuju kearah meja belajar Callie untuk mengambil tablet tadi yang akan ia bawa ke balkon kamar tersebut.
Lagi-lagi matanya aktif menatap sekitar dan setelah dirasa aman, tangannya kini bergerak untuk menghidupkan tablet tadi lalu tak lama kemudian jari-jarinya mulai aktif di atas layar tablet tersebut mencari nomor kontak Edrea.
Senyumnya kembali terukir kala ia sudah menemukan nomor Edrea. Dan ia tak akan membuang-buang waktu lagi, ia kini mulai menghubungi nomor tersebut.
Satu kali panggilan sudah terlewatkan dan sambungan teleponnya tadi tak diangkat oleh Edrea. Hingga akhirnya ia mencoba untuk menghubungi lagi. Namun sama saja hasilnya tetap nihil.
"Ck, sayang kamu kemana sih? Kenapa gak angkat telepon dari aku. Ayo dong angkat, kalau gak diangkat awas aja akan aku pastikan setelah ijab kabul besok selesai dilakukan, kamu akan aku kurung di dalam kamar, tidak akan aku biarkan kamu keluar satu jengkal pun," gumam Leon yang masih berusaha untuk menghubungi Edrea.
Sudah 5 kali ia menghubungi Edrea, namun yang di hubungi sama sekali tak mengangkatnya dan hal tersebut membuat Leon bad mood seketika.
Hingga beberapa detik setelahnya, sambungan telepon tersebut terhubung yang membuat bad mood Leon hilang seketika.
"Halo sayang. Kenapa kamu baru angkat teleponnya sekarang setelah aku tadi mencoba menghubungi kamu hingga berkali-kali? Tadi kamu kemana aja sih hmmm? Apa kamu gak tau kalau aku tuh rindu banget sama kamu sampai aku beberapa hari yang lalu nekat mau kabur dari rumah biar bisa ketemu sama kamu. Tapi kamu tau sayang, niatku itu justru ketahuan sama bodyguardku sendiri yang sekarang sudah bersekutu dengan Mommy. Dan aku berakhir di kurung di dalam kamar berhari-hari. Menyebalkan sekali kan sayang. Padahal aku begitu karena aku kangen banget sama kamu. Lagian kita juga bentar lagi menikah, kenapa harus di pisahkan segala coba? Katanya sih tradisi, tradisi kok menjauhkan orang yang mau menjalin hubungan serius kalau caranya gitu mah aslinya hanya memberikan peluang kepada dua orang calon mempelai mencari kekasih lain. Aku jadi penasaran siapa yang buat tradisi seperti ini sih? Gak mutu banget tau gak. Kalaupun mau membuat tradisi turun temurun tuh ya harusnya saat kedua calon mempelai ingin menikah, justru disatukan dengan cara setiap hari bertemu atau kalau tidak ya berada di satu rumah berdua agar rasa cinta mereka tidak akan pudar dan tidak akan beralih ke orang lain. Lah tradisi ini, bukannya mempererat tapi menyiksa dan memperkeruh suatu hubungan. Menyebalkan sekali kan sayang," cerocos Leon panjang kali lebar tanpa tau siapa orang yang berada di sebarang telepon tersebut.
📞 : "Udah, curhatnya udah?" Suara seseorang yang sangat familiar namun suara itu bukan milik Edrea membuat mata Leon kini terbuka lebar dan dengan cepat ia memeriksa nomor yang tertera di layar tablet tersebut.
Benar kok, nomornya benar milik Edrea. Tapi kenapa yang mengangkat teleponnya orang lain. Atau jangan-jangan ponsel kekasihnya itu sekarang juga tengah di situ oleh Mommy Della. Nah kalau begitu, berarti yang mengangkat dan menimpali ucapannya tadi adalah calon mertuanya sendiri. Mati lah sudah riwayat kamu, Leon!
Dan dengan deheman untuk menetralkan detak jantungnya yang memacu begitu keras, Leon kembali angkat suara.
"Ehemmm. Mom---Mommy, kenapa Mommy yang angkat telepon Leon? Kemana Edne sekarang?" tanya Leon.
📞 : "Kamu mau tau Rea sekarang dimana dan kenapa teleponnya Mommy yang angkat?"
"Emangnya dia kemana Mom?" tanya Leon penasaran.
📞 : "Dia tadi pamit sama Mommy mau keluar. Entahlah kemana dia perginya, yang Mommy tau dia tadi keluarnya sama cowok pakai motor. Dia tadi di jemput sama cowok itu dan kamu tau El, Rea tadi pakai peluk cowok itu segala, mesra banget lagi, sampai Mommy aja iri lihatnya. Cowoknya juga ganteng banget. Duhhh Mommy sih setuju kalau Rea lebih milih cowok itu daripada kamu," ujar Mommy Della yang berhasil membuat Leon kini resah.
__ADS_1
"Kok Mommy gitu sih. Cowok manapun tidak akan ada yang bisa mengalahkan Leon dan menyingkirkan Leon dari hati Edne. Tidak akan pernah bisa. Karena Leon dan Edne di lahirkan untuk bersatu dan menjadi satu," ucap Leon.
📞 : "Cihhh PD sekali kamu. Kamu jangan senang dulu, kamu ini belum sepenuhnya memiliki Edrea. Bisa saja anak Mommy membatalkan pernikahan kalian dan memilih untuk menikah dengan laki-laki yang menjemput dirinya tadi. Masih sempat juga waktunya jika pernikahan kalian memang harus kandas sebelum terjadi," tutur Mommy Della.
"Gak boleh! Pernikahan Leon sama Edrea akan tetap di lakukan. Titik!" ucap Leon mutlak.
📞 : "Kalau Edrea maunya batal ya kamunya juga harus ikhlas dong," ujar Mommy Della yang membuat Leon kini mengepalkan kedua tangannya.
"Sampai kapanpun Leon tidak akan pernah ikhlas jika Edne membatalkan pernikahan kita dan memilih laki-laki lain. Leon tidak akan pernah terima! Dan jika hal itu benar-benar terjadi, Leon tidak akan segan-segan menghalalkan segala cara agar Edne kembali ke pelukan Leon. Walaupun Leon harus membunuh laki-laki itu, Leon akan melakukannya," ujar Leon dengan suara yang terdengar sangat mengerikan di telinga lawan bicaranya itu. Dan karena ia sudah sebal maksimal, tanpa mengatakan salam, ia langsung menutup sambungan telepon tersebut. Tak peduli jika ia dianggap tak sopan kepada calon mertuanya itu. Siapa suruh Mommy Della malah semakin membuat hatinya ketar-ketir memikirkan Edrea yang kabarnya saja ia tak ketahui. Dan karena pancingan dari Mommy Della tadi, Leon sekarang beranjak dari kamar Callie. Ia akan membuktikan ucapan dari Mommy Della tadi. Walaupun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia yakin Edrea tidak akan melakukan hal tersebut kepadanya.
Sedangkan disisi lain, Mommy Della yang tadi sempat bercakap dengan Leon, ia tertawa terbahak-bahak setelah berhasil memancing emosi calon menantunya itu.
"Dasar bucin," ucap Mommy Della sembari meletakkan kembali ponsel Edrea kedalam laci meja riasnya.
Daddy Aiden yang kebetulan juga berada di dalam kamar bersama dengan Mommy Della dan ia tadi jugq sempat mendengar percakapan kedua orang itu, ia kini ikut terkekeh dengan kejahilan Mommy Della.
"Kamu ini ada-ada saja sih sayang. Kalau sampai Leon percaya sama ucapan kamu tadi gimana? Dan kalau dia benar-benar nekat buat cari Rea dan laki-laki khayalan kamu tadi gimana coba? Kasihan tau, sayang," ucap Daddy Aiden sembari memeluk tubuh Mommy Della saat sang istri sudah membaringkan tubuhnya di sampingnya kembali.
"Biarin aja sih. Sekali-kali ngerjain orang bucin kayak Leon itu. Tapi aku yakin dia gak akan bisa keluar rumah karena kata Elia kediamannya sekarang dijaga ketat oleh semua bodyguard yang di miliki Leon ditambah dengan anak buah miliknya yang selalu membawa senjata. Dan kata dia kalau Leon mau kabur lagi, dia menyuruh mereka yang melihatnya untuk melakukan perlawanan kepada Leon yang berarti mereka diperbolehkan untuk melukai Leon," cerita Mommy Della yang membuat Daddy Aiden terkejut dibuatnya.
"Beneran? Sampai segitunya?" Mommy Della menganggukkan kepalanya.
"Bener, karena kalau tidak melakukan hal itu, kata Elia mereka semua akan kewalahan sama Leon. Jadi mau tidak mau untuk kebaikan bersama, dia melakukan hal tersebut," ujar Mommy Della.
"Ihhh ngeri banget sih. Masak sama anak sendiri segitu teganya," tutur Daddy Aiden bergidik ngeri membayangkan didikan yang diajarkan oleh keluarga Leon yang sangat-sangat mainstream itu.
"Mungkin hal ini juga ngikut peraturan di kerajaan mereka yang tidak bisa di tinggalkan," ujar Mommy Della.
"Iya juga sih," ucap Daddy Aiden membenarkan. Keluarga Leon kan terkenal dengan kekejamannya walaupun yang tau kekejaman itu hanya segelintir orang saja, jadi pola didikan mereka juga tak jauh-jauh dari kata kejam.
"Oh ya ngomong-ngomong, Adam sudah sampai rumah?" tanya Mommy Della karena saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Adam belum juga terlihat batang hidungnya.
"Belum," jawab Daddy Aiden.
"Ck, sebenarnya dia itu masih mau pulang kesini gak sih. Aku tuh kadang sebel tau sama dia yang sekarang semakin sibuk dengan urusan rumah sakit. Ya walaupun setiap hari selalu bertukar kabar sama aku, tapi aku kan butuh lihat dia secara langsung. Mana kalau di samperin di rumah sakit, dia selalu saja pas lagi melakukan operasi. Ishhhh menyebalkan," ucap Mommy Della. Walaupun Adam bukan anak kandungnya tapi ia benar-benar rindu anaknya itu yang sekarang hampir tak pernah pulang kerumah mereka.
"Maklum saja sayang, namanya juga lagi kerja. Lagian kamu dulu kan yang minta dia untuk mewujudkan cita-citanya. Kamu juga dulu yang kasih dia apartemen supaya saat dia capek kerja dia tidak perlu jauh-jauh pulang kerumah ini karena jaraknya cukup jauh dari area rumah sakit. Jadi sekarang ya nikmati saja kerinduan kita untuk dia. Tapi aku yakin dia disana juga merindukan kita, tapi belum ada waktu luang untuknya kembali pulang," ucap Daddy Aiden untuk menenangkan kegundahan hati Mommy Della.
"Dan lebih baik kamu sekarang istirahat karena sedari tadi pagi kamu sibuk mengurus pernikahan Edrea. Jadi aku tidak mau tau, tidur sekarang, jangan sampai kamu sakit nantinya gara-gara kurang istirahat. Dan kalau nanti Adam sampai di rumah aku kasih tau kamu. Aku sekarang mau lanjutin perkejaan aku ini yang benar lagi selesai. Good night sayang," ujar Daddy Aiden dengan memberikan kecupan selamat malam di kening, kedua pipi dan bibir Mommy Della.
"Beneran ya, kalau Adam sudah sampai bangunin aku." Daddy Aiden menganggukkan kepalanya walaupun ia tak janji untuk melaksanakan hal tersebut saat istrinya itu sudah terlelap. Yang ada ia tak akan membangunkan dia melainkan ikut tidur bersamanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu aku tidur dulu. Good night too sayang," balas Mommy Della tak lupa ia juga memberikan kecupan di tempat yang sama seperti yang Daddy Aiden tadi berikan. Dan setelahnya, ia mencari posisi berbaring yang paling nyaman sebelum akhirnya ia mulai menutup matanya untuk meraih mimpi indahnya.